Damar membaca pesan itu lima kali sebelum layar ponselnya mati lagi.
"Mereka? Siapa mereka?" Ia berbicara pada ruangan kosong.
Sirene di luar makin keras. Ia mengintip dari celah tirai. Dua mobil hitam tanpa pelat nomor merangsek masuk ke mulut gang, terlalu mewah untuk lingkungan kontrakan kumuh seperti ini. Pintu terbuka. Empat orang turun, semuanya berpakaian rapi—kemeja gelap, kacamata hitam meski matahari belum tinggi. Mereka bergerak terlalu teratur. Bukan polisi biasa.
Salah satu dari mereka menunjukkan sesuatu ke yang lain—sebuah tablet. Lalu menunjuk ke arah jendela Damar.
Jantung Damar serasa berhenti.
Ia menyambar jaket di gantungan, memasukkan ponsel mati ke saku, dan menendang sandal ke kakinya. Tidak ada waktu untuk berpikir. Pesan itu benar. Mereka mencarinya.
Pintu kontrakan diketuk keras. "Saudara Damar Prasetyo? Kami dari instansi pemerintah. Buka pintunya. Anda tidak dalam masalah, kami hanya ingin bicara."
Suara itu tenang, sopan, dan justru karena itu terdengar menakutkan.
Damar tidak menjawab. Kontrakannya di lantai dua, dan di belakang ada jendela kecil menghadap atap rumah tetangga. Ia pernah lewat situ waktu kunci patah dan terkunci di luar. Ia membuka kait jendela perlahan.
"Saudara Damar, kami tahu Anda di dalam." Ketukan berubah jadi gedoran. "Jangan persulit keadaan."
Damar memanjat keluar, kakinya mencari pijakan di genteng. Pagi masih basah, gentengnya licin. Ia merangkak menjauh saat mendengar pintu kontrakannya didobrak—bunyi kayu patah, lalu langkah-langkah masuk.
"Kosong! Dia kabur lewat jendela!"
Damar melompat ke atap berikutnya. Genteng pecah di bawah kakinya. Ia hampir terpeleset, tapi tangannya menyentuh kabel listrik yang membentang di antara tiang. Tanpa sadar, refleks itu muncul—energi mengalir masuk ke tubuhnya, dan tiba-tiba kakinya terasa ringan, ototnya berisi tenaga baru. Ia melompati celah antar rumah yang lebarnya dua meter, sesuatu yang mustahil ia lakukan kemarin.
Ia mendarat dengan gedebuk keras di atap warung. Dari bawah, salah satu pria berkemeja gelap menengadah dan melihatnya.
"Di atas! Atap! Kejar!"
Damar berlari menyusuri deretan atap, melompat dari satu ke yang lain. Di bawah, warga yang masih panik dengan fenomena pagi ini menatapnya. Seorang bocah menunjuk, "Mas itu terbang!"
Bukan terbang. Cuma melompat lebih jauh dari manusia normal. Tapi rasanya hampir sama.
Ia mencapai ujung deret rumah dan harus turun. Pipa air di sisi tembok jadi jalannya. Ia merosot ke gang sempit di belakang pasar, napas terengah. Para pengejar tertinggal di atap, tapi tidak akan lama.
Di gang itu, sebuah sepeda motor terparkir dengan kunci masih menggantung—milik pedagang yang sedang menurunkan barang. Damar ragu sesaat. Ia bukan pencuri. Tapi mobil hitam itu sudah memutar, mencegatnya di mulut gang.
"Maaf, Pak, saya pinjam!" teriaknya pada pedagang yang bingung.
Ia menyalakan motor. Mesin tak mau hidup—aki lemah. Damar menyentuh badan motor, mengalirkan sedikit energi dari dalam dirinya ke kelistrikan motor. Mesin meraung hidup seketika, lebih bertenaga dari seharusnya.
"Gila," gumamnya pada dirinya sendiri.
Ia menarik gas, motor melesat keluar gang ke arah berlawanan dari mobil hitam. Angin pagi menampar wajahnya. Di kaca spion, ia melihat mobil itu mengejar.
Ponsel di sakunya bergetar lagi. Damar mengeluarkannya di tengah laju motor. Pesan baru dari nomor yang sama.
"Belok kiri di pertigaan Jalan Mawar. Ada yang menunggu. Kalau kamu mau hidup, percaya aku."
Damar menatap layar, lalu jalan di depan. Pertigaan Jalan Mawar lima puluh meter lagi. Ke kiri menuju gang-gang sempit yang ia tidak kenal. Ke kanan menuju jalan besar yang lebih ramai—lebih banyak tempat sembunyi, tapi juga lebih banyak mata.
Ia tidak tahu siapa yang mengirim pesan ini. Bisa jadi jebakan. Bisa jadi penyelamat.
Sirene mobil hitam meraung di belakangnya. Waktu habis. Damar harus memilih.
Ia membanting setang ke kiri.