Mark walaupun lebih muda dari Ragiel tak takut dengan bosnya sendiri, apalagi Mark sudah bekerja dengan Ragiel hampir 5 tahun ini. Tentu ada sedikit berani melawan bosnya sendiri yang menurutnya menyebalkan dalam urusan apapun.
“Tapi Tuan Saka akan menyeret Anda jika Anda kembali menolak.”
“Pergi! ” Ragiel memejamkan mata, sejujurnya ia sudah menolak perjodohan ini, tapi ada alasan kuat yang membuat Ragiel menerimanya.
“Aku harus bertemu dengan papa lagi, aku tidak bisa diam terus,”ucapnya dengan dingin segera meninggalkan kerjaan.
“Mark...”
“Ya Tuan?” baru saja di usir untuk pergi dari ruangan, sudah dipanggil kembali. Maunya apa?
“Selesaikan kerjaan hari ini, saya ada urusan.”
“Urusan apa Tuan?” tanya kepo Mark, memangnya Ragiel ingin kemana? Apa penting?
“Jangan kepo deh.”
Akhrinya Mark menghela nafas dan meninggalkan Ragiel yang menuju ke ruangan Papa Saka yang kebentulan ada di perusahaan ini.
Perusahan Bhagawanta belum sepenuhnya jatuh ketangan Ragiel, karna dirinya belum menikah dan memiliki keturunan. Hanya syarat itu saja, namun belum dijalan hingga sekarang.
“Kenapa?” tanya Papa Saka melihat putranya yang tampan bahkan tak menujukkan dia tua sama sekali.
“Aku tak mau perjodohan –"
“Tidak, perjodohan tetep berjalan. Mau bagiamanapun papa dan mama sudah melamar Claudia, dia gadis cantik. Baik, bahkan sebentar lagi akan lulus kuliah, kenapa selalu menolak ha? Kamu masih berhubungan dengan wanita itu lagi?” sentak Papa Saka marah, karna ragiel tipe orang yang dingin dan keras kepala.
Jika tidak dipaksa, ia tak pernah mendengarkan ucapan orangtua sendiri.
“Papa tidak berhak mengatur hidupku pa. Aku belum mau menikah.”
“Lalu kamu sudah siap meninggalkan nama Bhagawanta? Kalau sudah siap, silakan tinggalkan semuanya. termasuk pendidikan mu atas nama keluarga ganti dengan namamu sendiri, selain itu papa tidak peduli lagi. Dan, kalau mamamu tau, jangan salah kan papa.”
Selalu diancam, memang Ragiel bekerja keras di perusahaan ini. Tetep saja namanya bukan sepenuhnya miliknya. Tapi, nama Bhagawanta. Keluarga besarnya.
“Aku sudah punya hidup sendiri pa! ”
“Tidak bisa, sekali kamu memberontak. Kamu berarti siap menjadi miskin, bahkan papa pastikan tidak ada yang mau menerima kamu bekerja dimanapun.”
“Jam makan siang nanti datang ke Hotel Nuasa Indah,” ucap papa Saka setelah itu Ragiel benar – benar pergi meninggalkan ruangan itu. Bahkan ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan menahan semua ego dan kemarahannya.
Drttt .... drttt...
“Hallo Ragiel, aku lagi ada urusan kamu bisa jemput anak aku gak?” suara wanita dengan lembut bahkan begitu hangat di telinga Ragiel.
Lagi – lagi Ragiel menahan nafas, bertahun lamanya dia terbenggulu dengan wanita ini dan anaknnya. Bahkan tak ada orang yang tau, hanya keluarga Ragiel dan ditolak dengan alasan tak terima kehadirannya. Akhirnya, Ragiel diam – diam menjalani semua yang diinginkan wanita ini dengan paksaan dan rasa kesal serta kecewa.
“Untuk terakhir kalinya, saya akan menikah berhenti ganggu saya, " ucapanya dingin, ini alasannya ia tidak mau menolak karna wanita semerepotkan ini dan membuat dirinya marah dan kesal.
“Apa? Kamu mau nikah? Terus anak aku gimana Ragiel, bukannya kamu janji akan –“
“Aku tidak peduli, uang yang aku kirim tiap bulan tentu tidak kurang untukmu. Berhenti ganggu hidupku!” Setelah itu Ragiel mematikan telponnya sepihak ia malas berurusan dengan wanita seperti dirinya.
“Aku tidak sudi dengannya, aku hanya menjalankan tanggung jawabku. Dan aku tidak punya pilihan lagi. Aku harus menerima pernikahan ini.” Akhirnya Ragiel menjalankan mobil menuju sekolahan untuk menjemput anak dari wanita yang menghubungi dirinya.
*
Claudia keluar kelas dengan buru – buru karna, Auretta sudah menghubungi untuk tiba dihotel makan siang nanti. Claudia membawa mobil bahkan dengan mengangkat panggilan dari Auretta.
“Claudia, jangan lama ya sayang. Ini kelaurga besar Bhagawanta sudah datang lho. Mama gak enak nunggu kamu.” Auretta mencoba mengatakan Claudia agar segera tiba di sini.
“Iya mama ini Claudia udah dijalan kok.”
Namun, ia malah dikejutkan dengan mobil didepannya berhenti mendadak... dan Claudia pun mengerem spontan hingga bagian mobilnya bertabrakan langsung dengan mobil didepannya. Sungguh sial sekali, ingin cepat yang ada malah lambat.
“Sial banget, siapa sih bawa mobil gak bener gitu! ” Claudia dengan marah ingin turun... namun mobil didepannya malah melaju tak peduli dengan Claudia dan mobilnya.
“LHOO LHOOO MAIN PERGI AJA! ” Teriak Claudia kesal bahkan ia melihat mobilnya peyok bagian depan.
Sementara mobil yang melaju didepan adalah mobil Ragiel, dia baru saja mengantarkan sesorang dan berhenti tiba – tiba karna Avni menghubungi dirinya untuk segera datang begitu juga Saka karna marah bekum juga datang dan ia pergi meninggalkan perusahana.
“Oh s**t. Siapa yang nabrak dari belakang?” Kesal Ragiel saat mobilnya di tabrak namun ia tak peduli segera melanjutkan perjalanan ke hotel yang sudah di kirim alamatnya.
Sebelum tiba di hotel, Ragiel memilih untuk ke bengkel dan menghubungi Mark untuk ikut makan siang karna setelah ini ada meeting penting ia datang ke sana bersama dengan asistennya.
“Maaf saya terlambat, " ucap Ragiel membuat Claudia menoleh ke arah pria sebagai calon suaminya nanti.
Tampan, dan terlihat dingin.
“Kenapa lama?” desis Oma Laura lebih tepatnya oma Ragiel, ibu dari Sakalingga.
“Aku ada kerjaan sedikit,” kata Ragiel menatap datar mereka bahkan terkesan biasa saja.
“Baiklah semuanya kumpul dan datang, langsung saja kita bahas persiapan pernikahannya dan –“
“Tunggu Saka, kenapa buru – buru. Biarkan Ragiel kenalan calon istrinya” Oma Laura jengkel dengan Saka karna terkesan buru – buru bahkan ini pertemuan pertama mereka.
“Yaa... sapa calon istrimu Ragiel,” kata Saka dengan pelan dan tegas membuat Ragiel menatap Claudia.
Cantik.
Itu yang ada di pikirannya, bahkan cantik yang natural dengan polesan makeup tipis membuat dirinya terdiam beberapa menit.
“Kenapa? Terpesona? Gak nyesel kan papa cari jodoh buat kamu?”