"Rongrawe, Lorong Awu Awe. Rongrawe, Lorong Awu Awe."
Marshal masih terus memikirkan dua kalimat itu. Ia memandang jauh ke rumah yang ada di depannya. Rumah yang teduh itu ternyata menyimpan sebuah misteri.
Pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri tidak bisa menemukan jawabannya. Yang semakin menjadi aneh, kenapa dirinya yang harus mengalami ini. Apa yang ada di tubuhnya, atau apa yang dimilikinya sehingga ia terus mendapat teror.
"Hasan. Iya bener, aku belum bercerita perihal peristiwa teror horor yang aku alami," gumamnya pelan.
Di depan plakat bertuliskan Rongrawe, Marshal teringat dengan Hasan. Sebelum berangkat ke rumah Pak Kades, temannya itu sempat mengutarakan keinginannya untuk bercerita tentang sesuatu. Karena waktu yang belum pas hingga sampai saat itu Marshal belum tahu cerita tentang apa itu.
Marshal akan menanyakan itu pada Hasan, setelah langit jingga bersembunyi di balik warna malam yang pekat. Sekarang ia akan menunaikan tiga rakaat, setelah seruan dari masjid terdengar menggaung memenuhi Desa Awu Awe.
Di sela langkahnya memasuki halaman Rumah Rongrawe, pikiran Marshal terpusat pada dirinya sendiri. Ia seolah tidak mengenal jiwa yang bernapas dengannya. Sebelumnya, Marshal tidak pernah memikirkan suatu hal apa pun yang terjadi dalam kehidupannya.
Masa bodoh dengan hal yang ada di sekitarnya. Ia lakukan ketika ia ingin melakukan, ia tinggalkan ketika ia ingin meninggalkan. Tidak peduli orang lain berbuat apa, tidak peduli orang lain berpikir apa tentangnya. Bahkan ketika ia memutuskan memacari seratus wanita dalam satu waktu, ia tidak memikirkan perasaan orang lain, dan juga luka hati yang akibat sikap masa bodonya itu.
Di sini, Marshal seolah kehilangan dirinya yang masa bodoh. Hidup happy, yang selama ini ia jalani mendadak musnah, terkubur oleh serangkaian misteri dan teror yang mampir dalam selembar kisah hidupnya.
Ia merasa dirinya menjadi orang yang lebih peduli dengan sikap orang lain. Terutama pada Hasan. Ia mengkhawatirkan keadaan Hasan setelah tahu bahwa temannya itu menghilang.
"Marshal," panggil Imam dengan berteriak sambil melambaikan tangan.
Dari jauh, Marshal melihat teman-temanya sudah berkumpul di ruang tamu. Seketika pikirannya tertuju pada Aurelia. Beberapa jam yang lalu, ia melihat Aurelia menjadi sosok yang berbeda. Sosok dengan sorot mata tajam, rambut berkibar, serta senyuman sinis yang menakutkan persis seperti yang dilihat oleh Marshal dalam kebanyakan film horor.
"Marshal." Imam kembali memanggil namanya, dengan cara yang sama berteriak sambil melambaikan tangan.
Marshal tidak memenuhi panggilan itu, sebab adzan maghrib sudah menggema memberi warna pada desa yang sunyi. Yah, bagi Marshal desa ini bukan hanya tenang dan indah namun juga sunyi, senyap dan juga penuh misteri.
Lelaki berambut gondrong itu membalikkan badan, lalu membalas panggilan Imam hanya dengan lambaian tangan sambil berlalu pergi. Marshal hendak menunaikan tiga rakaat Maghrib di masjid yang kebetulan dekat dengan Rumah Rongrawe.
Desa Awu-Awe mempunyai satu masjid yang terletak di kampung atas yakni kampung utama tempat semua aktifitas warga desa, dari balai desa, masjid, sekolah, pasar dan juga polindes semua ada di kampung atas. Kenapa kampung atas?, sebab kampung atas mempunyai akses jalan keluar yang paling mudah untuk menuju kota. Termasuk Rumah Rongrawe yang kini ditempati Marshal dan teman-temannya.
Bangunan masjid di desa ini tidaklah sama dengan bangunan masjid pada umumnya di kota. Bangunan sederhana itu lebih mirip dengan musholla yang ada di gang-gang sempit sebuah kota yang sibuk. Meski begitu, masjid itu menjadi satu-satunya masjid yang ada di desa Awu Awe.
"Membaur dulu dengan warga desa di masjid, baru nanti aku menagih cerita dari Hasan," gumamnya dalam hati sambil berjalan.
Marshal juga punya sisi baik, yang terkadang orang tidak bisa melihat itu. Ia sudah terlanjur ber-image buruk di mata teman-temannya, sehingga satu kebaikan Marshal tidak bisa dilihat oleh orang lain. Kecuali Sang Ibu yang begitu menyayanginya.
Jarak masjid dengan rumah Rongrawe tidak terlalu jauh, hanya selisih sepuluh rumah termasuk balai desa. Ketika Marshal sampai di tempat ibadah itu muadzin masih khusyu' mengumandangkan adzan dengan pengeras suara.
Marshal menunggu adzan selesai di luar masjid. Beberapa kali ia bertegur sapa dengan warga yang juga hendak mencari dua puluh tujuh derajat sama seperti dirinya.
"Tuk. Tuk. Tuk."
Terdengar seperti suara seseorang yang berjalan menggunakan tongkat, Marshal mencari dari mana asal bunyi itu. Ia menajamkan pendengarannya, mencari cari sumber suara tersebut, ternyata seorang nenek yang berjalan sambil membungkuk dengan bantuan tongkat di tangannya. Nenek itu datang dari arah belakang Marshal. Ia memperhatikan mukena lusuh yang dipakai oleh nenek itu. Warnanya sudah memudar, sudah tidak lagi berwarna putih, dan bau apek menyeruak dari mukena tersebut.
"Minggir," pinta Si Nenek sambil mengayunkan tongkatnya.
"Saya bantu Nek," ucap Marshal menawarkan diri.
"Minggir," ucap nenek itu ketus. Ia masih menggunakan kalimat yang sama.
"Saya bantu Nek," ucap Marshal lagi dengan kalimat yang sama pula. Ia kekeh menawarkan diri kepada nenek itu untuk menaiki tangga masjid, namun ditolak mentah-mentah oleh Si Nenek.
Marshal membiarkan nenek itu terus berjalan dengan bertumpu pada tongkatnya. Ia tidak meninggalkan Si Nenek begitu saja, matanya tetap awas mengamati Si Nenek dari belakang.
Si Nenek itu sempat akan terjatuh. Marshal menolongnya, ia dengan sigap memegang tangan nenek tersebut. Si Nenek pun menerima bantuan Marshal tanpa penolakan seperti sebelumnya.
"Wes matur suwun (sudah, terima kasih)," ucap Si Nenek dengan raut wajah yang kurang mengenakkan. Mungkin ia marah karena malu sudah menolak bantuan Marshal, namun ternyata justru Marshal lah orang yang lebih sigap menolongnya saat akan terjatuh.
Selesai sholat, Marshal duduk sebentar di teras masjid. Banyak anak kecil bermain di halaman masjid yang tidak begitu luas, yang cowok sengaja mengalungkan sarung mereka di pundak agar leluasa bermain.
"Desa yang terlihat indah dan damai ini, sayang sekali jika harus berhias cerita misteri," gumamnya dalam hati. Beberapa kali ia melempar senyum ke arah anak-anak yang sedang bermain.
"Le, tolongin aku," pinta Si Nenek yang baru saja keluar dari masjid.
Marshal segera berdiri tanpa mencari tahu siapa yang dimintai bantuan oleh nenek tersebut. Ia juga tanggap langsung memegang tangan Si Nenek dan membantunya menuruni tangga masjid.
"Hati-hati Nek," ucap Marshal mengingatkan.
"Wes eroh. Ora usah kakean omong (Sudah tahu. Tidak usah banyak bicara)," balas Si Nenek.
Marshal terus menuntunnya tanpa bertanya pada Si Nenek ke mana ia harus mengantarnya pulang.
"Wes tutuk kene wae (sudah sampai di sini saja)," pinta Si Nenek untuk melepas tangannya di depan rumah sesek bercat putih.
"Oh iya Nek. Saya kembali ke masjid ya Nek," pamit Marshal setelah mencium punggung tangan nenek tersebut dan memastikan Si Nenek masuk ke rumahnya dengan aman.
Di tengah pintu Si Nenek menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya dan melempar senyum kepada Marshal. Senyuman yang berhasil membuat bulu kuduk Marshal berdiri, sebab senyuman itu mengingatkan dia pada Anisa.
Beberapa kali Marshal mengibaskan kepalanya, untuk melupakan Anisa sosok gadis yang masih misterius.
Selesai mengantar Si Nenek pulang, Marshal tak lantas pulang ke Rumah Rongrawe, ia duduk sebentar bercengkrama dengan bapak-bapak yang kebetulan tinggal di kampung bawah. Bapak itu sengaja tidak pulang demi menunggu empat rakaat isya' sekalian.
"Kowe anak e sopo?. Ora tahu reti nang masjid, (kamu anaknya siapa?, Tidak pernah terlihat datang ke masjid)," tanya Bapak itu.
Mungkin ia tidak tahu, bahwa ada tujuh mahasiswa dari kota yang sedang KKN di desa itu, dan mereka tinggal di rumah rongrawe.
"Saya Marshal Pak, saya tinggal di rumah rongrawe bersama teman-teman," terang Marshal yang turut menyebut rumah itu dengan sebutan Rongrawe.
"Kalian tinggal di rumah tua rongrawe?," Ucap Si Bapak. Wajahnya terlihat kaget ketika Marshal menyebut nama Rongrawe.
Kalimat Bapak itu membuat Marshal semakin penasaran, besar harapannya ia bisa dengan secepat memecahkan kepingan teka-teki yang berhamburan di kepalanya.
"Bapak tahu sejarah rumah itu?," tanya Marshal.
"Semua orang tahu sejarah rumah itu, namun ya hanya sekedar rumor. Sebab mereka hanya mendengar, tidak ada yang mengalaminya sendiri, termasuk saya," terang Si Bapak.
"Maksudnya Pak?," selidik Marshal
"Rumah itu sering meminta tumbal, tapi tidak pernah ada buktinya. Dari saya kecil sampai berumur begini belum terdengar peristiwa aneh-aneh mengenai tumbal menumbal di rumah itu. Beberapa kali dikontrak orang ya, tidak pernah juga terdengar cerita seram dari rumah itu," terang Bapak itu panjang.
Marshal tampak manggut-manggut, pertanda dirinya sedikit memahami cerita Si Bapak, meski rasa penasarannya semakin besar.
"Rongrawe itu singkatan dari Lorong Awu-Awe. Bener begitu pak?," tanya Marshal.
Bapak itu membenarkan ucapan Marshal dengan menganggukkan kepala, namun ia enggan menjelaskan alasan rumah itu menjadi sebuah lorong dari desa yang bernama Awu-Awe.
"Kalau kalian tidak mengalami hal apa pun, artinya kalian semua aman. Sebaliknya, jika kalian mengalami kejadian aneh artinya kalian adalah jiwa yang kuat," ucap Si Bapak.
Lagi-lagi Si Bapak tidak menjelaskan dengan gamblang misteri rumah rongrawe. Walau bagaimana pun, Marshal harus memecahkan misteri ini, ia memastikan bahwa suatu saat nanti akan bisa memecahkan misteri. Mungkin bapak yang ada di depannya itu bisa membantunya.
Marshal tak ingin terburu-buru. Apa yang sekarang bisa ia lakukan, maka dia lakukan. Ia fokus terhadap keselamatan diri dan juga teman-temanya. Sampai detik ini, Marshal belum menuduh dirinya sebagai biang kerok atas kejadian yang sudah menimpa dirinya.
Adzan isya' sudah terdengar, Marshal lalu berdiri merapatkan barisan bersama dengan jamaah yang lain. Sebelum ia mengangkat kedua tangannya, Marshal menyempatkan diri melihat ke belakang. Alangkah terkejutnya Marshal ketika kedua matanya menangkap sosok Anisa sedang berdiri dan tersenyum padanya.