Desa Awu Awe dengan segala kesejukannya, berhasil membuat Marshal melupakan peristiwa yang sudah terjadi. Sebuah peristiwa yang sebelumnya tidak pernah terbesit di dalam benak Marshal, bahwa dirinya akan mendapat teror yang masih ragu ia sebutkan jika teror itu datang dari mereka yang tak kasat mata.
Marshal hanya membayangkan bagaimana damainya hidup di desa terpencil, di sebuah gunung yang tinggi jauh dari hiruk pikuk kehidupan di kota yang sibuk dan panas. Cukuplah waktu dua minggu untuk memanjakan dirinya menikmati hidup yang tenang tanpa polusi.
Melihat hamparan warna hijau nan luas, membuat hidup Marshal merasa sangat damai. Kerinduannya pada ibu, bisa ia lupakan sebentar demi menikmati alam yang indah.
Marshal berjalan dengan sangat hati-hati, melewati jalan setapak di antara tanaman padi yang sudah berbuah. Sesekali ia mengibaskan kedua tangannya, demi mengusir burung kecil yang suka mencuri buah padi.
"Hai, mari kita foto di sini."
Marshal mengajak teman-temannya untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka semasa KKN, sekaligus menjadi foto pertamanya di Desa Awu Awe. Mereka foto dari berbagai sudut dan berbagai gaya.
"Oke. Mari kita lanjutkan!," ucap Marshal.
"Kirim ke group ya Marshal," pinta Aurelia.
Marshal pun langsung memberi tanda pada beberapa foto yang diambil dengan kamera ponselnya, lalu ia kirim secara bersamaan ke w******p Group. Hidup di jaman digital, esensi sebuah foto bukan lagi menjadi media penyimpan kenangan, namun sudah menjadi kebutuhan pokok untuk menunjukkan sebuah eksistensi manusia.
Sembari melihat satu persatu foto yang sudah masuk di galeri ponselnya, muncul ide di otak Marshal untuk foto berdua dengan Aurelia. Ini kesempatan emas baginya untuk melancarkan jurusnya meluluhkan hati gadis itu.
Marshal mempercepat sedikit langkahnya, mendahului Imam, Amora, Husna, dan Hasan demi mensejajarkan langkahnya dengan Aurelia. Tanpa meminta persetujuan dari gadis itu, Marshal langsung mengalungkan lengan kirinya di pundak gadis bertubuh mungil itu, sementara tangan kanannya memegang ponsel bersiap untuk foto Selfi.
"Ciiis," perintah Marshal yang sebenarnya untuk dirinya dan Aurelia, namun ternyata hanya dirinya yang fokus ke lensa kamera. Sedang Aurelia?
Terang saja Aurelia marah, sikap Marshal terkesan arogan dan kurang ajar di matanya. Tanpa permisi, Marshal sudah membawanya dalam dekapan spontan yang menurut lelaki berjambang tipis itu hal wajar.
"Aih, fotomu jelek sekali. Hadap kamera dong sambil tersenyum," ucap Marshal setelah melihat hasil jepretannya. Ia merasa kurang puas, sebab ekspresi wajah cemberut Aurelia tidak sepadan dengan gaya maskulinnya.
"Satu, dua,...PLAK."
Marshal mendapat hadiah sebuah tamparan dari Aurelia atas sikap tidak sopan yang ditunjukkan Marshal pada perempuan. Tamparan yang diterima Marshal membuat teman-temannya tersenyum, Hasan malah terbahak sambil mendekati Marshal yang masih mengelus pipinya yang terasa panas.
"Makanya, jangan nyosor wae Bang," ledek Hasan yang tidak berhenti tertawa.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah Pak Kades yang masih lumayan jauh, sebentar lagi mereka harus uji adrenalin dengan menyebrangi sungai yang lumayan lebar.
Satu persatu, teman-teman Marshal berjalan di depannya. Mereka tak bisa menahan tawa melihat Si Play Boy kena gampar perempuan, Aurelia pelakunya. Perempuan pertama yang tidak tertarik dengan pesona yang dimiliki oleh Marshal.
"Rasain, enak kan kena gampar?," ledek Amora sambil berlalu melewati Marshal. Namun langkahnya balik mundur, sebab Marshal lebih dulu menarik tangannya
Tarikan itu, membuat Marshal dan Amora tidak berjarak. Marshal bisa merasai hentakan napas dari lubang hidung gadis yang lebih sering mengepang rambutnya dari pada membiarkannya tergerai.
"Kamu yang selanjutnya masuk ke dalam pelukanku. Bagaimana?," rayu Marshal dengan seringai mata jahil yang tidak berhasil membuat Amora tersipu juga terharu.
"Gila kamu Marshal," hardik Amora sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Marshal.
"Ayolah. Aku di sini tidak ada teman kencan lo." Marshal masih terus menggoda Amora hingga gadis itu merasa sangat tidak nyaman dengan berada di dekatnya.
Hasan menyadari hal itu dari jauh, ia lalu mendekat dan seperti biasa ia lepaskan sebuah sentilan kecil di jidat Marshal sambil berkata, "Lepaskan dodol. Tobat. Tobat mainin hati cewek. Umur sudah beranak, masih saja main-main dengan yang namanya perasaan. Perasaan saja gak doyan sama lo Marshal."
Beberapa dari mereka tertawa mendengar ucapan Hasan, kecuali Aurelia dan Nakula yang tetap datar menanggapi guyonan Hasan.
"Lepaskan," ucap Aurelia sambil menarik tangan Amora dan melempar tatapan sinis kepada Marshal sebelum berlalu dari hadapan lelaki itu.
"Kamu cemburu Rel?," teriak Marshal.
"Kagak ada cemburu," balas Aurelia dengan berteriak juga.
"Ah sudah, jangan kebanyakan bercanda. Ingat kejadian kemarin Marshal," ucap Hasan lirih di telinga Marshal.
Setelah melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak di tengah sawah, lalu melewati tanaman rumput gajah yang berjajar rapi lengkap dengan jalan tengah yang memang khusus untuk orang lewat.
Barulah mereka sampai di sungai yang lumayan lebar, dengan air yang sangat jernih dan terdapat bebatuan dari berbagai ukuran yang turut serta meramaikan suasana bersama suara gemericik air sungai.
Lagi-lagi mereka dibuat kagum dengan keindahan alam yang tersimpan di Desa Awu Awe, udaranya sangat sejuk. Letak desanya jauh dari permukaan laut.
Untuk sekali lagi, Marshal mengajak teman-temannya foto selfi dan tidak lupa memberi perintah pada semua temannya itu untuk tersenyum, tertawa lepas lebih baik.
"Siap ya?, 1...2...3. jepret, jepret," ucap Marshal, kemudian diikuti oleh teman-temannya dengan memasang berbagai gaya.
Setelah puas menikmati keindahan sungai di sana, Marshal dan yang lain saling membahu untuk menyeberangi sungai itu dengan selamat hingga berada di sisi sungai yang lain. Lebih tepatnya, mereka saling menjaga satu sama lain. Menanggalkan sebentar keributan yang baru saja terjadi.
Berhasil menyebrangi sungai, mereka kembali bertemu dengan tangga alami dari tanah yang dikeduk dan dipangkas sedemikian rupa hingga menyerupai tangga.
Seperti halnya tangga di sisi sungai yang lain, tangga itu licin sebab bercampur tanah liat. Nakula selaku kepala suku, mendahulukan yang perempuan. Setelah itu baru yang laki-laki.
Marshal bagian yang terakhir, baru juga naik satu tangga. Ia tergelincir hingga jatuh tersungkur dengan kondisi sebelah kakinya sampai mata kaki masuk ke dalam lubang sandal yang berbentuk slop bukan jepit.
Marshal berusaha mengeluarkan kakinya dari lubang sandal itu, namun tidak berhasil. Hal itu sontak membuat teman-temannya tertawa, melihat sebelah kaki Marshal seperti memakai sandal yang lebih besar dengan ukuran kakinya.
Hasan pun membantunya dengan menahan tawa, namun tidak berhasil. Akhirnya Nakula turut serta menarik kaki Marshal dari lubang sandalnya. Setelah pertarungan yang cukup sengit, kaki Marshal berhasil keluar.
"Kena batunya kamu Shal. Hahahaha," ucap Hasan. Sejelek apapun kalimat Hasan, Marshal tidak bisa marah padanya.
Ditangga tengah, Marshal melihat Anisa yang berada di seberang sungai sedang tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Marshal kembali teringat dengan tubuh Anisa yang menghilang secara tiba-tiba di depan matanya.
Tanpa peduli pada yang lain, dan tanpa peduli kondisi jalanan yang licin Marshal mempercepat langkahnya agar lekas sampai di ujung jalan. Terutama ke rumah Pak Kades.
"Hey, kamu kenapa?," tanya Hasan menenangkan. Ia melihat Marshal sangat ketakutan. Hasan membaca itu dari mimik wajah sahabatnya.
"Gak papa. Mari kita lanjutkan lagi," ajak Marshal. Ia sudah tertangkap basah sedang mencemaskan sesuatu, namun masih mengelak.
Suasana di antara mereka menjadi sepi, hanya terdengar derap langkah mereka. Itu pun dengan suara yang sangat kecil. Lima belas menit perjalanan, sampailah mereka di rumah Pak Kades.
Pintu rumah Pak Kades tidak ditutup, Marshal hanya perlu mengucapkan salam guna menunjukkan pada Si Pemilik Rumah bahwa ada seseorang yang sedang bertamu. Pak Kades pun keluar dengan sebaris senyum yang indah.
Begitu tampil di tengah pintu, tatapan mata Pak Kades tertuju pada sesuatu yang ada di balik punggung Marshal.
Pak Kades seperti melihat sesuatu yang berhasil membuatnya membeku. Marshal sadar bahwa tatapan itu bukan untuknya, ia pun lalu memegang tengkuk lehernya sebab ia merasa horor.
"Apa yang sudah dilihat Pak Kades?. Hingga membuat lelaki berumur itu diam mematung," gumamnya di dalam hati.