Barat Alvian Manendra membuka pintu apartemennya, lalu dia melangkah masuk ke ruangan yang gelap. Tangannya bergerak menekan tombol on, lampu ruang tamu menyala.
Apartemen ini cukup besar, tapi cukup untuk tiga orang. Ruang tamu luas dengan sofa abu-abu, meja kaca di depannya, dan satu rak buku penuh dengan buku-buku tebal di sudut. Tapi yang paling mencolok adalah meja kerja di sisi ruangan.
Dua layar komputer berdiri berdampingan, satu laptop terbuka di sampingnya, dan beberapa buku berserakan di atas meja. Di dinding belakang layar, ada papan besar berisi diagram, catatan, dan stiker warna-warni dengan tulisan-tulisan teknis yang hanya dimengerti olehnya.
Barat berjalan ke dapur kecil, mengambil segelas air, lalu kembali ke ruang tamu. Dia duduk di kursi meja kerjanya, menyalakan layar komputer utama.
Layar menyala. Di desktop, sebuah ikon berbentuk kartun kecil. Dua karakter lucu, seorang anak laki-laki dengan kacamata dan seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir, tersenyum di samping tulisan, MAPIN ABEL (Mari Pintar Ayo Belajar)
Barat mengklik ikon itu, sebuah dashboard muncul dengan data-data yang terus bergerak: jumlah pengguna aktif, durasi belajar, materi yang paling banyak diakses, rating aplikasi.
Dia menggulir perlahan, membaca laporan rutin. Ada beberapa lembaga yang minta update fitur. Ada juga keluhan teknis dari pengguna di daerah tertentu. Matanya berhenti di satu baris data.
Bimbel Army – Art and Mathematics
Status: Aktif
Total siswa terdaftar: 340
Durasi belajar rata-rata: 47 menit/hari
Barat membaca sekilas, lembaga cukup besar. Angka pengguna aktifnya bagus. Dia menggulir lagi ke bawah, mengecek request fitur terbaru dari berbagai lembaga. Ada yang minta penambahan soal, ada yang minta fitur ujian simulasi.
“Mbak Rina,” panggilnya ke salah satu kontak di ponsel.
Suara di seberang sana terdengar masih segar meskipun malam sudah larut. “Ya, Mas Barat?”
“Request fitur dari lembaga-lembaga yang masuk minggu ini, sudah saya lihat. Yang dari Bimbel Army, mereka minta apa ya?”
“Penambahan materi soal persiapan ujian masuk SMA, Mas. Saya catat sudah kita masukkan ke daftar prioritas.” Rina menjawab.
“oke oke, kalau ada request lain dari lembaga besar, prioritaskan. Jangan sampai mereka komplain.”
“Baik, Mas.”
Barat menutup telepon, ia menyandarkan tubuh di kursi, menatap layar komputer sebentar, lalu mematikannya.
Matanya beralih ke ponsel yang masih tergenggam di tangan. Dia membuka chat, menggulir ke bawah, lalu berhenti di satu nama yang baru saja dia simpan sore tadi, Reina
Barat menatap nama itu cukup lama. Lalu dia membuang ponsel ke atas meja, bangkit dari kursi, dan berjalan ke jendela. Dia ingat tadi malam. Reina yang mabuk, bersandar di bahunya, bergumam tentang jomblo dan nasib. Reina yang tertawa cadel karena lidahnya berat. Reina yang berkata, "Padahal gue juga gacor kali—"
Barat tersenyum. “Lucu." Lalu ia menggeleng.
"Enggak boleh aneh-aneh. Dia cuma pelanggan.”
Barat menghela napas. Lalu memilih , berjalan ke kamar mandi. Air dingin membasahi wajahnya, mencoba menghapus semua pikiran yang tidak perlu.
Sementara itu, di rumah Hana, Sinta dan Hana masih terjaga meskipun Reina sudah terlelap di samping mereka.
Sinta duduk bersila di kasur, ponsel di tangan, jari-jarinya sibuk menggulir layar. Hana berbaring di kasurnya sendiri, mata terbuka lebar meskipun lampu sudah dimatikan.
“Han,” bisik Sinta.
“Hmm?”
“Lo tidur belum?”
“Belum, pikiran masih kemana-mana.”
Sinta menoleh ke arah Hana. “Mikirin apa?”
“Reina.”
Sinta menghela napas. “Gue juga. Kepikiran gimana caranya nyariin cowok buat dia.”
Hana duduk, matanya mulai fokus meskipun di kegelapan. “Heh beneran?”
“Iya. Nggak enak lihat dia sendiri terus, lagian sayang kalau dia nggak ambil warisan itu.”
Hana mengangguk pelan. “Kita coba cari dari teman SMA dulu, gimana? Masih ada kontak mereka enggak lo?”
“Gue masih punya beberapa sih. Anak-anak SMA kita dulu,” Sinta langsung membuka ponsel, menggulir daftar kontak. “Ini, lo ingat Andika? Dulu sekelas sama kita.”
“Andika yang rambutnya keriting itu?” Hana bertanya sambil menggaruk pelipis matanya.
“Iya. Gue lihat statusnya tadi, muka dia sekarang udah kayak bapak-bapak banget. Botak di depan, kumisnya tebel, perutnya buncit.”
Hana nyengir. “Nggak cocok sama Reina. Lo kan tau Reina kan suka yang rapi.”
“Iya lagi, mana mau dia,” Sinta menggulir lagi. “Kalau Fajar? Dulu sih ganteng, sekarang—”
Hana mendekatkan wajahnya ke layar ponsel Sinta. “Itu Fajar? Kurus banget! Pipinya kempot anjir kayak zombie.”
“syalan Lo Han! Hahahaha, iya sih kuris banget dia katanya lagi diet ekstrem. Dari tujuh puluh jadi lima puluh kilo. Badannya kayak lidi kan sekarang.”
“Nggak, nggak, Reina nanti dikira pacarin orang kurang makan.”
Sinta tertawa, “Iya lagi, takutnya dikira dia tekanan batin smaa Reina.” Sinta lalu menggulir lagi. “Rama? Dulu ketua kelas kita.”
“Rama yang sekarang jadi sales properti itu?”
“Iya, tapi gue dengar kabar, dia punya utang pinjol.”
Hana mengernyit. “Pinjaman online?”
“Iya, katanya sampe ditagih debt collector ke kantornya. Temen gue yang kerja di sana cerita.”
Hana geleng-geleng kepala. “Udah, skip ah! Reina nanti ikut kena masalah.”
Sinta terus menggulir. “Aldi?”
“Aldi yang dulu suka bolos?”
“Iya, sekarang jadi pegawai bank. Tapi—” Sinta melihat-lihat profil Aldi di media sosial. “Dia baru aja cerai.”
“Cerai? Baru nikah dua tahun lalu, kan?”
“Iya, istrinya nggak tahan sama mertuanya yang ikut campur terus.”
Hana menghela napas. “Ah Reina nggak bakal mau ribet sama urusan mertua.”
“Taufik?”
“Taufik yang dulu anak pramuka?”
“Iya sekarang dia jadi guru honorer. Penghasilannya ya, standar guru honorer lah.”
Hana mengernyit. “Gue rasa sih Reina nggak masalah sama penghasilan, dia kan punya sendiri. Tapi apa Taufik siap sama perempuan yang lebih sukses darinya?”
Sinta terdiam itu pertanyaan bagus. Banyak laki-laki yang nggak nyaman kalau istrinya lebih mapan.
“Kayaknya sih Taufik tipe yang patriarki,” Sinta akhirnya berkata. “Nggak cocok.”
Hana menghela napas panjang. “Ada lagi?”
Sinta menggulir sampai habis, matanya menatap layar ponsel, berusaha mengingat-ingat siapa lagi yang masih jomblo.
“Gue rasa, nggak ada yang bener-bener cocok,” katanya akhirnya. “Semuanya ada masalahnya sendiri-sendiri.”
“Makanya,” Hana berbaring lagi, menatap langit-langit, “cari cowok itu nggak gampang. Apalagi untuk Reina yang karakternya blak-blakan. Dia nggak bisa basa-basi, meskipun dia sendiri juga gacor.”
“Iya,” Sinta meletakkan ponselnya.
“Dan kita tahu sendiri, cowok-cowok jaman sekarang banyak yang aneh-aneh.”
Sinta tertawa kecil. “Iya. Muka udah kayak bapak-bapak, badan kurus kayak lidi, punya pinjol, baru cerai, mana ada yang normal?”
Hana ikut tertawa. “Pokoknya nggak ada yang cocok untuk Na.”
“Mungkin kita harus cari di luar teman SMA.”
“Cari di mana? Di kantor?”
“pusinhbgue, reina kan nggak suka sama cowok yang kerja di kantornya. Katanya ribet kalau putus.”
“Iya juga.” Hana menghela napas. “Ya sudah, kita pikirin nanti saja. Sekarang tidur dulu ah, besok kita cari lagi.”
“Iya,” Sinta membaringkan diri. “Tapi gue kasihan sama Na. Dia tuh baik, Han, harus dapet yang baik juga.”
Hana setuju dalam diam. Matanya menatap langit-langit kamar. “Semoga cepet dapet lah ya,” bisiknya pelan. “Biar nggak ngelantur lagi soal jomblo.”
Sinta terkekeh. “Iya.”