Malam sebelum hari pernikahan besok.
Dua keluarga besar sudah ada di hotel yang mereka sewa, Claudia sudah bersama keluarga dan kerabat dekat hanya beberapa saja. Tidak banyak yang datang, karna waktu yang tidak tepat terlalu tiba-tiba.
Claudia ada di balkon kamar pengantinnya, bahkan sejak persiapan pernikahan Ragiel tidak pernah datang. Ragiel selalu menolak datang, atau dengan alasan dia terima beres. Apapaun itu, dia ikut saja dan tidak mau ribet..
"Sialan, kenapa aku harus nikah dengan orang dingin seperti dia?" kesal Claudia hingga sekarang belum bertemu dengan Ragiel.
"Sebenarnya dia sibuk apa sih?" tanyanya dengan dirinya sendiri.
"Mau menolak perjodohan ini juga, aku gak bisa. Mama Avni dan Oma Laura begitu bahagia liat perjodohan ini. Tapi, masa aku harus menderita diatas kebahagiaan mereka?"
Claudia menatap langit yang sudah gelap, bahkan malam ini mereka sudah kumpul bersama untuk acara besok. Claudia tanpa sadar menetes air matanya. Bingung? Jelas, siapa yang tidak bingung merasakan jika kehadiran tidak diinginkan oleh calon suaminya.
Untuk kenalan, ngobrol pun dia tidak pernah.
Claudia menangis cukup diam, bahkan ia bukan sedih karna Ragiel. Tapi, dirinya sendiri yang hingga sekarang belum diterima baik oleh calon suaminya.
"Aku harus apa lagi, pernikahan di rahasiakan? Kenapa? Aku pengen tau alasannya kenapa pernikahan ini di rahasiakan."
Claudia tanpa sadar, ada lingkaran tangan di perutnya membuat dia sontak kaget.
"PAPA!!!" teriak Claudia benar-benar syok, Elano memeluknya dari belakang.
"Kenapa nangis sayang?" tanya Elano tak menyangka putrinya diam - diam menangis.
Elano mengenal Claudia, kalau dia bukan tipe wanita lemah. Dia tipe marah, bahkan ngomel-ngomel dengan orangtua untuk melampiaskan rasa sedihnya. Tapi, beda dengan malam ini. Claudia menjadi orang rapuh bahkan menangis tak tau alasannya apa?
"Papa jadi nikahin aku sama Kak Ragiel gak sih, Pa?" tanya Claudia begitu kesal dengan raut cemberut.
"Jadi sayang, semua udah siap. Besok kamu akan jadi istri orang malahan."
"Claudia hanya penasaran Pa, sebenarnya Kak Ragiel menerima pernikahan ini atau tidak?" tanya Claudia.
Jujur saja, memulai hubungan dengan orang baru butuh banyak pertimbangan. Rencana yang diatur, bahkan Claudia tak ingin pernikahannya bermasalah. Dia ingin menikah sekali seumur hidup, walaupun dengan perjodohan ia akan memperjuangkan pernikahan ini hingga bahagia.
"Sama seperti kamu sayang, tapi papa percaya kalau kalian bisa saling menerima satu dengan lain. Dan saling mencintai suatu saat," nasehat Elano membuat Claudia mengehela nafas.
"Jangan cemas sayang, mana Clau yang bawel dan manja hemm?"
"Oke, aku akan mengejar cinta pria dingin itu. Tapi, papa yakin kalau dia baik kan? Maksud Clau, takut dia jahat dengan istri."
"Tidak sayang, dia orang baik. Papa yakin, dia penyayang, dan satu yang pasti buat kamu girang nanti!" goda Elano dengan sedikit senyum membuat Clau mengerutkan kening.
"Apa yang girang?" tanya Claudia..
"Uangnya banyak, dia kaya. Kalau kamu minta yang, papa yakin dia akan kasih 2 kali lipat yang kamu minta."
Seketika tawa Claudia dan Elano menggelegar. Tidak menyangkal kalau Claudia suka dengan uang, untung saja dia hidup di keluarga besar tidak pernah merasakan rasa kurang atau susah, yang ada ia merasa cukup.
"Oh my God, Papa. Berhenti menyebalkan, aku tidak mau di cap sebagai wanita mata duitan ya!"
"Kata kamu kemarin, hidup butuh uang sayang," balas Elano membuat Claudia semakin tertawa.
"Harus pakai uang lah, oh ya mama dimana?" tanya Claudia tidak melihat Auretta di sini.
"Ada dikamar, mau ketemu mama?" tanya Elano karna hotel disini sudah di isi dengan rekan keluarga walaupun belum banyak yang datang.
"Boleh, aku pengen tidur bareng kalian. Bertiga, pokoknya sebelum aku besok nikah jadi istri orang aku harus jadi anak manja kalian dulu!" ucap Claudia memeluk Elano dengan sayang, ia tak mau mengakui jika dirinya manja.
Sebaliknya jika ada yang bilang, 'dasar anak manja' ia akan kesal dan tak terima dikatakan seperti itu.
Claudia gadis yang cerdas dan mandiri, ia selalu berusaha untuk terlihat dewasa dan tenang. Walaupun hati kecilnya menolak tidak mau, tapi ia berhasil menjadi wanita yang elegant dan berkelas di keluarga mereka.
*
"Apa Ragiel belum ke sini? Ini hampir dini hari kenapa belum juga kesini. Coba kamu hubungi Saka, suruh anaknya untuk datang ke hotel sekarang!" Oma Laura sudah marah dan emosi melihat cucunya belum kesini.
Makan malam sebelum hari pernikahan yang dilakukan keluarga besar, Ragiel tidak datang. Oma Laura bersalah dan tak enak dengan keluarga Claudia, mereka masih beralasan Ragiel dengan pekerjaan dan semakin membuat suasana tak enak hati.
Oma, tidak masalah kalau Kak Ragiel belum bisa datang. Aku sudah lapar, kapan makannya? Begitulah ucapan Claudia saat mereka menunggu Ragiel di meja makan yang tidak datang.
Claudia menampilkan wajah biasa saja, walau hati kecilnya tersinggung tapi ia ingin menyelesaikan makan malam dengan cepat.
"Oma, Ragiel dalam dalam perjalanan. Oma jangan marah terus," Saka memijat kening begitu pusing dengan anaknya sendiri.
"Bagaimana Oma tidak marah Saka, anakmu itu sudah membuat keluarga Claudia seakan tidak dihormati. Oma tidak enak hati dengan mereka, kita yang menginginkan Claudia dia juga yang harus menghadapi tingkah anakmu yang keterlaluan itu."
"Sebentar lagi dia datang, Oma. Sekarang istirahatlah, setidaknya besok dia akan tetep menikah dengan Claudia. Aku juga cukup pusing dan akan tangan dengan anakku sendiri."
"Terserahmulah, biar tau rasa bagaimana aku dan suamiku dulu menghadapi tingkahmu!" sindiran Oma Laura membuat Saka diam.
Dulu ia begitu dingin, namun Rageil jauh lebih dingin dan keras kepala dengan orang lain. Jangankan orang lain, orangtua sendiri Ragiel masih saja dingin.
"Dia selalu mementingkan anak kecil itu, sudah ku katakan jangan berhubungan dengan wanita dan anak itu. Tetep saja ngeyel"
*
"Aku harus pulang, Cinara sudah tidur." Ragiel memutuskan untuk kembali pergi dari kediaman orangtua Cinara.
"Kami sudah berjanji dengan Cinara untuk menginap, Ragiel."
"Tidak bisa, aku tidak berjanji. Ku hanya mengatakan untuk menemani hingga tidur!" bantah Ragiel sudah terlalu muak dengan wanita di depannya.
"Berhenti mengurusi ku, aku akan menikah. Jika kau bisa mengurus sendiri lakukan, aku tidak pernah lupa untuk memberimu uang lebih. Panggil babysitter untuk menemani Cinara."
Ragiel amat sangat marah, dia membatasi diri tidak datang ke sini. Tetep saja, Cinara yang memintanya datang.
Ya, anak kecil yang ia temani tidur adalah Cinara. Masih ingat dengan Ragiel yang menjemput anak kecil di sekolah? Dia bernama Cinara.
"Ragiel, kapan kamu menerimaku dan Cinara? Kita cukup lama bersama, tapi kamu hanya menerima Cinara. Tidak denganku, aku ibunya Ragiel!" wanita itu begitu menyukai Ragiel, bahkan sejak lama sudah menaruh hati dengan pria dingin didepannya.
"Aku tidak bisa, aku pergi!" Ragiel tidak mau berinteraksi banyak dengannya, dia memilih kembali pulang karna malam ini ada acara dihotel, ia tidak bisa datang karna anak kecil itu sakit.
"Ragiel, kapan kamu liat aku? Kenapa kamu hanya liat Cinara saja, besok kamu nikah. Dan kamu wanita asing jadi istrimu, sedangkan aku? Tidak pernah kamu lirik sama sekali."
Wanita itu menatap mobil Ragiel keluar dari pekarangan rumahnya, bahkan rumah ini dibelikan Ragiel untuk dirinya dan anaknya.
Naysa, dia ibu dari Cinara. Bahkan Cinara umur 7 tahun sudah, mereka hanya tinggal berdua. Naysa bekerja sebagai model, namun... tak banyak yang mengenal jika dia memiliki seolah anak. Hanya Ragiel yang bisa menutup akses dirinya.
Naysa bahkan menyukai Ragiel, namun pria itu tidak mau tau soal perasaannya. Kalau bukan Cinara, putrinya dia tak akan pernah sudi peduli dengannya. Bahkan uang cuma - cuma dia dapatkan dengan mudah.
"Aku harap setelah kamu nikah, kamu tetep peduli dengan ku dan Cinara."