Ruang kuliah 302 di lantai tiga gedung utama kampus siang itu mendadak hening. Udara dingin dari pendingin ruangan yang berdesung halus sama sekali tidak mampu meredakan tensi yang tiba-tiba meninggi di antara puluhan mahasiswa. Di papan tulis putih bagian depan, tinta spidol hitam baru saja membentuk deretan nama kelompok untuk proyek penelitian akhir semester—sebuah tugas besar yang bobot nilainya mencapai empat puluh persen dari kelulusan mata kuliah utama.
Bagi sebagian besar mahasiswa, melihat nama mereka terpampang di papan tulis adalah momen kelegaan. Namun, bagi Alana, dua kata yang tertulis tepat di samping namanya terasa seperti sebuah vonis yang tidak bisa ditawar.
Alana Kirana — Arka Putra Pratama.
Alana mengepalkan jemarinya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap lurus ke arah papan tulis, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang salah baca akibat kelelahan belajar semalaman. Namun, tulisan tangan Pak Hendra—dosen senior yang terkenal dingin, kaku, dan tak pernah tersentuh oleh negosiasi apa pun—sangat jelas dan tidak meragukan lagi.
"Pak Hendra, permisi," suara Alana memecah keheningan kelas yang mencekam. Ia berdiri dari kursinya dengan gerakan tegas, menegakkan punggung, dan menatap langsung ke arah dosen pembimbing di depan kelas. "Apakah pembagian kelompok ini sudah mutlak? Apakah tidak ada opsi untuk penyesuaian atau pertukaran anggota kelompok?"
Pak Hendra merapikan kacamata minusnya yang sedikit melorot, meletakkan spidol di tatakan papan tulis, lalu menatap Alana datar. "Kenapa, Alana? Ada masalah dengan pembagian kelompok ini?"
"Saya rasa keselarasan metode kerja sangat penting untuk proyek seberpengaruh ini, Pak," jawab Alana cepat, suaranya tenang namun menyimpan determinasi yang kuat. "Saya biasa bekerja dengan ritme yang terstruktur, fokus, dan efektif. Saya khawatir perbedaan gaya kerja dengan Arka justru akan menghambat penyelesaian tugas ini."
Sebuah kekehan pelan terdengar dari barisan paling belakang. Kekehan yang sangat dikenal oleh seluruh penghuni kelas 3B, sekaligus suara yang paling dibenci Alana selama tiga tahun terakhir.
Arka Putra Pratama duduk bersandar di kursinya dengan posisi teramat santai. Kemeja hitam yang dikenakannya tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan kulit berdesain minimalis. Wajahnya yang bergaris tegas memancarkan aura percaya diri yang berlebihan—atau setidaknya, begitulah Alana selalu menilainya. Laki-laki itu menatap Alana dengan sudut bibir yang terangkat tipis, membentuk senyuman meremehkan yang khas.
"Menarik," Arka akhirnya bersuara, menyela sebelum Pak Hendra sempat merespons. "Kamu belum apa-apa sudah sibuk mencari alasan untuk meragukan hasil kerja kelompok kita, Alana. Atau sebenarnya kamu cuma takut tidak bisa mengimbangi standar yang saya tetapkan?"
Alana memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Arka. "Takut? Jangan berspekulasi sembarangan, Arka. Ini bukan soal takut, tapi soal efisiensi. Aku cuma malas harus menghabiskan energi untuk berdebat pada hal-hal sepele yang tidak perlu."
"Kalau begitu, buktikan kalau kamu memang seefisien yang kamu banggakan," balas Arka tanpa menurunkan nada santainya. Matanya menatap Alana tajam, seolah sedang membaca setiap inci reaksi emosi yang berusaha disembunyikan gadis itu. "Jangan banyak protes sebelum kita bahkan memulai rapat pertama."
"Sudah, cukup," Pak Hendra mengetuk mejanya dua kali dengan pulpen, memotong ketegangan yang kian memuncak di antara dua mahasiswa berprestasi tersebut. "Keputusan kelompok ini sudah final dan tidak dapat diganggu gugat. Saya sengaja menggabungkan kalian berdua karena kalian berdua memiliki Indeks Prestasi tertinggi di angkatan ini. Saya ingin melihat bagaimana dua pemikiran terbaik di kelas ini bisa menghasilkan karya ilmiah berstandar tinggi. Jangan kecewakan saya."
Pak Hendra merapikan berkas-berkasnya ke dalam tas kulit, menandakan perkuliahan siang itu telah resmi berakhir. Dosen itu berjalan keluar kelas, meninggalkan atmosfer yang masih sarat akan persaingan dingin.
Begitu pintu kelas tertutup, riuh suara kasak-kusuk mahasiswa lain mulai bermunculan. Beberapa teman sekelas Alana memberikan tatapan simpati, sementara yang lain memilih untuk segera berhamburan keluar ruangan, enggan terjebak di tengah radiasi persaingan antara dua penguasa angkatan tersebut.
Sejak semester pertama, Alana dan Arka adalah dua kutub yang tidak pernah bisa menyatu. Jika Alana adalah sosok yang terencana, perfeksionis, dan selalu mencatat segala hal hingga detail terkecil, maka Arka adalah tipe pemikir intuitif yang terkesan santai, tidak terikat aturan kaku, namun selalu berhasil meraih nilai sempurna dalam setiap ujian. Rivalitas di antara mereka bukan lagi rahasia umum; mulai dari nilai ujian, perebutan posisi ketua himpunan, hingga presentasi seminar, keduanya selalu berada di garis depan untuk saling menjatuhkan.
Alana memasukkan laptop dan buku catatannya ke dalam tas dengan gerakan cepat dan agak kasar. Ia ingin segera pergi dari ruangan itu, namun langkah kaki yang konstan dan tenang mendekati mejanya membuat Alana menghentikan gerakannya.
Arka berhenti tepat di depan meja Alana. Laki-laki itu merogoh saku celananya, lalu meletakkan sebuah lembaran kertas kecil berisikan nomor telepon dan deretan jadwal di atas meja Alana.
"Apa ini?" tanya Alana dingin, menatap kertas itu tanpa berniat menyentuhnya.
"Jadwal kosongku minggu ini," jawab Arka tenang. "Karena kamu yang paling bernafsu agar proyek ini selesai dengan sempurna, silakan tentukan kapan dan di mana kita harus bertemu untuk menyusun draf awal. Aku menyesuaikan."
Alana mendengkus pelan, menatap Arka dengan pandangan tak percaya. "Kamu pikir kamu siapa, menyuruhku mengatur jadwalmu? Kita ini mitra kerja di proyek ini, Arka. Bukan atasan dan bawahan."
Arka memajukan sedikit tubuhnya, menopang kedua tangannya di tepi meja Alana. Jarak yang mendadak terkikis itu membuat Alana refleks menahan napasnya sejenak, meski matanya tetap menatap Arka tanpa rasa gentar.
"Memang bukan," bisik Arka halus, namun sarat akan penekanan. "Makanya, aku berbaik hati memberikan jadwal kosongku supaya kamu tidak perlu buang waktu memikirkan kapan aku ada waktu. Gunakan energimu untuk menyusun kerangka teori, Alana. Jangan dihabiskan cuma untuk membenciku."
"Aku tidak membencimu, Arka," balas Alana dengan nada datar, suaranya tajam bagai pisau. "Membenci seseorang butuh energi dan perhatian. Dan kamu? Kamu tidak cukup penting untuk mendapatkan keduanya dari aku."
Arka terkekeh pelan. Bukannya tersinggung, mata laki-laki itu justru memancarkan binar penuh tantangan yang selalu muncul setiap kali mereka berdua berhadapan. "Bagus kalau begitu. Karena selama beberapa bulan ke depan, mau tidak mau, aku akan jadi orang yang paling sering mengisi harimu."
Arka tegak kembali, menepuk pelan tepi meja Alana dua kali, lalu berbalik pergi meninggalkan ruang kelas tanpa menunggu balasan lagi.
Sore harinya, Alana memilih melarikan diri ke perpustakaan lantai dua. Tempat itu selalu menjadi tempat berlindungnya dari riuh pikuk kampus. Bau kertas tua dan keheningan yang terjaga selalu berhasil menenangkan pikirannya yang berisik. Namun hari ini, bahkan deretan buku tebal di hadapannya tak mampu mengalihkan bayangan ekspresi Arka di kelas tadi.
Gadis itu menarik napas panjang, membuka laptopnya, lalu jemarinya mulai menari di atas papan ketik. Sebagai seorang perfeksionis, Alana tidak suka menunda. Ia mulai menyusun rancangan riset mereka, membagi bab demi bab, dan merinci metodologi yang akan mereka pakai. Ia berniat menyelesaikan separuh struktur tugas ini sendirian agar Arka tidak punya alasan untuk mendominasi.
"Sendirian lagi?" sebuah suara berbisik dari arah samping.
Alana menoleh dan menemukan Kirana, sahabat terdekatnya di kampus, sedang menarik kursi di sebelahnya sambil membawa dua cangkir kopi dari kantin.
"Aku cuma mau menyelesaikan bagianku cepat-cepat," ujar Alana tanpa menghentikan ketikannya.
Kirana meletakkan salah satu cangkir di dekat Alana. "Aku dengar kamu sekelompok sama Arka. Seluruh angkatan sudah heboh bicarain itu dari tadi siang."
"Orang-orang terlalu berlebihan," sahut Alana datar.
"Bukan berlebihan, Na," Kirana menggeleng pelan. "Kalian berdua itu bagaikan minyak dan air. Kalau disatukan dalam satu proyek besar, cuma ada dua kemungkinan: tugas kalian jadi yang terbaik di universitas, atau tempat kalian diskusi bakal meledak karena gengsi kalian berdua."
Alana menghentikan ketikannya sejenak, menatap layar laptop yang menampilkan tabel garis besar riset. "Aku nggak peduli seberapa tingginya gengsi Arka. Yang aku pedulikan cuma nilai A. Kalau dia berniat main-main atau mau jatuhkan namaku di depan Pak Hendra, aku nggak akan tinggal diam."
"Kamu tahu kan kalau Arka sebenarnya nggak seburuk yang kamu bayangkan?" Kirana memiringkan kepalanya. "Dia memang tengil dan suka memancing emosimu, tapi waktu seminar semester lalu, dia satu-satunya orang yang ngedukung argumenmu saat dosen luar menyudutkan metodologimu."
Alana tertegun sejenak. Ingatan tentang seminar semester lalu mendadak terlintas di kepalanya. Hari itu, Alana memang sempat terpojok oleh pertanyaan tajam dari dosen penguji tamu. Di saat semua orang diam, Arka yang duduk di barisan audiens tiba-tiba berdiri dan memberikan argumen pendukung yang logis, menyelamatkan posisi Alana. Namun, setelah acara selesai, Arka hanya melempar senyum mengejek dan berkata, "Aku cuma nggak mau lawanku kalah dari orang lain."
"Itu bukan mendukungku," sangkal Alana cepat, mengusir ingatan itu. "Dia cuma mau menunjukkan kalau dia lebih tahu. Tipikal Arka."
Kirana hanya terkekeh, mengerti betul bahwa sahabatnya ini memiliki benteng gengsi yang setinggi langit jika sudah menyangkut nama Arka Putra Pratama.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika Alana akhirnya keluar dari perpustakaan. Area kampus sudah mulai sepi, hanya diterangi oleh lampu-lampu jalanan dan angin malam yang berembus lumayan kencang. Ketika Alana berjalan menuju parkiran, titik-titik air hujan mulai turun dari langit malam yang gelap.
Dalam hitungan detik, gerimis berubah menjadi hujan deras yang mengguyur seluruh area kampus. Alana terpaksa berlari kecil menuju selasar gedung terdekat untuk berteduh, merapatkan jaketnya karena suhu udara yang mendadak drop.
"Bisa-bisanya lupa bawa payung di cuaca kayak gini," gumam Alana pada dirinya sendiri, merutuki kecerobohannya.
Saat ia sedang berdiri memeluk tasnya agar laptop di dalamnya tidak basah, suara derum mesin mobil berhenti tepat di depan selasar tempatnya berdiri. Kaca mobil sedan hitam itu perlahan turun, menampilkan sosok Arka yang duduk di balik kemudi.
"Masuk," ujar Arka singkat dari dalam mobil.
Alana menaikkan sebelah alisnya, tidak bergeming dari tempatnya berdiri. "Nggak, makasih. Aku bisa tunggu hujannya reda."
"Hujannya awet, Alana. Dan selasar itu bakal kebasahan dalam sepuluh menit lagi kalau anginnya makin kencang," balas Arka tenang. "Masuk. Kita bisa sekalian bahas poin pertama riset di jalan."
"Aku bilang nggak usah, Arka," jawab Alana tegas, memperjelas batasan gengsinya. "Aku nggak mau merepotkanmu, dan aku juga nggak mau merasa berutang budi sama kamu."
Arka mematikan mesin mobilnya, memegang payung hitam dari kursi samping, lalu keluar mengitari mobil hingga berdiri tepat di hadapan Alana di bawah naungan selasar. Ia membuka payung itu, menciptakan batas kecil di antara mereka berdua di tengah guyuran hujan.
"Kamu selalu berpikir semuanya soal utang budi dan persaingan, ya?" Arka menatap Alana dalam-dalam, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Ini cuma menumpang pulang karena hujan deras, Alana. Bukan transaksi politik."
"Buat kamu mungkin cuma menumpangi, tapi buat aku—"
"Masuk," potong Arka tanpa memberikan ruang debat lagi. Ia menyerahkan gagang payung itu ke tangan Alana, lalu berbalik berjalan menerobos hujan kembali ke pintu kemudi tanpa perlindungan apa pun, membiarkan pakaiannya sedikit basah kuyup.
Alana berdiri terpaku memegang payung di tangannya, menatap Arka yang sudah duduk kembali di dalam mobil sambil memandanginya dari balik kaca. Dilema besar berkecamuk di dalam d**a Alana. Menerima tumpangan ini terasa seperti menurunkan benteng gengsi yang sudah ia bangun bertahun-tahun. Namun berdiri di sini menahan dingin juga bukan pilihan yang bijak.
Dengan menghela napas panjang dan langkah berat, Alana akhirnya melangkah menuju mobil Arka. Ia membuka pintu penumpang depan, masuk, dan menutup payung tersebut.
Di dalam mobil, aroma maskulin yang lembut bercampur dengan wangi hujan langsung menyapa indra penciuman Alana. Suasana mendadak canggung. Arka menyerahkan selembar handuk kecil bersih dari kursi belakang tanpa berkata apa pun.
"Makasih," usul Alana pelan, mengeringkan sisa air hujan di lengan jaketnya.
Arka menyalakan kembali mesin mobil dan perlahan membelah jalanan kampus yang basah. "Rumahmu masih di alamat yang sama?"
Alana menoleh terkejut. "Kamu tahu rumahku di mana?"
Arka mengulas senyum tipis, matanya tetap fokus menatap jalanan di depan. "Aku tahu lebih banyak tentang kamu daripada yang kamu kira, Alana."
Kata-kata itu tergantung di udara, meninggalkan rasa hangat yang aneh sekaligus getaran cemas di d**a Alana. Di balik benteng gengsi yang kokoh di antara mereka berdua, Alana mulai menyadari bahwa perjalanan proyek ini tidak akan pernah berjalan sederhana.