Masjid mulai sepi, satu persatu jamaah pulang demikian juga dengan Marshal. Ia sengaja pulang paling akhir menunggu bapak yang tadi.
"Mari pulang bersama Pak," ajak Marshal.
"Lakok lucu kamu ngajakin pulang bareng. Tempatmu tidak jauh dari sini, sedang jalanku masih panjang. Aku naik motor, kamu jalan kaki saja sudah sampai. Sudah sana pulang," ujar Si Bapak sambil menaikkan tubuhnya ke motor tuanya.
"Hehehe, iya pak." Marshal tersenyum nyengir.
"Segera pulang. Jangan ke mana-mana. Sekalipun kampung ini lebih ramai dari pada kampung bawah, kamu tetep harus berhati-hati. Keluar malam jangan sendirian, sebab malam hari isi bumi lebih menakutkan dari yang kamu bayangkan. Sudah aku pulang dulu," nasehat Si Bapak panjang lebar sebelum akhirnya ia pergi bersama deru motornya.
Setelah kepergian Si Bapak, Marshal mengedarkan pandangan matanya. Jalanan masih ada satu dua orang yang lewat, mungkin sekedar membeli makanan di pasar atau datang ke polindes untuk berobat.
Marshal memutuskan untuk segera pulang, sebelum malam benar-benar membungkusnya dalam kesunyian. Ia sudah terlalu lama meninggalkan rumah singgah, mungkin teman-temannya sudah khawatir. Irama di perutnya juga sudah mulai terdengar.
Dengan gontai, Marshal melangkahkan kakinya. Ia bukan takut akan bertemu lelembut dari bangsa mereka yang tak kasat mata, namun kepalanya terasa berat serta dadanya juga terasa begitu sesak.
Ini kali pertama Marshal mengalami hal seperti ini untuk urusan selain dalam lingkup keluarga. Lagi lagi Marshal merasa aneh pada dirinya.
Rumah Rongrawe sudah di depan matanya, rumah yang terletak paling ujung dari kampung atas sebelum hutan bambu. Marshal berhenti sebentar memandang jauh ke bangunan rumah bergaya belanda itu.
"Bisakah kamu membantuku menemukan dan menyimpulkan kepingan misteri yang menghampiriku?. Ataukah ini adalah ulah mu yang meminta bantuan padaku?," gumam Marshal lirih sambil terus menatap ke rumah itu. Ia bicara seolah rumah rongrawe itu adalah benda hidup yang punya mata, telinga dan perasaan.
"Huft"
Marshal menghempaskan napasnya dengan keras. Ia harus terus berjalan untuk menyelesaikan masa KKNnya selama dua minggu. Ia juga berharap, dalam masa dua minggu itu ia sudah mengetahui misteri terpendam dalam rumah itu.
Rumah singgahnya terlihat sangat ramai dari luar, mungkin teman-temannya sedang mempersiapkan hidangan makan malam bersama.
Bagi Marshal dan mungkin juga bagi semua temannya ini adalah kali pertama mereka jauh dari orang tua, sehingga mereka harus bisa mengurus sendiri keperluan mereka.
Terkadang usia tidak bisa menjadi patokan dewasanya seseorang. Pendewasaan seseorang tergantung bagaimana ia berteman dengan keadaan.
Marshal terus berjalan memasuki halaman yang gelap tanpa penerangan, tetiba saja ia sedikit merinding berjalan sendirian di tengah halaman yang sangat luas itu. Seperti ada ribuan mata yang sedang mengawasinya, namun Marshal tidak berani mengedarkan pandangannya. Sebab malam ini, ia ingin tertidur pulas tanpa memikirkan beban pikiran yang sejak tadi bergelayut di benaknya.
Ia terus berjalan dan berharap semua temannya tidak melupakan dirinya untuk makan malam bersama, apalagi sampai nasi dan lauknya habis ia akan berbuat jahil pada semua temannya terutama Hasan yang sudah melupakan dirinya saat makan malam tiba.
"Kriyek."
Terdengar suara derit pintu yang sudah lapuk termakan usia itu terbuka. Marshal muncul dari balik pintu yang sudah tertutup.
"Wow, dari mana saja kamu Marshal. Aku kira kamu menghilang dan pergi bersama gad...," celetuk Hasan saat tahu yang masuk adalah Marshal. Namun ia tidak melanjutkan kalimatnya.
"Gad apa San?," tanya Aurelia dengan senyuman tidak menyenangkan.
"Anu, itu, Mmm, mmm."
Hasan tidak bisa memberi penjelasan, ia hanya terbata ketika Aurelia mulai penasaran dengan kalimat yang keluar dari mulutnya. Ditambah lagi, Marshal dengan sigap menutup mulutnya dengan kelima jari kanannya sehingga membuat Si Pemilik nama itu tidak lagi bisa berkutik.
"Kenapa San?," tanya Aurelia penuh selidik.
"Ah, sepertinya enak ini masakannya?," ucap Hasan sambil duduk manis di depan menu alakadarnya anak kos-kosan. Ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Ayo Hasan, kita makan!," ajak Marshal.
Marshal datang tepat waktu, beruntung ia tidak tertinggal dengan yang lain untuk makan malam.
Seluruh tim KKN adalah tubuh, mereka harus saling menjaga, membantu dan mengingatkan satu sama lain jika salah. Tidak boleh ada yang sakit hati, atau bahkan menang sendiri. Ada masalah harus dipecahkan bersama.
Marshal menepikan sejenak teror misteri yang sudah membuatnya suntuk, ia nikmati malam itu berkumpul bersama semua teman yang tentu saja berbeda karakter.
Satu persatu Marshal mengamati wajah temannya, semua terlihat senang tak nampak sedang bersedih atau bahkan sedang terbebani sebuah masalah. Semua terlihat enjoy menikmati hari pertama mereka mengikuti tugas kuliah. Meski mereka tinggal jauh dari kota, di desa terpencil dan dengan keadaan rumah yang sederhana, mereka menikmati itu.
Kedua netra Marshal berhenti pada sosok gadis bernama Aurelia. Sejak awal, Marshal memang sengaja ingin menjadikan target permainannya, walau kali ini alasannya berbeda. Namun makin ke sini gadis itu sudah membuatnya penasaran dengan sikap dinginnya yang terus menutup pintu hatinya untuk Marshal.
Saat sedang makan, Marshal melihat Aurelia tidak banyak bicara. Gadis itu terlihat melamun, walau tadi sempat melempar tanya pada Hasan. Marshal jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah gadis itu tahu apa yang sudah terjadi dengannya tadi?. Apakah Aurelia tidak ingin bertanya padanya apa yang sudah terjadi sore tadi?.
"Hai, kenapa ikannya dianggurin Marshal?, Buat aku aja, dari pada dibuang buat kucing. Meong," seloroh Hasan sambil mengambil sisa ikan milik Marshal yang masih banyak.
Marshal tidak menghiraukan gurauan Hasan, ia hanya fokus menatap Aurelia. Hasan menyadari itu, langsung saja ia beraksi.
"Ehem, ehem. Rupanya ada yang sudah cinlok nih sama Aurelia," celoteh Hasan.
Seketika suasana di ruangan itu berhenti. Semua yang ada di ruang tamu melihat ke arah Hasan yang sudah memberi kode dengan kedua matanya untuk melihat Marshal dan Aurelia.
Benar saja, Marshal terus menatap tajam ke arah Aurelia yang sibuk memainkan nasi dengan sendok. Ia tidak menyadari bahwa semua temannya sedang memperhatikan dirinya.
Baru ketika Hasan berdehem untuk yang kedua kalinya, Marshal terkesiap. Ia merasa sangat malu kepergok sedang memperhatikan perempuan dengan serius. Tatapan mata tidak pernah bisa berbohong.
Sedang Aurelia masih acuh, ia hanya melihat sepintas apa yang baru saja sudah terjadi lalu kembali sibuk dengan piring dan nasi di depannya. Ia seperti sedikit pun tidak tertarik dengan yang namanya jatuh cinta, apalagi dengan lelaki playboy bernama Marshal.
Tanpa memperdulikan opini temannya, Marshal mendekati Aurelia, lalu menyuapi gadis itu hingga habis. Bukan hanya teman-temannya, Aurelia sendiri dibuat kaget dengan sikap Marshal hingga tanpa sadar ia sudah menurut ketika Marshal memasukkan sendok ke mulutnya.
"Hai, apa yang kamu lakukan?," protes Aurelia dengan suara yang sangat keras. Ia hampir melayangkan tamparan ke wajah Marshal, namun lelaki itu berhasil menahannya.
"Jangan sampai kita semua sakit, perjalanan masih panjang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Jika salah satu di antara kita ada yang sakit, maka yang lain juga akan sakit. Terutama untuk para perempuan, kalian harus sehat dan kuat. Karena perempuan kalau sakit itu menyusahkan. Kalian paham?, Apa aku salah?," ucap Marshal membela diri.
"Marshal benar. Kita semua harus menjaga diri. Tidak boleh sakit. Apalagi kita jauh dari kota. Lebih baik menjaga dari pada harus mengobati," sela Nakula.
Setelah semua selesai makan, mereka bersama-sama membersihkan ruang tamu, mencuci piring di dapur. Dan juga bebersih diri untuk bersiap tidur.
Marshal dan Hasan bagian paling akhir antri di kamar mandi, sembari antri Marshal mempunyai kesempatan untuk menagih hutang cerita pada Hasan.
"Hasan," panggil Marshal sambil duduk di kursi kecil yang terbuat dari plastik.
"Hem," jawab Hasan yang sedang fokus mengaduk kotoran hidungnya.
"Tadi kamu mau bercerita apa?."
Hasan memindahkan tubuhnya yang semula duduk di kursi kayu dekat pintu keluar di bagian samping, kini berpindah dekat Marshal dengan posisi berjongkok.
"Kamu tahu aku ke mana saat malam itu?," ucap Hasan sambil berbisik.
"Ya gak tahu dodol," jawab Marshal.
"Sssttt."
Hasan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, mengisyaratkan pada Marshal untuk diam. Sebab lamat-lamat ia mendengar suara musik dari samping rumah.
"Kau dengar itu?," tanya Hasan.
"Iya. Aku dengar."
Keduanya lalu terdiam, saling menautkan kedua alisnya. Menamatkan apa yang sebenarnya sudah mereka dengar. Hingga ketika sama-sama tahu secara berbarengan mereka berkata, "Gamelan."
Yah, baik Marshal maupun Hasan telinga mereka mendengar alunan musik gamelan di malam hari di sebuah desa yang sunyi.
"Siapa yang bermain gamelan malam-malam begini?," tanya Marshal heran.
"Musik ini juga yang sudah membawaku pergi?,"
"Gamelan?,"
Hasan hanya mengangguk. Meski kebingungan, mereka tidak segera beranjak dari dapur. Keduanya tetap di sana. Marshal mengelus dan memijit jidatnya, memikirkan misteri baru yang muncul. Adakah misteri-misteri itu saling berkaitan?.