“Clau, kau baru datang?” tanya seseorang wanita cantik yang baru, ia adalah sahabat Claudia. Bernama Hana Safita.
“Hana, aku ingin curhat!” Tatapan kesal dan badmood dengan Hana, namun ia benar-benar butuh teman agar beban pikirannya berkurang.
“Ha, kenapa? Ayoo ke taman,” ajak Hana karna kelas mereka akan mulai satu jam lagi.
“Kenapa Clau, ada masalah?” tanya Hana saat mereka ada di bawah pohon dengan kursi besi yang sedang kosong.
“Hana, aku dijodohkan dengan papa dan mama ku,” katanya dengan raut murung. Namun ia tak sedih. Mereka bicara dengan pelan, ditambah suasana taman sepi tidak ada orang tentunya tak ada mendengar obrolan mereka.
Hana melolot sempurna. Bahkan ia tak bisa menjawab ucapan Claudia yang tiba – tiba begitu saja.
Dijodohkan? Pikir Hana, hidup sekarang masih ada jodoh – jodohan ya? Bukannya jodoh sudah ada yang atur, dan nanti akan datang sendiri. Kenapa Claudia malah di jodohkan oleh orangtuanya?
“Yang bener aja lo!!!” tak percaya Hana bahkan ia berteriak.
“Jangan teriak, aku akan menikah. Tapi pernikahan ini dirahasiakan, jadi tolong diam mulutmu itu yang gampang bicara.”
Claudia menceritakan semua ke Hana, mereka sudah dekat. Dan kenal baik, tentu saja orangtua mereka pun menjalin hubungan baik. Hana hanya bisa memeluk Claudia dengan hangat bahkan ia sendiri rasanya ingin nangis mendengar cerita Claudia.
“Aku gak bisa nolak keinginan papa, kamu tau kan papaku orangnya keras dan tegas. Jadi aku terima saja,” Claudia bercerita dengan wajah cemberut dan murung, ia bingung harus bicara dengan siapa. Karna Hanalah yang paling ia kenali dan dekat.
Kalaupun dengan Auretta, mamanya pun akan sama. Jawabannya pasti itu saja, mereka melakukan ini semua dengan pertimbangan yang sudah matang. Tidak asal, jadi Claudia tidak bisa bertindak banyak. Ia hanya bisa menerima dan ikut saja.
“Clau, aku gak tau harus ngomong apa. Tapi, kamu hebat banget, kamu jadi anak yang nurut lho sama mereka. Bahkan selama ini kamu gak pernah neko – neko itupun udah waw banget," ungkap Hana yang selama ini dekat dengan Claudia.
Claudia bukan tipe orang yang aneh – aneh, memang sih dia boros soal belanja, fashion, apalagi bentuk kecantikan dia tidak pernah mandang harga. Tapi, dia tak pernah melakukan keburukan yang membuat nama keluarga Claudia menjadi sorotan. Karna bisa menjaga nama baik keluargnya.
Dan sekarang? Claudia harus menerima perjodohan yang dia sendiri belum siap.
“Tapi aku dijodohin sama anak orang kaya,” senyuman menggoda Claudia sudah dicurigai oleh Hana.
“Siapa? Harus setara lah sama kamu, orang kaya sama orang kaya, keluarga mana Clau?”Hana penasaran, pria mana yang beruntung mendapatkan putri dari keluarga Dinakara.
“Keluarga dari Bhagawanta,” senyuman kecil Claudia membuat Hana kaget.
“APAAAAA?” syok berat. Keluarga pengusaha dengan kekayaan yang sedang tranding, bahkan selalu menduduki posisi pertama selama ini. Dan sahabatnya nanti, Claudia akan menjadi istri dan bagian dari keluarga Bhagawanta?
“Iyaa, awalnya aku pun kaget dan bingung, kenapa aku yang dijodohkan? Taunya, mama papa sahabatan sama meraka.”
“Tuan muda Ragiel Rajana Bhagawanta?” tanya Hana bahkan tak menyangka jika sahabatnya akan menjadi istri dari seorang Ragiel.
“Iya, Ragiel.” Senyuman kecil Claudia juga tak menyangka akan menjadi bahagia dari keluarga besar dan ternama.
“Astaga Clau, Om Elano dapat tuan muda tampan itu dari mana?” tanya Hana tak menyangka jika Claudia mendapatkan pria tampan rupawan.
“Hmmm rahasia keluarga,”
“Terus, apa yang membuatmu sedih Clau?” Hana heran sendiri, pasalnya keluarga Ragiel bukan keluarga sembarang. Tapi Claudia sedih dan murung.
“Dia pria yang dingin, kaku dan tidak bisa bicara. Aku takut dia akan kejam denganku,” Tatapan memelas Claudia membuat Hana melongo begitu saja.
Benar, dengan isu yang beredar kalau Ragiel sosok yang tegas dan dingin. Bukan sesuatu yang mengejutkan, namun tetep saja Claudia sedikit takut dengan laki-laki walaupun akan menjadi suaminya.
"Benar sih, aku denger juga dia sedikit kejam dengan orang lain. Tapi masa dengan istri juga kejam Clau? Kayakny enggak sihh,”
“Entahlah, aku gak tau.”Pertemuan pertama cukup membuat Claudia overthinking dengan pria dingin itu, bahkan ia merengek ke Auretta dengan sikap Ragiel yang datar saja.
“Aku masih penasaran, kenapa dia sampai dijodohkan, ” tentu saja Ragiel tampan, tidak mungkin wanita diluar sana tidak menyukai Ragiel.
Justru, yang dia dengar Oma Laura mengeluh kalau Ragiel tidak mau menikah memilih untuk lajang. Jika bukan karna harta waris harus ahli nama, terpaksa dia menerima perjodohan dengan Claudia.
“Tapi kamu pernah denger gak sih, kalau dia punya mantan?”tanya Hana memang ia aktif urusan media sosial.
“Gak tau, aku gak pernah ngurusi hidup orang. Ngapain? Buang waktu saja!”
“Benar banget, by the way kapan ya pengumuman magang itu, lama banget kayaknya. Pengen cepet lulus kuliah, tapi harus hadapi skripsi dulu, ” lesu Hana membuat Claudia tertawa.
“Apa sih Han, lagian skripsi paling juga revisi atau gak ulang semester lagi,”
Seketika masalah tentang Ragiel lupa, jika membahas hal perkuliahannya. Masa akhir memang banyak tugas, mereka tinggal menunggu pengumuman saja.
“Mall yuk nanti, bosen banget!” ajak Claudia.
“Gas!” Hana langsung semangat mereka langsung kembali ke kelas karna sebentar lagi di mulai.
“Oh ya Han, soal tadi jangan bilang siapa-siapa ya. Pernikahan itu private,” ucap Claudia tidak memberitahu alasannya karna keinginan Ragiel untuk merahasiakan pernikahan mereka.
“Aman Clau, bawa santai saja. Nanti shopping banyak aku mau beli make-up baru, sama lipstik juga boleh deh,”
“Lahh bukannya kemarin udah beli?”
“Yaelahh kayak gak sadar sama diri sendiri,” ucapan Hana membuat mereka menertawakan diri sendiri.