Pagi itu, Reina terbangun lebih awal dari biasanya. Pikiran tentang warisan dan tuntutan ayahnya terus berputar di kepalanya.
“Delapan ratus juta, lumayan banget.” Reina meraih ponsel di samping bantal. Layar menunjukkan pukul 06.30. Masih pagi, hari ini ia akan full dengan kegiatan.
Reina mandi, berganti pakaian, dan keluar kamar dengan langkah pelan. Di ruang makan, ibunya sudah duduk dengan secangkir teh hangat di tangan.
Ratna, ibunda Reina berusia awal enam puluhan dengan rambut yang mulai memutih dan wajah yang masih terlihat cantik untuk usianya, dia melihat putrinya sudah rapi jam segini.
“Lho, udah bangun Na? Biasanya jam segini masih tidur,” sapa Ratna sambil menyesap tehnya.
Reina duduk di seberang ibunya, meraih piring dan mengambil seporsi nasi goreng yang masih hangat di meja. “Nggak bisa tidur, Bu.”
“Kenapa?” Tanya Ratna lagi sambil kemudian meneguk teh manis hangat miliknya.
Reina menoleh ke arah ibunya. “Kepikiran.”
Ratna meletakkan cangkirnya. “Kepikiran apa? Soal yang bapakmu bilang kemarin?”
Reina hanya mengangguk sambil mengunyah makanannya.
“Ya sudah, kalau memang bisa, coba cari,” kata Ratna menasihati dengan lembut. “Bukan cuma soal uangnya, Na. Ibu juga pengen lihat kamu punya pendamping yang sayang sama akmu. Ibu nggak selamanya ada di sampingmu.”
Reina berhenti mengunyah, ia menatap ibunya sebentar, lalu kembali fokus ke piringnya. “Iya, Bu. na tahu.”
Mereka makan dalam diam beberapa saat. Dua-duanya sama-sama cemas, Reina takut tidak bisa membahagiakan ibunya, Ratna takut putrinya tidak ada menemani di hari tua. Pintu ruang makan terbuka. Bramantyo masuk dengan koran di tangan, duduk di kursi kebesarannya di ujung meja.
“Pagi Nduk,” sapanya singkat.
“Pagi, Pak,” jawab Reina.
Bramantyo mengambil piring dan mulai mengambil makanan. Sesekali matanya melirik ke arah Reina, mm ada sesuatu yang ingin ditanyakan. Dan akhirnya, setelah beberapa menit, dia bertanya.
“Na.”
“Ya, Pak?”
“Kemarin yang bapak bilang soal nikah. Udah kamu pikirkan?”
Reina meletakkan sendoknya. Nafasnya keluar agak kasar. “Pak, belum ada seminggu.”
“Iya, bapak tahu. Bapak kan cuma nanya, udah ada yang kamu incar belum?” Tanya Bram penasaran.
“Incarnya gimana, Pak?” Reina menatap ayahnya dengan ekspresi setengah kesal. “Gimana mau dapet kalau baru seminggu yang lalu bapak bilang? Orang nyari cowok tuh nggak kayak nyari batu di jalan, Pak. Nggak bisa instan, enggak bisa buru-buru.”
Bramantyo tidak menjawab, iia hanya mengangkat alis, tidak terpengaruh dengan nada bicara putrinya.n“Tapi kamu bilang kemarin, tahun ini kamu bakal nikah,” kata Bramantyo santai.
“Iya, aku memang bilang gitu. Tapi kasih waktu lah, Pak.” Reina berdiri dari kursinya, piringnya sudah kosong. “Na bakal cari, pasti, tapi jangan ditanyain tiap hari kayak gini. Nanti Na stress gimna.”
“Stress kenapa?” Bramantyo tersenyum kecil. “Kan cuma ditanya.”
“Ya karena pertanyaannya berulang-ulang, Pak.”
Ratna yang dari tadi diam ikut tersenyum, tapi tidak ikut campur, ia tahu suaminya dan putrinya memang sering seperti ini.
Reina mengambil gelas air minum, meneguknya sekali, lalu menaruhnya agak keras di meja. “aku berangkat, Pak, Bu. Mau ngecek pembangunan gedung baru.”
“Belum jam delapan nak,” kata Ratna.
“Iya Bu, aku mau ke sana lebih pagi, banyak yang harus diurus.” Reina bangkit, mencium tangan ayah dan ibunya. Lalu berjalan cepat ke garasi, membuka pintu mobil, dan duduk di kursi kemudi. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
“Bapak ini bikin emosi aja,” gerutunya kesal.
Tapi di sisi lain, dia tahu ayahnya benar. Waktu terus berjalan, dan dia harus melakukan sesuatu.
Hari berlalu cepat Reina hari itu sibuk Dnegan semua pekerjaan, sampai soore Harinya
Reina baru selesai dari pembangunan gedung baru Bimbel Army di kawasan timur Jakarta. Dia mengelilingi bangunan tiga lantai itu, memeriksa progress pengecatan dan pemasangan pendingin ruangan. Semua berjalan sesuai jadwal, tinggal dua bulan lagi, gedung itu akan siap digunakan.
Dia baru saja masuk ke dalam mobil ketika ponselnya berdering. Sinta.
“Na, lo di mana?” suara Sinta di seberang sana terdengar ceria.
“Baru pulang dari proyek, kenapa?” Tanya Reina.
“Malam ini kita ke klub lagi yuk. Hana juga ikut. Lo kan kemarin mabok parah, kita tektok lagi biar seru,” ajak Sinta.
Reina tersenyum. “Kemarin aja gue mabok, kalian masih aja ngajak gue lagi.”
“Ya biar lo terbiasa. Ntar kalau udah biasa, nggak gampang mabok.”
“Itu sih namanya jadi alkoholik, Sin. Enggak mau gue, udah tau nanti cepet mati.”
Sinta tertawa di seberang sana. “Ah, elah, santai aja. Lo nggak usah minum banyak-banyak, kita cari suasana aja. Lo kan lagi stress dipaksa nikah, kita happy-happy dulu malam ini.”
Reina terdiam, stress karena dipaksa nikah. Ya, itu tepat. “Oke deh ,” katanya akhirnya. “Jam berapa?”
“Jam sembilan, di i tempat biasa.”
“Oke.”
Reina menutup telepon, lalu segera menancap gas menuju tempat mereka akan berkumpul.