Marshal menutup matanya, demi mencari bayangan seorang ibu yang hangat dalam ingatannya. Ia lelah berkawan rindu, mencari penawar dalam selarik senyum dari pemilik wajah teduh bernama ibu.
"Mungkin memang aku yang dipilih. Yah, bukan saatnya untuk menyerah. Aku harus mengikuti permainan sambil terus berpikir untuk memecahkan misteri ini. Keselamatan teman-teman bergantung padaku. Aku playboy berhati baja, begitu kata mereka. Aku pasti bisa," gumam Marshal di dalam hati.
"Marshal, aku teruskan ceritanya ya," ucap Hasan.
"Gak usah. Kita tidur saja."
Marshal beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Hasan yang masih terbengong melihat sikapnya yang berubah dalam sehari, meski sifat playboynya masih ada.
"Aduh," pekik Marshal. Tubuhnya tanpa sengaja menabrak tubuh Aurelia.
Kali ini, ia tidak mendapat omelan dari Aurelia. Marshal juga acuh pada gadis itu. Ia benar-benar lelah. Satu-satunya aktifitas yang ingin dilakukannya adalah ia ingin segera tertidur pulas seperti yang sudah dilakukan Imam.
Marshal merebahkan diri di samping Imam, menenggelamkan seluruh tubuhnya di balik selimut tebal beserta seluruh resah yang bergelayut di dalam pikirannya, serta yang bersemayam di hatinya.
Esok adalah hari baru, di mana Marshal harus menjadi sosok yang lebih bisa berpikir jernih demi mengumpulkan kepingan misteri agar menjadi utuh dan mudah untuk di pecahkan.
Sementara Marshal pergi tidur, Hasan duduk di teras bersama Marshal yang masih menghabiskan sisa rokoknya. Dengan ragu, Hasan bertanya kepada Aurelia apakah ia juga mendengar suara gamelan.
"Apa kamu mendengar sesuatu?," tanya Hasan.
"Maksud kamu?." Aurelia tidak mengerti maksud dari kalimat tanya yang keluar dari mulut Hasan.
"Ya, mungkin kamu mendengar sesuatu yang janggal gitu atau apalah."
Hasan masih belum mengucapkan dengan jelas maksud dari ucapannya, ia sengaja berbelit agar Aurelia tidak mengetahui bahwa dirinya dan Marshal sudah mendapat teror dari dunia tak kasat mata.
"Aku hanya butuh kalimat yang jelas. Jawabanku mengikuti pertanyaanmu. Jika kamu jelas mengucapkannya, maka aku juga akan memberi jawaban yang jelas pula," ucap Aurelia tegas.
"Ah sudah lah kamu tidur saja," ucap Hasan.
Hasan menyerah, ia akan mengikuti Marshal untuk tetap diam. Tidak menceritakan kejadian-kejadian aneh yang sudah ia alami kepada siapa pun. Sekalipun itu kepada orang yang dekat dengannya.
Aurelia menatap curiga pada Hasan, bukan hanya Marshal yang terlihat aneh di matanya. Tapi juga Hasan, teman yang saat ini ia anggap dekat dengan Marshal.
Sama seperti Hasan dan Marshal, Aurelia berusaha menyembunyikan informasi yang ia anggap aneh saat ia mendengar dari kasak kusuk di tempat belanja. Sebenarnya ia ingin bertanya sesuatu pada Hasan, perihal menghilangnya Hasan kemarin malam.
Sebab di tempat belanja ia mendengar bahwa seorang gadis telah kembali muncul, gadis itu sedang berjalan dengan seorang pemuda. Aurelia menduga, gadis itu berasal dari dunia lain. Ia juga mendengar ibu-ibu di tempat belanja membahas tentang wadal.
"Sudahlah, ayo kita masuk," ajak Hasan kemudian.
Aurelia lalu masuk, ia bergabung bersama kedua temannya di kamar. Niatnya ingin tidur, namun pikirannya masih terjaga. Tugas menjadi asisten ketua selama KKN serta hal-hal aneh yang sudah dialaminya membuat pikirannya tetap terjaga dan susah untuk menidurkan matanya dalam mimpi panjang yang indah.
Setelah Aurelia masuk ke kamar, Hasan yang kedua. Ia lalu mengunci pintunya dan berbaring di samping Marshal yang mungkin sudah tertidur pulas, karena ia mendengar dengkuran halus keluar dari balik selimut.
"Marshal, Marshal, caramu ngorok kayak putri tidur wae. Aluuuss kayak aspal jalanan." Hasan tersenyum. Ia lalu meringkuk di dalam sarung, berangkat tidur dan kembali beraktifitas esok hari.
***
Hari sudah pagi, samar terdengar kokok ayam saling bersahutan. Rumah yang mereka tinggali berada di tengah halaman yang sangat luas, kanan kiri masih penuh dengan barongan, sedikit jauh dengan tetangga. Karenanya rumah itu terkesan berada di tengah hutan.
Jadwal rutin pagi sudah mulai bejalan. Sebelum memulai aktifitas, mereka akan melakukan senam bersama di halaman. Kegiatan tersebut nantinya akan ditawarkan juga kepada warga desa bagi yang mau.
Senam dipimpin oleh Amora, yang kebetulan aktif mengikuti senam aerobik di salah klub senam uang ada di kota. Semua teman mengikuti gerakan Amora. Tak terkecuali Marshal.
Sebenarnya, Marshal enggan mengikuti kegiatan senam pagi. Namun karena ini kesepakatan bersama dan ada sanksi berat menanti, mau tidak mau Marshal harus menanggalkan reputasinya sebagai play boy.
Marshal mengikuti senam dengan gerakan sekenanya, tampang wajahnya terlihat sangat tidak menyukai kegiatan itu. Ia masih bisa mentolerir untuk gerakan pemanasan, masih lumrah ia gerakkan kaki dan tangannya dengan minimalis. Namun pada gerakan inti, ia pasang muka membosankan, jadilah Marshal mengikuti gerakan inti dengan gerakan minimalis juga.
Beberapa anak kecil datang untuk melihat mereka senam, bahkan beberapa di antara mereka turut menirukan gerakan senam tersebut. Marshal tersenyum bahagia untuk itu. Wajah yang semula kusut, saat itu berbinar seperti selembar kain yang sudah disetrika.
Usai senam, Marshal lantas menghampiri anak-anak itu. Mengajaknya berbicara. Marshal memang menyukai anak kecil, mungkin karena ia anak satu-satunya yang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya berbagi mainan dan kasih sayang bersama saudara kandung.
Selain tidak pernah merasakan bermain bersama saudara kandung, Marshal juga tidak pernah merasakan kasih sayang dari Sang Ayah yang telah meninggalkan ibu serta dirinya demi perempuan lain.
Mungkin Marshal pernah mendapatkan kasih sayang dari Sang Ayah, namun ia tidak pernah mengingatnya sebab saat ayahnya pergi usia Marshal masih berumur dua tahun.
Marshal tidak pernah mendengar cerita buruk tentang Sang Ayah dari ibunya, ia justru mendengar cerita itu dari mulut perempuan yang sudah merebut kasih sayang Sang Ayah darinya. Jiwa Marshal masih labil, hingga ia lampiaskan itu kepada perempuan yang hanya melihat dirinya dari segi fisik dan materi.
Ia tidak pernah benar-benar berbagi hati kepada perempuan manapun, kecuali pada ibunya. Sebab itulah ia bisa dengan mudah berkencan dengan sepuluh wanita sekaligus dalam satu waktu, ia sangat pandai mengelabuhi wanita-wanita yang dipacarinya.
Apalagi jika wanita itu hanya mengincar harta, Marshal tidak perlu ambil pusing. Ia tinggal mentransfer sejumlah uang ke rekening wanita itu. Sebagai anak presdir sebuah perusahaan yang bergerak di bidang makanan, Marshal tidak pernah kekurangan untuk urusan materi.
"Nanti sore, kalian mau bermain bola di sini?," tanya Marshal pada anak-anak itu.
"Mau kak," jawab salah satu di antara mereka.
"Kalian, mau es krim?."
Marshal menawarkan es krim, makanan yang paling disukai oleh anak-anak. Ternyata semua anak-anak itu tidak terlihat bahagia, Marshal lalu bertanya karena penasaran.
"Kalian tahu es krim?," tanya Marshal.
Mereka menganggukkan kepala. Hal itu membuat Marshal cukup lega, sebab es krim bukanlah makanan aneh. Es krim sangat populer di kalangan anak-anak dan juga orang dewasa, namun ketika Marshal menyebut nama es krim tak nampak rona bahagia di wajah mereka.
"Terus?, Kalian tidak suka?," tanya Marshal sambil duduk di sebuah batu yang berukuran lumayan besar.
"Di toko dekat sekolah, es krimnya habis kak. Dan kami harus menunggu satu sampai dua minggu lagi untuk bisa kembali menikmati sepotong es krim.
"Kalau begitu nanti kakak akan belikan kalian jajan saja. Bagaimana?. Setuju?."
Tawaran Marshal disetujui oleh anak-anak itu. Ia sangat menguasai bagaimana cara mendekati anak-anak, seolah dirinya pernah ribuan kali mengasuh anak kecil. Padahal dia seorang cowok.
"Oke. Sekarang kalian pulang. Mandi, lalu, berangkat ke sekolah. Jangan lupa sarapan ya."
"Siap kak," ucap salah satu di antara mereka.
Marshal terus melihat langkah mereka pergi, hingga benar-benar menghilang. Baru beberapa langkah masuk kembali, Marshal merasa matanya telah menangkap sesuatu, ia seperti melihat Anisa sedang mengawasi dirinya.
Marshal kembali ke jalan semula, guna memastikan bahwa memang ada seseorang yang sedang mengamatinya Ternyata tidak ada. Ia terdiam di sana, padahal ia sudah bersiap untuk mengajak Anisa mengobrol demi mendapatkan informasi soal kepingan misteri yang ia miliki.