Claudia datang ke salah satu butik ternama, dimana dia akan melakukan fitting baju untuk pernikahan dengan Ragiel. Begitu cepat persiapan mereka, karna tak banyak yang disiapkan karna pernikahan ini di privasi. Tidak mengundang banyak orang, hanya keluarga dekat dan kerabat yang mengenal baik mereka saja.
“Cantik sekali, sudah siap ke butik?” tanya Auretta ke Claudia yang sudah siap untuk acara hari ini.
“Thank's mam, aku sudah siap.”
Akhirnya mereka berdua menuju ke butik yang sudah dijanjikan dengan keluarga Bhagawanta. Disana, Mama Avni dan Oma Laura sudah menunggu kedatangan Claudia.
"Sudah lama menunggu kita?" tanya Auretta tak menyangka jika Avni dan Oma Laura sduah tiba disini. Bahkan mereka baru saja mengirim pesan jika dalam perjalanan.
"Tidak Retta, aku dan Oma baru saja tiba," Avni tersenyum kecil melihat Claudia dipeluk dengan Oma Laura.
"Oma terlihat menyukai putriku, Avni." Bohong jika tidak menyukai Cladia, dia gadis cantik dengan fashion yang cukup elagant.
"Syukurlah jika kalian menyukai, Claudia."
Masih dengan Oma Laura yang memeluk Claudia penuh sayang, ia bahkan begitu senang melihat kedatangan Claudia.
"Cantik sekali kamu sayang," puji Oma Laura masih menatap cantiknya wajah Claudia.
"Terimakasih Oma Laura," balas Claudia malu - malu.
"Kita masuk ke dalam sayang," ajak Oma Laura masuk kedalam butik, yang hari ini butik di sewa langsung oleh keluarga Bhagawanta.
Terlihat begitu banyak gaun pengantin yang mewah dan indah, gaun secantik ini dengan pernikahan yang di tutup rahasia membuat mereka sedikit sedih. Sangat disayangkan sekali bukan?
"Kamu pilih yang suka dan cocok ya!" Avni begitu menerima Claudia dengan kasih.
Claudia memilih gaun, begitu banyak model dan membuat Claudia semakin bingung karna semua bagus.
"Mau kayak princess?" tawaran dari Auretta membuat dirinya melihat gaun begitu mewah dan megah. Jika dia pakai, akan menjadi princess seharian yang cantik dengan gaun itu.
"Tidak mam, terlalu besar!" tolak Claudia memang gaun besar tidak cocok untuk pernikahan yang dirahasiakan.
"Lagian pernikahan ini di rahasiakan mam, aku pilih yang sederhana dan gak ribet aja," lanjut Claudia membuat Avni dan Oma Laura saling tatap.
"Sayang, walaupun kita gak banyak undang tamu tapi kamu tetep acaranya harus mewah."
Perkataan dari Auretta membuat Claudia abai begitu saja, ia masih memilih gaun apa yang dia pakai?
Pandangan jatuh dengan gaun model the shoulder. Claudia yakin, dia cocok dengan gaun itu.Ia ingin bagian leher terlihat jenjang dan terlihat seksi tentunya. Tidak hanya itu saja, bagian bawah dengan panjang membuat baju semakin manis.
"Aku pilih ini aja mam, cocok dibadanku."
"Coba dulu ya sayang?" ucap Auretta membantu putrinya mencoba gaun pilihannya.
Tak lama kemudian dia menggunakan gaun putih, bahkn viel kepala sengaja di lepas membuatnya sangat cantik. Potongan gaun terlihat ketat membuat badan Claudia benar-benar cantik.
"Cantik sekali menantuku," puji Avni begitu menerima Claudia.
"Benar cantik dan cocok, kamu semakin seksi sayang," goda Oma Laura membuat mereka ketawa.
"Jangan begitu, aku malu."
Claudia malu - malu akhirnya meminta untuk melepaskan gaun tersebut. Cukup ia rasa mencoba, ia tersenyum miris mengingat gaun cantik ini tidak banyak orang yang tau.
Sabar gini jadinya kalau nikah dijodohin, pernikahan dirahasiakan bahkan calon suami tidak ikut fitting baju, batin Claudia kesal karna orang secantik Claudia dibiarkan seperti ini.
"Oh ya, Clau. Maafkan Ragiel sayang, dia sedang sibuk ada meeting penting jadi tidak bisa ikut fitting bareng kita," ucap Mama Avni walaupun sudah menghubungi Ragiel tidak ada balasan sama sekali.
"Gapapa ma, tapi agak ngelesin dia ya. Hmmm, kalau boleh tau Kak Ragiel tipe orang dingin ya ma?" tanya Claudia sedikit gugup tapi penasaran.
Claudia ingin mendengar cerita versi keluarga Ragiel, kalau versi di dunia media sosial pasti kan Ragiel orang yang dingin, datar bahkan begitu kejam dengan orang lain. Bagi Claudia, pasti ada versi beda dari keluarga Ragiel sendiri.
"Dia memang kaku, kalau kamu diabaikan terus... lapor ke Oma sayang. Biar Oma yang maju, tapi dia juga penyayang kok. Buktinya Oma minta dijodohkan Ragiel nurut, walaupun sedikit ancaman."
Mereka tertawa bersama, membicarakan orang lain tentu sesuatu yang lucu. Semua kejelekan, keburukannya, bahkan kebiasaan yang aneh menjadi bahan lelucon.
"Benar, mama juga heran sama dia. Umur sudah 33 tahun lhoo sayang, di jodohkan sama kamu aja masih nolak! Mama kan kesel jadinya, benar kata kamu dia ngeselin!" tambah Avni membuat Claudia terkekeh kecil.
"Tapi Claudia harus jadi istri yang baik kak, tidak boleh kayak gini. Kamu ini emang penurut, tapi mulut kamu juga gak bisa nurut kalau bicara," tegur mama Auretta gemes dengan putrinya.
"Iya iya ma, kalau aku ikutan dingin dan kaku kayak Kak Ragiel aku mana bisa," balas Claudia dengan senyuman manis membuat mereka tertawa bersama.
Claudia tipe orang yang tidak bisa kalem, bisa sih tapi dia memang menyukai orang diam ataupun cuek. Dia harus cuek, bukan orang lain yang cuek.
"Kamu bisa gak sayang buat Ragiel naksir sama kamu?" goda Oma Laura membuat Claudia tersenyum kecil, malu jujur tapi dia juga salting.
"Bisa dong Oma, istri cantik kayak gini dianggurin kan sayang!" seru Mama Avni tidak mungkin Ragiel tidak jatuh hati dengan Claudia.
"Aku juga berharap Ragiel menerima baik Claudia," harapan kecil Auretta membuat mereka beraminn agar menjadi kenyataan.
"Aku pastiin kalau Kak Ragiel yang suka aku dulu, mama."
"Harus sayang!"
"Oma yakin, Ragiel kecintaan sama kamu deh," canda Oma Laura membuat Claudia tak bisa menahan diri untuk tertawa.
*
"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Anda. Dia ada dibawah, katanya sudah membuat janji dengan Anda." Mark, tiba - tiba masuk menghampiri Ragiel yang sedang sibuk dengan tumpukan berkas langsung dia.
"Siapa? Saya tidak memiliki janji sama sekali," ucap santai Ragiel memang tak penting karna tidak merasa memiliki janji.
"Seorang wanita, hmmm nona yang serinv menghubungi Anda untuk menjemput putrinya."
Deg.
Ragiel menahan diri untuk tidak mengumpat, kenapa wanita itu masih saja datang ke sini?
"Suruh masuk ke sini!"
"Baik Tuan," Mark langsung memanggil wanita yang menunggu dibawah untuk kesini.
Wanita cantik itu berjalan dengan percaya diri, bahkab suasana kantor sangat sepi karna memang sedang sibuknya. Dia datang membawa paperback besar yang isinya makan siang untuk Ragiel. Jujur dia membawakan ini begitu senang, tapi takut karna Ragiel melarang untuk datang ke kantor ini.
Dan ia begitu berani untuk ke sini.
"Ragiel, terim-"
"Pergi, sudah saya ingatkan jangan pernah datang ke kantor ini. Masih kurang peringatan saya dengan kamu?" suara dingin Ragiel membuat wanita itu diam, bahkan suasana ruangan begitu dingin dengan aura Ragiel.
"Pergi dari hadapan saya, sebelum papa saya tau kamu disini!" usir Ragiel bahkan ia tak melirik wanita itu sama sekali.
Baginya wanita itu tak penting, kalau bukan anaknya mana mau Ragiel harus menahan diri berbaik hati dengan mereka.