Suatu ketika keluarga besar Bramansyah sedang berkumpul. Mereka akan merencanakan untuk liburan bersama keluarga. Namun di saat itu, bunda Listya merasa pusing tak seperti biasanya dan dari hidungnya ternyata mengalir cairan merah yang tidak terkondisi.
Bunda langsung berlari ke kamar mandi untuk menutupi kondisinya itu.
“Loh bunda kemana?” Cari Zani yang baru saja tiba di meja lingkaran itu.
Bunda memandangkan wajahnya di cermin hadapannya. Ia merasa bahwa dirinya kali ini tak seperti biasanya, dan sudah berulang kali ia merasakan hal yang sama.
Wajah cantiknya itu seketika berubah menjadi putih memucat, kondisi bunda kali itu benar-benar tidak seperti biasanya.
Bunda kembali ke meja itu. Zani yang baru saja tiba, langsung meraih bundanya untuk memeluk. Ia memandangi wajah bundanya, namun seperti ada berbeda dari biasanya.
“Bunda, are you okay?” tanya Zani dengan nada yang penuh kekhawatiran.
“Emm … Okey. Bunda gak kenapa-kenapa,” saut bunda dengan senyuman cantik di wajahnya.
Zani menggandeng tangan bundanya untuk kembali ikut duduk di tengah-tengah lingkaran itu, namun pandangan bunda semakin lama semakin terlihat kabur dan merasa semua benda yang ada di sekitarnya terus memutar.
Bunda mencoba untuk tetap merilekskan kondisinya itu, ia mengambil tegukan air putih di hadapannya untuk merilekskan tubuhnya. Raut wajah bunda kini semakin terlihat lemah dan memucat. Sepertinya ia sudah tak bisa lagi menahan rasa pusingnya itu. Dengan keputusannya ia pergi meninggalkan perkumpulan tersebut.
Mereka tidak ada yang sadar dengan kepergian bundanya yang meninggalkan perkumpulan itu. Mereka sedang asik dengan pembahasan liburan yang akan mereka lakukan pekan depan.
Sesampai kamarnya, bunda tergeletak di atas ranjang kasurnya. Ia sama sekali sudah tak tahan merasakan pusingnya itu. Ia menganggap kalau ia hanya kelelahan saja, mungkin setelah ia beristirahat rasa pusing itu akan hilang dan ia kembali normal.
Bunda berharap tidak akan ada apa-apa dengan kondisi dirinya. Ia menginginkan agar ia selalu sehat sampai ia menemani anak-anaknya sukses dan menikah.
Setelah perbincangan mengenai liburan itu usai, kini mereka mencari bundanya. Seno yang tadi duduk bersebelahan dengan bundanya pun tak tahu kemana bundanya pergi.
“Yah. Bunda kemana kok gak ada?” Seno celingukan mencari bunda di sekitarnya.
“Loh ayah juga gak lihat tuh. Bukannya tadi duduk dekat kamu?” saut ayah dengan melontarkan
kembali pertanyaannya itu.
“Tadi Gita lihat kayanya bunda ke kamar duluan deh,” sambung Gita dengan tebakannya.
Kemudian mereka menyusul bundanya ke kamar. Ternyata bundanya sedang terbaring tidur di ranjang itu.
“Kenapa bunda?” tanya Seno.
“Bunda kayak gak biasa gitu. Mungkin lagi kurang sehat,” saut Zani yang melihat kondisi bundanya di ruang keluarga tadi.
“Yaudah biarin bunda istirahat. Kalian kembali ke kamar masing-masing, biar ayah yang menemani bunda di sini,” ucap ayah sembari mendekat ke bunda Listya.
Setelah beberapa jam bunda tertidur, kini ia kembali bangun dengan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Ia melihat kalau suaminya sedang tertidur di sampinnya.
Bunda memandangi wajah suaminya itu, ia merasa bersyukur sekali memiliki keluarga yang utuh seperti ini. Ditambah lagi dengan suaminya yang selalu menyayanginya.
“Bahagia banget aku, Mas. Makasih sudah terus menjagaku sampai saat ini,” ucap bunda sembari mengelus kepala suaminya.
Suaminya terbangun ketika merasakan usapan di kepalanya itu. Ia langsung mengambil posisi duduk sembari memandangi wajah istrinya.
“Kamu baik-baik aja kan, Bun?” tanya ayah dengan penuh kekhawatiran.
“Loh aku kenapa emangnya? Aku sehat kok. Biasa,” ucapan yang terlontar dari mulut bunda agar tidak menjadi kekhawatiran seluruh isi rumahnya.
Ayah Bramansyah mencium kening bunda Listya dengan berkata, ”I love you, Bunda.”
Hal-hal kecil yang selalu dilakukan oleh sang suami menambah keharmonisan rumah tangga mereka. Selama usia pernikahan mereka, mereka sama sekali tidak pernah ribut, bahkan berpaling satu sama lain pun tak pernah terjadi.
Mereka saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Dengan kehadiran ketiga anaknya, ia sudah merasa lebih dari cukup atas karunia Tuhannya.
“Bun, kita makan di luar yuk. Mumpung anak-anak lagi di rumah juga,” ajak ayah.
“Boleh tuh, Yah. Yaudah nanti bunda kasih tau anak-anak,” saut bunda sembari beranjak dari ranjang tidurnya.
Bunda menghampiri kamar anak-anaknya. Ia menyampaikan untuk dinner bersama nanti malam.
Mereka saling bersiap diri untuk dinnernya nanti. Bunda berdandan cantik sekali malam itu. Ditambah dengan dress berwarna peach, bunda terlihat sangat anggun dan elegan.
Usia bunda memang sudah berkepala empat, namun ia memiliki wajah yang awet muda, ditambah lagi dengan postur tubuh yang bagus, ia tetap terlihat seperti abg yang berusia dua pulih lima tahun.
Ayah terkesima melihat istrinya. Hal ini mengingat saat ia pertama kali dinner di kala semasih pacaran. Ayah Bramansyah memang tidak pernah salah pilih untuk menjadikan bunda Listya sebagai pendampingnya.
“Bunda … Cantik banget malam ini. Ayah jadi ingat waktu muda kita dulu, Bun,” ledek ayah dengan senyuman di wajahnya.
“Ayah ini. Anak kita sudah tiga loh. Masa masih mau nyamain kaya anak kita aja,” saut bunda dengan nada yang sedikit jengkel.
Pasangan suami istri itu bergegas keluar dari kamarnya. Mereka menunggu anak-anaknya di ruang tamu.
“Wiiiihhhhh. Bunda cakep beneeerrrrr,” ucap Zani dengan logat laki-lakinya yang baru saja turun dari anak tangga itu.
Bunda tersenyum malu mendengar perkataan Zani. Tidak Zani tidak ayahnya selalu saja bisa meledek bundanya hingga tersipu malu. Zani langsung berlari dari arah tangga itu untuk segera melihat kecantikan bundanya. Zani mengelilingi bundanya dan melihat penampilan bunda dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Perfect.” Zani mengacungkan dua jempolnya kehadapan bundanya. Tingkah lucu Zani sering membuat satu isi rumahnya tertawa dengan luconnya itu.
“Ayah gak salah pilih. Bener-bener top dah milih bunda,” ledek Zani kepada ayahnya.
Bunda yang semakin geram melihat tingkah lucu Zani, melemparkan tas tentengnya ke Zani.
“Auuuu. Ih cantik-cantik kok galak,” celetuk Zani kepada bundanya.
Ayah Bramansyah tertawa melihat lelucon bunda dan putri bungsunga. Tawa lengkap menghiasi ruang tamu itu.
Gita dan Seno bersamaan turun dari anak tangga. Kali itu Gita mengenakan dress berwarna dusty, hampir senada dengan dress yang digunakan bundanya.
“Mba … mba ... sini. Liat bunda cantik parah.” Lagi-lagi Zani terus meledek bundanya.
Gita yang masih berada di posisi paling atas anak tangga, segera lari melihat bundanya.
“Kalau ini mah, bukan main,” ucap Gita dengan mengunjukkan giginya di hadapan bundanya.
Bunda semakin malu, lantaran ia terus diledeki oleh anak-anak dan suaminya. Ia merasa senang malam itu bisa berkumpul dengan dihiasi canda tawa.
“Ayo berangkat. Udah laper ni,” celetuk Seno yang baru saja tiba di ruang tamu dengan memegangi perutnya yang kosong itu.
“Ahahahah. Bang boy udah gak sabar aja nih,” ucap Zani menyauti permintaan bang Seno.
“Sudah ayo cepetan. Keburu malam,” sambung bunda.
Mereka berjalan menuju garasi mereka. Malam itu, bunda hanya semobil dengan ayah dan ketiga anaknya menumpangi mobil Seno.
SUV hitam Seno dan ayah perlahan meninggalkan rumah itu. Mereka mengemudikannya ke restoran bintang lima yang satu arah dengan kantor ayahnya.
Setelah 45 menit perjalanan mereka, tibalah mereka di lobby restoran itu. Mereka segera masuk ke dalam restoran itu. Mereka memilih duduk di area luar gedung restoran. Mereka ingin sembari menikmati suasana malam itu yang dihiasi dengan kelap-kelipnya
bintang.
Tak lama, seorang pelayan berjalan ke arah meja mereka dengan membawa buku menu yang tersedia di restoran itu.
“Silahkan! Ingin memesan apa?” ucap pelayan dengan nada sopan dan memberikan buku menu di mejanya.
Mereka berlima memilih menu untuk malam ini. Ayah memilih menu spesial untuk malam ini, ditambah dengan desert es krim dan puding coklat.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, Seno pergi ke panggung untuk menyanyikan sebuah lagu. Sudah menjadi kebiasaannya jika di café atau restoran Seno pasti selalu bernyanyi. Zani mengikuti bang Seno untuk naik ke atas panggung. Malam ini mereka akan duet menyanyikan lagu “Ijinkan Aku Menyayangimu by Iwan Fals”.
Bunda dan ayah berantusias dengan memberikan tepuk tangan meriah kepada Zani dan Seno. Para pengunjung lainnya juga ikut berantusias dan ikut menanyikan bersama lagu itu. Suasana malam ini sangat ramai dan bahagia.
Bunda terlihat bahagia lepas dengan suasana malam itu. Tak pernah berfikir kalau akhir-akhir ini adalah momen terakhir yang diukir bersama keluarga tercintanya.
Duet Seno dan Zani terlihat sangat keren, menyentuh suasana pengunjung malam itu.
“Mantap … Keren …” kata bunda dengan mengacungkan dua jempol bunda untuk anak mereka.
“Kalau gini, ayah gak mau kalah. Masa dari tadi yang dipuji cuma anaknya, ayah nggak,” sambung ayah dengan nada kesal yang lucu.
“Maju yah. Ayo nyanyi,” sontak Gita dengan antusias mendukung ayahnya untuk manggung malam ini.
Ayah Bramansyah beranjank dari kursinya langsung naik keatas panggung. Bunda terheran-heran melihat tingkah suaminya yang seperti bujangan ini.
“Lagu ini saya persembahkan untuk istri tercinta saya,” ucapnya yang berdiri di atas panggung itu.
Zani bersorak-sorai dengan semangat. Ia antusias sekali melihat ayahnya manggung malam ini.
“Ayahh … the best … huhuuhhuhuh,” sorak Zani dengan lantang.
Ayah kini melambaikan tangannya dari atas panggung sembari melontarkan senyuman ke arah meja keluarganya.
Bunda, Gita, dan Seno saling tertawa melihat tingkah ayahnya itu. Mereka pun ikut bersorak-sorai gembira. Bunda Listya yang tersipu malu ikut berbahagia melihat tingkah suaminya.
Ayah Bramansyah menyanyikan lagu “You Are the Reason”. Tak kalah bagusnya dengan suara anaknya tadi. Lagu barat yang ia nyanyikan menyentuh suasana malam itu. Tepukan tangan dari para pengunjung menghiasi keramaian malam itu.
Seusai menyanyi ayah Bramansyah kembali ke meja makan. Ia mendapat sambutan meriah dari anak-anaknya.
“Top ayahku ini. Memang top,” ucap Seno dengan acungan dua jempol untuk ayahnya.
Bunda menepuk bahu suaminya. Ia berkata, “Udah tua aneh-aneh aja.”
Ketiga anaknya tertawa melihat perdebatan ayah dan bundanya itu. Ditambah lagi ayahnya yang suka mencairkan suasana dengan leluconnya.
***