"Tunggu, aku akan kembali ke sana. Kamu masuk saja duluan."
Rasa penasaran Marshal terlalu kuat untuk kembali ke dalam rumah. Ia tidak bisa membiarkan dirinya berada dalam keresahan. Hingga ia memutuskan untuk kembali memeriksa aksara jawa yang terukir di batang pohon bambu itu.
Idealnya pohon itu semakin hari akan semakin tumbuh ke atas, memiliki cabang pohon yang bertambah, daun yang gugur dan kembali bersemi. Namun pohon yang kini ada di hadapan Marshal seperti permanen, tidak bisa tumbuh sebagaimana mestinya.
Sejak kapan pohon ini tumbuh?, sejak kapan tulisan itu diukir?, Siapa yang merawatnya?, Bagaimana cara orang yang merawat itu berjalan, sementara tidak ada jejak kaki di sana?, Bagaimana dan semua tentang bagaimana. Pertanyaan itu terus saja berlayar di benak Marshal.
"Tulisannya timbul, berarti aksara jawanya tidak di ukir tapi di cap dari dalam," ucap Marshal sambil terus meraba batang pohon bambu itu.
"Ah iya, aku harus memeriksa bentuk aksara jawanya."
Gegas Marshal memindahkan tubuhnya ke pohon bambu yang ada di seberang pohon yang satunya, bolak balik ia memastikan bahwa bentuk aksara itu tidak sama.
Baginya semua huruf aksara jawa itu sama, hanya terdiri dari bentukan garis tegak dan lengkung. Kurangnya pemahaman tentang aksara jawa membuat Marshal sedikit kesusahan dalam membedakan apakah aksara jawa dari kedua pohon itu sama.
Pada akhirnya ia putuskan hanya melihat bentuk aksara yang awal saja. Ia amati dengan benar bentuk aksara dari satu sisi pohon bambu, lalu mengingatnya pada sisi pohon bambu yang lain guna mencari perbedaan dari aksara yang tertulis di kedua pohon.
Sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran Marshal, kedua pohon bambu itu mempunyai bentuk aksara jawa yang tidak sama. Namun tetap saja, Marshal tidak bisa membacanya. Nilai C pada mulok pelajaran bahasa jawa sudah cukup menjadi bukti bahwa semasa sekolah Marshal kurang menguasai mata pelajaran tersebut.
"Oke, besok aku akan kembali ke sini dengan membawa kertas. Akan ku tulis, lalu ku terjemah dengan bantuan gugel," gumam Marshal lirih.
Ia pun memutuskan kembali masuk, untuk mandi lalu sarapan dan melanjutkan agenda kegiatan KKN bersama temanya yang lain.
Ketika ia berdiri, lagi lagi ada sosok yang menurutnya bahwa itu Anisa. Tanpa berpikir panjang, Marshal mendekatkan langkahnya untuk bertemu dengan gadis itu.
Marshal berusaha mempercepat langkahnya agar bisa segera berbincang dengan Anisa. Namun entah kenapa, semakin Marshal berlari, gadis itu semakin jauh.
"Huft, huft, huft."
Marshal menghentikan langkahnya. Bahunya naik turun, deru napasnya keluar masuk begitu cepat. Ia letakkan kedua tangannya pada kedua lutut, menyangga tubuhnya yang kelelahan.
"Sial. Siapa kamu sebenarnya?. Kenapa kamu selalu memamerkan senyummu yang kini membuatku muak?. Siapa kamu?," gumam Marshal dalam hati.
Ia melihat gadis itu masih tersenyum, bahkan senyumannya semakin lebar setelah Marshal melihat ke belakang dan menemukan kenyataan bahwa dirinya sudah pergi terlalu jauh dari rumah rongrawe.
"Aku harus kembali. Lain kali aku pasti punya kesempatan untuk bertemu kamu. Aku yakin itu," gumam Marshal lirih.
Dari tempatnya berdiri, rumah rongrawe terlihat begitu kecil. Ia harus berjalan cukup jauh, menembus semak belukar yang tumbuh subur. Jika tadi demi bertemu dengan Anisa, ia tidak peduli dengan jalan yang ia lewati, tapi kini ia harus lebih berhati-hati terhadap hewan-hewan melata yang mungkin bisa membahayakan nyawanya.
"Hasan pasti khawatir," seru Marshal di dalam hati.
Lamat-lamat dari tempatnya berdiri, terdengar suara Hasan memanggil namanya. Sengaja ia tidak menjawabnya, karena ia pikir Hasan pasti tidak akan mendengar suaranya. Ia tidak mampu berteriak, tenaganya sudah habis saat ia berlari mendekati Anisa. Ia sangat lelah. Belum juga sarapan, tadi pagi ia hanya minum segelas air putih pas bangun tidur.
"Akhirnya," ucap Marshal dengan suara yang sangat lemah.
Setelah melewati jalan panjang di antara rumput ilalang, Marshal akhirnya sampai di rumah rongrawe. Tenaganya benar-benar habis, hingga ia tidak berdaya untuk membuka handle pintu. Tubuhnya terhuyung menubruk pintu yang terbuat dari seng, hingga menimbulkan suara yang sangat keras.
"Bruak. Bruak. Bruak."
Seketika semua teman-temannya berhamburan keluar menuju ke tempat sumber suara.
Mata mereka terbelalak melihat kondisi Marshal yang terkulai lemah tidak berdaya. Hasan dan Imam berusaha mengangkat tubuh Marshal yang seperti tidak bertulang, tubuh itu terasa sangat berat. Mereka membopongnya masuk ke ruang tamu.
"Ayo cepat gelar tikar berlapis, selimuti dia dengan beberapa lembar selimut yang kalian miliki. Aku akan mengambilkan kompres," ucap Aurelia gelisah.
Semua menatap aneh pada sikap Aurelia yang selama ini kaku, apalagi terhadap Marshal. Aurelia seolah memasang perisai untuk melindungi dirinya agar tidak tergoda dengan Si Playboy Marshal. Namun sikap peduli yang baru saja Aurelia tunjukkan, seolah mematahkan anggapan itu semua.
"Hey, Marshal tidak demam. Ia hanya kelelahan," ucap Hasan tegas dengan tatapan sedikit geli pada Aurelia. Ia mengira Aurelia memang sosok perempuan berhati keras, yang hatinya tidak mudah diluluhkan oleh serangan rayuan yang beberapa kali diluncurkan Marshal.
Nyatanya, ia kelabakan begitu mengetahui kondisi Marshal yang tidak berdaya. "Ah iya benar. Akan aku buatkan teh hangat." Gegas Aurelia pergi ke dapur.
Sementara teman yang lain, sibuk mengurus Marshal. Mereka tidak melihat siapa Marshal di kampus. Di tempat yang jauh dari keluarga dan orang yang dikenal, mereka harus saling menolong. Berangkat dengan tujuan yang sama, harus saling menjaga, serta menjunjung tinggi rasa kemanusiaan.
"Amora, tambahkan minyak kayu putih di telapak kakinya," perintah Hasan yang melihat Amora sedang memegang botol minyak kayu putih.
Amora mengusap telapak kaki Marshal yang terasa sangat dingin itu dengan minyak kayu putih. Hasan juga sibuk menggulingkan tubuh Marshal, lalu mengoleskan minyak kayu putih ke seluruh punggung yang juga terasa sangat dingin.
"Kita harus menghangatkan tubuhnya, agar ia bisa segera sadar," ucap Hasan.
"Nakula, apa kamu bisa memberi jampi-jampi seperti yang pernah kamu berikan pada Hasan pagi itu?," celetuk Amora.
"Ah iya benar, waktu itu kamu memberi Hasan minuman yang sudah kamu beri jompa jampi." Husna juga ikut bersuara.
"Aku tidak yakin itu akan berhasil. Karena aku lihat Marshal sudah mulai berinteraksi dengan mereka," ujar Nakula dengan tatapan penuh misteri. Nakula memang tidak banyak bicara, ia lebih banyak mengamati apa yang ada disekitarnya.
"Dicobalah dulu," ucap Hasan yang kemudian mendapat dukungan dari Amora, Husna, dan Imam.
Nakula sedikit menggeser tubuhnya ke sudut ruangan untuk mengambil air mineral, ia membuka penutup gelas air mineral, lalu memulai membaca doa doa tertentu yang ia warisi dari mbah buyutnya.
"Tunggu."
Aurelia memotong kegiatan Nakula yang sedang mengucapkan doa doa, yang kata Amora sedang membuat jompa jampi.
Aurelia menyodorkan segelas teh manis ke Nakula, dengan maksud agar teh tersebut juga diberi jompa jampi oleh Nakula. Pemuda itu pun menuruti apa yang diinginkan oleh Aurelia.
"Hasan tolong kamu sanggah tubuh Marshal," pinta Nakula.
Pelan-pelan Nakula menyuapi Marshal teh hangat yang sudah bercampur doa doa. Benar sajak, seketika Marshal akan muntah.
"Huwek, huwek, huwek."
Reaksi tubuh Marshal sangat cepat. Entah karena teh manis hangat yang memang bisa untuk mengembalikan tenaga seseorang yang sedang dehidrasi, atau karena doa yang sudah tercampur dalam segelas teh manis. Bisa juga karena efek rasa hangat dari minyak kayu putih yang dibalurkan ke seluruh tubuhnya.
Ruangan menjadi gaduh saat mendengar suara Marshal yang hendak muntah, hal itu membuat mereka semua sibuk mencarikan sesuatu yang bisa untuk menampung isi perut yang dimuntahkan Marshal.
"Aku sudah gak papa," ucap Marshal dengan suara yang begitu leman. X
Gak jadi muntah to?," ucap Amora .
Marshal tertatih saat akan menyandarkan tubuhnya ke tembok yang berada di belakangya, merasakan hentakan napasnya yang masih tidak beraturan.
Melihat tubuh Marshal yang begitu lemah, gegas Hasan mengambil nasi ke belakang. Ia tahu Marshal belum makan apa pun sejak pagi, mungkin itu yang sudah membuat Marshal pingsan.
"Baik. Melihat kondisi Marshal yang sudah membaik, maka yang lain segera bersiap untuk melanjutkan agenda kegiatan kita," perintah Nakula selaku kepala suku di rumah itu.
"Hasan kamu temani Marshal di sini," ucap Nakula lagi.
"Ah, tidak. Aku akan ikut kalian. Tapi aku berangkat belakangan. Ku habiskan dulu sarapannya, baru setelah itu akan ikut," sahut Marshal.
Sembari menghabiskan makanannya, ia kembali berpikir tentang pohon bambu. Juga tentang tulisan aksara jawa yang ada di batang pohon bambu itu.
Untuk sementara, Marshal tidak akan bercerita pada Hasan. Bukan tentang tumbuhnya pohon bambu yang misterius sebab Hasan sudah mengetahui akan hal tersebut, tapi tentang alasan dirinya berlari masuk hingga terlalu jauh dari tempat berdirinya rumah rongrawe.
"Sudah aku bilang, jangan selalu penasaran dengan hal apa pun di sini. Bahaya Marshal," nasehat Hasan yang melihat kondisi tubuhnya sudah sangat membaik.
Marshal sangat mengerti dengan kalimat itu. Ia bisa saja abai pada peristiwa peristiwa aneh tersebut, namun ia tidak bisa. Semua teror misteri itu seolah sudah terikat dengan dirinya, seolah sudah menunjuk Marshal sebagai seseorang yang mampu memecahkan misteri itu.
"Habis ini kamu berangkat duluan ke Balai Desa, nanti aku menyusul," ucap Marshal pada Hasan.
Marshal sedang merencanakan sesuatu agar misteri-misteri itu segera terpecahkan, namun mampukah dirinya menghadapi kemungkinan terburuk itu sendirian?.