Terpesona? Tentu saja orang buta pun akan berdebar melihat Claudia, ia secantik ini. Bahkan Ragiel mengatur ekspresinya agar tidak di caci maki oleh keluarganya, terutama Saka yang sudah menyebalkan langsung karna menolak dijodohkan dengan pilihan mereka.
Pilihan mereka, tak salah justru ini begitu sempurna.
“Claudia ini calon suamimu. Namanya Ragiel, dan Ragiel, ini calon Istrimu.”Avni dengan lembut hangat mengenalkan mereka yang mulai saling tatap untuk pertama kalinya. Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya.
Namun, Ragiel enggan menjabat tangan. Terlalu gengsi jika bersalaman dengan seorang wanita.
“Hallo kak, aku Claudia.” Claudia dengan hangat bersalaman ke Ragiel segera tangan itu dijabat. Hangat, namun ada rasa dingin yang membuat tubuh Claudia sedikit berdesir.
“Ragiel,” katanya dengan dingin “Berapa usiamu?” tanya kembali Ragiel karna Claudia terlihat masih muda sekali.
“Aku mau 22 tahun ini kak,” jawab Claudia.
“Hmmm, ” setelah itu tak ada obrolan lagi, tentu membuat Avni merasa jengkel dengan anaknya sendiri bagaimana pria itu kaku dan dingin ke calon istrinya sendiri.
Calon suamiku? Kaku dingin, gak kebayang kalau udah nikah akan jadi apa. Batin Claudia dengan senyuman tipis.
Dimana letak 33 tahunnya? Dia bahkan terlalu tampan dan muda, benar kata mama... umur hanya angka. Claudia kembali berpikir dengan wajah Ragiel tidak menemukan aura tua berumur kepala tiga. Justru terawat, tampan dan tegas.
“Kita makan siang lebih dulu, setelah itu kita bahas pernikahan anak – anak kita.” Saka akhirnya membuka makan siang, ia ingin mengisi tenaga sebelum membahas hal – hal yang menegangkan lainnya.
Sebelumnya, Claudia sudah kenalan dengan Oma Laurandan ternyata beliau menerima baik Claudia begitu hangat. Senyuman, bahkan candaan kecil membuat Claudia membayangkan bergabung dengan kelurga Bhagawanta tidak seburuk yang dia pikirkan.
Hanya satu yang ia pikirkan, suaminya nanti. Kalau bentukan seperti Ragiel begini pun? Akan butuh perjuangan untuk membuat hubungan mereka selalu harmonis dan bersama nantinya.
Mereka makan dengan tenang, walaupun di iringin obrolan ringan tidak mengurangi rasa nikmat dalam makan siang kali ini. Oma Laura terus menatap Claudia penuh sayang.
“Clau ambil kuliah jurusan apa sayang?”tanya Oma Laura membuat Claudia tersenyum kecil.
“Manajemen bisnis, Oma.” Menjawab dengan lembut, bahkan Claudia sempat melirik Ragiel, pria itu tak peduli dengan sekitar.
“Hebatnya,”
Setelah menyelesaikan makan siang, pembicaraan tentang acara pernikahan dimulai. Jujur saja, terlalu cepat bahkan Claudia tak menyangka bisa menikah secepat ini.
“Untuk baju, Claudia ingin yang gimana?” Avni bertanya dengan calon menantunya.
“Baju ya? Aku ikut saja, ma. Tapi kalau bisa, ada beberapa pilihan ya, biar aku bisa pilih yang cocok”
“Okey sayang, mama langsung urus.” Avni melirik Ragiel, sejak tadi diam bahkan tak ikut menyahuti percakapan tentang ini.
“Ragiel, kamu butuh undangan berapa? Biar kita bisa lebihin buat kamu,” tanya Avni begitu kesal melihat anaknya terlihat dingin.
“Tidak butuh, acara tetep private dan langsung pada acara tidak peduli kalian mau ini itu–”
“Ragiel, apa salahnya menghormati calon mertuamu. Mereka akan menjadi keluarga mu juga!” Sengat Oma Jasmine begitu keras, membuat Ragiel memejamkan mata.
Sebelum Oma Jasmine kembali mengeluarkan kata – kata lagi, ia langsung kembali bicara. Bagaimana pun Oma nya begitu cerewet membuat Ragiel pusing.
“Baiklah, maafkan saya papa mertua, mama mertua, dan kamu.” Ragiel langsung meminta maaf dengan mereka.
Matanya jatuh ke Claudia yang menatapnya penuh bingung dan tanda tanya. Gadis cantik itu, bahkan tak tau harus berekspresi apa di depan calon suaminya. Dia pikir Ragiel pria yang baik, atau apa? Ternyata sangat dingin dan arogan.
“Baik, semua sudah jelas. Untuk fitting baju menyusul biar kita wanita menyiapkan langsung.” Auretta tersenyum ia senang menjodohkan Claudia dengan anak Avni. Tapi, melihat Ragiel ia sedikit khawatir dengan putrinya.
“Jangan khawatir dengan anakku, Auretta. Kalau dia berbuat buruk dengan istrinya. Oma yang maju menyelesaikannya,” celentuk Avni membuat mereka terkekeh kecil.
“Claudia ada perlu lagi setelah ini?” tanya Saja memberikan perhatian.
“Tidak ada pa, setelah ini pulang kok,”
“Ragiel, antarkan pulang Claudia. Biar mobil Claudia di bawa pulang dengan supir,” ucap Elano tiba – tiba meminta Ragiel mengantarkan putrinya pulang.
Debaran jantung Claudia berdetak cepat, ia harus satu mobil dengan pria dingin, kaku dan gak bersuara sama sekali dalam perjalanan pulang.
Ragiel kembali membawa mobil dengan tenaga, seolah keberadaan Claudia bukan sesuatu yang penting.
Claudia akan menikah seperti ini? Dengan orang dingin tak bersuara sama sekali. Batin Claudia mencoba menahan diri mulutnya tidak mengutuk Ragiel yang membisu.
“Mungkin memang bisu,” gumam pelan Claudia membuat Ragiel mendengar namun tak peduli.
“Turun,” ucap Ragiel saat mereka tiba di kawasan rumah Claudia.
Claudia turun tanp mengucapkan apapun, ia menutup pintu mobil sangat keras. Bukan apa, dia kesal. Bagaimana mungkin menghadapi pria dingin membuat tenaganya terkuras habis. Padahal hanya diam bukan? Tidak teriak, tidak bersuara tapi melelahkan.
“Dasar laki-laki aneh, laki-laki bisu gak bisa ngomong benar aminn. Tuhan kabulkan do'aku yang baik ini,”Claudia dengan spontan mendoakan buruk ke Ragiel.
*
Ragiel hanya bisa menahan diri, jujur saja Claudia bukan prempuan buruk.
Cantik sih, tapi entah kenapa Ragiel tak suka.
“Akan ku buat dia menderita dengan pernikahan ini, gara-gara dia mereka kalau bicara semakin sinis, ” lirih Ragiel mengingat Oma Laura dan keluarga terus mengatai dirinya.
“Pernikahan sialan, semua wanita sama saja.” Entah kenapa ia membenci wanita yang begitu menyebalkan dan merepotkan saja.