Gang Jalan Mawar lebih sempit dari yang Damar kira. Motornya nyaris menyenggol gerobak dan tumpukan kardus. Mobil hitam terlalu besar untuk mengikuti—ia mendengar deru mesinnya berhenti di mulut gang, lalu pintu terbuka, langkah kaki mengejar dengan berlari.
"Sebelah mana," desis Damar, matanya mencari.
Di ujung gang, seorang perempuan berdiri di samping pintu besi sebuah bekas gudang. Ia mengenakan jaket kulit dan topi, melambai dengan gerakan cepat dan tegas.
"Sini! Cepat!"
Damar memacu motor ke arahnya. Perempuan itu membuka pintu besi, dan begitu Damar masuk, ia mendorong motor itu jatuh ke samping dan membanting pintu menutup, menguncinya dengan palang besi.
"Matikan motornya," katanya. "Suaranya kedengaran."
Damar mematikan mesin. Ruangan itu gelap, hanya cahaya yang menyusup dari celah atap seng. Bau lembap dan debu. Perempuan itu menatapnya, dan Damar baru bisa melihat wajahnya—mungkin seumuran dengannya, mata tajam, ada bekas luka tipis di alis kanan.
"Kamu yang kirim pesan?" tanya Damar.
"Iya." Ia melepas topi, rambut hitam pendek terurai. "Namaku Sekar. Sekarang diam dulu."
Dari luar, suara langkah kaki para pengejar berlari melewati gang, lalu menjauh. Mereka mengira Damar terus berkendara. Sekar menempelkan telinga ke pintu besi, menunggu, lalu mengembuskan napas lega.
"Aman. Untuk sekarang."
"Kamu siapa?" Damar tidak menurunkan kewaspadaan. "Gimana kamu tahu namaku? Gimana kamu tahu mereka ngejar aku?"
Sekar berjalan ke sudut ruangan, di mana ada meja lipat dengan beberapa layar laptop yang menyala. "Karena aku tahu mereka. Dan karena aku, seperti kamu, bangun pagi ini dengan sesuatu yang tidak diminta."
Ia mengangkat tangan. Untuk sesaat tidak terjadi apa-apa. Lalu suara di sekitar mereka—tetesan air, deru mesin jauh, langkah kaki di jalan—semuanya menghilang. Hening total, seperti telinga Damar disumbat. Lalu suara kembali.
"Aku bisa meredam suara," kata Sekar. "Bikin area sunyi. Berguna kalau mau ngumpet. Kemampuanku kecil dibanding punyamu."
Damar menatap tangannya sendiri. "Aku gak minta ini."
"Gak ada yang minta." Sekar duduk di kursi lipat. "Mereka menyebutnya 'Generasi Pertama'. Pemerintah—bukan cuma Indonesia, semua negara—panik. Dalam dua belas jam mereka udah bikin satuan khusus buat ngumpulin kita. Yang mereka anggap berbahaya, dijemput duluan."
"Kenapa aku?"
Sekar memutar salah satu laptop ke arah Damar. Di layar, ada foto dirinya—diambil entah dari mana, mungkin CCTV—dengan deretan data di sampingnya. Di antara teks itu, Damar membaca satu baris yang membuat tengkuknya dingin.
KLASIFIKASI ANCAMAN: TINGKAT MERAH. KEMAMPUAN: PENYERAPAN DAN PELEPASAN ENERGI. POTENSI ESKALASI: TINGGI.
"Kemampuanmu," kata Sekar pelan, "bisa matiin listrik satu kota. Bisa nyedot tenaga dari apa aja. Dan kalau teorinya benar... bisa nyedot energi dari orang lain. Termasuk Generasi Pertama lain. Termasuk nyawa."
Damar merasa mual. "Aku gak akan—"
"Aku tahu kamu gak akan. Aku lihat kamu tadi. Kamu minta maaf ke pedagang waktu minjam motornya." Sekar tersenyum tipis, pertama kalinya. "Orang jahat gak minta maaf. Makanya aku peringatin kamu. Bukan cuma pemerintah yang nyari kamu, Damar."
"Maksudnya?"
Sekar mengetik sesuatu. Layar menampilkan logo—lingkaran hitam dengan sayap retak di tengahnya. "Ada kelompok lain. Mereka nyebut diri Sanggar. Mereka ngumpulin Generasi Pertama juga, tapi bukan buat dilindungi. Mereka mau bikin senjata. Dan untuk apa yang mereka rencanakan, seseorang yang bisa nyerap energi dewa-dewa baru ini... itu kunci."
Pintu besi tiba-tiba berdebum keras. Sekali. Dua kali. Seseorang menggedornya dari luar.
Sekar melompat berdiri, wajahnya menegang. "Gak mungkin. Mereka gak mungkin secepat ini nemuin—"
Gedoran ketiga, dan kali ini pintu besi penyok ke dalam, seakan dihantam sesuatu yang jauh lebih kuat dari manusia.