Cinta terkadang memang sulit ditebak. Tidak akan ada yang tahu dengan keberadaan jodoh kita, bisa saja kita sudah bersama hingga berpuluh-puluh tahun, tetapi bukanlah jodohnya. Karena hakikatnya jodoh dan kematian sudah diatur oleh Tuhan.
Cinta memang pantas untuk diperjuangkan, namun apa artinya perjuangan bila kita hanya berpihak sendiri, tidak sama-sama berjuang untuk memepertahankan apa yang kita miliki.
Cinta sama seperti halnya kematian. Tak bisa dipungkiri dan tak bisa ditolak. Sekalinya mereka sudah tiba, kita harus bisa menerimanya dengan lapang d**a.
Bunda Listya adalah sosok wanita dan ibu dari ketiga anaknya. Ia sangat baik, bahkan ia tidak hanya dijadikan sebagai sosok bunda, namun ketiga anaknya itu selalu melihat bunda sebagai sosok sahabatnya, teman curhatnya, teman mainnya, bahkan apapun itu sudah lengkap dimiliki oleh sosok Bunda Listya.
“Bunda. We love you forever,” ucapan yang selalu terlontarkan dari ketiga anaknya itu.
Mereka sangat menyayangi bundanya lebih dari apapun itu. Mereka juga tidak pernah berfikir apa yang terjadi jika bunda mereka hilang dari muka bumi ini. Bagi mereka “everything about Mom.”
***
“Bunda ingin kamu segera menikah dengan Rendi, Gita.”
Hal yang sangat bunda inginkan sebelum ia menutup matanya. Tapi apalah sebuah permintaan itu, Gita masih saja belum memikirkan hal tersebut, lebih lagi dengan pasangan kekasihnya.
Gita masih ingin terus mengejar apa yang ia inginkan. Mungkin setelah ia menyelesaikan perkuliahan ini, ia akan segera memikirkan hal itu.
Sedangkan Rendi masih saja acuh, ia tak pernah sama sekali menyinggung soal pernikahan mereka, kalau ditanya bunda Listya ia hanya menjawab dengan senyuman tanpa merespon apapun.
***
“Tuuutt …” Terdengar suara mesin pendeteksi jantung di rumah sakit.
Detak jantung bunda berhenti untuk selama-lamanya. Mereka benar-benar tak menyangka kalau bundanya akan meninggalkan mereka secepat ini.
Gita menyesal karena ia belum bisa menuruti permintaan bundanya. Tak seharusnya ia selalu mengikuti egonya sendiri. Namun, ini sudah menjadi takdir Tuhan dan tak bisa ia tolak.
Gita pun marah dengan pasangan kekasihnya. Saat kematian bundanya itu, ia sama sekali tidak bisa dihubungi. Pikiran ia saat itu sudah sangat buntu. Tak tau lagi apa yang harus ia lakukan agar bisa merelakan kepergian bundanya, ditambah lagi dengan teriang-iang di kepalanya dengan perkataan tersebut.
Lama-kelamaan Gita lelah, ia merasa bahwa dalam hubungannya ia selalu berjuang sendiri. Tak pernah ada satupun respect yang diberikan Rendi kepadanya. Rendi masih saja sibuk dengan urusan pribadinya.
Kala itu, Rendi menampakkan dirinya setelah tiga hari kematian bunda Listya. Gita tak kuasa menahan rasa amarah dan kesalnya kepada Rendi. Emosinya ia luapkan semua kepada Rendi, tanpa sadar ia sudah hilang kendali.
“Kita putus !!” ucapan yang terlontar dari mulut Gita untuk Rendi.
***
Hallo semuanya. Ini cerita pertamaku.... Yuk diikuti terus kisah ceritanya !!!