Matahari September begitu menyengat ketika aku melangkah keluar dari gedung sekolah. Kaos seragamku masih lepek oleh keringat, menempel di punggung seperti plastik wrap. Di depan gerbang, Raka sudah menunggu dengan pose sok cool—badan bersandar di tiang pagar, jari asyik memainkan poninya yang belepotan sunblock.
"Ndra! Akhirnya keluar juga lo dari sarang basket lo!" teriaknya sambil melompat mendekat. Bau khas minyak angin dan sabun antiseptik langsung menyerbuku—parfum alami anak PMR sepertinya.
Aku menghela nafas, terlalu lelah untuk merespon semangatnya yang berlebihan. "Lo nggak capek habis latihan PMR? Kok masih aja semangat gini?"
"Ndra, sini gue tunjukin sesuatu!" Raka menyodorkan ponselnya. Layarnya menampilkan foto sekelompok anak PMR sedang praktik membalut luka.
"Apaan nih? Latihan lo tadi?" Aku mengernyit, lebih fokus membuka tutup botol mminum kemasan yang sudah kosong sedari tadi.
Raka menyeringai, memperbesar foto seorang perempuan dengan rambut hitam lurus yang sedang tersenyum kecil, sementara tangannya sedang sibuk membalut luka di lengan seorang junior.
"Lisa Putri," kata Raka dengan nada bangga, seolah sedang memperkenalkan selebriti. "Senior gue di PMR. Juara lomba P3K se-kota tahun lalu. Manis kan?"
Aku mengangkat bahu sambil mengambil botol minum kemasan baru dari tas. "Yah, standar lah."
Raka memelototiku seperti aku baru saja menghina presiden. "Buset, lo tuh kayak alien yang nggak ngerti konsep cewek cantik. Ini lho, Lisa itu—"
"Ra," potongku sambil menenggak air sampai habis, "gue habis latihan tiga jam, otot-otot rasanya mau copot, dan sekarang gue cuma pengen pulang buat mandi sama makan. Bisa nggak lo bahas cewek lain waktu?" Protes ku sambil menyeret tas ke bahu
Raka menghela napas panjang dan mengikuti langkahku. "Lo nggak akan tau bakal nyesel nggak ngincer doi. Bayangin, bisa belajar CPR dari cewek pinter..."
Aku mendengus. "CPR atau nggak, yang kubutuhkan sekarang cuma nasi padang, es teh, dan mandi"
Raka akhirnya mengalah, tapi tidak tanpa senyum licik terakhir. "Oke, oke. Tapi lo harus janji nonton latihan PMR besok. Buat nemenin gue."
Aku mengerutkan kening. "Emang kenapa harus besok?"
"Karena..." Raka tiba-tiba menurunkan suaranya, "Besok ada simulasi kecelakaan lengkap dengan efek darah palsu dan perban. Lo mau liat Lisa pake seragam PMR oranye sambil nanganin 'korban'? Atau lo mending lanjut jadi kuper yang cuma tau basket doang?"
Aku mengerutkan kening. Darah palsu? Itu... terdengar cukup keren sebenarnya. Tapi aku tidak akan memberi Raka kepuasan itu.
"Gue nggak janji," akhirnya gumamku sambil berjalan meninggalkannya.
Suara tawa Raka mengikutiku sampai ke ujung jalan. "Jam tiga sore, Ndra! Jangan telat!"
***
Keesokan harinya, entah mengapa—mungkin karena rasa penasaran akan simulasi itu, atau mungkin karena bosan—kaki-kakiku membawaku ke aula sekolah tempat latihan PMR berlangsung.
Suara riuh langsung menyambutku begitu pintu terbuka. Aula yang biasanya sepi sekarang penuh dengan meja-meja darurat lengkap dengan peralatan P3K. Di tengah keramaian, ada sebuah sepeda motor tua yang sengaja dibawa masuk, dengan beberapa orang berpura-pura menjadi korban kecelakaan.
"NDRA! SINI!"
Raka melambai-lambaikan tangan dari tengah kerumunan. Saat aku mendekat, mataku langsung tertarik pada sosok di sebelahnya—Lisa, dengan rompi oranye terang yang membuatnya mudah dikenali. Rambutnya yang biasanya terurai sekarang diikat ekor kuda sederhana, dan wajahnya terlihat serius saat memeriksa "luka" di lengan seorang junior.
"Lo beneran dateng!" Raka menepuk punggungku dengan keras. "Nih, liat. Ini bagian terkeren!"
Lisa sedang mengoleskan sesuatu yang merah pekat ke lengan juniornya. Darah palsu, kurasa. Dengan gerakan terampil, dia membalut luka itu sambil memberikan instruksi dengan suara yang tenang tapi jelas.
"Pertama, pastikan korban tidak bergerak dulu," ujarnya sambil menstabilkan "lengan patah" dengan bidai. "Kalau ada luka terbuka, tekan pakai kain bersih—jangan langsung di luka bakar, ya."
Aku memperhatikannya lebih lama dari yang kusadari. Ada sesuatu tentang caranya berbicara—tidak menggurui, tapi tetap membuat orang ingin mendengarkan.
Tiba-tiba, Raka menyikutku. "Gue bilang juga doi jago, kan?"
Aku hanya mengangkat bahu. "Lumayan lah."
Tapi Raka sudah terlalu mengenaliku. Senyum liciknya kembali muncul. "Nih, sekarang giliran lo."
"Ha?"
Sebelum sempat kabur, Raka sudah menarik lenganku ke depan. "Lisa! Ini temen gue, Andra. Pemain basket. Bisa jadi korban simulasi kita nggak?"
Lisa mengangkat alis, lalu tersenyum. Aku tiba-tiba sadar betapa dekat jarak kami sekarang—cukup dekat untuk melihat bintik-bintik cokelat kecil di matanya yang biasanya tidak terlihat dari jauh.
"Kamu tidak keberatan jadi korban kecelakaan?" tanyanya, dengan nada seolah memberiku pilihan.
Aku ingin menolak, tapi entah mengapa lidahku menjadi kaku. "I-nggak juga."
"Sempat lihat pertandingan basketmu minggu lalu," ujarnya sambil mengambil perban. "Kamu cepat sekali di lapangan."
Aku terkejut. "Lo nonton?"
"Dari jauh." Lisa mengangguk, lalu tiba-tiba memegang pergelangan tanganku. "Tapi sekarang, bayangkan kamu baru jatuh dari motor. Lengan kanan patah, dan ada luka di sini—" jarinya menyentuh siku.
Sentuhannya dingin, tapi anehnya tidak membuatku ingin menarik diri.
"Jadi gimana, dokter?" godaku, berusaha menutupi rasa tidak nyaman.
Lisa hanya tersenyum—senyum kecil yang membuat sesuatu di dadaku berdegup aneh. "Pertama, jangan banyak gerak."
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menurut saja.
***
Simulasi itu berlangsung lebih lama dari yang kuduga. Lisa dengan sabar membimbingku melalui berbagai skenario—mulai dari luka bakar sampai patah tulang. Awalnya aku hanya bermain-main, tapi semakin lama, aku mulai menikmati cara dia mengajar—santai tapi serius, dengan selipan humor kering yang membuat situasi tegang menjadi lebih ringan.
"Jadi korban yang baik itu susah ya," keluhku saat Lisa sibuk membalut tanganku yang "terluka".
Dia mengangkat alis. "Lebih susah jadi yang menolong."
"Tapi lo kayaknya enjoy aja."
Lisa memandangku sejenak sebelum kembali fokus pada perban. "Aku suka membantu orang. Rasanya... berarti."
Ada sesuatu dalam cara dia mengatakannya yang membuatku diam. Tidak seperti Raka yang selalu berisik tentang kegiatan PMR-nya, Lisa terlihat tulus.
Latihan berakhir saat langit mulai mendung. Aku berjalan keluar aula dengan lengan masih dibalut perban simulasi—Lisa bersikeras agar "korban" tetap memakannya sampai selesai, untuk melatih kesabaran.
Raka sudah kabur lebih dulu, berdalih harus mengantar adiknya les. Aku sendiri tidak buru-buru pulang; hari ini adalah hari tanpa latihan basket.
"Perbannya jangan dilepas dulu, ya."
Suara itu membuatku menoleh. Lisa berdiri di belakangku, tas ransel besar tergantung di satu bahu.
"Aku nggak mau pulang dengan begini," protesku, melihat perban putih yang sudah kotor oleh bekas darah palsu.
Lisa menggeleng. "Ini bagian dari pelatihan. Biar tahu bagaimana rasanya jadi korban yang harus beraktivitas dengan luka."
Aku mendengus. "Lo galak banget jadi mentor, huh?"
Dia tertawa—tertawa lepas yang membuat matanya menyipit seperti bulan sabit. "Cuma untuk murid-murid bandel."
Tiba-tiba, tetesan air menghujam tanah di antara kami. Hujan.
Lisa mengangkat wajah ke langit. "Akhirnya," bisiknya, seolah menunggu ini sejak lama.
Tanpa berpikir, aku membuka tas dan mengeluarkan jaket basket yang kusimpan. "Ini," ujarku, menyodorkannya. "Buat nutupin kepala."
Lisa memandangiku aneh. "Kamu tidak pakai?"
"Gue biasa kehujanan."
Dia masih ragu, tapi ketika hujan mulai deras, Lisa akhirnya menerimanya. Kami berdiri di bawah atap sekolah, menunggu reda, dengan jaketku yang terlalu besar menutupi kepala Lisa seperti jubah kecil.
"Untuk pemain basket," ujarnya tiba-tiba, "kamu cukup baik jadi korban latihan."
Aku tersenyum. "Untuk mentor PMR, lo nggak semenakutkan kelihatannya."
Hujan terus turun, tapi entah mengapa, aku tidak merasa tergesa untuk pulang.