"Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?"
Suara itu mengambang di udara, menggantung di antara kita seperti debu-debu emas yang tertangkap sinar senja. Sebuah pertanyaan yang seharusnya sederhana, namun tiba-tiba terasa berat, seolah meminta aku menggali lautan untuk mencari mutiara yang telah lama kusimpan di dasar kalbu.
Aku terdiam.
Bibirku bergerak pelan, mencoba merangkai kata, tapi yang muncul hanyalah bayangannya—wajah yang selalu hadir dalam mimpiku, bahkan di saat matahari belum lagi terbit. Senyumnya, seperti seuntai syair yang tak pernah selesai, selalu menggoda untuk dibaca lagi dan lagi. Setiap lengkung bibirnya adalah goresan tinta emas di lembaran hidupku yang kelam.
Aku tidak tahu.
Mungkin cinta bukanlah kumpulan alasan, melainkan gemuruh sunyi yang hanya bisa dirasakan. Mungkin jatuh cinta adalah saat kau menyadari bahwa napasmu ikut tertahan setiap kali dia tersenyum, bahwa langkahmu selalu mencari tanpa sadar, bahwa seluruh dirimu adalah seindah dia.
"Aku tidak tahu," bisikku.
"Aku hanya tahu, aku tenggelam tanpa pernah ingin diselamatkan."
Keheningan menghampiri kami sejenak, seakan alam merestui ucapanku itu. Di antara hembusan angin sore yang memeluk ranting dan daun pepohonan, aku merasakan getaran-getaran kenangan itu kembali hidup - seperti daun kering yang tiba-tiba berwarna lagi di musim semi.
"Aku tidak tahu," akhirnya kupecah keheningan itu, sementara jari-jariku tak sadar meraih secangkir kopi yang sudah dingin. Uapnya telah lama menghilang, seperti kata-kata yang terus menguap setiap kali aku mencoba menjelaskan perasaan ini.
Ardi menghela nafas sembari mengangguk pelan, seolah memahami bahwa beberapa jawaban bukanlah rangkaian kalimat, melainkan diam yang berbicara dalam bahasa sendiri. Matanya menatapku penuh tanya, tapi aku hanya bisa tersenyum, karena bagaimana mungkin aku menerangkan sesuatu yang bahkan tak bisa kupahami?
Cinta, mungkin, adalah saat kau menemukan dirimu tersesat di antara ribuan alasan, tapi justru merasa nyaman dalam kesesatan itu.
Aku ingat pagi pertama kali menyadari bahwa dia telah menjadi bagian dari nafasku. Saat itu, langit masih kelam, tapi udara terasa lebih ringan karena di ujung telepon, suaranya yang mengantuk berkata, "Selamat pagi, sudah bangun?." Begitu sederhana, tapi tiba-tiba hari-hari yang biasa saja menjadi istimewa hanya karena dia ada di sana.
Atau mungkin malam di mana aku melihatnya tertidur di sofa, dengan buku masih tergenggam di tangannya. Rambutnya berantakan, dan napasnya teratur seperti ombak kecil yang tenang. Saat itulah aku tahu—aku tak ingin melihat pemandangan lain selain ini, selain kehidupannya yang bersimpuh pelan di sampingku.
Tapi bagaimana menjelaskan semua itu?
Bagaimana menerangkan bahwa cinta adalah kumpulan detil-detil kecil yang tak berarti bagi dunia, tapi segalanya bagimu?
"Mungkin," akhirnya aku berkata, "cinta itu seperti angin. Kau tak bisa melihatnya, tapi kau tahu ia ada karena ia menggerakkan sesuatu di dalam dirimu."
Dan dia adalah angin yang membawa musim semi ke tanah tandus hatiku
Ardi tersenyum, seolah memahami bahwa penjelasanku bukanlah jawaban, melainkan pengakuan
"Aku tidak tahu mengapa aku mencintainya," aku mengulang, "tapi jika kau memintaku berhenti, itu satu-satunya hal yang tak bisa kulakukan."
Dan di kejauhan, seolah dunia mendengarku, daun-daun bergemerisik pelan, membisikkan rahasia yang hanya kupahami sendiri: bahwa cinta tak pernah butuh alasan.
"Kau tahu," bisikku, suaraku serak oleh beban perasaan, "Aku jatuh cinta bukan karena apa yang dia lakukan, tapi karena bagaimana dia membuatku merasa... cukup. Cukup dengan segala ketidaksempurnaanku."