Hari pernikahan tiba.
Claudia mulai bersiap, bahkan ia sudah make-up dengan cantik ditambah rasa gugup dan gelisah karna sebentar lagi acara akan mulai. Claudia masih penasaran, apa calon suaminya datang? Kenapa mereka tidak bertemu sama sekali.
Pernikahan yang disadari tanpa ada rasa cinta, rasa kenal mengenal membuat Claudia khawatir. Bagaimana rumah tangganya nanti, jika mereka tidak mengenal?
“Tidak, aku harus bisa menjaga rumah tanggaku. Suami dingin pun, bisa aku jinakan bukan?” gumam pelan Claudia mencoba menyemati dirinya.
“Aku akan balas dia, enak aja udah buat jiwa ini seakan tidak diinginkan alias terpaksa,” ucap Claudia merasa Ragiel benar – benar tidak menerimanya.
“Clau...” panggil Auretta dan Elano.
“Mama, papa?”
“Iya sayang, how do you fell now?” tanya Auretta terkekeh kecil melihat Claudia gugup bahkan tangan gadis itu begitu dingin.
“Nervous, tapi aku baik – baik saja ma,” ucap Claudia walau gugup dia akan mencoba untuk tenang.
“Berbahagialah sayang, kamu adalah putri mama dan papa yang paling kita sayangi.”
Elano sudah menguatkan hati, untuk tidak menangis. Ia akan melepaskan Claudia, putri yang dia besarkan penuh cinta dan kasih sebentar lagi akan menjadi seorang istri dari Ragiel, anak sahabatnya.
"Aku pasti bahagia ma, pa. Walaupun pernikahan ini karna perjodohan kalian memiliki pria yang tepat untukku, dan aku akan bahagia. Percaya dengan ku, jangan nangis. Entar aku ikutan," tawa kecil Claudia benar-benar haru, berusaha tidak menangis.
“Jangan nangis, udah cantik gini masih aja nangis,” goda Elano padahal ia mati – matian manghalau air matanya agar tidak menetes.
“Aku sayang dengan kalian, terimakasih sudah menjadi orangtuaku, pa...ma.”
Mereka berpelukan, Claudia tidak bisa menahan air matanya. Ia menangis, berusaha untuk tidak nangis akhirnya runtuh saat berpelukan.
Kadang, melepaskan anak untuk menjadi milik orang lain begitu berat. Ada rasa tak rela, mereka yang sudah membesarkan, sudah menyayangi dan begitu mudahnya pria lain datang menjadi bagian hidup untuk putrinya.
Tapi, ada perasaan bahagia untuk mereka. melihat Claudia akan menikah dengan pria pilihan mereka. dan hanya doa harapan baik yang akan dipanjatkan hari ini untuk pernikahan mereka.
“Bahagia selalu sayang, ayo acara sudah di mulai. Maafkan papa tidak membuat pesta pernikahan yang besar untukmu,” ucap Elano mengusap lembut air mata putrinya.
“Tidak pa, aku tidak masalah dengan pesta atau apa... begini pun aku sudah senang. Liat gaun pernikahan yang aku inginkan, dan dekorasi pelaminan begitu megah pun sudah menjadi impian aku. Kurangnya, tidak mengundang banyak orang saja.”
Claudia mencoba menerima dan berpikir positif soal pernikahan yang dirahasikan. Karna baginya pesta pernikahan hanya sebuah perayaan. Yang penting mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri bukan?
“Terimakasih Clau, papa dan mama benar – benar sayang denganmu. Kamu anak baik kita, kami bangga denganmu sayang. Jika suatu saat kamu butuh tempat pulang, ingat mama disini orang yang pertama akan kamu memelukmu.”
Auretta tak kuasa menahan tangisanya, mengucapkan kata demi kata sebelum Claudia menjadi seorang istri.
“Iya mama, aku akan mengingat kalian.”
*
Ragiel, sudah menggunakan setelan jas putih, ia menunggu calon istrinya untuk datang dan mengucap janji didepan Tuhan dan pendeta. Namun, hatinya gelisah dan gugup. Bahkan beberapa kali ia mengatur nafas untuk tetap tenang.
Pernikahannya ini benar – benar tidak membuat dia tenang, dibalik wajahnya yang dingin dia begitu tak sabar untuk menyelesaikan acara ini.
“Kamu gugup?” tanya Saka melihat putranya gelisah.
Mereka baru saja mengeluh karna Ragiel belum juga datang, tapi sekarang mereka sudah bernafas lega karna Elano sudah siap. Bahkan dibalik dinginnya pernikahan ini, Ragiel diam – diam membeli cincin sendiri untuk calon istrinya. Sedangkan cincin dari keluarga dikembalikan Ragiel langsung oleh Avni, mamanya.
“Ambil, aku sudah membawa cincin sendiri,” ucapnya tadi sebelum mereka keluarga dari kamar.
“Cincin apa yang kamu bawa?” tanya Avni tidak setuju, saat cincin pernikahan yang sudah disiapkan di tolak oleh Ragiel.
“Tentunya lebih baik, daripada pilihan mama.”
“Apa? Kamu nyiapin cincin untuk calon istrimu?” tanya Avni tidak bisa menahan senyuman. Ia sangat senang melihat tindakan Ragiel diluar dugaan.
“Hmmm,” hanya gumaman pelan dari Ragiel yang Avni dengar.
“Saka, sudah. Acara sebentar lagi di mulai, hanya menunggu calon mempelai waniata saja!”
“Ya – ya, aku hanya bertanya dengan dia. Terlihat gelisah dan gugup, bahkan tanpa sadar keningnya berkeringat.” Saka terkekeh pelan melihat Ragiel mengatur diri untuk tetap tenang.
Tak lama, suara pintu ruangan mulai terbuka.
Claudia, bejalan disamping oleh Elano sedangkan Auretta dibelakangnya memegangi gaun yang udah dirapikan di karpet putih. Auretta tidak sendiri, ada Oma Laura yang menyusul mereka.
"Pa, aku gugup rasanya jantung aku mau copot," lirih Claudia bahkan genggaman tangannya ke Elano semakin kuat.
Melihat betapa gagah dan tampannya Ragiel yang menunggu dirinya sebelum naik ke atas panggung.
Langkah mereka semakin dekat, bisa Ragiel liat cantiknya Claudia membuat pancaran cahaya begitu sirna. Semua mata menuju ke mereka, walaupun hanya beberapa tamu, tapi Claudia tau jika ruangan ini begitu indah.
"Saya titip, Claudia. Putriku, jika kau ingin menyakiti atau tidak sudi dengannya... kau bisa mengembalikan dia denganku lagi."
Perkataan Elano seolah, Ragiel tidak diizinkan untuk menyakiti Claudia. Bagi Elano, Claudia adalah permata yang ia jaga dari kecil sampai kapanpun. Elano ingin Claudia mendapatkan laki-laki yang baik, penuh kasih dan cinta.
"Saya janji." Ragiel dengan yakin berjanji ke Elano.
Ragiel mengambil tangan Claudia dari Elano. Menatap mata Claudia yang begitu cantik dan memenangkan. Mereka berjalan ke atas panggung, Claudia berjalan pelan dan dibantu Ragiel dengan hati – hati.
"Mari kita mulai pengucapan sumpah dan janji pernikahan ini, di hadapan Tuhan dan disaksikan oleh mereka semua." Pendeta langsung memulai doa dan acara untuk pernikahan dimulai.
Tatapan orangtua melihat kedepan bsgitu haru, Oma Laura bahkan sejak tadi meneteskan air mata. Akhirnya cucunya menikah di usia hampir 33 tahun ini.
"Saudara Ragiel, apa engkau menerima saudari Claudia menjadi istrimu hingga maut memisahkanmu?" tanya pendeta saat mereka saling berhadapan.
"Ya, saya bersedia!" ucap Ragiel dengan yakin bahkan matanya masih menatap mata Claudia yang mulai gelisah.
"Saudari Claudia, apa engkau bersedia menerima saudara Ragiel untuk menjadi suamimu? Melayani dan menghormati saudara Ragiel sebagai kepala keluarga dan hidup bersama hingga mau memisahkan kalian?" kini bergantian dengan Claudia ia gugup, bahkan detak jantung berdebar sejak tadi menatap Ragiel.
"Saya bersedia," ucap Claudia pelan, mengandung keyakinan jika kini ia benar-benar siap menjadi istri dari Ragiel, suaminya.
"Dengan ketulusan hati, disaksikan oleh Tuhan dan orang-orang beriman. Kalian resmi menjadi pasangan suami istri, baik sah dalam negera dan dihadapan Tuhan. Dengan mengucap janji suci pernikahan untuk saling menjaga dan mencintai hingga maut memisahkan kalian."
"Kalian sah sepasang suami istri."
Pendeta sudah mengakhiri pidatonya, jika sekarang Claudia sudah re mi menjadi seorang istri.
"Silakan berikan istrimu ciuman, sebagai memulai hidup baru sebagai pasangan suami istri!" perintah Pendeta membuat Claudia gugup setengah mati.
Mencium istrimu.
Setelah cincin terpasang, Ragiel menarik pinggang Claudia secara perlahan. Dan ia menunduk sedikit untuk mencium istrinya.
Cup.
Ciuman singkat, hanya kecupan saja sebagai awal pertama mereka menikah. Dan ini menjadi first kiss Claudia untuk pertama kalinya.
"Jangan harap aku akan mencium mu seperti yang kau harapkan," bisik Ragiel membuat tubuh Claudia menegang. Bukan ini yang ia harapkan, tapi ini ciuman pertama untuknya.
"Awas jilat ludah sendiri," balas Claudia gak kalah takut dengan Ragiel.
Akhirnya acara pernikahan telah usai, sesi foto bersama keluarga sudah dan mereka memutuskan untuk kembali pulang.
"Clau, kamu pulang di rumah kami kan?" tanya Avni begitu bahagia saat memeluk menantunya.
"Hmmm," Claudia tidak menjawab justru menatap ke aah orangtuanya.
"Pulang ke rumah mereka sayang, besok baru datang ke rumah untuk ambil barang - barang kamu!" seperti tau maksud putrinya Elano tak masalah jika menginap di mansion Bhagawanta.
"Oke, aku ikut aja. Lagian, kalau kangen papa mama aku tinggal bilang aja!" canda Claudia membuat mereka tertawa.
Ragiel hanya diam, menatap gadis kecil yang ada didekatnya kini sudah menjadi istrinya. Akhirnya mereka pulang, dan Ragiel mengajak Claudia bersama.