Foto itu ada di mana-mana keesokan paginya.
Bayu di podium, basah kuyup, trofi P3 di tangan, dan wajah yang belum sempat menyusun ekspresi apa pun selain keterkejutan murni. Di bawahnya, sebuah portal balap nasional memasang judul yang akan menempel padanya sepanjang musim:
*"ANAK YANG KEMBALI: Bayu Prakoso dan Kebangkitan Tim Hardian."*
Sekar membacakannya keras-keras di garasi sambil menggulir layar ponsel. "Tiga ratus ribu pembaca dalam semalam, Mas. Komentarnya ribuan. Kebanyakan... kebanyakan nangis. Banyak yang inget Bapak."
Bayu meletakkan kunci yang sedang ia pegang. "Inget gimana?"
Sekar diam sejenak, lalu membaca satu komentar pelan. "'Dulu saya nonton Hardian Prakoso balap waktu saya masih sekolah. Mobil biru itu selalu kalah cepat tapi nggak pernah menyerah. Lihat anaknya hari ini, saya kayak ditarik balik dua puluh tahun. Selamat datang kembali, Prakoso.'"
Garasi hening. Pak Heru, yang sedang membungkuk di atas mesin, berhenti bergerak sejenak, lalu kembali bekerja tanpa berkata apa-apa. Pak Gun menyeka wajah dengan punggung tangan dan berpura-pura ada yang masuk ke matanya.
Tapi sorotan datang dengan harga.
Pada siang hari, dua kru televisi sudah berdiri di depan garasi. Wartawan menelepon nomor yang entah dari mana mereka dapat. Adit, dari panitia Kejurnas, mengirim pesan bahwa permintaan wawancara untuk Bayu menumpuk. Dan tekanan yang dulu hanya berupa angka di surat utang kini bercampur dengan tekanan baru: harapan ribuan orang.
"Saya nggak bisa kayak gini," kata Bayu malam itu, duduk di anak tangga garasi. Tangannya gemetar tipis — bukan dari trauma kali ini, tapi dari sesuatu yang lebih asing. "Kemarin saya nggak ada apa-apanya, jadi nggak ada yang kecewa. Sekarang... sekarang kalau saya jelek di seri tiga, semua orang ini bakal nulis 'ternyata cuma keberuntungan hujan.'"
Pak Gun duduk di sampingnya, lutut berderak. Ia menyodorkan segelas kopi. "Kamu tahu apa yang lebih berat dari nggak ada yang berharap sama kamu?"
Bayu menggeleng.
"Banyak yang berharap." Pak Gun menyeruput kopinya. "Bapakmu hidup di bawah itu bertahun-tahun. Tiap musim orang bilang 'Prakoso bakal bangkit,' tiap musim mobilnya kalah dana. Kamu tahu gimana dia nahan?"
"Gimana?"
"Dia nggak balap buat mereka." Pak Gun menunjuk ke arah jalan, ke arah kamera dan harapan dan judul-judul berita. "Dia balap buat ini." Ia menepuk dada Bayu pelan. "Dan buat itu." Ia mengangguk ke arah PR-09 di bawah lampu garasi. "Sorotan datang dan pergi, Nak. Kemarin mereka lupa kamu. Hari ini mereka cinta kamu. Besok, kalau kamu kalah, sebagian bakal benci kamu. Kalau kamu hidup dari pendapat mereka, kamu bakal mati tiap kali mereka berubah pikiran."
Bayu memutar gelas kopi di tangannya. "Jadi saya harus cuekin mereka?"
"Bukan cuekin. Hormatin yang inget Bapakmu — itu tulus. Tapi jangan biarin trofi atau judul jadi alasan kamu balap." Pak Gun berdiri perlahan. "Alasan kamu balap udah ada dari jauh sebelum kamera-kamera itu datang. Rumah ini. Ibumu. Nama itu." Ia menunjuk ke logo PRAKOSO di pintu garasi. "Itu nggak berubah, mau ada kamera atau nggak."
Esoknya, Bayu melakukan satu wawancara. Hanya satu. Ia menolak yang lain dengan sopan lewat Sekar. Di depan kamera, ketika wartawan bertanya apakah P3 itu keberuntungan hujan, Bayu tidak membantah dengan marah.
"Mungkin sebagian," jawabnya tenang. "Tapi keberuntungan datang ke orang yang siap. Tim kami siap karena teknologi ban kami bisa baca lintasan basah lebih baik dari yang lain, dan karena mekanik-mekanik ini," — ia menunjuk Pak Gun dan Pak Heru di belakangnya — "ngerjain mobil tua ini sampai sehat tanpa dibayar. Itu bukan keberuntungan. Itu kerja keras orang-orang yang nggak masuk sorotan."
Klip itu menyebar lebih luas dari foto podium. Dan di kantor Wijaya Group, di lantai paling atas sebuah gedung kaca di kota, seorang pria tua menonton klip itu di layar besar, jari mengetuk pelan di meja kayu mahogani.
"Anak Hardian," gumamnya, lebih ke dirinya sendiri. Lalu, kepada asistennya: "Cari tahu berapa utang tim itu ke bank. Sampai rupiah terakhir."