Marshal sudah menyuruh Hasan untuk berangkat lebih dulu, ia bisa berangkat sendiri. Ia merasa kondisi tubuhnya sudah stabil.
"Tidak, aku akan menunggu kamu."
Hasan memutuskan untuk menunggu Marshal sampai ia selesai menukar bajunya yang kotor dan bau itu dengan baju yang baru.
"Aku lama lo," jawab Marshal
"Gak papa. Aku akan menunggu."
"Ah kamu. Sok setia sama aku. Kalau cewek pasti sudah aku jadikan pacar spesial," canda Marshal.
Marshal berusaha mencairkan suasana, lebih tepatnya mencairkan pikiran dan hatinya agar tidak terlalu fokus memikirkan misteri yang sudah membuatnya resah.
"Ih, ogah. Najis. Mending nyari yang lain saja," tolak Hasan dengan jelas.
"Hahahaha, seburuk itukah aku jadi pasangan kekasih?. Sampai yang cowok pun ogah pacaran sama aku?," keluh Marshal.
"Makanya tinggalin itu posisimu sebagai Playboy. Cari gadis yang baik-baik, yang mau menerimamu Sang Mantan Playboy," nasehat Hasan.
"Ada kandidat gadis yang baik?," tanya Marshal masih dengan nada bercanda.
"Aurelia, Husna, tapi jangan Amora."
"Ya, ya, ya. Andai Aurelia bisa semudah itu aku lumpuhkan seperti gadis yang lain, mungkin aku sudah berpacaran sama dia," keluh Marshal.
"Usahamu kurang kali bang," ledek Hasan.
"Eh, untuk urusan mendapatkan hati cewek, aku hanya perlu tersenyum sekali saja, mereka sudah nemplok sama aku," ujar Marshal membanggakan dirinya.
Perkataan Marshal memang benar, untuk urusan meluluhkan hati cewek, dia paling jago. Keahliannya itu diimbangi dengan anugerah wajah ganteng yang ia miliki, sehingga cukup sekali tebar pesona para gadis sudah rela memberikan nyawanya pada Marshal.
Semua gadis yang dipacari Marshal sudah tahu bagaimana sikap lelaki yang membiarkan rambutnya tumbuh memanjang itu. Meski berkali-kali sakit hati karena mendapati Marshal bermesraan dengan gadis lain, mereka tetap saja kembali datang pada Marshal.
"Hem, jangan sombong. Wajah gantengmu itu dipatok ayam baru tahu rasa lo," rutuk Hasan yang terkadang suka geregetan melihat temannya itu tidak tobat menjadi playboy.
"Hem jangan iri dong. Hahahhaha."
Marshal tertawa geli melihat perdebatannya dengan Hasan pagi itu.
"Sudah ayo cepat ganti baju," perintah Hasan agar Marshal bergegas mandi dan berganti pakaian.
"Sudah aku kamu pergi saja dulu, nanti aku menyusul," pinta Marshal.
"Tidak. Aku tidak mau meninggalkanmu sendirian."
Hasan pun tetep kekeh tidak mau meninggalkan temannya itu sendirian, sebab ia yakin Marshal akan kembali ke pohon bambu yang tadi.
"Kamu kenapa sih?," tanya Marshal heran.
"Kamu itu yang kenapa?," bentak Hasan yang berhasil membuat Marshal menuruti semua perkataan Hasan. Termasuk berangkat bareng ke balai desa.
Hasan membentak Marshal bukan tanpa alasan, ia sangat khawatir dengan Marshal yang menjadi sering melamun dan berkata bahwa ia sering melihat seorang gadis berbaju hitam.
Padahal ia ingat betul saat pertama kali survei ke Desa Awu Awe, Pak Rt setempat mengingatkan bahwa jangan pernah penasaran ketika tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis di jalan. Sebab disitulah pintu lorong waktu akan terbuka, seolah memberi pesan pada Sang Penguasa dunia lain Desa Awu Awe bahwa ada tumbal yang tepat untuk memperpanjang umurnya.
Dan sore itu, di saat langit sedang menurunkan rintik hujan, Hasan dan Marshal melihat sosok gadis berbaju hitam. Entah gadis itu yang dimaksud atau bukan, yang jelas Marshal sudah terlanjur penasaran sebelum Hasan sempat memberitahu apa isi pesan dari Pak Rt.
"Oke. Kita berangkat. Tapi...." Marshal menghentikan ucapannya. Ia memancing rasa penasaran Hasan.
"Halah lebay kamu Marshal, pakai syarat segala. Sudah ayo berangkat. Gak ada syarat-syarat atau t***k bengek," ucap Hasan sambil mengunci pintu.
Selama perjalanan, Marshal tidak banyak bicara, ia lebih sering bersiul dari pada harus mengatakan rencana yang sudah ia susun. Ia tahu, Hasan pasti akan menghentikan rencananya ketika tahu bahwa dirinya sudah terlalu ikut campur dengan dunia yang tidak seharusnya ia masuki.
Namun, Marshal punya sudut pandang yang berbeda. Ia merasa teror itu berkesinambungan, harus dipecahkan. Kejadian sekali masih bisa diacuhkan oleh Marshal, ia akan beranggapan bahwa teror itu hanya ketidak beruntungan dirinya yang sudah mengalami peristiwa horor.
Ternyata peristiwa itu datang berkali-kali, keanehan demi keanehan sudah mengganggu pikirannya, mengusik ketenangannya, hingga pada kejadian yang terakhir tentang tulisan aksara jawa yang terukir di batang pohon bambu. Ia yakin seratus persen bahwa dirinya memang sudah pilihan.
"Kamu ngapain lihat-lihat ke belakang?," tanya Hasan yang mencurigai sikap Marshal.
"Ih, kamu ya sudah seperti ibu tiri saja. Galak," protes Marshal.
"Ini demi keselamatan kita Marshal," jelas Hasan. Selama ini lelaki itu tidak pernah bersifat serius. Ia selalu menunjukkan sisi humoris dari sifatnya.
"Oke. Terima kasih sudah mencemaskan hidupku," pungkas Marshal agar obrolan mereka tidak menjadi panjang dengan bumbu keseriusan.
Entah kenapa, Marshal merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya, membidik langkahnya hingga ia merasa sangat tidak nyaman. Namun, tidak ada seorang pun yang berjalan di depannya. Kecuali warga desa yang datang dari arah berlawanan.
"Sudah ayo, kita membaur dengan teman yang lain," ujar Hasan.
Marshal langsung duduk bersama teman yang lain. Ia mengikuti jalannya acara yang sebelumnya sudah diagendakan. Mendengarkan Nakula menjelaskan rencana kegiatan mereka selama dua minggu berada di Desa Awu Awe. Termasuk kegiatan yang diusulkan oleh Pak Kades yakni acara Mangkurawe.
Sembari mengamati satu persatu wajah desa tersebut, kedua manik mata Marshal berhenti di sosok perempuan tua pembawa tongkat, yang pernah diantar pulang oleh Marshal.
Binar bahagia di mata Marshal tidak bisa ia sembunyikan, pertemuan yang memang sangat ia harapkan. Ia meyakini bahwa nenek itu pasti mengetahui sesuatu tentang misteri rumah rongrawe. Si nenek orang yang sudah lama menjadi warga Desa Awu Awe.
Hingga acara selesai, Marshal terus mengawasi Si nenek agar tidak kehilangan sosok itu. Padahal ia bisa saja datang bertamu ke rumahnya. Meski usianya sudah menua, Si Nenek masih semangat mengikuti acara di Balai Desa. Berjalan tertatih dengan ditemani sebilah tongkat. Sungguh semangat yang harus dicontoh oleh Marshal.
Marshal tinggalkan sebentar Si Nenek yang masih fokus mendengarkan pemateri, ia edarkan kembali mengamati satu persatu wajah-wajah yang duduk di depannya. Ah, hatinya terhentak pada sosok perempuan dengan wajah yang sangat pucat, dengan pandangan mata kosong.
Wajah itu mengingatkan Marshal pada tokoh hantu yang sering digambarkan dalam film-film bergenre horor. Ia mengamati sosok berwajah pucat itu, menatapnya dengan tajam hingga tanpa ia sadari sosok itu membalas tatapannya. d**a Marshal berdegup sangat kencang, kala tatapan mereka saling bertemu dan terkunci. Ia merasakan tubuh dan mulutnya kaku, suaranya tercekat. Tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.
Sosok itu tersenyum menyeringai. Ruangan menjadi gelap, cahaya hanya menyorot ke arah sosok tersebut. Ruangan itu seolah hanya ada Marshal dan sosok tersebut. Mata Marshal membulat sempurna, keringat dingin mulai bercucuran. Tubuhnya semakin menggigil, kala sosok itu mendekati tubuh kakunya tanpa melangkahkan kaki sejengkal pun.
Wajah Marshal begitu dekat dengan sosok itu, hingga ia bisa menghirup aroma anyir dari tubuh itu tapi ia tidak bisa merasakan hangat napas dari sosok tersebut.
"Kamu siapa?. Jangan ganggu aku?. Pergi," gumam Marshal dalam hati. Binar kemarahan di matanya pastilah bisa diartikan oleh sosok itu, sebab setelahnya Marshal mendengar dengan jelas sosok itu berkata "Jangan percaya padanya."
Ya, Marshal mendengar kalimat itu dengan jelas meski diucapkan dengan suara yang sangat lirih, sebelum akhirnya sosok itu terbang dengan lengkingan tawa yang sangat memekakkan telinga.
"Hai, Marshal." panggil Hasan lirih yang duduk di sampingnya.
"Hah, hah, hah." Marshal membuang napasnya dengan kasar. Ia merasa cukup lega, ia bisa kembali menghirup oksigen.
Setelah mampu mengendalikan diri dan mengatur napasnya, Marshal kembali mengedarkan pandangan matanya. Sosok itu sudah tidak ada. Ia merasa lega.
Marshal lalu teringat dengan Si Nenek. Ia alihkan padangan matanya menuju kursi tempat duduk Si Nenek, ternyata Ia juga kehilangan sosok tua itu. Rasa kecewa mendera perasaannya, namun tidak lama sebab nanti ia bisa berkunjung ke rumah Nenek.
Tidak terbesit di dalam benak Marshal bahwa Si Nenek adalah sosok yang tadi menyeramkan. Tempat duduk mereka tidak sama, meski berjarak lumayan dekat. Pastilah bukan sosok yang sama. Ia tinggalkan pikiran tentang Si Nenek dan sosok menyeramkan tadi. Kini ia kembali memusatkan pikirannya pada acara.
Satu persatu semua mahasiswa menyampaikan tugasnya masing-masing, hingga sampai pada Marshal yang harus memberi sambutan sebagai mahasiswa pemandu acara untuk anak-anak.
Selain menyampaikan agenda kerja dirinya, Marshal juga harus mendengar usulan serta pertanyaan membangun dari warga. Seluruh saran dan pertanyaan ia tampung dan ia catat di note ponsel pintarnya.
"Saya mau bertanya," ucap seorang gadis dengan mengangkat tangannya.
Marshal kaget, melihat Anisa yang akhirnya bersuara dan bertemu dengan dirinya di majlis tersebut.
"Iya silahkan," jawab Marshal.
"Saya hanya ingin mengatakan bisakah kita bertemu di gerbang
?," tanya Anisa yang melenceng dari topik pembahasan Marshal.
"Maksudnya dengan bertemu di gerbang?," tanya Marshal yang kurang memahami dengan jelas maksud pertanyaan Anisa.
Gadis itu hanya terdiam dan melempar senyum kepada Marshal. Ia terus mengulangi kalimat yang sama pada Anisa, namun tak kunjung mendapat jawaban.
"Hai, Marshal apa yang kamu ucapkan. Gerbang apa maksud kamu?," ucap Hasan tiba-tiba.
"Itu aku menjawab pertanyaan gadis itu," tunjuk Marshal dengan suara terbata setelah melihat bahwa yang duduk di sana bukan Anisa, namun gadis kecil dengan rambut yang dikepang dua.
"Hai kamu jangan melamun," ucap Hasan mengingatkan.
"Maaf, saya kurang fokus. Kamu tanya apa dek tadi?."
Marshal menanggung malu atas apa yang sudah terjadi di lobi balai desa. Semua mata tertuju padanya, tak terkecuali Aurelia yang menatapnya penuh curiga.