Entah dapat pikiran dari mana, Marshal ingin mengorek info tentang Misteri Desa Awu Awe dari Anisa. Padahal ia melihat dengan jelas bagaimana sosok itu tetiba menghilang di depan matanya, dengan tawanya yang misterius.
Marshal juga tidak berpikir, apakah ia punya cukup keberanian untuk berbicara dengan Anisa yang jelas-jelas gadis itu mungkin berasal dari dunia tak kasat mata.
"Menunggu apa?."
Suara Aurelia mengagetkan Marshal yang sedang berdiri di tepi jalan. Sejak kejadian kemarin, Aurelia seolah terus mengawasi Marshal. Ia mencurigai Marshal telah menyembunyikan sesuatu dari teman-temannya dan itu sudah membuat Aurelia penasaran, namun ia enggan bertanya.
Aurelia berpegang teguh pada sumpahnya, bahwa dirinya tidak akan pernah berteman baik dengan Marshal, lelaki yang terkenal Playboy di kampusnya itu.
"Eh, nona manis dan imut. Ngagetin aja," ucap Marshal yang masih bersikap manis pada Aurelia. Meski berkali-kali gadis itu bersikap dingin padanya.
"Ish, dasar Playboy," rutuk Aurelia sambil berlalu.
Di mata Aurelia, Marshal adalah sosok lelaki yang sama seperti di dalam pikiran seluruh perempuan di kampus, bersikap manis pada semua gadis, acuh pada semua kegiatan kampus, acuh pada pelajaran, semau gue, dan malas. Ia belum melihat sisi baik dalam diri Marshal.
Termasuk saat melihat Marshal berbincang santai dengan para bocah beberapa saat yang lalu, hal itu belum cukup untuk menarik simpati dari Aurelia. Marshal bukan sosok yang istimewa di matanya.
Termasuk juga saat ia menyadari dirinya telah pingsan di halaman, Aurelia tidak tahu bahwa dirinya sudah kerasukan makhluk tak kasat mata meski hanya sebentar dan tidak ada yang tahu. Meski sadar ia harus berterimaQ
"Jangan ngikutin aku," ucap Aurelia memperingatkan Marshal.
"Lah, siapa yang ngikutin. Orang aku juga mau masuk ke rumah," ucap Marshal membela diri.
Aurelia tidak menyangkal itu karena memang mereka tinggal dalam satu rumah bersama dengan teman yang lain, ia akan tampak seperti orang bodoh jika melarang Marshal masuk tanpa alasan. Namun ia cukup menanggung malu karenanya.
Rutinitas pagi harus dijalani oleh semua penghuni rumah rongrawe, sebab itu adalah peraturan yang sudah disepakati bersama oleh mereka tanpa paksaan.
Hari ini, Marshal terlihat lebih bersemangat dibandingkan dengan hari kemarin. Setidaknya itu yang diucapkan Hasan pada Marshal ketika mereka berdua memutuskan untuk membersihkan rumput liar di samping rumah.
Maksud lain menyertai semangat Marshal dan Hasan untuk membersihkan halaman samping yang terlihat rungsep tidak terurus, yakni melihat kondisi area belakang yang menjadi sumber terdengarnya bunyi gamelan.
Marshal dan Hasan sudah merencanakan itu tadi pagi sebelum mereka melakukan senam bersama. Meski mereka berdua sedang merencanakan sesuatu, namun rencana itu mereka rahasiakan dari Nakula dan Imam. Padahal mereka berempat yang bertugas membersihkan halaman samping.
Baik Marshal maupun Hasan, keduanya masih enggan untuk bercerita tentang hal-hal aneh yang sudah dialami oleh mereka berdua.
Setelah satu jam memberantas habis sebagian rumput dan ilalang, halaman samping terlihat sedikit rapi dan bersih. Lalu Marshal dan yang lain memutuskan untuk beristirahat sebentar, demi mengusap peluh yang memenuhi seluruh area wajah.
"Kamu melihat ada hal yang aneh?," tanya Hasan.
Marshal menjawabnya hanya dengan gelengan kepala, sebab ia merasa begitu lelah, napasnya ngap ngap hingga ia serasa ingin pingsan karena dehidrasi. Hasan menawarkan minuman padanya, ia pun langsung menyahut botol mineral yang tersisa separuh isinya lalu meminumnya hingga habis.
"Ya, dihabiskan," sesal Hasan.
"Ah, tinggal berteriak minta lagi sama Amora," ucap Marshal.
"Hehehe, tahu aja kamu siapa gadis yang aku taksir," ujar Hasan dengan tersipu malu.
"Eh kamu masih hutang cerita lo sama aku," ucap Marshal menagih cerita pada Hasan tentang menghilangnya sosok Hasan itu.
"Soal?," jawab Hasan dengan melempar pertanyaan. Ia tidak lupa, hanya memastikan bahwa cerita itu masih menarik bagi Marshal yang bersifat acuh
"Ah, sudahlah. Gak penting juga," jawab Marshal asal. Sebenarnya ia penasaran, dan berharap ada informasi baru dari cerita menghilangnya Hasan yang bisa ia gunakan untuk memecahkan misteri ini.
Marshal masih mempunyai dua orang untuk dijadikan informan, namun ia harus menunggu waktu yang tepat untuk mengorek informasi dari dua orang tersebut. Sebab tugas KKN nya masih banyak yang harus dikerjakan, dan itu seharusnya menjadi tugas yang jauh lebih penting dibanding harus mencari tahu cara untuk memecahkan misteri teror yang menimpanya.
Sayangnya Marshal lebih mementingkan untuk fokus memecahkan misteri itu, di sela ia melaksanakan deadline tugas KKN yang sudah ia susun bersama timnya.
Sesuai peraturan yang ada di dalam kesepakatan pula, para lelaki dilarang berhenti bekerja sebelum para gadis menghentikan mereka sebelum sarapan mereka siap. Maksud dari dibuatnya peraturan tersebut adalah untuk mempersiapkan para lelaki itu menjadi lelaki yang bisa berbagi tugas dengan pasangannya dalam mengurus rumah tangga yang memang sudah menjadi kewajiban setiap pasangan.
"Mari kita lanjutkan," ajak Nakula sambil sedikit berteriak karena jarak antara dirinya dengan Marshal dan Hasan cukup jauh, sekitar dua puluh meter.
Marshal bersama Hasan sudah sampai di belakang rumah rongrawe. Meski tidak mempunyai kesaktian supranatural, Marshal merasakan hawa aneh di sana.
Bau anyir menyeruak dari sebuah pohon bambu dengan batang yang tumbuh berdiri tegak lurus ke atas. Entah karena tumbuh di daerah yang lembab atau karena sebab lain Marshal tidak tahu itu.
"Hasan sini," panggil Marshal.
"Kamu merasakan sesuatu?," tanya Hasan.
"Apa mencium bau aneh?." Kembali Marshal bertanya sambil melihat ke sekeliling.
Hasan mengenduskan penciumannya, hidungnya hanya membau tanaman yang terkena air embun, wangi hijau dedaunan yang menenangkan.
"Gak ada aroma aneh Marshal," jawab Hasan.
Kedua netra Marshal lalu fokus pada sesuatu yang ada di balik barisan rumput gajah yang menjulang tinggi, area itu memang belum dibabati oleh Marshal dan Hasan.
Marshal segera mengayunkan sebilah arit yang ada di tangannya untuk menebang barisan rumput gajah yang ada di depannya demi bisa melihat apa yang tersembunyi di balik rerumputan itu.
Benar gugaan Marshal, ia melihat satu lagi sebatang pohon bambu yang tumbuh lurus memanjang ke atas, bentuknya persis seperti pohon bambu yang sudah ia lihat sebelumnya.
"Pohon yang sama," gumam Marshal lirih yang ternyata suara itu didengar oleh Hasan.
"Apa maksud kamu?," tanya Hasan keheranan.
"Perhatikan pohon bambu yang itu dan pohon bambu yan ini," ucap Marshal sambil menunjuk ke arah pohon bambu yang berjarak dua meter secara bergantian. Marshal mulai menemukan keanehan lagi.
"Memang kenapa?," tanya Hasan. Ia masih belum bisa menemukan titik keanehan dari kedua pohon bambu itu.
"Perhatikan panjangnya, perhatikan jaraknya, perhatikan pula warna dan bentuknya," perintah Marshal pada Hasan. Sama dengan Hasan, Marshal pun kembali melihat dengan cermat setiap sisi dari pohon itu.
"Ternyata bentuknya sama, panjangnya sama, warnanya, letaknya sejajar hanya saja berjarak. Itukah yang kamu maksud Marshal?." Rupanya Hasan sudah menemukan apa yang dimaksud Marshal.
"Menurutmu, adakah yang aneh?," tanya Marshal. Padahal yang sebenarnya ia sudah mendapat jawaban bahwa kedua pohon bambu itu lebih mirip dengan sebuah gerbang. Hanya saja ia masih butuh pembuktian untuk menguatkan prasangkanya.
Kali ini ia tidak mau dianggap sok tahu, karena sifatnya yang tidak mau tahu itu. Lebih dulu, Ia harus mengumpulkan semua bukti serpihan misteri itu bahwa serpihan itu memang masih terkait sebelum akhirnya ia umumkan ke semua temannya, bahwa keselamatan mereka sedang dipertaruhkan.
"Ah, hanya pohon biasa saja. Pohon yang kebetulan tumbuh dengan bentuk yang sama saja. Gak lebih Marshal. Sudah ayo kembali." Hasan mulai ketakutan, karena itu ia menanggapi perkataan Marshal dengan jawaban yang logis.
"Kamu pergi saja dulu, aku masih harus memastikan lagi." Marshal masih kekeh dengan sikapnya. Ia tidak mau beranjak sebelum menemukan bukti.
Benar saja, Marshal menemukan sebuah tulisan dengan menggunakan aksara jawa yang terukir di bagian pohon yang paling bawah. Namun Marshal tidak bisa mengartikannya, sebab ia tidak pernah serius dalam pelajaran bahasa jawa.
"Ah, sudahlah. Ayo kita balik. Nakula juga sudah memanggil." Hasan menarik tangan Marshal, hinggai lelaki berjambang itu sempat terjungkal.
"Tunggu."
Marshal menahan langkahnya, yang kemudian diikuti oleh Hasan yang juga turut menghentikan langkahnya. Ia berjongkok di depan pohon bambu yang satunya, lalu memeriksa batang pohon bambu di bagian paling bawah. Ternyata benar, di pohon tersebut juga terukir sebuah kata dengan menggunakan aksara jawa.
Marshal tidak bisa memeriksa kedua batang pohon tersebut, apakah mempunyai bentuk huruf yang sama atau tidak. Sebab Hasan keburu menarik tangannya untuk kembali masuk ke dalam dan membersihkan diri lalu sarapan. Agenda hari itu adalah bersilaturrahmi dengan warga di balai desa.