Lap dua delapan. Hujan kembali turun deras, dan Bayu masuk pit tepat sesuai rencana.
Empat koma satu detik. Pak Heru, Dimas, dan dua tangan lain bergerak seperti satu tubuh, mengganti empat ban dengan slick basah yang baru. PR-09 melompat keluar lagi, dan saat Bayu kembali ke lintasan, sesuatu yang menakjubkan telah terjadi pada papan posisi.
Tim-tim yang berjudi ban kering kini terjebak — beberapa harus pit dua kali, kehilangan lima puluh detik total. Tim-tim yang menjalankan strategi dua stop standar juga sudah masuk untuk pit kedua mereka, membuang dua puluh lima detik lagi. Bayu, dengan ban segar dan hanya satu pit di seluruh balapan, keluar di posisi yang membuatnya menahan napas.
"P5," kata Pak Gun di radio, suara bergetar tertahan. "Bayu, kamu P5. Dua puluh dua lap lagi. Ban segar. Sekarang... sekarang kita lihat seberapa jauh angka di setir kamu bisa bawa."
Dua puluh dua lap. Bayu tak membiarkan dirinya bermimpi. Ia menyetir satu tikungan demi satu tikungan, satu angka demi satu angka. Hujan deras berarti grip rendah di mana-mana, tapi kini ia sudah fasih membacanya. Garis pinggir di Tikungan Empat. Genangan tebal di Sembilan. Aspal kasar yang menggigit di luar Enam.
Di depannya, P4 adalah sebuah mobil tim menengah yang mulai kesulitan — ban yang lebih tua, pengemudi yang lelah membaca air. Bayu mengejar tiga lap, menempel, membaca. Lalu di lurus panjang yang mengering tipis, ia melihat momen itu di angka setirnya, membuka gas seperempat detik lebih awal, dan menyalip bersih.
P4.
"Podium di depan kamu," kata Pak Gun, dan untuk pertama kali ada yang nyaris seperti tangis di suaranya. "P3 lima detik di depan. Tujuh lap. Jaga ban, jaga kepala."
Tujuh lap terakhir adalah tujuh lap terpanjang dalam hidup Bayu. Hujan tak mereda. Lengannya mulai lelah, dan di sudut kesadarannya, raungan mesin di tengah hujan masih membawa gema lama. Tapi setiap kali bayangan itu datang, ia menurunkan matanya ke setir, ke angka hijau yang stabil, dan bayangan itu surut.
*Ban kamu hidup. Dia nggak ninggalin kamu.*
Lima detik menjadi tiga. Tiga menjadi satu. Di lap terakhir, di luar Tikungan Enam yang sudah ia kuasai, mobil P3 melebar setengah meter di genangan yang Bayu hindari — kesalahan kecil, kelelahan, ketidaktahuan. Bayu sudah ada di sana, di garis pinggir yang menggigit, dan ia melesat ke dalam.
P3.
"GARIS FINIS DI DEPAN," teriak Pak Gun, sudah tak peduli lagi pada ketenangan. "JAGA! JAGA SAMPAI GARIS!"
Bayu melewati garis finis di tengah hujan, di posisi ketiga, dan suara yang keluar dari mulutnya bahkan tidak ia kenali sebagai suaranya sendiri.
Di pit, Pak Gun melepas headset dan menutup wajah dengan kedua tangan. Dimas berteriak dan memeluk Pak Heru yang biasanya kaku. Bu Ratih berdiri diam, tangan menutup mulut, mata berkaca — bannya, ban yang ia pertaruhkan reputasinya, baru saja membawa tim sekarat ke podium di lintasan yang seharusnya membunuh mereka.
Bayu menepi setelah lap pendinginan. Ia tidak langsung keluar dari kokpit. Ia duduk, helm masih di kepala, dan menatap tulisan tangan kecil di kokpit yang dicat ayahnya bertahun lalu: *Berani itu takut yang tetap jalan.*
"Saya jalan, Pak," bisiknya, terlalu pelan untuk didengar siapa pun. "Saya jalan terus."
Di area paddock, di balik pagar, Bu Marni berdiri dengan payung di tangan dan Sekar di sampingnya. Mereka datang pagi tadi tanpa memberitahu Bayu, naik bus enam jam. Bu Marni menonton seluruh balapan dari layar paddock, tangan mencengkeram pagar besi sampai buku jarinya putih.
Saat Bayu akhirnya keluar dari kokpit dan helm terangkat dari kepalanya — wajahnya basah hujan dan entah apa lagi — matanya bertemu mata ibunya melintasi keramaian.
Bu Marni tidak berteriak. Tidak melambai. Ia hanya menangis, diam, air mata bercampur hujan di pipinya, dan mengangguk pelan satu kali — pulang, anakku, kamu pulang utuh — sementara di tangannya yang lain, payung itu terlupakan, membiarkan hujan turun ke rambutnya yang mulai memutih.
Sekar berlari menembus kerumunan dan menubruk kakaknya, dan untuk beberapa saat Bayu tidak ingat soal utang, soal sponsor, soal apa pun selain bahwa untuk pertama kalinya sejak ayahnya mati, keluarga Prakoso berdiri di podium balap lagi.
Lima tahun. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun.