Gerimis Tiga
“San, Hasan. Ayo dong bangun.”
Marshal mengeraskan suaranya, berusaha membangunkan Hasan yang masih terlelap. Ia menggoyangkan tubuh temannya itu dengan keras, agar Hasan yang sedang bersandar di punggungnya bisa segera membuka mata. Dan mereka bisa kembali melanjutkan perjalanan menuju Desa Awu-Awe.
"San. Ayo bangun!, Jangan bercanda kamu."
Sekian kali Marshal memanggil nama temannya itu, sekian kali pula Hasan tidak menjawab. Lelaki yang membiarkan rambut jambangnya tumbuh itu mulai merasa resah, pasalnya dalam alam yang sepi itu hanya ada mereka berdua. Tidak terlihat lalu lalang kendaraan.
Marshal masih takut, kejadian aneh beberapa menit yang lalu akan kembali menghampirinya. Sementara dirinya masih meraba bagaimana ia bisa berganti posisi duduk di depan. Padahal sejak awal dengan sadar bahwa ia duduk di belakang, bahkan masih melekat dalam ingatan bagaimana dirinya menyadarkan Hasan yang sempat diam tanpa suara dan tanpa pergerakan.
"Duh ini anak, bener bener susah dibangunin," gerutu Marshal.
Marshal melirik sebentar ke arah jam tangan yang melingkar di lengan kanannya, waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih dua puluh menit artinya malam sudah mulai mengikis warna langit menjadi gelap.
Tanpa berpikir panjang, Marshal membuka resleting tas ranselnya, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengikat tubuh Hasan dengan dirinya.
Nihil, Marshal tidak menemukan tali atau apapun yang bisa ia gunakan sebagai pengikat. Hanya ada beberapa kaos lengan panjang dan celana. Sejenak ia berpikir, lalu bertemulah ide untuk mengaitkan ujung tangan kaos itu dan celana hingga membentuk tali panjang.
Ia tarik sekuat tenaga setiap simpul temali yang sudah dibuatnya, untuk memastikan bahwa ikatan itu tidak akan lepas dan mampu menahan tubuh Hasan. Seperti layaknya anak kecil yang sedang dibonceng.
Setelah memastikan ikatan itu, gegas ia rekatkan tubuhnya dengan Hasan lalu mengikatnya dengan kaos. Sebelum tancap gas, ia tidak lupa memasang helm miliknya, kemudian milik Hasan juga.
"Saan, Hasan tidur mu sudah kayak kebo aja. Susah dibangunin," celetuk Marshal sambil mengulas senyum, setelah melihat bibir Hasan yang ngowo pertanda temannya itu dalam keadaan tertidur pulas.
Marshal juga menyempatkan diri untuk menengok sebentar ke tempat gadis yang sudah membuat hatinya penasaran. Ternyata, ia hanya melihat ruang kosong yang sepi. Gadis itu tidak ada di sana, ia sudah pergi.
Ia juga merapatkan kembali ikatan baju yang melingkar ditubuhnya, yang menyatuhkan tubuh Hasan dengan tubuhnya. Guna memastikan kembali bahwa ikatan itu sudah kuat menahan tubuh Hasan yang sedang terlelap agar tidak terjatuh ketika ia melajukan motornya dengan kecepatan maksimal.
Tanpa berlama-lama, Marshal segera menarik tuas gas motornya. Melaju menembus dinginnya udara, menerobos kesunyian. Tak memperdulikan lagi bagaimana keadaan Hasan yang sedang terlelap dalam mimpinya.
Senja saat itu, menjadi begitu panjang bagi Marshal. Ia tidak tahu jalan tempat tujuannya. Mencari Desa Awu Awe di google maps, bukan cara efektif sebab signal sedang sedang timbul tenggelam, sekalipun memakai ponsel tercanggih.
Ia putuskan untuk terus melajukan motornya, tanpa sedikitpun terlintas dibenaknya untuk berhenti. Jalan panjang itu seperti lubang maut baginya, berhenti sebentar saja, nyawa mereka taruhannya. Sebab tempat itu sangat akrab dengan hutan liar, dan mereka bisa menjadi santapan hewan buas yang sangat nikmat.
Malam sudah benar benar membungkus senja, jalanan menjadi sangat gelap. Setiap jarak tiga meter, Marshal baru bertemu dengan lampu penerangan jalan. Nyala lampunya sangat redup, hanya mampu memberi terang tempat yang berada di bawahnya. Itu pun ada beberapa lampu yang sudah tidak berfungsi dengan baik, mati.
Pikirannya berkelana, tidak mungkin ada orang yang tinggal di tempat terpencil seperti ini. Bagaimana mereka menjalani kehidupannya. Dan bagaimana jika siang hari, apakah suasananya juga terlihat sunyi seperti saat ini. Di atas motor gagahnya, pikiran Marshal tidak berhenti mengumpulkan pertanyaan yang harus ia tanya kepada warga Awu Awe.
Dari jauh, samar terlihat oleh kedua manik mata Marshal. Berdiri sebuah gubuk, dengan nyala lampu yang sangat terang. Ia menduga itu rumah warga, namun ia juga berharap bahwa itu adalah warung makan. Perutnya keroncongan, sudah lama menahan lapar. Udara yang dingin pasca turun hujan, membuat mulutnya ingin mengunyah makanan yang bisa mengenyangkan perutnya. Sekalian juga, ia butuh membangunkan Hasan yang sama sekali tidak menunjukkan tanda tanda akan bangun.
Semakin dekat jaraknya, bentuk gubuk itu semakin jelas terlihat bahwa itu bangunan warung makan. Terlihat selaras kursi panjang dari kayu yang berdampingan dengan meja yang terbuat dari kayu juga. Kedua benda itu terlihat sudah sangat tua, terlihat di beberapa bagian sisinya sudah keropos di makan hewan kecil bernama rayap.
Marshal menghentikan laju motornya tepat di depan satu satunya tempat yang masih menunjukkan adanya kehidupan di tengah hutan baginya. Ia sedikit kesusahan memposisikan jagang sepedanya, tanahnya yang becek terkena guyuran hujan membuat motornya berkali kali hilang keseimbangan.
Kemudian mata Marshal menyapu seluruh area sekitar warung, mencari tanah yang kontur tanahnya tidak becek dan lembek. Dikawalnya sebentar kuda besinya itu ke samping warung, di sanalah ia berhasil memarkir motornya dengan aman dan seimbang.
Ketika hendak turun, tubuhnya terasa berat. Ia lupa, jika sejak tadi tubuhnya terikat dengan tubuh Hasan yang belum juga terbangun dari tidurnya. Otak jahilnya keluar, dengan sengaja ia melepas ikatan baju yang ia gunakan sebagai tali. Lalu dengan kasar, ia menariknya dan meletakkan di atas setir motor.
Tanpa memperdulikan tubuh Hasan yang masih nyaman bergelayut di punggungnya, Marshal bergegas turun dan membiarkan tubuh Hasan terjatuh. Baru beberapa langkah berjalan, hatinya merasa khawatir sebab suara Hasan sama sekali tidak terdengar merintih atau pun mengucapkan kalimat umpatan untuk dirinya.
Tubuh seseorang yang terjatuh dari ketinggian, umumnya akan terasa sakit meski sedikit. Sedang Sang Pemilik tubuh, pasti akan mengeluarkan kata reflek sebagai tindak lanjut akibat dari terjatuh. Namun, Hasan tidak melakukan itu. Padahal Marshal sudah dengan sengaja menjatuhkan tubuh temannya itu dari atas motor, dengan maksud untuk membangunkan tidurnya.
Marshal membalikkan tubuhnya, gegas ia melihat keadaan Hasan yang telungkup di atas tanah yang basah.
"San, Hasan."
Lelaki yang dipanggilnya Hasan itu tidak merespon. Tubuh itu tidak bergerak. Lagi lagi Marshal dibuat khawatir oleh Hasan. Entah di sengaja atau tidak, yang jelas Marshal kembali merasakan jantungnya berdetak tak seirama.
"San, Hasan. Ayolah kamu jangan bercanda di saat seperti ini. Aku sendirian."
Marshal kembali mencoba membangunkan Hasan. Lagi lagi, Hasan tidak memberi respon. Dalam kondisi seperti itu, Marshal selalu punya aksi usil untuk temanya yang satu itu. Segera ia memasukkan tangan kanannya ke dalam ketiak sebelah kiri, yang tumbuh lebat bulu ketiak. Ditambah lagi, seharian ini Marshal belum membersihkan tubuhnya. Pastilah bisa dibayangkan bagaimana bau ketiaknya.
Marshal mengusap ketiaknya beberapa kali dengan telapak tangannya, lalu dengan segera menempelkan telapak tangan itu tepat di depan hidung Hasan.
"Ah ah ah."
Tubuh yang sedari tadi tidur itu langsung menggeliat, duduk dengan mengeluarkan berbagai kata umpatan yang ditujukan kepada si usil Marshal, "Sial, kurang ajar, asem kau Shal."
Jurus usilnya sangat ampuh. Marshal pun terbahak melihat ekspresi wajah kesal Hasan, akhirnya ia bisa tertawa penuh kemenangan, setelah dibodohi oleh temannya itu. Entah sejak kapan Hasan mulai mengibulinya dengan berpura-pura tidur.
"Kamu puas puas setelah memberiku bau ketiakmu yang busuk itu, huh?. Puas?."
Marshal semakin terbahak mendengar kalimat yang keluar dari mulut Hasan, kalimat yang penuh dengan luapan kekesalan.
"Lagian kamu, pakai pura pura tidur. Sejak kapan kau melakukan itu," ucap Marshal.
"Sejak kamu penasaran sama gadis tadi. Ya kamu, begitu ada cewek aja signal playboy mu langsung penuh," gerutu Hasan.
"Dasar kamu. Gak bisa lihat orang seneng. Sudah ayo bangun. Perutku lapar. Ngopi bentar biar anget," ajak Marshal.
"Mau anget ya tidur bareng wanita."
"Otak mu m***m Hasan."
"Ya kamu itu yang m***m. Mana ada Playboy alim. Kagak ada bos," ledek Hasan.
Marshal berlalu begitu saja, tanpa mendengarkan ocehan Hasan. Ia melangkahkan kakinya mendekati warung yang terletak jauh dari pemukiman warga itu. Warung itu sama sekali tidak meninggalkan kesan angker.
"Permisi." Marshal mencoba memanggil pemilik warung, karena warung terlihat sepi dan belum ada yang menjawab, ia pun kembali memanggil Si Pemilik warung dengan kata yang sama.
"Iya," bisik Hasan dengan suara yang sangat pelan dan berat di telinga Marshal. Sontak saja lelaki yang terkenal Playboy itu kaget, dan memajukan langkahnya hingga ke dalam warung.
Mereka berdua terlibat keributan yang tidak bisa dihindari. Yang satu terbahak, sedang yang satunya lagi menggerutu tanpa henti.
"Hei jangan rame di tempat sepi!."
Seorang perempuan paruh bayah, muncul dari bilik yang ada di dalam warung. Perempuan itu menggunakan kebaya yang masih memakai jarum peniti untuk menutup kebaya bagian depan, namun ia tidak memakai jarik untuk bawahannya melainkan menggunakan rok yang tidak terlalu lebar.
Seketika Marshal tertegun melihat perempuan yang seluruh rambutnya berwarna putih itu, namun di wajahnya tak nampak garis keriput. Demikian juga dengan Hasan, ia sama terkejutnya dengan Marshal.
Perlahan, Marshal beringsut memundurkan langkahnya. Lalu terdiam di samping Hasan yang sedang berdiri di tengah pintu.
"Kami mau membeli sesuatu yang bisa membuat perut kami kenyang Bu," ucap Marshal memulai obrolan.
"Kami juga ingin membeli secangkir kopi panas Bu," imbuh Hasan sambil duduk di bangku depan.
"Aku hanya punya mie instan, nasi sudah habis. Kalau kopi ada. Duduklah!," ujar perempuan itu yang tak lama kemudian terdengar suara 'ceklek', bunyi dari pemantik kompor gas.
Marshal dan Hasan memutuskan untuk duduk di depan. Sambil menunggu pesanannya datang, Marshal mengambil sebungkus kacang goreng yang tergantung pada batang besi yang panjang.
"Perjalanannya apa masih jauh San?," tanya Marshal basa basi untuk memecah kesunyian.
"Dari gubug tadi, seharusnya tidak Shal," jawab Hasan.
"La ini kenapa kita lama banget sampainya?. Hampir satu setengah jam lo?," tanya Marshal mengintimidasi Hasan sebagai orang yang sudah pernah datang ke Desa Awu Awe.
"Dari gubug tadi, kamu tidak belok memasuki gang sama sekali kan Shal?."
"Ya enggaklah. Orang jalanan sepi banget. Lawong ini aja sudah kayak hidup di hutan belantara. Makanya jangan merem saja," protes Marshal sambil menjitak kening Hasan. -pletak-, begitulah bunyinya.
"Sebenarnya ya Shal,...."
Kalimat Hasan terputus, karena Si Pemilik warung datang dengan membawa dua mangkok mie instan rebus lengkap dengan telur setengah matang, serta dua cangkir kopi hitam dengan aroma yang sangat menyengat. Khas aroma kopi.
"Silahkan!"
"Terima kasih ya Buk," ucap Marshal setelah itu.
Keduanya lalu menikmati mie instan dengan aroma yang sangat menggoda. Sajian nikmat di waktu yang tepat. Sangat pas dimakan saat hawa begitu dingin, dan perut benar benar dalam keadaan kosong.
"Kamu tadi mau bilang apa San?," tanya Marshal yang penasaran dengan kalimat Hasan yang belum sempurna diucapkannya.
"Sebenarnya, aku ragu kalau di sekitar sini...,"
Tetiba saja seorang cewek berjalan melintasi Marshal dan Hasan. Cewek itu berjalan santai dengan membawa payung. Ia terus berjalan tanpa menyapa dua lelaki yang sedang menikmati semangkok mie instan. Cewek itu terus saja berjalan jauh ke arah belakang warung yang gelap, seperti tak ada tanda tanda kehidupan.
Sejanak Marshal meletakkan sendoknya. Ia terus memperhatikan cewek itu hingga bayangannya menghilang dari pandangan matanya. Ia mencoba mencari persamaan gadis yang baru saja lewat dengan dengan gadis yang tadi, namun lamunan itu buyar ketika ibu pemilik warung datang menghampirinya dan Hasan.
"Kalian dari mana?," tanya Ibu Si Pemilik warung. Pertanyaan itu membuat Marshal kaget, ia pun beralih fokus menanggapi ucapan Ibu pemilik warung.
"Kami dari kota buk. Mau ke Desa Awu Awe. Ada kegiatan sekolah," terang Marshal.
"Oh jadi kalian, satu rombongan dengan bis yang barusan pergi ya?." Si Ibu balik melempar tanya kepada Marshal.
"Bukan rombongan bis Bu, kami rombongan naik motor. Kami berdua terpisah dari rombongan," terang Marshal kembali.
"Oh."
"Buk, di sana ada kampung atau rumah warga gitu?," tanya Marshal sambil menunjuk ke arah langkah cewek yang tadi. Ia hanya penasaran, ada anak cewek berjalan sendirian menyusuri jalan yang gelap di malam hari yang sangat sunyi dan sepi.
"Ada," jawab Ibu itu singkat.
Tak lama kemudian, ibu itu kembali masuk. Dengan segera Hasan melihat di sekelilingnya, seperti mencari sesuatu di bawah sana. Gerakan itu tertangkap oleh Marshal.
"Kamu mencari apa San?," tanya Marshal penuh selidik.
Hasan mendekatkan mulutnya ke wajah Marshal, lalu memberikan jawaban. "Jejak kaki dan roda dari bis."
Marshal mengerti maksudnya Hasan, ia pun turut serta mencarinya. Hasilnya nihil. Tanah yang basah dan becek, pastilah membuat seseorang atau benda apa pun itu akan dengan sangat mudah meninggalkan jejak di sana. Namun nyatanya, di sekitar warung hanya ada bekas roda motornya.
Kedua mata mereka saling bertemu, saling menyelami pikiran masing masing. Tanpa tahu apa yang sebenarnya keduanya pikirkan.