Baja berdiri dengan susah payah, tapi ia berdiri.
Damar nyaris tak punya tenaga tersisa. Pelepasan tadi menguras dirinya sampai kering. Ia bisa merasakannya—seperti baterai yang tinggal satu persen.
"Sekar," bisik Damar. "Listriknya udah aku sedot semua. Aku gak bisa nembak lagi."
Sekar menggigit bibir, otaknya bekerja cepat. "Pintu darurat. Lari. Aku tahan dia."
"Kamu gila? Pukulannya aja bikin pipa bengkok."
"Aku gak bakal lawan dia. Aku bakal bingungin dia." Sekar mendorong Damar ke arah pintu belakang. "Pergi!"
Baja melangkah maju, lantai retak. Sekar mengangkat kedua tangannya dan menutup matanya berkonsentrasi. Tiba-tiba seluruh ruangan dipenuhi suara—bukan kesunyian kali ini, tapi sebaliknya. Sekar memantulkan dan melipatgandakan setiap suara: deru sirene, gema langkah, denging logam, semuanya menumpuk jadi raungan memekakkan dari segala arah.
Baja terhuyung, menutup telinganya. "Apa ini—di mana kamu—"
Suara langkah Damar dan Sekar tenggelam dalam kekacauan itu. Baja tidak bisa membedakan dari mana mereka bergerak.
Mereka menerobos pintu darurat ke gang belakang. Sekar mempertahankan kekacauan suara selama beberapa detik lagi, lalu melepaskannya, wajahnya pucat kehabisan tenaga.
"Cuma punya trik itu," ia terengah. "Capek juga makainya."
Mereka berlari menyusuri labirin gang. Sekar tampaknya hafal jalan ini—belok, menyelinap di bawah jemuran, melompati selokan, menembus pasar yang mulai ramai. Suara sirene memenuhi udara, tapi mereka bergerak melawan arus, menjauh dari pusat keramaian.
Akhirnya mereka berhenti di balik sebuah masjid tua, bersandar di tembok, menghirup napas.
"Siapa kamu sebenarnya, Sekar?" Damar bertanya di sela engahnya. "Kamu tahu jalan tikus, tahu soal Sanggar, tahu pemerintah. Kamu bukan orang biasa yang kebetulan dapet kekuatan."
Sekar diam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Dulu aku jurnalis. Investigasi. Sebelum semua ini, aku lagi nyelidiki sesuatu—perusahaan yang aneh, dana gelap, eksperimen yang gak masuk akal. Aku gak nyangka penyelidikanku nyambung ke fenomena pagi ini." Ia menatap Damar. "Aku pikir fenomena ini bukan kebetulan, Damar. Ada yang tahu ini akan terjadi. Atau bahkan, ada yang bikin ini terjadi."
Damar mengernyit. "Maksudnya, ada yang sengaja ngasih kekuatan ke jutaan orang?"
"Aku gak yakin. Tapi terlalu banyak yang gak cocok kalau ini cuma keajaiban alam." Sekar mengeluarkan ponsel, lalu mendengus. "Mati. Punyamu?"
Damar mengeluarkan ponselnya. Layar gelap. Tapi saat ia menyentuhnya, garis biru di tangannya berkedip, dan layar ponsel menyala—diisi oleh sisa energi dalam tubuh Damar sendiri.
"Wah," gumam Sekar. "Praktis juga kamu."
Layar menunjukkan deretan notifikasi. Berita dunia memburuk. Kerusuhan di beberapa kota. Pemerintah berbagai negara mengumumkan keadaan darurat. Tagar #GenerasiPertama dan #BuruMereka bersaing di puncak trending. Foto-foto Generasi Pertama beredar—sebagian dipuja sebagai pahlawan, sebagian diburu sebagai monster.
Lalu sebuah notifikasi membuat Damar terdiam. Sebuah video. Wajahnya, diambil dari CCTV gudang tadi, dengan tangan menyala biru dan pria logam terlempar menembus dinding. Judulnya: "MANUSIA ENERGI MENGAMUK DI JAKARTA TIMUR—BERBAHAYA."
Sudah tersebar. Ratusan ribu penonton.
"Mereka udah tahu wajahku," kata Damar lirih. "Semua orang udah tahu."
Sekar meletakkan tangan di bahunya. "Berarti kita gak bisa diam di Jakarta. Aku punya kontak. Tempat aman di luar kota. Orang-orang yang kayak kita, yang gak mau dipakai pemerintah atau Sanggar."
"Generasi Pertama lain?"
"Beberapa. Mereka nyebut diri 'yang netral'. Cuma mau hidup tenang." Sekar berdiri. "Tapi setelah hari ini, aku gak yakin netral masih jadi pilihan buat siapa pun."
Saat itu, dari balik tikungan jalan, sebuah bayangan bergerak. Bukan Baja. Bukan pria berkemeja gelap. Seorang anak kecil—mungkin sepuluh tahun—berdiri sendirian, menatap Damar dengan mata yang terlalu tenang untuk anak seusianya.
"Kakak Damar," kata anak itu, suaranya halus. "Mereka nyuruh aku jemput Kakak. Tolong jangan lawan. Nanti sakit."
Dan di belakang anak itu, udara mulai melengkung, seperti panas di atas aspal—tanda sesuatu yang jauh lebih aneh akan datang.