Damar terbangun bukan karena alarm, melainkan karena rasa panas di telapak tangannya.
Ia membuka mata di kamar kontrakan tiga kali tiga meter, langit-langit retak yang sama, suara gerobak mie yang sama melewati gang sempit di Jakarta Timur. Tapi ada yang berbeda. Sesuatu mendenyut di bawah kulitnya, seperti listrik yang lupa cara berhenti.
"Aduh," gumamnya, mengibaskan tangan.
Lampu kamar yang dari semalam mati—karena tagihan listrik nunggak—tiba-tiba menyala redup. Bohlam itu berkedip, lalu meletup dengan bunyi pelan. Pecahan kaca jatuh ke lantai.
Damar duduk tegak. Jantungnya berdebar. Ia menatap kedua tangannya seolah benda asing. Di bawah kulit pergelangan, ada garis-garis tipis berpendar biru, muncul lalu memudar, seperti urat yang berisi cahaya alih-alih darah.
"Mimpi," katanya pada diri sendiri. "Ini masih mimpi."
Ia menampar pipinya. Sakit. Bukan mimpi.
Damar berusia dua puluh tiga tahun. Lulusan SMK jurusan listrik yang menganggur setelah bengkel tempatnya kerja gulung tikar tiga bulan lalu. Sehari-hari ia jadi kurir paruh waktu, kadang bantu tetangga benerin kipas angin atau setrika rusak. Hidupnya datar. Tidak ada yang istimewa. Sampai pagi ini.
Ia meraih ponselnya di atas kasur tipis. Layar menyala terlalu terang, lalu mati total. Baterai yang tadi malam ia cas penuh, sekarang nol persen.
"Yang bener aja," desisnya.
Dari luar, terdengar suara gaduh. Bukan suara biasa. Teriakan. Damar bangkit, membuka tirai jendela yang kumal. Di gang bawah, tetangganya, Pak Anto, penjual gorengan, berdiri di tengah jalan dengan wajah pucat. Di tangannya, minyak penggorengan—yang mestinya panas mendidih—membeku jadi es. Uap dingin mengepul dari wajan.
"Ini gak masuk akal!" Pak Anto berteriak. "Tadi panas! Tadi—"
Orang-orang berkerumun. Beberapa merekam dengan ponsel. Seorang ibu menjerit ketika piring di tangannya melayang sendiri ke udara, berputar pelan, lalu jatuh dan pecah.
Damar mundur dari jendela, napasnya memburu. Bukan cuma dia. Ada yang lain.
Ia menyalakan TV tabung tua di sudut kamar. Untungnya masih nyala. Setiap kanal menayangkan hal yang sama. Reporter dengan wajah panik. Tulisan merah di bawah layar: SIARAN LANGSUNG—FENOMENA GLOBAL—RIBUAN ORANG MELAPORKAN KEMAMPUAN ANEH.
"...laporan masuk dari Tokyo, New York, Lagos, hingga Jakarta," kata pembawa berita, suaranya bergetar. "Sejak pukul empat dini hari waktu setempat, ribuan—mungkin jutaan—orang di seluruh dunia melaporkan terbangun dengan, kami kutip, 'kemampuan yang tidak bisa dijelaskan'. Pemerintah belum memberikan pernyataan resmi. Kami imbau warga untuk tetap tenang dan—"
Layar berganti. Cuplikan video dari berbagai penjuru dunia. Seorang pria di jalanan New York mengangkat mobil dengan satu tangan. Perempuan di Tokyo berlari di permukaan air kolam. Anak kecil di Afrika menghilang dan muncul kembali tiga meter dari tempatnya semula.
Damar menelan ludah. Tangannya gemetar, dan saat itu terjadi lagi—garis biru menyala di pergelangannya, lebih terang kali ini. TV di depannya tiba-tiba mengeluarkan bunyi mendengung. Layarnya menyala putih, lalu mati. Damar merasakan sesuatu mengalir masuk ke dirinya, seperti sungai kecil yang deras, hangat dan menggetarkan.
Ia menatap stop kontak. Lampu indikator yang tadinya menyala kini padam.
"Aku..." bisiknya. "Aku yang nyedot listriknya?"
Ia mengulurkan tangan ke arah kabel TV yang tergeletak. Tanpa menyentuhnya, ia membayangkan menarik. Dan dari ujung kabel, percikan kecil cahaya biru melompat ke jarinya. Sensasi itu—seperti minum air saat haus, seperti makan saat lapar. Tubuhnya terasa lebih bertenaga.
Lalu, sebaliknya, ia mencoba melepaskan. Ia mengarahkan telapak tangan ke dinding kosong dan membayangkan mendorong. Seberkas energi biru meletup keluar, menghantam tembok, meninggalkan bekas gosong sebesar koin.
Damar terduduk di lantai, napasnya pendek-pendek. Bukan ketakutan biasa. Ini ketakutan yang lebih dalam—ketakutan pada dirinya sendiri.
Di luar, suara sirene mulai terdengar. Banyak. Mendekat.
Ponselnya yang mati tiba-tiba bergetar—entah bagaimana, mungkin tersisip sedikit daya. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal. Damar menatapnya dengan dahi berkerut.
Isinya hanya satu baris.
"Jangan keluar. Mereka sudah tahu siapa kamu."