Udara dingin dari pendingin ruangan perpustakaan pusat kampus melingkupi sudut meja yang ditempati Alana dan Arka selama empat jam terakhir. Di atas meja kayu panjang itu, tumpukan jurnal ilmiah bertaraf internasional, lembaran kuesioner yang tercetak rapi, serta dua laptop yang saling berhadapan membentuk benteng tak kasat mata di antara mereka berdua.
Suara ketukan tombol kibor milik Alana terdengar berirama dan konstan, seperti detak jam dinding yang menuntut presisi. Sejak pukul sepuluh pagi, gadis itu belum sekalipun mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Garis-garis indikator data statistik di depannya harus berada dalam tingkat kepercayaan sembilan puluh lima persen—tidak boleh kurang, tidak boleh ada selisih sekecil apa pun.
"Alana, istirahat sepuluh menit. Kamu sudah memandangi grafik regresi itu tanpa berkedip hampir tiga jam," suara Arka memecah kesunyian di antara mereka. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar lehernya yang terasa kaku, lalu menatap Alana yang masih tampak bergeming.
"Tinggal satu variabel lagi," sahut Alana singkat tanpa menghentikan jemarinya. "Kalau variabel interferensi ini tidak kita kunci sekarang, kalkulasi sampel untuk observasi lapangan besok bisa bergeser."
"Dan kalkulasi itu tidak akan lari ke mana-mana kalau kamu mengambil napas sebentar," Arka mengulurkan tangan, menutup pelan layar laptop Alana hingga menyisakan celah kecil.
Alana langsung mendongak, matanya menatap Arka tajam. "Arka, apa-apaan? Aku sedang fokus!"
"Aku juga fokus," balas Arka tenang, matanya menatap Alana dengan pendar yang kokoh. "Tapi aku tidak mau mitra kerja utamaku pingsan di hari pertama kita turun ke lapangan hanya karena lupa makan dan lupa bernapas. Lihat mukamu di cermin, sudah pucat begitu."
"Aku tidak pucat," sangkal Alana cepat, walau dalam hati ia harus mengakui bahwa kepalanya mulai terasa sedikit berdenyut akibat terlalu lama menatap layar terang. "Aku biasa bekerja dengan ritme seperti ini. Kalau kamu merasa lelah, silakan istirahat duluan. Jangan samakan ketahanan kerjamu denganku."
Arka terkekeh pelan—sebuah kekehan khas yang selalu berhasil memancing emosi Alana. Laki-laki itu menggeser cangkir cokelat hangat yang baru saja ia pesan lewat layanan pesan antar kampus ke arah Alana.
"Minum dulu," kata Arka. "Bukan tumpangan, bukan utang budi. Anggap saja ini investasi supaya analisis datamu besok tidak kacau karena kepala pusing."
Alana menatap cangkir kertas yang masih menguapkan asap tipis itu, lalu beralih menatap wajah Arka. Di balik sikap tengil dan percaya diri yang berlebihan itu, Arka selalu mempunyai cara halus untuk memaksanya menurut tanpa membuat Alana merasa kalah secara terang-terangan. Dengan menghela napas panjang, Alana akhirnya meraih cangkir itu dan menyesapnya perlahan. Rasa manis bercampur pahit yang hangat menyebar di tenggorokannya, perlahan meredakan ketegangan di saraf lehernya.
"Gimana?" tanya Arka dengan sudut bibir terangkat. "Masih mau bilang cokelat ini tidak efisien untuk menambah energi?"
"Biasa saja," sahut Alana datar, meski ia menyembunyikan kenyataan bahwa tubuhnya memang membutuhkan asupan gula tersebut. "Tapi makasih."
Arka tersenyum tipis—senyuman yang tidak lagi mengejek, melainkan senyuman hangat yang mendadak membuat d**a Alana berdesir aneh. Alana cepat-cepat mengalihkan pandangannya kembali ke tumpukan berkas di samping laptopnya, berusaha mengusir sensasi tak familiar yang mulai merayapi pikirannya.
Keesokan harinya, jadwal pengumpulan data lapangan dimulai. Lokasi observasi pertama mereka adalah sebuah kawasan instansi publik terpadu di pusat kota—tempat di mana responden dengan berbagai latar belakang sosial berada. Cuaca siang itu terasa begitu menyengat. Terik matahari membakar aspal, menciptakan udara panas yang menguap ke udara.
Alana berjalan menelusuri koridor selasar luar dengan papan jalan kayu di pelukannya. Rambut panjangnya yang biasa terurai kini diikat rapi ke belakang. Ia mengusap keringat tipis di dahinya sambil terus memeriksa lembar kuesioner yang sudah terisi.
"Sudah dapat berapa responden?" suara Arka terdengar dari belakang. Laki-laki itu berjalan mendekat sambil membawa dua botol air mineral dingin. Ia menyerahkan satu botol kepada Alana.
"Tiga belas," jawab Alana setelah menerima air tersebut dan meminumnya cepat. "Tapi target kita hari ini tiga puluh. Sebagian besar orang di sini terlalu sibuk untuk meluangkan waktu lima menit mengisi kuesioner ini. Pendekatan formulir formal yang kita pakai sepertinya membuat mereka enggan."
Arka memperhatikan lembar kertas di papan jalan Alana, lalu menatap sekeliling area ruang tunggu yang dipenuhi orang-orang yang tampak lelah dan tidak sabar.
"Cara bahasamu terlalu kaku, Alana," ujar Arka sambil melipat lengan kemeja putihnya hingga ke siku. "Kamu mendatangi mereka seperti dosen yang sedang melakukan ujian lisan. Orang-orang di sini baru saja mengantre jam-jaman, mereka tidak mau disodori pertanyaan berkalimat baku yang mirip lembar ujian."
Alana menaikkan alisnya, merasa cara kerjanya kembali dikritik. "Ini kuesioner ilmiah, Arka. Bahasanya harus terstandarisasi supaya tidak menimbulkan bias persepsi!"
"Bahasa di kertasnya memang harus baku, tapi caramu menyapa mereka yang harus manusiawi," balas Arka tenang. "Ikut aku."
Arka melangkah menuju sudut ruang tunggu, di mana seorang bapak paruh baya tampak duduk sendirian sambil mengipas-ngipaskan map cokelat ke wajahnya. Alana menyusul dari belakang dengan raut wajah skeptis.
Bukannya langsung menyodorkan papan jalan dan pulpen seperti yang dilakukan Alana sejak pagi, Arka justru duduk di samping bapak tersebut dengan gestur yang sangat santai.
"Panas banget ya hari ini, Pak? Antrenya masih panjang?" sapa Arka dengan nada suara yang hangat, ramah, dan sangat kasual.
Bapak itu menoleh, tersenyum tipis lalu mengangguk. "Iya nih, Mas. Dari jam sembilan tadi belum dipanggil-panggil. Mana ruangannya pengap."
Arka mengangguk empati. "Wah, lumayan menguji kesabaran ya, Pak. Oya Pak, ini saya sama teman saya lagi ada tugas riset kampus sebentar soal pelayanan di sini. Cuma butuh waktu dua menit, sambil nunggu antrean dipanggil. Bapak tinggal centang-centang saja, nanti saya bantu bacakan biar Bapak tidak capek membaca tulisan kecil-kecilnya."
Bapak itu tampak menyambut hangat tawaran Arka. "Oh, boleh, boleh. Sini Mas, mana kertasnya?"
Alana berdiri terpaku satu meter di belakang mereka, menyaksikan bagaimana Arka dengan sangat mahir memandu bapak tersebut mengisi poin demi poin kuesioner tanpa terlihat seperti sedang mewawancarai. Komunikasi berjalan sangat alami, mengalir tanpa hambatan, dan dalam waktu kurang dari tiga menit, lembar kuesioner itu sudah terisi penuh dengan data yang akurat.
Setelah mengucapkan terima kasih dan berjabatan tangan, Arka berdiri lalu memutar tubuhnya menghadap Alana. Ia memamerkan lembar kuesioner yang sudah terisi lengkap itu dengan senyuman jahil.
"Dua menit. Data valid, responden senang," bisik Arka pelan di dekat telinga Alana. "Riset itu bukan cuma soal teori kaku di atas kertas, Alana. Riset itu tentang bagaimana kita memahami manusia yang jadi objek data kita."
Alana terdiam. Kata-kata Arka menohoknya tepat di sasaran. Selama ini, Alana selalu memandang segala hal dari kacamata struktur, angka, dan aturan baku. Ia lupa bahwa di balik angka-angka statistik yang ingin ia kejar demi nilai A sempurna, ada interaksi antarmanusia yang tidak bisa diatur hanya menggunakan rumus matematika.
"Tatapannya biasa saja, Ibu Perfeksionis," goda Arka saat melihat Alana hanya tertegun menatapnya. "Jangan memandangku seolah kamu baru saja melihat keajaiban dunia ke delapan."
Alana dengan cepat membuang muka, mencoba menutupi rasa kagum yang sempat terlintas di benaknya. "Jangan besar kepala. Kamu cuma beruntung dapat responden yang ramah."
"Beruntung?" Arka tertawa pelan. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa besar keberuntunganku untuk enam belas responden berikutnya."
Hingga pukul lima sore, seluruh target kuesioner akhirnya berhasil terpenuhi. Awan mendung tebal kembali bergulung di atas langit kota, menandakan hujan deras akan segera turun mengguyur seperti hari sebelumnya. Udara panas berubah menjadi angin dingin yang bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering di halaman parkir.
Alana dan Arka berjalan menuju parkiran kendaraan. Wajah Alana tampak letih, namun ada binar kepuasan yang tertangkap di matanya saat melihat tumpukan tiga puluh lembar data valid di dalam tasnya.
"Kita berhasil dapat semua data hari ini," ujar Alana sambil merapikan tasnya. "Malam ini aku akan langsung input ke software analisis statistik supaya besok kita tinggal baca hasilnya."
Arka menghentikan langkahnya tepat di sebelah mobilnya, menatap Alana dengan dahi berkerut. "Malam ini? Alana, kita baru saja berdiri dan jalan keliling lapangan dari siang. Kamu tidak capek?"
"Capek itu wajar, tapi menunda pekerjaan itu kebiasaan buruk," jawab Alana tegas. "Lebih cepat data ini diolah, lebih cepat kita tahu apakah ada deviasi variabel yang perlu kita perbaiki."
"Kamu ini memang terbuat dari mesin atau gimana, sih?" Arka menggeleng-gelengkan kepalanya heran. "Malam ini istirahat. Input datanya bisa dilakukan besok pagi di kampus. Tubuhmu butuh jeda, Alana."
"Aku tidak butuh dikasihani, Arka!" nada suara Alana mendadak meninggi, rasa lelah yang menumpuk seharian membuat benteng emosinya menjadi lebih sensitif dari biasanya. "Ini gaya kerjaku. Kalau kamu mau santai-santai, silakan! Tapi jangan atur-atur bagaimana cara aku mengelola waktuku sendiri!"
Arka menatap Alana dalam-dalam. Bukannya membalas dengan nada tinggi, raut wajah laki-laki itu justru berubah menjadi sangat serius. Atmosfer bercanda yang biasanya menyelimuti Arka lenyap seketika.
"Aku tidak sedang mengaturmu, Alana," suara Arka terdengar berat dan dalam. "Aku cuma peduli."
Satu kata itu—peduli—seperti menghentikan aliran udara di sekitar Alana. Gadis itu membeku di tempatnya berdiri, matanya terpaku menatap manik mata Arka yang pekat dan jujur.
"Kamu selalu bersikap seolah-olah kamu harus menanggung seluruh beban dunia ini sendirian," lanjut Arka pelan, melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Alana. "Kamu menuntut dirimu sendiri untuk selalu sempurna, tidak boleh salah, tidak boleh lelah, tidak boleh kelihatan lemah di depan orang lain. Kenapa, Alana? Apa yang sebenarnya sedang kamu buktikan? Dan kepada siapa kamu sedang membuktikannya?"
Pertanyaan-pertanyaan itu menghantam pertahanan terdalam Alana. Benteng gengsi yang ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun mendadak retak oleh tatapan tajam dan pertanyaan Arka yang terlalu tepat menembus kerapuhannya.
Sejak lama, Alana memang selalu memaksa dirinya untuk berdiri paling depan, menjadi yang terbaik, dan tidak pernah memperlihatkan celah sedikit pun. Ia merasa jika ia menurunkan standarnya atau membiarkan dirinya terlihat lemah, segalanya akan runtuh. Dan mendengar Arka menyuarakan hal itu secara terang-terangan membuat Alana merasa telanjang dan terancam.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku, Arka!" bisik Alana, suaranya bergetar menahan emosi yang bergejolak di d**a. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia menahannya dengan sekuat tenaga. "Jangan sok tahu dan jangan pernah pura-pura peduli sama aku!"
Gadis itu membalikkan badannya dengan cepat, berniat pergi meninggalkan Arka dan jalanan parkiran tersebut. Namun belum sempat ia melangkah dua tapak, jemari Arka bergerak cepat menahan pergelangan tangannya.
Cengkeraman Arka tidak keras, namun cukup hangat dan kuat untuk menahan langkah Alana.
"Lepasin, Arka!" tuntut Alana tanpa berani menoleh, takut laki-laki itu melihat setetes air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.
"Aku tidak pura-pura, Alana," balas Arka pelan, tepat di belakang punggung Alana. "Aku tidak pernah berpura-pura kalau itu menyangkut kamu."
Angin malam berembus makin kencang, membawa tetesan air hujan pertama yang mulai jatuh satu per satu mengenai bahu mereka. Di tengah suara gemerisik daun dan gemuruh langit yang bersahut-sahutan, Alana berdiri terpaku dalam cengkeraman tangan Arka. Rasa benci, gengsi, persaingan, dan dorongan emosi yang tak bernama berkecamuk menjadi satu di dalam dadanya, menciptakan retakan besar pada benteng ego yang selama ini menjaganya.