Marshal tertegun, ia bersandar pada dinding yang sudah rapuh. Ia merasa yakin bahwa ada yang sudah melintas di depannya, ia tidak melamun meski dirinya fokus pada nasi di atas piring.
Sikap Marshal yang mencurigakan itu membuat Aurelia penasaran, dan mendekati lelaki yang mempunyai panjang rambut sebahu itu. Gadis itu mengikuti langkah Marshal, ia melihat ke arah samping rumah hingga jauh ke belakang seperti yang dilakukan oleh temannya itu.
"Apa yang sedang kau cari?," tanya Aurelia.
"Tidak ada," jawab Marshal. Dia terus melahap nasi bercampur telur dadar dengan kedua tangannya.
"Yakin?."
"Enggak," jawab Marshal tanpa sedikitpun menatap mata gadis yang ada di depannya, ia tetap fokus pada makanan.
"Lalu?."
"Sengaja aja, agar kamu kemari dan kita bisa makan berdua," ucap Marshal sambil mengerlingkan matanya pada Aurelia.
"Gak lucu," ujar Aurelia kesal. Ia melempar bulatan nasi kecil ke wajah Marshal.
Marshal masih menatap Aurelia yang kembali mengamati halaman samping, seperti mencari sesuatu. Ia yakin, bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Marshal namun ia tidak tahu apa itu.
Warna langit semakin terang, Marshal sudah menunggu semua temannya yang sedang bersiap untuk pergi ke rumah Pak Kades.
Marshal duduk di atas sebuah batu dengan ukuran yang lumayan besar, sambil menghisap Dji Sam Soe nya dengan penuh kenikmatan. Kepulan asap rokok memenuhi seluruh area matanya, sehingga mengaburkan pandangan yang ada di depannya.
Beberapa kali ia menjentikkan jari telunjuknya pada batang rokok yang masih panjang, guna merontokkan abu rokok yang berada di ujung batang rokok. Lalu kembali menghisapnya.
Sesekali Marshal memperhatikan beberapa orang yang lewat, dan merespon orang yang kebetulan menyapanya. Pandangan matanya menerawang jauh ke depan, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya sementara misteri teror yang sudah ia alami belum terpecahkan.
Dari tempatnya duduk, Marshal melihat sesosok gadis yang berjalan dengan langkah yang sangat pelan. Dari jauh, samar terlihat wajah gadis itu mirip dengan gadis yang ia lihat saat berteduh dari derasnya hujan di gubuk reyot.
Marshal berlari dengan rasa penasaran yang besar, ia berharap gadis itu tidak menghilang seperti bayangan yang sudah-sudah. Bayangan yang selalu sirna, ketika sebuah mata mulai terfokus pada bayangan itu.
Marshal beruntung, gadis itu masih melangkah di jalur yang aman, masih berjalan di koridor yang benar, artinya gadis itu bukan bayang semu dari golongan tak kasat mata.
Dengan insting Play boy nya, Marshal mengikuti gadis itu dengan harapan bisa mengajaknya kenalan lalu berteman. Ia berjalan cukup jauh tanpa rasa was-was sampai ia mendengar seseorang berteriak kepadanya.
"Hai anak muda. Sedang apa kamu?. Jangan ke sana!," panggil seseorang itu.
Dengan segera Marshal menghentikan langkahnya, ia baru tersadar bahwa ia hampir masuk ke barongan (sebuah tanah kosong yang tumbuh rimbun pohon bambu dan pohon randu).
Marshal melihat ke depan dan ke belakang secara bergantian. Di depan, ia masih melihat gadis itu berjalan penuh percaya diri, tanpa memperdulikan siapa pun. Di belakang, ia mendengar seseorang memanggil namanya namun tak ada orang di sana.
"Mbak, jangan ke sana. Ada orang yang melarangku masuk ke sana," teriak Marshal. Ia mencoba menghentikan langkah gadis itu, namun diabaikan olehnya.
Dalam keadaan bingung, Marshal terus mengikuti langkah gadis itu hingga bertemu dengan jalan setapak. Di sanalah ia baru tersadar bahwa dirinya sudah berjalan terlalu jauh masuk ke dalam barongan.
Ia edarkan pandangan matanya ke sekitar tempat ia berdiri yang penuh dengan semak belukar, Marshal dejavu pada hal yang terlewatkan, tempat itu seperti tidak asing baginya. Ia seolah pernah mengalami kejadian serupa namun ia tidak mengingatnya.
"Mbak, ayo kita keluar dari sini," teriaknya lagi setelah kehilangan jejak Sang Gadis.
Marshal masih mengira bahwa dirinya tidak tersesat sendirian, ia yakin gadis tadi juga melewati jalan yang sama, jalan yang kini menjadi tempatnya berdiri.
"Mbak, kamu di mana?."
Ia masih terus berteriak tanpa putus asa, memanggil gadis yang tidak dikenalnya itu guna mengajak keluar dari tempat yang terkesan menyeramkan itu.
Marshal memang Play Boy, namun juga masih punya hati jika melihat perempuan menderita. Ia tahu pada perempuan seperti apa dirinya harus bersikap menjadi kesatria, dan pada siapa ia harus bisa bermain peran menjadi pemain dari permainan yang bernama wanita.
Meski ragu, ia memutuskan untuk kembali ke jalan semula dan berharap ia tidak semakin tersesat, seperti kisah yang sering ia dengar tentang seseorang yang tersesat di tengah hutan dan tidak kembali.
"Jika tersesat, teruslah berjalan, jangan pernah kembali ke jalan semula." (Nasehat Nenek Imam.)
Baru beberapa langkah, Marshal terpaksa berhenti karena teringat dengan kalimat Imam saat mereka tersesat kemarin. Kalimat itu tetiba muncul di saat dirinya sedang Dilema memilih jalan keluar.
Marshal pun berbalik arah, ia memilih tetap melangkah ke depan, mengikuti jalan setapak tanpa berpikir lagi keberadaan gadis itu. Dan hanya bisa berharap bahwa gadis itu selamat sampai tujuan.
"Dia pasti selamat, ini desanya. Dia pasti sudah terbiasa," harapnya dalam hati.
Seperempat jam kemudian, Marshal sudah kehilangan jalan setapak yang sedari tadi menuntun langkahnya. Lagi-lagi jalan di depan tertutup semak belukar, ia pun terjebak di sana. Untuk kembali ke jalan yang sudah ia lewati itu tidak mungkin, sebab ia terus saja terngiang dengan pesan dari Si Mbahnya Imam.
"Apa yang harus aku lakukan?," gumam Marshal dalam hati.
"Tidak. Aku harus tenang. Agar bisa berpikir dengan jernih dan tidak terpengaruh oleh ilusi," ucapnya pelan.
Setelah ia menghempaskan napasnya dengan kasar, perlahan ia berjalan maju sambil membuka semak belukar setinggi tubuhnya itu.
"Berjalanlah terus." Terdengar suara, namun tak ada orang.
Marshal mendengar ada seseorang yang memberinya perintah untuk terus berjalan, namun ia belum melihat siapa pemilik dari suara itu. Tidak terpikir oleh Marshal bahwa dirinya akan mendapat serangan dari makhluk astral di siang hari, sebab yang selalu ia lihat di televisi makhluk tak kasat mata itu selalu keluar di malam hari. Lagi-lagi, Marshal menjadikan tayangan televisi sebagai patokan tentang makhluk tak kasat mata di dunia lain.
Seperti perintah dari suara itu, Marshal terus berjalan membelah semak belukar hingga tanpa dinyana ia kembali melihat sosok gadis tadi yang kini berjarak sedikit jauh di depannya namun masih terlihat. Kembali ia mengikuti gadis itu dan sampailah dirinya di belakang rumah singgahnya selama KKN.
Marshal tertegun, bukan karena berpikir bagaimana dirinya bisa sampai di belakang rumah. Hal itu bisa dijawabnya dengan cara sederhana, jalan itu bisa saja berbelok hingga tembus ke belakang rumah. Semak belukar yang tinggi membuat pandangan matanya tidak bisa melihat dengan jelas bahwa jalan yang ada di depannya itu berbelok.
Marshal justru lebih khawatir dengan ke mana perginya gadis yang sudah membuatnya penasaran, sama seperti ketika ia melihat gadis yang berdiri di bawah hujan gerimis, juga pada gadis yang melintas di malam menghilangnya Imam. Gadis yang sama-sama memakai pakaian hitam.
Meninggalkan sosok gadis yang ada di dalam pikirannya, Marshal kembali ke tempatnya semula, duduk di atas batu besar sambil menghisap zat nikotin yang terbungkus kertas sepanjang tujuh puluh milimeter, asapnya tetap setiap menemani nyala api dari sebatang rokok.
Ia lihat pintu rumah sudah tertutup rapat, namun motor teman-temannya masih ada di dalam rumah, firasatnya berkata ada yang tidak beres. Benar saja, begitu ia menggerakkan daun pintu ternyata sudah terkunci.
"Sial, aku ditinggal," rutuknya dalam hati.
Gegas ia berlari keluar, berharap temannya belum lama berangkat. Benar saja, ia masih sempat melihat Nakula yang berjalan paling belakang belok ke kiri dari jalan utama.
"Hai tunggu," teriak Marshal sambil berlari.
Rupanya, suara Marshal tidak terdengar oleh teman-temannya, ia tertinggal cukup jauh padahal jarak gerbang rumah dengan jalan berbelok tidak begitu jauh namun waktu seolah berjalan lambat untuknya.
"Kurang ajar, apa sih yang sebenarnya terjadi padaku?," umpat Marshal yang mulai tidak nyaman dengan beberapa hal janggal yang terjadi padanya.