Pintu besi penyok lagi. Engselnya berderit.
"Lewat sini," desis Sekar, menarik lengan Damar ke arah belakang gudang. "Ada pintu darurat."
Tapi sebelum mereka mencapainya, pintu besi di depan terlepas dari engselnya dan terlempar ke dalam ruangan, menghantam meja laptop hingga berantakan. Debu beterbangan.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria bertubuh besar. Bukan gemuk—besar seperti lemari, otot menonjol di balik kaus hitamnya. Kulitnya, anehnya, memantulkan cahaya seperti logam. Ia melangkah masuk, lantai beton retak di bawah pijakannya.
"Damar Prasetyo," kata pria itu, suaranya berat. "Dan... siapa kamu? Bukan target. Tapi penghalang."
Sekar berdiri melindungi di depan Damar. "Kami gak mau ribut."
"Sayang sekali." Pria logam itu mengangkat tangan. Kulitnya benar-benar berubah—jari-jarinya mengeras jadi baja. "Aku dibayar buat bawa dia. Hidup. Kamu... gak disebut."
Ia melesat maju, jauh lebih cepat dari yang seharusnya bisa dilakukan tubuh sebesar itu. Sekar mengangkat tangan dan dunia jadi sunyi—tapi kesunyian tidak menghentikan tinju baja. Pukulan itu menghantam tumpukan kardus tempat Damar baru saja berdiri, menghancurkannya jadi serpihan.
Damar terjatuh ke samping, jantung berdebar. Pria itu berbalik ke arahnya, lengan terangkat untuk memukul lagi.
Refleks. Damar mengulurkan kedua tangan ke depan, seperti tadi pagi saat tak sengaja menggosongkan tembok. Tapi kali ini ia tidak melepaskan energi—ia menyerap. Ia membayangkan menarik segala daya dari pria di depannya.
Sesuatu terjadi. Pria logam itu tersentak, langkahnya goyah. Kulit bajanya berkedip, sebagian kembali jadi kulit biasa.
"Apa—" geramnya. "Kamu nyedot kekuatanku!"
Damar sendiri terkejut. Ia merasakannya—aliran asing masuk ke tubuhnya, lebih kental dari listrik biasa, lebih hidup. Tenaganya membludak. Tapi pria itu terlalu kuat; serapan Damar tidak cukup cepat untuk melumpuhkannya sepenuhnya.
Pria itu melayangkan tinju yang masih separuh baja. Damar menahannya dengan kedua lengan menyilang. Benturan itu melemparnya ke dinding, punggungnya menghantam beton. Sakit luar biasa—tapi ia tidak patah. Energi yang baru ia serap melapisi tubuhnya, mengeraskannya sesaat.
"Damar!" Sekar berteriak. Ia menyambar pipa besi dari reruntuhan dan menghantamkannya ke kepala pria logam—tapi pipa itu melengkung tak berdaya.
Pria itu menampar Sekar hingga ia terpental ke sudut ruangan. Ia tergeletak, mengerang.
Sesuatu dalam diri Damar terbakar. Bukan cuma takut sekarang. Marah.
Ia berdiri, kedua tangannya menyala biru terang. Energi yang ia kumpulkan—dari kabel listrik tadi, dari TV, dari motor, dari pria baja ini—semuanya berdenyut di telapaknya. Untuk pertama kalinya, ia tidak melepaskannya dengan ragu.
"Menjauh dari dia," kata Damar.
Ia mendorong kedua tangannya ke depan. Gelombang energi biru meletup keluar, jauh lebih besar dari yang menggosongkan tembok kontrakannya. Ledakan itu menghantam pria logam tepat di dada, melemparnya menembus dinding gudang ke jalanan di luar.
Hening sejenak. Debu mengepul. Lampu-lampu di seluruh blok itu mendadak padam—Damar telah menyedot listrik area itu untuk memberi tenaga serangannya tanpa sadar.
Damar terhuyung, lutut melemah. Pelepasan energi sebesar itu menguras dirinya. Pandangannya berkunang.
Ia menyeret diri ke arah Sekar, membantunya bangun. "Kamu gak apa-apa?"
Sekar meringis, memegangi rusuknya. "Pernah lebih buruk. Pria itu... namanya Baja. Salah satu pemburu bayaran Sanggar." Ia menatap lubang di dinding tempat Baja terlempar. "Dan kamu baru aja ngalahin dia. Generasi Pertama yang bahkan belum sehari punya kekuatan."
Dari kejauhan, sirene kembali terdengar. Pemerintah datang, ditarik oleh padamnya listrik dan laporan ledakan.
"Kita harus pergi," kata Sekar. "Sekarang. Sebelum yang lebih buruk datang."
Tapi saat mereka berbalik ke pintu darurat, sebuah suara dari balik reruntuhan membuat keduanya membeku.
Baja, dengan wajah berdarah dan kulit kembali jadi baja, merangkak bangun.
"Belum selesai," geramnya.