Merasa yakin bahwa apa yang ia lihat semalam bukan jas hujan hitam yang menggantung atau tas kresek hitam berukuran besar, Marshal kembali ke ruang depan.
Ia membaur bersama teman yang lain. Hatinya kembali resah, namun Marshal tidak menunjukkan itu. Ia memilih menyulut kembali rokoknya dari bungkus rokok berwarna hijau, sambil terus berpikir hal apa yang sebenarnya terjadi. Apakah mahasiswa yang sebelumnya pernah KKN di sini juga mengalami teror yang sama?. Ataukah mengalami hal lebih mengerikan dari apa yang ia alami?.
Marshal melirik Hasan yang masih bersantai sambil bermain ponsel, lelaki tak nampak ingin membahas kejadian kemarin yang membawa perubahan pada sikapnya.
Lama berpikir, rasa penasaran Marshal semakin memuncak. Ia pun mendekatkan diri duduk di samping Hasan dan membuka percakapan selagi teman yang lain berada di luar.
"Hasan," panggilnya.
"Hem," jawab Hasan pendek.
"Kemarin kamu ada di mana?," tanya Marshal dengan suara yang sangat pelan.
Tanpa dinyana, Marshal mendapat jawaban sebuah tatapan tajam dari Hasan. Tatapan yang siap menerkam dirinya. Marshal cukup tahu, bahwa tatapan itu menyiratkan sebuah kemarahan.
"Kamu marah?. Kenapa?. Apa salahku?," tanya Marshal penuh selidik.
"Kamu tidak perlu tahu apa yang sudah terjadi denganku. Cukup kamu diam," jawab Hasan.
"Kamu bukan Hasan. Di mana temanku?. Cepat katakan?," gertak Marshal dengan tatapan tak kalah garang sambil menarik baju Hasan, namun lelaki di depannya itu tidak memberi respon apapun.
Hasan mengibaskan tangan Marshal yang melekat di bajunya dengan keras, hingga membuat tubuh lelaki berambut gondrong itu sedikit terpental.
Kejadian itu diketahui oleh Nakula yang baru saja masuk, dengan cepat ia melerai bibit pertikaian antara Hasan dan Marshal.
"Jangan berbuat keributan. Ingat, kita di rumah orang lain. Kita tamu di sini. Jaga sikap kalian. Tugas KKN kita masih banyak. Masa bertugas kita dua minggu ke depan, masih panjang. Jadi, aku mohon kalian bisa menahan diri untuk hal-hal sepele. Jangan seperti anak kecil," nasehat Nakula pada Hasan dan Marshal.
Marshal lalu menepikan dirinya ke sudut ruangan, menyandarkan punggungnya pada dinding yang sangat dingin. Matanya tetap awas ke arah Hasan.
*****
"Kita mau belanja apa?," tanya Husna
"Jatah kita setiap hari belanja hanya dua puluh ribu, yang bisa dapat sayur dan ikan yang cukup untuk dimakan bersama," ucap Aurelia.
Seperti halnya ibu-ibu yang lain, Aurelia, Husna dan Alma memilih dan memilah bahan sayuran yang akan mereka masak.
"Kalian mahasiswi yang sedang KKN?," tanya salah satu warga yang juga sedang berbelanja.
"Iya bu?," jawab Aurelia.
"Tinggal di rumah Pak Rt?," tanya dia lagi.
"Iya Bu." Kali ini giliran Husna yang menjawab sebab Aurelia sedang antri untuk membayar belanjaannya.
"Kalian tinggal di rumah Rongrawe?," tanya ibu yang lain.
"Tidak ibuk, kami tidak tinggal di sana. Tapi kami tinggal di rumah Pak Rt," jawab Husna dengan kalimat penegas.
"Ya rumah Pak Rt itu yang kami sebut Rumah Rongrawe," tegas ibuk itu tidak mau kalah dengan Husna.
"Kenapa disebut Rongrawe Bu?," tanya Alma penasaran.
"Itu karena...." Ibu itu menghentikan kalimatnya setelah temannya yang tadi memberi mode dengan mencolek bahunya. Lalu berbisik padanya, suaranya begitu pelan hingga tidak terdengar oleh Husna dan Alma.
"Kenapa Bu?," tanya Husna penasaran. Ia masih memburu jawaban dari ibu yang sudah menyebut rumah Pak Rt dengan Rumah Rongrawe.
"Ah gak papa," jawab ibu tadi sambil tersenyum.
Berdiri di antara ibu-ibu, membuat mereka harus belajar membawa diri dan beradaptasi dengan adat kebiasaan warga di Desa Awu Awe. Bukan hanya adaptasi dengan kebiasaan warga setempat, tapi juga harus bersahabat dengan udara yang begitu dingin di gunung tempat adat kebiasaan itu berlangsung.
"Hei, apa kalian mendengar bahwa gadis itu muncul lagi?. Gadis itu berjalan dengan seorang pemuda?."
"Wah, pasti waktunya sudah datang."
"Setelah waktu isya segera saja kunci kamar dan pintu rumah, jaga keluarga kita jangan sampai ada yang berkeliaran kalau tidak mau menjadi wadal."
Samar Aurelia mendengar kasak kusuk dari mulut ibu-ibu yang sedang berbelanja. Ia ragu mau bertanya, sebab dirinya dan mahasiswa yang lain adalah orang baru yang tidak tahu menahu tentang rumor yang berkembang di masyarakat Desa Awu Awe.
Setelah membayar barang belanjaannya, Aurelia segera mengajak Husna dan Alma berpamitan kepada beberapa ibu yang masih menunggu giliran untuk membayar barang belanjaan.
Di sepanjang jalan, Aurelia lebih banyak diam. Bukan karena kepribadiannya yang sedikit dingin, tapi ia melamun memikirkan tentang kabar berita yang sempat di dengarnya. Ia mencoba mengaitkan hubungan antara gadis, waktu telah tiba, malam hari dan juga wadal. Namun ia belum mau menarik garis simpulan antara gadis itu dan hilangnya Hasan.
"Kamu, kenapa tidak bicara Rel?," tanya Husna yang mendapati Aurelia lebih banyak diam.
"Ah gak papa, kita banyak baca sholawat saja ya Husna, Alma," ajak Aurelia dengan nada penuh khawatir.
"Kamu, juga mendengar apa yang diobrolin ibu tadi Rel?," tanya Husna.
Seketika Aurelia menghentikan langkahnya, ia lalu memperhatikan wajah kedua temannya itu satu persatu. "Anggap saja, tadi kalian tidak mendengar apa pun soal kasak kusuk gosip yang beredar di desa ini. Ingat tujuan kita ke sini adalah untuk menempuh tugas akhir kuliah. Kita fokus pada pekerjaan kita," nasehat Aurelia pada kedua temannya.
"Iya Rel. Kita jangan berhenti sholat dan terus baca sholawat. Aku takut," ujar Alma sambil melihat ke sekitar jalan yang penuh dengan rerimbunan pohon bambu.
Jalan yang sama, yang sudah mereka lewati saat menuju ke rumah singgah. Juga jalan yang sama, di mana Hasan lenyap dalam kegelapan.
Baik Alma, Husna dan Aurelia kembali meneruskan perjalanan pulang dengan saling bergandengan tangan. Saat ada rumah warga, hati mereka sedikit tenang. Namun, d**a mereka kembali berdetak tak beraturan ketika melewati mini hutan bambu. Barulah melewati rerimbunan yang ketiga, mereka sampai di rumah singgah.
"Tunggu."
Husna menghentikan langkah Alma dan Aurelia. Ia melihat sebuah plakat nama yang sudah hampir terjatuh dari tiangnya. Plakat itu tertutup oleh pohon kecil yang menjalar di hampir seluruh bagian tiang dan plakat itu sendiri, sehingga tak terbaca lagi tulisan yang ada di sana.
Perlahan, Husna menarik pohon dengan batang kecil yang mirip dengan akar itu. Ia membaca sebuah kata yang tertulis di sana "RONGRAWE", dengan gaya tulisan mirip dengan aksara jawa.
"RONGRAWE. Bunyinya bener seperti itu kan?," tanya Aurelia.
"Iya benar," jawab Husna.
"Itu artinya yang dimaksud ibu tadi adalah rumah ini," ujar Alma menimpali.
"Ada apa dengan rumah ini?," telisik Aurelia.
"Kami juga tidak tahu Rel. Hanya saja kalimat ibu tadi tampak mencurigakan," ucap Husna menjelaskan.
Mereka bertiga mengalihkan tatapan mata mereka ke arah rumah yang di depan mereka, rumah yang berjarak sepuluh meter dari tempat mereka berdiri. Lama mereka menatapnya.
"Sudah ayo kita masuk!. Hari semakin siang. Kita belum masak. Kita juga harus ke rumah Pak Kades. Kita jangan dulu bercerita apa pun pada Marshal, Imam, Hasan dan Nakula. Kalian mengerti?," ucap Aurelia setelah menghempaskan napas panjang dari mulutnya. Aurelia berlari melewati rerumputan halus, kemudian disusul oleh kedua temannya.
"Kami pulang," ucap Alma yang ternyata lebih dulu sampai sambil membuka pintu.
Rumah dalam keadaan kosong, semua teman lelaki mereka tidak ada. Sementara kondisi ruang depan masih berantakan, terdapat bekas gelas minum kopi di setiap sudut dan asbak yang penuh dengan puntung rokok.
"Dasar lelaki, lebih suka bikin rusuh dari pada suka bebersih," gerutu Aurelia sambil berlalu melangkah ke dapur.
Dan ternyata, semua teman lelakinya membersihkan halaman belakang yang sangat kotor penuh dengan guguran daun dan semak belukar.
"Aurelia, buat sarapan telur dadar saja. Kita harus segera ke rumah Pak Kades. Jaraknya cukup jauh," ucap Nakula.
"Oke," jawab Aurelia.
Gegas para gadis itu memasak nasi dan hanya membuat telur dadar dan sambal tomat mentah sebagai sarapan.
Pagi pertama mereka sudah diwarnai aroma mistis dan teror yang dialami oleh Marshal dan Hasan. Namun mereka masih saling diam dan menutup rapat kejadian janggal yang mereka alami. Sejenak mereka menikmati sarapan pertama mereka bersama tim KKN, dan jauh dari orang tua mereka.
Setelah mengambil nasi dan tiga potong telur dadar lengkap dengan sambal tomat, Marshal memilih duduk di tengah pintu dengan posisi kaki dilipat ke atas. Ia sangat menikmatinya, sehingga ia tidak memperhatikan obrolan teman-temannya yang membahas tentang rute ke tempat Pak Kades. Namun matanya awas ketika ada sekelebat perempuan berjalan melewati samping rumah, segera Marshal berdiri untuk memastikan bahwa itu manusia sungguhan.
Ternyata nihil, tidak ada orang berjalan di sana. Ia hanya melihat hamparan semak belukar yang belum sempat ia bersihkan. Lagi-lagi ia merasa dipermainkan oleh sosok tak kasat mata.