Pagi Hari Reina terbangun. Reina mengerjapkan mata, mencoba mengingat di mana dia berada. Langit-langit yang tidak familiar. Seprai biru muda. Bau sabun mandi yang bukan miliknya.
"Oh, iya. Di rumah Hana." Reina duduk perlahan. Kepalanya masih sedikit pening, tapi tidak separah tadi malam. Di sampingnya, kasur Sinta sudah kosong, Hana juga tidak ada di kamar.
Dari luar, terdengar suara air mengalir dan dentingan piring. Reina bangkit, melangkah keluar kamar menuju dapur kecil di ujung ruangan.
Hana sedang berdiri di depan kompor, mengenakan daster lengan pendek, rambutnya diikat asal. Di atas meja, sudah tersedia nasi goreng dan segelas air putih.
"Udah bangun, Na?" Hana menoleh, tersenyum. "Muka lo masih kayak habis dipukulin, minum air putih dulu."
Reina meraih gelas air putih dan meneguknya setengah. "Sinta udah pergi?"
"Iya, tadi subuh, katanya ada kerjaan pagi." Hana menuangkan nasi goreng ke piring. "Lo mau langsung pulang atau sarapan dulu?"
Reina melihat piring nasi goreng di depannya. Perutnya memang keroncongan. "Sarapan dulu gue."
Mereka duduk berdua di meja kecil dapur. Hana makan dengan lahap, sementara Reina masih setengah sadar, sesekali mengucek mata.
"Na, lo tahu nggak, semalam pas lo tidur, Sinta sempat ngomong," Hana memulai dengan nada santai.
"Ngomong apa?"
"Dia bilang, mungkin lo butuh teman yang bisa, mendampingi. Bukan cuma buat jalan-jalan, tapi buat nemenin lo."
Reina berhenti mengunyah. "Maksudnya?"
"Ya pasangan lah." Hana tersenyum. "Dia cuma khawatir, lo terlalu sibuk kerja sampe lupa buat diri sendiri."
Reina meletakkan sendoknya. "Gue baik-baik aja, Han. Rumah gue ada orang tua hue. Kerjaan gue jalan. Nggak ada yang kurang. Kenapa kalian jadi bahas pasangan terus sih."
"Iya, gue tahu. Tapi..." Hana menggigit bibirnya, seolah mempertimbangkan kata-kata. " Gue cuma khawatir aja, takut Lo kesepian?"
Reina menatap piringnya. Nasi goreng di depannya mulai dingin. "Kadang sih iya," jawabnya akhirnya, pelan. "Tapi gue terbiasa."
Hana tidak menekan lebih jauh. Dia hanya mengangguk, lalu kembali makan.
Setelah sarapan, Reina pamit pulang. Hana mengantarnya sampai ke pintu pagar, berdiri di bawah terik matahari pagi dengan tangan di pinggang.
"Na, hati-hati di jalan. Nanti kabarin gue kalau udah sampe."
"Iya," Reina membuka pintu mobilnya. "Makasih buat semalam, Han."
"Sama-sama."
Mobil Reina perlahan keluar dari gang perumahan Hana. Di dalam mobil, dia menarik napas dalam-dalam. Kadang kesepian memang, Hana benar. Tapi Reina tidak mau mengakuinya terlalu sering.
Di rumah, pagar putih rumahnya sudah terbuka. Reina memarkir mobil di garasi, lalu melangkah masuk.bRumahnya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk tiga orang—ayah, ibu, dan dia. Dulu rumah ini ramai. Sekarang, dengan kakaknya yang sudah menikah dan pindah, hanya tersisa mereka bertiga.
Begitu masuk, dia langsung disambut oleh suara ayahnya dari ruang tamu.
"Akhirnya pulang."
Reina berhenti di lorong. Bapaknya, Bramantyo, laki-laki berusia awal enam puluhan dengan rambut yang mulai memutih. Ia sedang duduk di sofa sambil membaca koran. Matanya menatap Reina dari balik kacamata baca.
"Pagi, Pak," sapa Reina, berusaha terdengar biasa.
"Pagi?" Bramantyo meletakkan korannya. "Ini udah hampir siang. Baru pulang kamu?"
"Iya, Pak. Semalam nginep di rumah Hana."
"Hana?" Bramantyo mengernyit. "Sinta juga?"
"Iya, Pak. Sinta juga."
Bapaknya menghela napas, tapi tidak marah. Dia mengambil ponsel dari meja, menekan beberapa tombol, lalu mendekatkannya ke telinga.
"Han, ini om Bram."
"Iya om Reina udah sampai?"
"Iya, Reina udah pulang. Iya, makasih." Dia menutup telepon, lalu menatap Reina. "Bener katamu."
"Iya, Pak. Masa aku bohong sih?"
Bramantyo tidak menjawab. Dia kembali mengambil korannya, tapi sebelum Reina sempat melangkah ke kamar, suaranya terdengar lagi.
"Na."
Reina berbalik. "Ya, Pak?"
"Bapak mau ngomong."
Reina menarik napas, ia tahu ini akan terjadi. Perlahan, dia berjalan mendekat dan duduk di sofa seberang ayahnya. Bramantyo meletakkan koran sekali lagi. Matanya serius menatap anak bungsunya.
"Kamu udah tiga puluh enam tahun."
"Iya aku tahu, Pak."
"Kakakmu udah nikah. Punya anak, hidupnya mapan."
"Aku juga mapan, Pak."
"Mapan secara finansial, iya. Tapi—" Bramantyo menghela napas panjang. "Bapak sama ibu nggak selamanya ada."
Reina diam.
"Nenekmu dulu," Bramantyo melanjutkan, "sebelum meninggal, sempat titip pesan. Warisan yang dia tinggalin itu cuma bisa cair kalau kamu nikah."
Reina mengernyit. "Warisan?"
"Iya. Nenek nyisain uang buat kamu. Tapi ada syaratnya." Bramantyo menatap Reina dalam-dalam. "Kamu harus nikah sebelum usia tiga puluh tujuh."
"Berapa, Pak?" Reina bertanya, bukan karena dia tertarik pada uang, tapi penasaran.
"Delapan ratus juta."
Reina terdiam, delapan ratus juta. Jumlah yang tidak kecil. Meskipun dia sudah punya penghasilan tetap dari Bimbel Army, uang sebanyak itu tetap berarti.
"Kakakmu dapet satu miliar," lanjut Bramantyo. "Tapi dia udah nikah, jadi syaratnya gampang. Kamu, tinggal kamu yang belum."
"Jadi?" Reina menyandarkan punggungnya di sofa.
"Jadi, bapak dan ibu nggak maksa. Tapi—." Bramantyo menyesap teh di hadapannya. "Sayang kalau nggak diambil."
Reina tidak menjawab, matanya tertuju pada meja kaca di depannya, tempat bingkai foto keluarga berdiri. Foto kakaknya, foto dirinya, foto orang tuanya.
"Kapan batasnya, Pak?" tanyanya akhirnya.
"Sebelum kamu tiga puluh tujuh. Kurang lebih setahun lagi."
Setahun.
Reina mengangguk pelan. "Oke, Pak. Reina bakal cari."
Bramantyo mengangkat alis. "Cari? Cari apa?"
"Cari calon suami, Pak." Reina berdiri dari sofa. "Bapak minta Na nikah, ya nanti aku nikah. Tapi jangan harap aku cari pasangan yang sesuai sama kemauan bapak sama ibu, tipenya, ya tipe aku bukan selera bapak atau ibu."
Bramantyo geleng-geleng kepala, tapi tidak bisa menyembunyikan senyum tipis di bibirnya. "Kamu ini."
"Pokoknya tenang aja, Pak. Aku bakal nikah tahun ini." Reina melangkah menuju kamarnya, tapi sempat menoleh sekali lagi. "Tahun ini, Pak. Janji."
Dia berjalan cepat, menghindari pertanyaan lebih lanjut. Di dalam kamar, Reina membanting dirinya ke kasur. Matanya menatap langit-langit putih.
Nikah.
Setahun.
Delapan ratus juta.
Pikirannya berputar, ia tidak keberatan menikah, sebenarnya. Tapi dia tidak mau menikah hanya karena uang. Atau karena tekanan, tapi delapan ratus juta.
Dia menghela napas, meraih ponsel di samping bantal. Layar ponsel menyala, tidak ada notifikasi penting. Tiba-tiba, wajah seorang barista muda melintas di benaknya.
"Barat." Dia ingat tatapan mata pria itu tadi malam. Dalam.
Reina menggeleng cepat, membuang pikiran itu.
"Jangan aneh-aneh, Na. Dia cuma barista."
"Tapi dia ganteng."