Suara deru mesin mobil Arka terhenti tepat di depan gerbang rumah Alana. Hujan di luar masih meluncur deras, membasahi kaca depan dan menciptakan irama konstan yang mengisi kesunyian di dalam kabin. Lampu jalanan yang temaram memantulkan bayangan samar dua orang yang sejak tadi saling bergeming dalam diam.
Alana melepas sabuk pengamannya dengan gerakan teratur. Ia mengumpulkan tas dan berkasnya, berusaha menunjukkan sikap seprofesional mungkin tanpa sedikit pun kesan canggung.
"Makasih tumpangannya," ujar Alana datar, tangannya sudah bersiap membuka pintu penumpang.
"Tunggu," panggil Arka.
Alana menghentikan gerakannya, menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Ada apa lagi?"
Arka mengambil satu lembar dokumen dari saku belakang kursi pengemudi, lalu mengulurkannya pada Alana. "Ini daftar pustaka dan matriks data awal yang sempat aku susun tadi malam. Karena kamu bilang mau kerja efisien, baca ini dulu sebelum kita diskusi besok sore."
Alana menerima lembaran itu dengan keterkejutan yang berusaha disembunyikan. Matanya menyapu cepat deretan referensi ilmiah berreputasi tinggi yang tercantum di sana. Ia tidak menyangka Arka yang selalu terlihat santai di kelas ternyata sudah bergerak selangkah lebih maju.
"Kamu sudah buat matriks awal?" tanya Alana, matanya memicing curiga. "Jangan bilang kamu berniat menentukan arah riset ini sendirian tanpa persetujuanku."
Arka terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menatap Alana dengan pendar jenaka di matanya. "Alana, itu namanya antisipasi, bukan d******i. Daripada kita buang waktu besok cuma untuk mencocokkan judul, lebih baik kita mulai dari fondasi yang sudah ada. Kecuali kalau kamu punya draf yang lebih bagus?"
Gengsi Alana langsung tersenggol. Tentu saja ia sudah menyusun draf di perpustakaan tadi sore, tetapi melihat betapa rapinya susunan Arka, ada rasa tidak mau kalah yang mendadak membakar dadanya.
"Drafku jauh lebih komprehensif dari ini," balas Alana tajam. Ia memasukkan kertas dari Arka ke dalam tasnya. "Besok jam empat sore di kafe perpustakaan pusat. Jangan terlambat satu menit pun, Arka. Aku paling benci menunggu."
"Siap, Ketua," jawab Arka santai, memberikan hormat kecil yang terkesan menyindir. "Jangan lupa keringkan rambutmu. Aku tidak mau mitra kerjaku sakit hanya karena kehujanan."
Alana tidak membalas. Ia membuka pintu mobil, mengembangkan payung hitam milik Arka, lalu melangkah cepat menembus hujan menuju teras rumahnya. Begitu pintu rumah tertutup, Alana bersandar pada pintu kayu tersebut, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.
Keesokan harinya, jam di dinding kafe perpustakaan pusat menunjukkan pukul 15.58 WIB.
Alana sudah duduk di sudut ruangan yang paling tenang selama tiga puluh menit terakhir. Di hadapannya, laptop sudah menyala dengan dokumen outlining yang telah ia perbaiki semalaman, bersanding dengan cangkir kopi hitam yang mulai dingin.
Pukul 16.00 WIB tepat, pintu kaca kafe terbuka. Arka melangkah masuk dengan gaya santainya—mengenakan jaket denim over-size dan membawa tas laptop di salah satu bahunya. Matanya dengan cepat menemukan keberadaan Alana di sudut ruangan.
Arka menarik kursi di seberang Alana tanpa mengalihkan pandangan. "Tepat waktu, kan?"
"Tepat dua menit sebelum kamu aku coret dari daftar," sahut Alana tanpa mengangkat wajah dari layar laptopnya.
Arka menyunggingkan senyum tipis, lalu mengeluarkan laptop dan meletakkannya di meja. "Langsung ke topik utama? Atau mau basa-basi dulu tanya kabar?"
"Aku ke sini untuk kerja, bukan bersosialisasi," tegas Alana. Ia memutar layar laptopnya sedikit ke arah Arka. "Ini kerangka teori yang sudah aku susun berdasarkan data dari Pak Hendra. Aku membagi metodologi kita menjadi tiga tahap utama. Baca dan beri tanggapan."
Arka memajukan tubuhnya, menatap barisan kalimat yang tertata rapi dalam poin-poin sistematis khas Alana. Ruangan mendadak hening ketika Arka mulai membaca dengan saksama. Untuk beberapa saat, raut wajah bercanda yang biasanya melekat pada laki-laki itu lenyap, berganti dengan fokus yang tajam dan serius.
Alana memperhatikan perubahan ekspresi itu dari balik cangkir kopinya. Ia harus mengakui satu hal secara jujur: saat Arka sedang serius, aura cerdas yang dimilikinya memang tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Sistematikanya bagus," kata Arka akhirnya, memecah keheningan. Namun, ia menggeleng pelan. "Tapi pendekatan variabel sekundermu terlalu kaku, Alana."
Alana meletakkan cangkir kopinya agak keras hingga terdengar denting halus. "Kaku? Ini pendekatan standar jurnal internasional, Arka. Aman dan teruji."
"Aman bukan berarti maksimal," potong Arka tenang. Ia memajukan laptopnya sendiri dan memperlihatkan grafik analisis yang ia buat. "Kalau kita cuma pakai metode standar yang kamu buat, hasil penelitian ini cuma akan jadi riset biasa yang menumpuk di rak perpustakaan. Pak Hendra minta karya ilmiah berstandar tinggi. Kita harus pakai variabel adaptif yang aku susun di matriks kemarin."
"Variabel adaptifmu itu terlalu berisiko!" Alana menegakkan posisi duduknya, menatap Arka penuh ketidaksetujuan. "Tingkat marjin kesalahannya terlalu tinggi kalau pengumpulan data di lapangan tidak stabil. Kita bisa kehabisan waktu di tengah jalan!"
"Risiko itu bisa ditekan kalau kontrol sampelnya ketat," balas Arka tanpa menurunkan intonasi suaranya, tetap tenang namun kokoh dalam argumentasinya. "Kenapa kamu selalu pilih jalan yang paling aman, Alana? Kamu takut bereksperimen, atau takut kalau ideku ternyata lebih teruji dari ide kaku milikmu?"
"Ini bukan soal takut bereksperimen!" intonasi suara Alana meningkat satu oktav, membuat beberapa pengunjung kafe di sekitar mereka sempat menoleh. Alana menahan napas sejenak, menurunkan suaranya kembali. "Ini soal kepastian nilai A. Aku tidak mau mempertaruhkan nilai akhir semester ini cuma demi ambisi eksperimentalmu yang belum tentu berhasil."
Arka menatap Alana dalam-dalam. Bukannya marah karena ditentang, sudut bibirnya justru terangkat tipis. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangan di depan d**a.
"Kamu selalu begini, ya?" gumam Arka pelan.
"Apa maksudmu?" tanya Alana curiga.
"Kamu selalu memagari dirimu dengan aturan ketat dan target sempurna karena kamu takut melakukan kesalahan sedikit pun," ujar Arka halus, tatapannya seolah menembus benteng pertahanan Alana. "Kamu memikirkan semua kemungkinan terburuk sampai lupa menikmati prosesnya."
Kata-kata Arka menghantam Alana tepat di d**a. Ada bagian dari dirinya yang merasa tersingkap, membuat rasa tidak nyamannya makin membuncah.
"Jangan sok menganalisis kepribadianku, Arka. Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku," balas Alana dingin, mengalihkan pandangan kembali ke layar laptopnya.
"Aku tahu kamu selalu pulang paling akhir dari lab," sahut Arka santai, namun suaranya penuh penekanan. "Aku tahu kamu selalu mencatat setiap detail instruksi dosen sampai tiga kali. Dan aku tahu kamu benci kalah—terutama dari aku."
Alana mengepalkan tangannya di atas meja. "Kalau tahu aku benci kalah, maka ikuti metodologi yang sudah aku buat!"
Arka terkekeh pelan. Ia meraih pulpen di mejanya, lalu menarik selembar kertas kosong di antara mereka. "Gimana kalau kita kompromi?"
Alana menaikkan alisnya, masih menatap Arka dengan pandangan skeptis. "Kompromi seperti apa?"
Arka mulai menggambar sebuah diagram garis sederhana di atas kertas tersebut. "Kita gabungkan dua pendekatan ini. Fondasi utamanya tetap pakai metode terstruktur milikmu supaya kepastian datanya aman. Tapi di bagian analisis akhir, kita masukkan variabel adaptif milikku untuk memberi nilai tambah pada kebaruan riset kita."
Alana menatap garis diagram yang digambar Arka. Jemari laki-laki itu bergerak lihai memadukan dua pemikiran yang tadinya saling bertolak belakang menjadi satu alur yang sangat logis dan berimbang.
Alana mencoba mencari celah kesalahan dari gagasan kompromi itu, tetapi logikanya tidak bisa membantah: penggabungan dua ide ini memang jauh lebih sempurna dibanding rencana awal mereka masing-masing.
"Gimana?" tanya Arka, mendongak menatap Alana. "Masih mau bilang ideku cuma ambisi tanpa hasil?"
Alana menarik napas panjang, berusaha menekan gengsinya yang berteriak menolak mengakui keunggulan ide Arka. "Konsep gabungannya... lumayan. Tapi aku yang akan memegang kendali penuh pada pengawasan sampel di lapangan."
Arka tersenyum lebar—sebuah senyuman tulus yang jarang sekali diperlihatkannya di kelas, membuat Alana sempat tertegun selama beberapa detik.
"Setuju, Ibu Ketua," sahut Arka ringan. "Sekarang, karena kita sudah sepakat untuk poin pertama, gimana kalau kita pesan makanan? Aku tahu kamu belum makan siang dari caramu menatap kopi itu."
"Aku tidak lapar," tolak Alana cepat.
Sebelum Alana sempat memprotes lebih jauh, Arka sudah berdiri dan berjalan menuju meja kasir. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan membawa dua porsi sandwich hangat dan segelas jus jeruk, meletakkannya tepat di hadapan Alana.
"Makan, Alana. Otak perfeksionis butuh kalori untuk bekerja," ujar Arka santai sambil mulai menyantap bagian milik sendiri.
Alana menatap sandwich hangat di depannya, lalu beralih menatap Arka yang tampak acuh tak acuh. Benteng pertahanan yang ia bangun dengan gigih sejak kemarin rasanya mulai goyah oleh perhatian-perhatian kecil yang tidak pernah ia duga dari seorang Arka Putra Pratama.