"Anak-anak cepet banget bawa motornya, padahal jalannya rusak begini," ujar Marshal sambil menepuk beberapa kali bahu Hasan yang tak banyak bicara sejak tadi.
Marshal bingung melihat tingkah Hasan yang tidak mengeluarkan satu katapun, padahal biasanya dia yang paling aktif berbicara ketika mereka sedang berboncengan.
"San, kamu gak salah jalan kan?," tanya Marshal sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar jalan yang mereka lewati.
Mata Marshal hanya melihat rerimbunan semak belukar di sekitar jalan yang mereka lalui, suasananya sangat sepi. Bahkan jalan lebar yang tadinya penuh bebatuan kecil, kini mulai mengerucut dan hilang tergantikan oleh jalan setapak yang panjang.
Bersama dengan menghilangnya jalanan yang lebar, derasnya hujan juga turut lenyap. Marshal merasakan aura yang aneh, ia mulai merinding dan mencoba mengelus pelan tengkuk lehernya walau sedikit susah karena terhalang helm.
"Hasan," panggil Marshal. Namun lelaki yang sedang memegang kendali motor itu tidak merespon panggilannya. Ia ulangi lagi sampai tiga kali.
"HA.SA.N." Marshal mengeraskan suaranya, pukulan yang sangat keras juga turut serta bersama dengan lengkingan suaranya.
Hasan tetap diam. Ia seolah tidak mendengar suara Marshal, dan juga tidak merasakan kerasnya pukulan dari sahabat yang sudah bersamanya sejak keduanya masuk kuliah.
"Wah, ada yang tidak beres dengan anak ini. Aku harus baca apa ini?." Marshal berusaha tidak panik, ia teringat pesan mamanya untuk membaca ayat Al Qur'an saat mendapat serangan aura negatif, sebisa yang ia hapal.
Mulut Marshal mulai sibuk komat kamit membaca segala jurus penangkal makhluk halus, yang katanya takut dengan bacaan ayat suci Al Qur'an.
"Hasan, Hasan."
Marshal mencoba kembali memanggil nama sahabatnya itu, namun ternyata Hasan memberi sikap yang sama. Tidak merespon ucapannya.
Marshal mengerutkan keningnya, memikirkan sebab diamnya Hasan. Semua doa sudah ia rapal, tersisa satu jurus lagi yaitu memanggil nama sahabatnya itu dengan sangat keras sambil menepuk bahunya, lalu ia pungkas dengan menyebut nama Alloh.
"Iya benar, aku harus lakukan itu. Hujan sudah reda, tidak mungkin Hasan tidak mendengar suaraku yang duduk tepat di belakangnya," gumam Marshal dalam hati.
Dengan memantapkan hatinya, Marshal menepuk dengan keras bahu Hasan sambil menyebut nama Alloh dengan lantang. "Hasaaan. Alloooooh. Buwok buwok."
Beberapa detik kemudian, Marshal merasakan telapak tangannya memanas akibat terlalu keras memukul bahu Hasan.
"Allohu Akbar," teriak Hasan dengan sangat keras.
Suara Hasan berhasil membuat Marshal kaget hingga membuat tubuhnya hampir terjatuh karena Hasan sendiri hampir saja hilang keseimbangan.
"Hasan, kau sudah bisa mendengar suaraku?," tanya Marshal. Ia tidak bisa melihat wajah Hasan dengan jelas.
"Iya Shal," jawab Hasan.
"Alhamdulillah, akhirnya kau kembali."
Marshal menghela napas panjang, ia merasa lega mendengar suara Hasan merespon panggilannya. Ia merasa tidak lagi sendirian di dalam tempat yang semakin menyeramkan itu.
"Memang aku ke mana Shal?."
Dari nada suara Hasan, Marshal baru mengerti bahwa beberapa saat yang lalu lelaki bertubuh sedikit berisi itu tidak bersamanya. Ia berusaha tenang, agar bisa mencari jalan keluar yang benar, sebab ia yakin bahwa dirinya dan Hasan sedang 'tersesat', seperti dalam cerita-cerita horor.
"Ya di sini, kamu dari tadi boncengin aku lah San," jawab Marshal.
Sebisa mungkin ia tidak menceritakan apa yang sudah dialaminya beberapa saat yang lalu. Ia juga menahan diri, untuk tidak bertanya dulu tentang gadis yang berdiri di bawah rinai hujan.
"Marshal," panggil Hasan.
"Iya?." Mendengar namanya dipanggil, Marshal segera merespon panggilan itu.
"Kenapa aku lewat jalan sini ya?." Hasan tampak kebingungan. Marshal merasakan itu. Dan sekali lagi Marshal bersikap biasa saja, seolah memang sudah tidak terjadi apa-apa.
"Katamu, ini memang jalan yang benar," jawab Marshal.
"Bukan, ini arah yang salah," jawab Hasan.
Akhirnya Marshal mendengar kalimat yang benar dari mulut Hasan yang artinya sahabatnya itu memang sudah benar-benar sadar. Sekali lagi ia benar-benar merasa lega.
"Terus kita harus bagaimana?, Di sini sepi banget," tanya Marshal.
"Ini sih bukan sepi lagi Shal, hutan mati. Tak ada suara apa pun," celetuk Hasan dengan suara yang sangat jelas.
"Apa kita kembali saja?," tanya Marshal kemudian.
"Tidak. Kata Si Mbahku, kalau sedang 'tersesat' seperti sekarang ini, kita harus jalan terus, tidak boleh kembali ke jalan semula," terang Hasan.
"Kenapa?," tanya Marshal penasaran.
"Ya, agar kita tidak semakin tersesat," jawab Hasan sambil beberapa kali membunyikan klaksonnya, padahal tak seorang pun ada yang lewat, suara hewan pun tidak terdengar.
"Ooo. Kamu kenapa membunyikan klakson?," Marshal bertanya lagi.
"Kata Si Mbah ku..." Belum juga Hasan menjelaskan jawabannya, Marshal sudah lebih dulu menghentikan ucapan temannya.
"Sudah, sudah. Kamu fokus saja berkendara. Fokus jalan yang ada di depan. Agar kita bisa segera sampai di desa Awu-Awe," ucap Marshal kemudian.
Baik Marshal maupun Hasan, keduanya tidak tahu harus menempuh jarak berapa lama lagi untuk bisa keluar dari tempat itu. Langit sudah menggelap, hanya ada nyala lampu motor yang mereka tumpangi.
"San, kamu bisa ngaji kan?," tanya Marshal. Ia hendak mengajak Hasan membaca doa-doa yang dihapalnya.
"Bisa Shal," jawabnya penuh semangat.
Belum juga Hasan menarik gas sepedanya, samar terdengar suara perempuan sedang bersenandung. Namun Marshal tidak berani mempertajam pendengarannya, ia tidak mau mencari masalah dengan warga dunia sebelah.
"Wkwkwkwkwk, wkwkwkwkwk, wkwkwkwkwk."
Lengkingan tawa Hasan, seketika membuat bulu kuduk Marshal berdiri tegak. Ia langsung menepuk bahu Hasan dengan keras, ia takut si sopir hilang nyawanya lagi.
"Kamu sadar San?," tanya Marshal dengan nada sedikit kaget.
"Iya, aku sadar. Eh, Kamu barusan mendengar suara perempuan sedang bernyanyi kan?," tanya Hasan pada Marshal.
"Iya, kenapa?." Lagi-lagi Hasan membuat Marshal bingung.
"Nah, itu tadi yang membuatku tertawa. Masak di tempat sepi kayak gini ada yang nyanyi 'balonku ada lima'. Gak lucu kan?," ucap Hasan menggebu.
Sejenak Marshal berpikir, kenapa Hasan bisa mendengar begitu jelas syair lagu yang sudah dinyanyikan yang entah oleh siapa.
"Ya enggaklah San," jawab Marshal
"Oke bersiap ya, jangan lupa sambil baca doa," pesan Hasan.
"Oke, aku siap." Marshal lalu mempererat pegangannya. Ia seolah merasakan bahwa Hasan akan menarik tuas gas motornya sangat kencang.
Dan benar saja, Marshal merasai tubuhnya seperti terbang di atas awan. Tertiup angin yang sangat dahsyat, hingga mengaburkan pandangannya. Motor itu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
Marshal tidak memperdulikan jalan di depan yang dalam kondisi sangat gelap, yang terlihat hanya tumbuhan semak belukar tanpa ada jalan keluar. Ia abaikan itu semua. Yang terpenting hanyalah berpikir jernih agar bisa segera keluar dari jalan 'sesat' itu.
Seberkas cahaya yang terang, menyilaukan mata Marshal. Seketika, ia pun menutupkan telapak tangan di wajahnya. Ia juga melihat Hasan melakukan hal sama, kendali motor ia lepaskan.
Lima belas detik berselang, tubuh Marshal bergoyang-goyang, demikian juga dengan motor nya yang tidak lagi bisa melaju dengan cepat seperti tadi. Marshal lalu membuka matanya.
Betapa kagetnya Marshal, saat mendapati dirinya masih berdiri di depan gubug tempat yang mereka gunakan untuk berteduh. Anehnya lagi, posisi Marshal duduk di depan, sedang memegang kendali kemudi.
Ia juga merasakan ada sesuatu yang bersandar di punggungnya, saat ia menoleh ternyata Hasan sedang tidur dengan pulas. Hal itu semakin membuatnya heran, Marshal terus saja bertanya dengan kejadian yang sudah dialaminya. Nyata atau hanya ilusi.
Marshal hendak menyalakan mesin motornya, namun tetiba saja ia teringat dengan gadis yang berdiri di bawah rinai hujan.
Marshal memandu kedua matanya untuk melihat ke seberang jalan. Gadis itu masih ada di sana, masih di posisi yang sama. Beberapa saat kemudian, gadis itu membalikkan tubuhnya lalu berjalan dan terus berjalan sampai bayangan itu menghilang di balik jalan berkelok, tak terlihat lagi oleh Marshal.
Lelaki itu lalu mendongakkan kepalanya, melihat warna langit yang masih menyimpan warna jingga dari sisa matahari bernama senja.
"Bukankah, beberapa waktu lalu hari sudah sangat gelap?, namun kenapa sekarang kembali terang?." Marshal semakin bingung dengan kejadian sore itu.