"Pak, boleh kita masuk?," tanya Marshal.
Pak Kades terkesiap mendengar pertanyaan Marshal. Ia pun menepikan tubuhnya ke samping pintu, membiarkan seluruh mahasiswa itu masuk setelah menjabat tangan mereka satu persatu.
Marshal sengaja mengambil duduk yang berhadapan dengan pintu, agar ia bisa melihat lalu lalang orang lewat. Alasan lain, ia penasaran dengan apa yang sudah dilihat Pak Kades hingga membuat lelaki itu terdiam.
"Pak Kades tidak duduk?," tanya Marshal yang masih melihat Pak Kades masih menatap jauh ke seberang jalan.
"Oh iya, silahkan duduk," ucap Pak Kades yang masih berdiri di pintu.
"Kami sudah duduk Pak, cuma Bapak yang masih berdiri. Bahkan saya sudah memakan isi toples Pak Kades, maaf ya Pak perut saya lapar setelah melewati jalan yang aduhai."
Pak Kades tersipu, karena ia terlambat duduk, tamunya telah lebih dulu duduk bahkan sudah memakan isi toples sebelum dipersilahkan oleh si pemilik rumah.
"Maaf ya. Ada sesuatu yang sedikit mengganggu," ucap Pak Kades.
Marshal masih mengamati gerak gerik Pak Kades, ranyang di wajah Pak Kades tidak bisa disembunyikan, Marshal teramat penasaran dengan itu.
"Ada apa Pak?, Ada sesuatu yang aneh?, Atau ada apa Pak?," selidik Marshal sambil mengangkat tubuhnya mendekati pintu memeriksa keadaan di luar rumah.
Marshal menjorokkan separuh tubuhnya keluar rumah, menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa ia temukan.
"Apa yang kamu cari Marshal?," tanya Aurelia yang sudah berada di sampingnya, sambil mengikuti gerakan Marshal menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Eh, sudah akur nih sama aku?," goda Marshal.
"Dasar tukang pencari kesempatan dalam kesempitan," gerutu Aurelia sambil menginjak kaki Marshal sebelum kembali ke tempat duduknya.
"Auh, lumayan juga injakan kaki Nona Jelita," pekik Marshal kesakitan.
"Eh, kalian ini seperti anak SD saja. Bertengkar tidak jelas," lerai Pak Kades.
Perbincangan mereka baru bermula setelah istri Pak Kades meletakkan secangkir teh hangat untuk masing-masing mahasiswa itu, dan juga satu termos kecil berisi es kopyor berwarna hijau.
"Terima kasih ibu yang manis," ucap Marshal sekaligus menyapa Nyonya sang pemilik rumah.
"Ah elu Marshal, semua perempuan elo gombalin," protes Hasan.
"Lo kan biar akrab. Betulkan Ibu?," ucap Marshal membela diri.
Marshal memang seperti itu, pribadi yang blater, suka mengakrabkan diri dengan orang lain. Namun terkadang, sikap Marshal yang sok kenal sok dekat itu tidak disukai orang, sangat berlawanan dengan pribadi seseorang yang introvert seperti Aurelia.
"Iya benar. Pada siapapun boleh mengakrabkan diri, asalkan tahu sopan santunnya. Tidak menggunakan kalimat yang kasar pada orang yang lebih tua, juga pada orang yang belum dikenal. Sama yang dikenal juga begitu, harus bisa menjaga ucapan agar tidak menyakiti hatinya," jelas Bu Kades.
"Tuh dengarkan Marshal," omel Amora.
Pak Kades dan Istrinya hanya terkikik pelan melihat pertikaian di antara mereka. Usia remaja itu seusia anaknya yang kuliah di luar kota, sehingga pasangan suami istri itu bisa ngemong muda mudi itu layaknya anak sendiri.
Di mata Marshal, Istri Pak Kades adalah sosok yang sumeleh dan jumawa. Pembawaan pribadi yang terbuka pada kritik dan keluh kesah, pribadi yang menenangkan. Setidaknya itu yang ditangkap oleh Marshal saat pertama melihat Bu Kades keluar dari balik kelambu pemisah antara ruang tamu dengan ruang bagian dalam.
Berbeda dengan karakter Pak Kades. Yang terlihat oleh Marshal, lelaki itu seperti menyimpan sebuah rahasia. Terlihat dari wajahnya yang nyanyang, jika berbicara tidak menatap mata lawan bicaranya.
"Jadi kalian dari kota?, Kapan kalian datang?," tanya Pak Kades sambil menerima secangkir kopi dari tangan istrinya.
"Iya Pak. Tujuan kami datang kemari selain untuk bersilaturrahmi, kami juga ingin meminta ijin untuk mengadakan beberapa kegiatan yang sudah kami agendakan sebagai bentuk laporan kami mengikuti KKN di Desa ini."
Aurelia terlihat begitu tenang menjelaskan maksud tujuan dirinya dan teman-teman datang ke Desa Awu Awe, padahal ia juga menyimpan tanya yang sama atas rasa penasaran terhadap potongan misteri dari informasi yang terasa janggal yang ia terima saat berbelanja.
Aurelia memang bukan kepala suku di tim KKN-nya, namun Aurelia sudah ditunjuk untuk menjadi juru bicara selama ada kegiatan dan pertemuan di Desa itu.
Marshal mengambil berkas agenda kegiatan mereka selama KKN di Desa itu, lalu menyodorkannya kepada Pak Kades setelah ia mengambil dari tangan Hasan yang sebelumnya berada di tangan Amora yang diambil dari Nakula dan berakhir di tangan Marshal yang secara kebetulan duduknya lebih dekat dengan Pak Kades.
Tepat di samping Marshal, Pak Kades memeriksa beberapa agenda kegiatan yang tertulis di berkas tersebut setelah ia memasang kaca matanya dengan benar. Ia tampak manggut-manggut membaca tulisan di atas kertas yang ada di dalam map berwarna merah.
"Saya boleh menambah daftar kegiatan kalian?," tanya Pak Kades.
"Boleh Pak. Silahkan!. Dengan senang hati," ucap Marshal tanpa berunding dengan Nakula selaku kepala suku. Ia yakin, temannya itu pasti juga akan melakukan hal yang sama sebagai tamu di sana.
"Kebetulan satu minggu lagi, kami ada acara Mangkurawe, kalian bisa tambahkan kegiatan itu dalam agenda kalian," usul Pak Kades.
"Maaf Pak, kegiatan Mangkurawe itu seperti apa ya Pak?," tanya Aurelia.
"Itu adalah kegiatan rutin di Desa ini, sebagai adat yang tidak boleh ditinggalkan oleh warga desa," terang Pak Kades.
"Kapan itu Pak?," tanya Aurelia lagi.
"Satu minggu lagi. Aduh aku gak hapal tanggal umumnya, kalau tanggal jawanya tanggal lima belas. Tepat di bulan purnama," terang Pak Kades lagi sambil melihat satu persatu wajah dari teman-teman Marshal.
"Itu acara untuk apa ya Pak?," tanya Marshal penasaran yang sejak tadi melihat dan memperhatikan mimik wajah Bu Kades yang berubah setelah suaminya menyebut kegiatan Mangkurawe.
"Hanya acara syukuran biasa saja untuk kemakmuran Desa Awu Awe, serta warga yang ingin berbagi bisa melalui acara ini,"
"Oh..." jawab Marshal dan yang lain.
Marshal masih memperhatikan Bu Kades yang terus bermain dengan jemarinya yang lentik sambil tertunduk seperti menahan beban yang sangat berat, hal itu sangat berbeda saat pertama masuk ke ruang tamu dengan wajah sumringah nan teduh.
Satu kepingan misteri lagi, membuat Marshal semakin ingin mencari tahu tentang semua kejadian yang terasa janggal. Apakah semua itu saling terkait atau hanya kebetulan saja.
"Ayo diminum dan dicicipi." Pak Kades mempersilahkan Marshal dan teman-temannya untuk mencicipi apa yang sudah terhidang di meja.
"Pak, bau kopinya harum," potong Hasan sambil nyengir.
"Kamu mau kopi?," ucap Pak Kades menawarkan kopi pada Hasan.
"Hehehe." Hasan tidak menjawab, ia hanya tersenyum nyengir.
Pak Hasan tidak perlu jawaban, melihat bahasa tubuh Hasan saja ia sudah tahu jawabannya bahwa mahasiswa itu sangat menginginkan kopi yang sudah ia nikmati dari secangkir gelas buatan istrinya.
"Bu, tolong buatkan kopi untuk mereka ya," pinta Pak Kades pada istrinya yang lalu beranjak berjalan masuk.
"Kopinya meracik sendiri Pak?," tanya Marshal yang tahu bahwa di beberapa kebun milik warga tumbuh subur pohon kopi.
"Iya benar. Kopi di sini beraroma khas dengan rasa yang sesuai dengan lidah kami, kopi kami racik sendiri dengan resep turun temurun," ucap Pak Kades menjelaskan.
"Pak saya permisi ke toilet."
Alih-alih pergi ke toilet, Marshal sedikit ingin mencari tahu tentang misteri yang belakangan menghampirinya. Kali saja, dengan masuk ke rumah Pak Kades ia akan mendapat petunjuk.
Aroma ikan goreng tercium saat ia membuka kelambu kedua, kelambu pembatas antara ruang dalam dengan dapur. Sebuah pemandangan tak terduga terjadi di depan matanya, Bu Kades menangis sembari menyandarkan tubuhnya ke dinding di sebelah lemari es.
"Ibu, ada apa?."
Marshal bukan bermaksud lancang dengan bertanya demikian setelah melihat kondisi Bu Kades, ia hanya cemas jika Bu Kades sedang sakit dan terpaksa harus menjamu tamu dari jauh demi menghormati tamu suaminya sebagai kepala desa.
"Ibu baik-baik saja?," tanya perempuan yang berusia satu tingkat di atas Bu Kades yang sedang sibuk mengulek sambal tomat.
Marshal berpikir bahwa perempuan itu adalah asisten rumah tangga di rumah itu, sebab ia mendengar Bu Kades dipanggilnya Ibu, padahal perempuan itu terlihat sedikit lebih tua dari Bu Kades.
"Kamar mandinya di sebelah sana," tunjuk Bu Kades pada satu pintu di luar rumah.
"Oh iya Bu. Bu Kades hati-hati ya," ucapnya sambil berlalu menuju kamar mandi.
Sebelum kembali ke rumah singgah, Marshal dan teman-temannya di jamu makan siang oleh Bu Kades. Mereka dilarang pulang sebelum menghabiskan makan siang mereka.
"Haik, haik. Alhamdulillah kenyang," celetuk Marshal setelah bersendawa.
Setelah makan, para lelaki termasuk Pak Kades mereka duduk di teras depan, menghisap rokok sebagai menu penutup mereka. Nakula tidak ikut bersama, sebab ia bukan perokok. Ketika sedang asyik mengobrol dengan menikmati tembakau dalam lintingan kertas yang sudah dibakar, Pak Kades tetiba berdiri sambil menatap tajam ke seberang jalan.
Tidak seorang pun dari mahasiswa itu yang menyadari bahwa Sang Pemilik Rumah sudah bersikap aneh, kecuali Marshal yang memang sejak awal sudah mencium gelagat mencurigakan dari Si Kepala Desa itu.
Marshal menyadari perubahan sikap Pak Kades, ia lalu mencoba mengikuti arah tatapan Pak Kades. Pemuda berambut gondrong itu terkejut, ia mendapati Anisa berdiri di seberang jalan dengan membawa payung padahal langit sedang sangat cerah.
Marshal melihat Anisa sedang tersenyum, entah pada dirinya atau kepada Pak Kades. Ia lalu memberi kode pada Hasan dengan kerlingan mata untuk turut melihat gadis yang berada di seberang sana.
"Apa?," tanya Hasan.
"Coba kau lihat yang di seberang sana?," perintah Marshal.
"Tidak ada apa-apa," jawab Hasan.
Marshal tak lantas panik, ia mencoba untuk tenang. Sebab ia sadar bahwa Pak Kades dan Bu Kades adalah orang terpandang di Desa Awu Awe. Ia tidak mau membuat keributan di sana, ia lalu memutuskan untuk menundukkan kepala tanpa melihat Anisa yang sedang berdiri di seberang sana.
Sejatinya, Marshal bingung dengan dirinya sendiri. Ia tidak punya kemampuan melihat mereka yang tak kasat mata, namun kenapa Anisa yang ia kira manusia ternyata tidak terlihat oleh Hasan.
Bagi Marshal, Desa Awu Awe menyimpan banyak rahasia, dan Marshal sudah dibuat penasaran dengan misteri di balik keindahan desa itu. Ia juga tidak tahu harus bertanya pada siapa, untuk mengetahui jawaban dari rasa penasaran yang kini menderanya.