Pada akhirnya, waktu telah mengharuskan mereka pergi tapi bukan untuk berpisah, hanya mengakhiri agenda silaturrahmi dengan keluarga Pak Kades.
Ketika bersalaman dengan Pak Kades, Marshal masih melihat wajah lelaki itu penuh dengan kecemasan. Mata lelaki itu sesekali masih melihat ke arah Anisa. Marshal pun semakin penasaran, ia mencurigai Pak Kades ada hubungan simbiosis mutualisme dengan Anisa.
Sambil menunggu Bu Kades yang masih di dalam, Marshal mendekati Hasan yang sedang duduk berselonjor di bawah.
"Kamu yakin, tidak melihat seseorang di seberang sana?," tanya hasan berbisik.
"Yaelah Marshal, aku harus bilang berapa kali ke kamu kalau aku tidak melihat siapa pun di sana?, Emang ada apa sih?," ucap Hasan yang juga turut penasaran.
Marshal diam, ia memilih tidak menjawab pertanyaan Hasan. Ia sibuk dengan pikirannya tentang alasan dirinya bisa melihat Anisa dengan mata telanjang, padahal ia tidak punya kekuatan indigo. Tak sedikit pun ia punya kemampuan berkomunikasi dengan makhluk alam lain.
"Hai, cerita dong sama aku," ucap Hasan dengan suara yang sangat pelan sambil meletakkan sandal jepitnya yang sudah lebih dulu diberi gambar mata, hidung dan mulut tepat di depan wajah Marshal, ibaratnya sandal itu adalah benda hidup.
Sontak saja, hal itu mengagetkan Marshal dan membuyarkan lamunannya. "Aih, ini anak. Gak ada akhlak kamu ya," gerutu Marshal.
Hasan terpingkal melihat Marshal marah, sebab yang ia tahu Marshal tidak pernah sakit hati dan tersinggung untuk urusan bercanda, dan tidak pernah pusing dengan perkara yang serius.
Namun kali ini Hasan melihat sosok lain dalam diri Marshal, temannya itu seperti menanggung banyak beban di pundaknya, dan banyak hal yang sedang dipikirkan olehnya. Memaksa Marshal bercerita hanya akan membuat dirinya seperti katak dalam tempurung, ia tidak akan pernah mendapat jawaban yang ada Marshal akan semakin mengalihkan pembicaraan, namun suatu saat Marshal pasti akan bercerita padanya.
"Apa yang kamu pikirkan?," tanya Marshal pada Hasan dengan memasang tampang sinis.
Marshal melihat Hasan hanya tersenyum kepadanya, ia berjongkok tepat di depannya sembari menahan dagu dengan kedua tangannya.
"Ih, geli aku lihat gaya senyummu?," omel Marshal.
Setelah lama menunggu, Bu Kades akhirnya keluar dengan membekali Marshal dan teman-temannya makanan serta sayuran satu kresek merah besar.
"Ibu tidak perlu repot membekali kami seperti ini. Justru kami yang harus membawakan Bu Kades buah tangan dari kota, namun itu tidak kami lakukan," tolak Aurelia sambil sedikit mendorong tangan Bu Kades yang sudah menahan berat dari isi yang ada di dalam kresek merah.
Marshal sangat tahu, menerima hadiah seperti itu dari tuan rumah dirasa kurang sopan, namun jika menolaknya tentu akan membuat tuan rumah bersedih sebab ia 5merasa pemberiannya itu tidak dihargai. Maka dari itu Marshal langsung mengambil kresek merah itu dan meletakkan di pundaknya.
"Terima kasih ibu," ucap Marshal sambil menyahut kresek merah itu dengan senyum merekah.
Bu Kades tampak bahagia melihat sikap Marshal yang blater, mudah mengakrabkan diri dengan siapa pun. Ia juga tidak canggung memanggul kresek merah besar di pundaknya.
"Yang di kresek merah ini pasti kami makan sampai habis Bu, tenang saja. Dan ini pasti membuat tubuh kami kuat setelah memakannya, sebab Ibu sudah memberinya ramuan doa kasih sayang, benarkan Ibu?," ucap Marshal sambil tersenyum sumringah.
Bu Kades hanya mampu mengembangkan senyumnya yang tulus sebagai hadiah untuk Marshal , juga untuk mahasiswa yang lain.
Segera Marshal dan semua temannya berpamitan pulang. Tak lupa Pak Kades mengingatkan Nakula selaku kepala suku untuk mengatur pelaksanaan acara di rumah Rongrawe.
Marshal lebih dulu menyebrang jalan bersama Hasan dan semua teman perempuan mereka, namun Nakula?. Ia melihat Pak Kades menahan tangannya, seperti ingin membicarakan sesuatu yang penting.
Matahari sudah sangat terik, Marshal masih menunggu Nakula menyelesaikan diskusinya bersama Pak Kades. Ia dan teman-temannya menunggu di bawah pohon mangga yang kebetulan tumbuh liar di tepi jalan.
Marshal menurunkan kresek merah dari pundaknya, pandangan matanya yang sebelah kiri pun sudah tidak lagi terhalang oleh kresek tersebut.
Ia juga bisa melihat Anisa yang masih berdiri di sana sambil menatap lurus ke arah rumah Pak Kades, tak lupa ia membuka payung yang berwarna senada dengan gaunnya yang berwarna hitam untuk menutupi tubuhnya dari sengatan matahari.
Marshal masih penasaran dengan gadis yang kini ia ketahui bernama Anisa, sangat tidak mungkin jika bertanya saat itu juga. Orang pasti mengira bahwa dirinya sudah gila, sebab yang tampak di mata orang lain adalah dirinya yang sedang berbicara sendiri.
Cara lain terpikir olehnya, Marshal bertanya sekali lagi pada Hasan apakah Anisa dapat terlihat oleh kedua netranya. "Hasan, kamu yakin tidak melihat ada orang berdiri di sana." Agar ia bisa memastikan apakah aman berbicara dengan gadis itu.
Lagi-lagi Hasan hanya menjawab tidak, disertai dengan gelengan kepala. Mendengar jawaban itu, kini Marshal sudah tahu bahwa Anisa adalah bagian mereka yang kasat mata. Sangat tidak aman jika mengobrol dengan Anisa, gadis yang mulanya menakutkan baginya.
Saat tadi di bertemu di padang rumput, Marshal hanya syok melihat Anisa menunjukkan kekuatannya mampu menghilang seperti adegan dalam trik sulap.
"Siapa kamu sebenarnya Anisa?. Apa alasanmu menampakkan diri di depanku?. Adakah yang ingin kamu sampaikan?. Ataukah kamu hanya ingin menakutiku semata?." Marshal tidak bisa abai dengan pikiran-pikiran itu yang terus saja menanti jawaban.
"Ayok!," ajak Nakula yang sudah siap melanjutkan perjalanan pulang.
"Yang perempuan silahkan turun dulu," pinta Marshal.
"Ah pahlawan kita memang tiada duanya," ledek Hasan.
Marshal masih ada di atas, sambil menanti semua temannya turun. Ia yang terakhir namun tidak segera turun, Anisa masih menjadi objek yang menarik baginya. Ia masih memantau Anisa yang masih tetap saling melempar tatapan mata dengan Pak Kades.
"Anisa, apa hubunganmu dengan Pak Kades?. Dan sekali lagi aku bertanya, apakah kamu sengaja menampakkan diri di depanku?," Gumam Marshal di dalam hati.
Marshal masih melihatnya hingga ketika ia menyudahi kalimat di hatinya, Anisa sudah berada tepat di depannya dengan menggiring kekuatan angin yang mampu menerbangkan beberapa helai rambut Marshal yang sengaja tidak ia kuncir.
Keduanya saling melempar tatapan mata, tidak sedikit pun Marshal gemetaran berdiri tepat di depan Anisa. Wajah cantik yang dimiliki Anisa sama sekali tidak membuat Marshal takut, serta aroma wangi tubuhnya seketika melekat di dalam otak Marshal.
"Kamu..."
Belum juga Marshal menyelesaikan kalimatnya, Anisa sudah memberinya senyuman sebelum akhirnya turun melewati tangga namun kakinya tidak napak di tangga. Seperti tadi, Anisa pergi dengan kekuatan angin yang mampu menerbangkan apa pun di sekitarnya.
Teman-teman Marshal merasakan itu, angin yang cukup kencang hingga membuat baju dan rambut mereka berkibar-kibar seperti bendera yang tersapu angin di atas tiang tinggi. Namun angin itu hanya lewat sebentar.
"Marshal, ayo turun. Ngapain kamu masih di sana?," teriak Hasan sambil melambaikan tangan pada Marshal.
Sepanjang perjalanan kembali Marshal hanya diam, ia tidak banyak bicara. Beberapa kali Hasan mengajaknya bercanda, namun Marshal tidak membalasnya. Perubahan sikapnya membuat semua teman Marshal termasuk Hasan merasa aneh.
"Marshal kenapa?. Kesambet di mana dia?," tanya Aurelia pada Hasan.
"Entahlah, aku juga bingung. Mungkin otak terbawa angin besar tadi," canda Hasan.
Menempuh satu setengah jam perjalanan, sampailah mereka di depan rumah singgah. Mereka merasa sangat lelah, hingga harus berlari agar bisa segera sampai di depan pintu dan merebahkan tubuh mereka untuk beristirahat sejenak sebelum kembali beraktifitas.
Marshal tidak melakukan itu, ia justru berdiri di depan plakat yang sudah lusuh dan rapuh yang tertanam di gerbang rumah singgah.
Ia baru menyadari ada plakat tertanam di sana, samar ia membaca kalimat yang di sana.
"RONGRAWE. rongrawe?. Apa maksud dari rongrawe?." ucap Marshal lirih.
"Iya, warga desa menyebut rumah ini dengan sebutan Rumah Rongrawe," celetuk Aurelia yang sudah berdiri di sampingnya.
"Kamu, tahu itu?," selidik Marshal.
"Iya, tapi aku sendiri tidak tahu kenapa namanya demikian. Seperti ada sesuatu dengan rumah ini?," jelas Aurelia.
Keduanya memandang jauh rumah yang ada di depan keduanya. Rumah yang berdiri di atas tanah yang sangat luas, rumah tua yang sudah tua.
Lama keduanya memandang, rumah itu tetiba saja berubah menjadi rumah gedung yang sangat besar dan terdengar suara tangisan dari banyak orang.
Baik Marshal dan Aurelia, keduanya saling memandang lalu kembali mematung memandang rumah megah itu hingga ukuran rumah itu kembali ke ukuran semula.
Marshal menahan Aurelia yang hendak berlari, lalu berkata "Apa aku sudah bisa menjamah hatimu?. Kita sama, bukankah itu jodoh?."
Ungkapan Marshal sebenarnya hanya untuk mengalihkan pikiran Aurelia agar tetap tenang, tidak membuat temannya takut setelah pengalaman mistis yang baru saja terjadi padanya.
"Bodoh kamu. Jangan kurang ajar."
Lagi-lagi Marshal hanya mendapat umpatan dari Aurelia ketika ia berusaha meluluh hati gadis itu.