Seusai pementasan ayah Bramansyah dan kedua anaknya, tak lama hidangan mereka tiba di meja. Mereka langsung menyantap hidangan mereka dengan lahap dan penuh riang gembira.
“Yah. Sering-sering dong ajak kita happy kaya gini. Kan enak jadinya,” celetuk Zani yang sedang memotong steaknya.
“Ayah mah mau-mau aja. Kan tergantung kalian juga,” jawab ayah.
“Ih Zani mah gampang. Tuh mba Gita sama bang Seno. Dia kan kerjaannya sibuk melulu,” ucap Zani sembari melirik kedua kakaknya.
Gita tak merespon perkataan adiknya. Ia memang sangat cuek dan sering mengacuhkan lelucon yang tidak penting baginya. Berbeda dengan Seno, meskipun ia dingin kepada wanita lain, namun dengan adiknya ia malah jail.
Seno menggatak kepala Zani dengan perlahan. Masalah kecil sering menjadi percekcokan antara mereka berdua.
“Bang kapan-kapan ikut touring bareng club motor aku yuk,” ajak Zani kepada kakaknya.
“Ah ogah. Isinya cuma bocil-bocil doang males,” jawab Seno dengan ledeknnya.
“Udah makan cepetan. Ngomong mulu kapan pulangnya,” celetuk bunda Listya yang pusing dengan perdebatan dua anaknya.
Gita yang serius dengan ponsel ditangannya tak menghiraukan perdebatan dua adiknya itu. Ia terus fokus dengan apa isi ponselnya itu.
“Git?” Panggil bunda.
“Kenapa bunda?” Mendadak panik dengan suara yang memanggilnya.
“Gak dimakan makanannya? Ayo pulang sudah malam,” ucap bunda. Seno dan Zeni seraya memperhatikan Gita dengan tingkahnya itu.
“Gita udah kenyang bunda. Yaudah ayo kalau mau pulang, sudah malam juga,” ucap Gita dengan melontarkan senyum paksanya.
Selesai mereka makan, mereka bergegas kembali ke rumahnya. Mereka berjalan ke arah lobby restoran dan menunggu kedatangan mobil mereka.
Sesampainya di rumah, mereka langsung pergi ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.
“Thank you yah buat malam ini,” ucap Zani dengan mencium kening ayah dan bundanya. Ia langsung bergegas ke kamarnya.
Namun Gita langung menyelonong masuk tanpa berpamitan kepada ayah dan bundanya.
“Loh Gita mana?” tanya bunda.
“Udah masuk kamar duluan. Kenapa sih tuh orang?” celetuk Zani dengan sensinya.
“Biasalah. Kayak gak tau mba mu yang satu itu,” celetuk Seno.
Sesampainya di kamar, Gita terlihat muram. Sedari tadi ia di restoran, ia juga sudah menampakkan wajah asamnya itu. Ternyata Rendi biang masalahnya.
“Rendi.”
Rendi Atmajaya adalah kekasih dari Regita Roro Bramansyah. Ia sudah menjalin hubungan cukup lama sedari ia masih di bangku kuliah jenjang sarjana. Mereka dipertemukan dalam hal tersebut.
Rendi sosok laki-laki yang setia dan penyayang kepada pasangannya. Namun sikap yang paling tidak disukai oleh Gita yaitu egois. Bisa dibilang Rendi memang egois karena ia masih terus memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Ia acuh kepada hubungannya. Menurut Rendi selagi hubungan mereka tidak saling mengkhianati, Rendi tetap teguh dengan pendiriannya.
Namun hal itu tidak diambil pusing oleh Gita. Ia akan lebih fokus untuk pendidikannya itu dibanding memikirkan soal Rendi. Baginya selagi Rendi masih di sisinya, ia tidak akan pernah mengambil pusing soal itu.
***
Kicauan burung menghiasi udara dingin pagi itu di Surabaya. Burung-burung yang bertengger di dahan pohon mulai mengepakkan sayapnya. Matahari yang terbit dari ufuk timur kini mulai memancarkan sinar fajarnya itu.
“Bun ... Bunda …” teriak Zani memanggil-manggil bundanya.
Ayah dan bundanya tersontak kaget mendengar teriakan Zani. Mereka langsung berlari ke arah Zani.
“Ngapain sih? Masih pagi udah teriak-teriak kaya di hutan aja,” celetuk Gita dengan nada yang kesal.
“Kenapa teriak-teriak sih?” saut bunda dengan wajah paniknya.
“Hehehehe. Gak papa sih sebenarnya. Zani cuma mau izin aja mau sunmori sama temen-temen Zani,” ucap Zani yang berpenampilan rapi dengan kostum motornya.
“Tok …” suara ketukan kecil di kepala Zani. Biasalah itu perilaku Seno yang sering jail kepada adiknya.
“Kebiasaan. Bikin orang geger,” ucap Seno yang sedikit kesal.
“Ya sudah hati-hati. Jangan sampai sore pulangnya,” ucap bunda yang mengizinkan putrinya dengan club motor itu. Memang sudah menjadi kebiasaan Zani setiap dua minggu sekali club motor mereka mengadakan sunmori.
Walaupun Zani perempuan, ayah dan bundanya tidak pernah melarang putrinya untuk melakukan hal-hal yang disenangi, selagi itu membantu proses mencari jati dirinya dan tidak berdampak negatif, bunda dan ayahnya selalu mendukung apapun yang mereka lakukan.
Zani berangkat dengan teman-temannya itu. Ia tidak hanya perempuan seorang diri. Dalam clubnya banyak teman perempuan yang ikut serta dalam kelompok itu.
Pagi ini Zani dan clubnya akan pergi keliling kota Surabaya. Tak usah dibayangkan panjangnya deretan motor club motor Zani itu. Meskipun berderet panjang, mereka tetap menjaga ketertiban lalu lintas.
Zani merasa dirinya dapat berkembang dan bisa menemukan jati dirinya di club motor itu. Zani menambah banyak relasi pertemanan di sana, tak hanya itu, dalam club motor Zani juga sering mengadakan bakti sosial. Oleh karena itu, bunda dan ayahnya tak pernah melarang Zani selagi hal tersebut bermanfaat bagi putrinya.
Seperti biasanya, Zani dan teman-temannya selalu menongkrong di sebuah café untuk mengisi kekosongan perutnya itu.
“Coffelate satu ya mba.” Zani menunjukkan salah satu gambar yang ada di buku menu.
Temannya masih sibuk memilih menu sarapan untuk pagi ini, mereka lebih memilih untuk makan makanan yang kenyang agar perutnya tidak keroncongan. Namun berbanding terbalik dengan Zani, ia lebih senang sarapan dengan meminum secangkir kopi dan selembar roti tawar dengan selai coklat.
“Lama banget sih lu. Orang milih makanan aja kayak milih pasangan hidup,” celetuk Zani yang melihat kerempongan teman-temannya.
“Ih biarin si. Kita kan mau milih yang enak mumpung digratisin elu,” saut Inggit dengan nada yang mengentengkan persoalannya.
Zani menepuk pergelangan tangan Inggit atas perkataannya. Zani memang senang mentraktir teman-temannya jajan. Zani sosok orang yang dermawan dan rendah hati. Namun di sisi baiknya itu, banyak laki-laki yang sering digoda olehnya.
Saat teman-temannya masih sibuk memilih makanan, Zani sudah menyeruput secangkir coffe late dihadapannya.
“Sruputt …”
Suara sruputan secangkir kopi dari mulut Zani. Kelakuan Zani memang nyaris mirip lelaki. Tingkahnya yang membuat temannya kewalahan meghadapinya, namun dibalik itu Zani juga memiliki sikap yang baik dan sangat lemah lembut.
Angga menggetok kepala Zani atas tingkahnya itu. “Laki lu?” ucapan yang terlontar dari mulut Angga.
“Heran gua juga ni sama satu bocah,” sambung Inggit.
“Hihihihi,” tawa Zani dengan mengunjukkan gigi gingsulnya.
Selesai itu, mereka pergi meninggalkan café itu. Mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk keliling kota Surabaya. Dari perjalanannya itu, ternyata banyak dari club lain yang ikut sunmori. Suasana ramai mengitari alun-alun kota Surabaya.
“Tron ... Tron ... Tron …” suara bising club motor Zani di depan rumahnya.
Gita merasa terganggu dengan suara bising tersebut. Dengan perasaan marah, ia keluar untuk menghampirinya.
“Siapa sih itu? Berisik di depan rumah orang,” geram Gita dengan wajah yang penuh emosi.
Sesampainya di depan rumah, Gita langsung memarahi rentetan motor yang berjejer di depan pagar itu. Setelah melihat Zani, ternyata itu kelakuan adik perempuannya.
Semua teman Zani mati kutu seketika mendengar omelan kakaknya Zani. Namun Zani tidak mempedulikan celotehan mbanya. Ia tetap menerobos dan mengajak teman-temannya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Tiba-tiba bunda datang dari arah dalam. “Ada apa sih ini?” tanya bunda yang bingung melihat keramaian di depan rumahnya.
“Liat kelakuan anak bungsu bunda. Cewe kok kaya cowo,” saut Gita dengan kesal. Gita langsung masuk menuju kamarnya dan meninggalkan orang yang ada dihadapannya.
“Bunda ... Lihat Zani bawa teman-teman Zani. Banyak kan?” ucap Zani dengan memperkenalkan teman-temannya.
Meskipun dikatakan sebagai club motor, namun mereka tak lepas dari tata krama yang sopan. Mereka langsung menyalami tangan bunda satu per satu.
Bunda tersenyum melihat banyaknya teman-teman Zani. Bunda juga mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumahnya.
Mereka menuju halaman rumah Zani. Halaman rumah Zani sangat luas, banyak tanaman yang menghiasinya. Ada ayunan, lampion taman, dan juga disertai bangkunya.
“Sebentar ya, nanti bunda buatkan minum.” Bunda berbalik badan menuju ke dapur rumahnya.
“Makasih bunda,” jawab teman Zani dengan serentak.
“Eh Zan. Gila mba lu galak banget. Cantik padahal, tapi sayang galak. Gak jadilah gua,” kata Hiro.
“Emang. Suka sensian dia orangnya,” saut Zani.
Dari arah dalam, bang Seno datang menghampiri club motor adiknya itu.
“Hallo Bro,” sapa Seno dengan melambaikan tangannya.
Teman Zani celingukan melihat Seno karena kali pertamanya mereka nongkrong di rumah Zani.
“Itu abang gue. Ganteng kan?” ucap Zani yang melirik ke arah teman perempuannya.
“Hallo juga bro,” saut teman laki-laki Zani sembari tos perkenalan dengan bang Seno.
Teman perempuan Zani terkesima melihat ketampanan Seno. Padahal Seno sama sekali tidak melirik ke arah mereka. Seno hanya menyapa teman laki-laki Zani.
“Abang lu ganteng banget. Gua maulah jadi gebetannya,” ucap Inggit dengan logat centilnya.
“Lu deketin aja sono. Paling dia bakal diem aja,” saut Zani sembari tertawa.
Bunda Listya datang bersama Bi Rina dengan membawa minuman dan makanan untuk mereka. Bunda Listya sangat baik sekali. Setiap ada teman dari anak-anaknya langsung ia sambut dengan baik dan suka cita.
“Ayo dimakan. Jangan cuma dianggurin,” ucap bunda sembari menaruh piring cake dan pisang goreng.
“Pasti bunda. Terima kasih. Jadi ngerepotin nih,” ucap Angga dengan sopan.
“Bun-bun. Mereka kalau ada makanan di depan mata ya gak mungkin gak dimakanlah. Pasti langsung disantap habis-habisan,” celetuk Zani atas teman-temannya.
“Zan jangan gitu luh. Jadi malu nih gue,” kata Inggit.
Bunda tersenyum menanggapi teman-teman Zani. Ramai ceria suasana siang itu menghiasi taman rumahnya.
“Eh ada banyak temannya Zani. Saya ayahnya Zani,” kata ayah Bramansyah yang tiba-tiba datang di tengah perkumpulan mereka.
“Hallo om. Salam kenal dari kita semua,” ucap dengan serentak dari teman-teman Zani.
“Panggil aja ayah Bramansyah. Keren kan. Hehehe,” ucap ayah sembari tertawa jaim.
“Dulu ayah juga ikut club motor kaya kalian. Asyik banget ya ternyata. Tapi motor ayah dulu motor besar. Tidak seperti jaman sekarang yang dimodif,” ucap ayah yang menceritakan pengalaman semasa mudanya.
Bunda hanya tersenyum menanggapi cerita ayahnya yang hanya imajinasinya saja.
***