Gerimis Empat
"Marshal, cepat kau bayar makanan ini. Dan segera pergi dari sini," ucap Hasan dengan tergesah-gesah berdiri membawa jaket parkanya.
"Hai, Hasan. Kau kenapa?. Habiskan dulu kopi mu." Marshal meneriaki Hasan yang sudah memposisikan dirinya di atas motor dengan helm yang sudah terpasang di kepalanya.
Marshal tak memperdulikan Hasan, ia masih ingin menikmati secangkir kopi hitam yang masih mengepul asapnya. Menyeruputnya perlahan, sambil menghirup bau wangi dari kopi itu.
"Ah, nikmatnya."
Seruputan kopi terakhir membuat tubuhnya kembali segar, dan siap melanjutkan perjalanan yang sedikit ganjal dan membuat bulu kuduknya berdiri.
Gegas Marshal berdiri, dan membayar semua tagihan makanan yang sudah ia dan Hasan nikmati di warung itu. Ia memberikan selembar uang kertas berwarna biru, lalu pergi tanpa bertanya habis berapa dan tanpa meminta uang kembalian. Ia hanya mengeluarkan kalimat ucapan terima kasih.
Begitu sampai di samping motornya, ia melempar kunci motor kepada Hasan yang sudah bersiap duduk diboncengan.
"Kau saja yang di depan. Kau sudah tahu jalan menuju Desa Awu Awe. Biar kita cepat sampai. Ini sudah setengah delapan malam. Teman-teman pasti khawatir dengan kita," ucap Marshal sambil memasang helm di kepalanya.
Yang sebenarnya, Marshal bukan memikirkan kekhawatiran teman-temannya akan kondisi dirinya dan Hasan. Melainkan ia ingin segera bertemu dengan Aurelia, gadis yang sampai detik itu belum bisa ia taklukkan hatinya.
"Kenapa tanganmu bergetar begitu San?. Masukin kunci saja lama banget," protes Marshal setelah penasaran kenapa Hasan tidak segera menyalakan mesin motornya.
"Shal, coba kamu lihat warung itu," pinta Hasan yang masih fokus memasukkan kunci motor ke lubangnya dengan tangan yang masih gemetaran.
Marshal mengikuti arahan Hasan untuk melihat warung itu, tidak ada yang aneh. Ia melihat warung yang sama seperti saat beberapa menit yang lalu. Warung sederhana dengan nyala lampu yang terang, dan penuh dengan aneka makanan ringan yang ada di dalam toples, serta beberapa macam kerupuk yang tergantung di atas meja.
"Kenapa San?. Warungnya masih sama, semua letak meja, kursi dan makanannya juga sama. Lampunya masih terang. Nggak ada yang berubah San," terang Marshal.
"Gak papa," jawab Hasan yang masih sibuk memasukkan kunci motor ke lubangnya.
"Aduh lama banget sih. Sini biar aku saja yang boncengin kamu," ucap Marshal yang lalu turun dari boncengan.
Dengan cepat, Marshal menyahut kunci motor dari tangan Hasan. Dan menarik paksa tubuh Hasan dengan keras untuk turun dari motor.
Tak butuh waktu lama, Marshal sudah melajukan motornya untuk melanjutkan perjalanan ke desa Awu Awe. Sebenarnya, Marshal tidak terlalu memikirkan tentang kejadian ganjal yang dialaminya sore tadi, namun karena sikap Hasan yang sangat ketakutan dan trauma membuat dia penasaran apa yang sebenarnya sudah dilihat oleh temannya itu.
"Hasan," panggil Marshal dengan nada suara sedang. Suasana memang sedang sepi, bahkan sunyi hingga tak perlu mengeluarkan suara yang ekstra keras untuk bisa saling mendengar suara masing-masing.
"Hai," jawab Hasan
"Tadi kenapa kamu pura-pura tidur?."
"Aku masih takut Shal. Gak percaya aja kalau kita sudah terkena serangan makhluk astral."
"Mana ada makhluk astral. Memang tadi kamu lihat bentuk mereka?," kilah Marshal. Ia mencoba bersikap tenang, agar Hasan juga bisa tenang.
"Tadikan ada yang nyanyi balonku ada lima. Kamu juga denger kan?."
Marshal sedikit terkikik, mendengar suara Hasan yang terdengar khawatir dan ketakutan.
"Enggak. Aku gak mendengar apa-apa ih," elak Marshal.
"Yakin kamu?," tanya Hasan mulai panik.
"Iya bener. Tadi aku berbohong sama kamu." Marshal terus saja mengelak, ia sengaja menggoda Hasan. Hatinya semakin tertawa ketika melihat ekspresi wajah ketakutan Hasan dari balik kaca spion.
Marshal berusaha menahan tawanya, dengan mulut terbuka lebar yang entah dilihat oleh Hasan atau tidak karena ia merasakan tangan temannya itu melingkar sangat kuat di perutnya.
"Ah kamu Shal, jangan becanda mulu. Ini sudah malam dan kita belum juga sampai di Desa Awu Awe." Hasan memprotes sikap Marshal yang jegigisan di saat darurat.
"Ya kapan aku terlihat bercanda?," sergah Marshal. Ia masih terus berusaha bersikap tenang. Padahal, ia sendiri juga masih takut kalau mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
Marshal juga merinding, setelah melihat sendiri di depan warung tadi tidak ada jejak bus seperti yang dibicarakan ibu pemilik warung. Ia juga merasa takut, setelah berpikir secara logis tidak mungkin ada seorang gadis dibiarkan berjalan sendirian dalam ruang gelap nan sunyi menuju suatu tempat yang tak terlihat ada kehidupan di sana. Namun, ia masih mencoba untuk tenang sampai ia memastikan bahwa dirinya dan Hasan sudah sampai dengan selamat di Desa Awu Awe.
"La terus tadi kenapa, ngikutin aku memeriksa sesuatu di tanah?," tanya Hasan.
"Ya aku kira kamu kehilangan apa gitu," jawab Marshal masih menggoda Hasan.
"Kagak Marshal, aku tadi mencari jejak bis seperti yang diceritakan ibu itu," terang Hasan.
"Terus ketemu?."
"Gak ada jejak kendaraan apa pun, kecuali jejak motor ini."
"Salah lihat mungkin kamu?."
"Terserah kamulah Shal. Fokus saja sama jalan di depan, biar kita cepat sampai. Seingat aku jalannya gak terlalu jauh, tapi kenapa kita dari tadi jalan seperti siput. Lelet."
"La kamu bagaimana lo, sebagai orang yang sudah pernah datang ke sini?," selidik Marshal.
"Lupa aku Shal."
Marshal masih bersikap tenang. Ia fokus melajukan motornya sambil membaca doa-doa yang ia bisa. Namun, tetiba saja Marshal kembali menghentikan laju motornya.
"Hasan, coba lihat itu," ucap Marshal sembari menepuk paha Hasan.
Kedua mata Marshal menatap penuh ragu pada bis berwarna kuning yang terparkir begitu saja di tepi jalan, bis itu kosong tanpa penumpang.
"Bis?."
"Iya San. Apa Bis ini ya yang dimaksud ibu tadi?," terka Marshal.
"Kamu merasakan sesuatu yang aneh Shal?," tanya Hasan.
"Enggak sih, cuma rada horor aja. Ada bis berhenti di sini, di tengah hutan belantara kayak gini," tutur Marshal.
"Tumben peka?,"
"Entahlah."
"Ya mungkin saja, bis nya sengaja diparkir di sini, lalu mereka ke Desa Awu-Awe dijemput warga sebab bis nya tidak masuk," terang Hasan.
"Tumben kamu tenang. Bisa sebijak ini di saat harus siaga dari serangan makhluk astral. Sejak kapan San?," puji Marshal.
"Entahlah. Sudah yuk kita lanjutkan perjalanan. Makin malam makin horor nanti," ucap Hasan.
"Oh tidak. Kamu tunggu di sini, aku mau lihat ke sana dulu. Aku tadi melihat sesuatu."
Samar, Marshal merasa melihat sosok perempuan di dalam bis itu. Sosok yang sama, yang berdiri di bawah derasnya hujan dan sudah membuatnya penasaran. Namun, ia tidak yakin sebab minimnya penerangan di sana.
"Marshal jangan."
Hasan mencoba menghalangi Marshal agar tidak nekad dan mengambil langkah untuk mendekati bis itu.
"Gak papa. Kamu tunggu sini."
Marshal tetap memaksa. Ia keukeh ingin mendekati bis itu guna memastikan bahwa yang ia lihat hanyalah pantulan dari hati dan pikirannya yang terbayang sesosok perempuan berbaju hitam tadi.
"Marshal, Please!."
Hasan memohon dengan sangat pada Marshal untuk mengurungkan niatnya mendekati bis itu. Peristiwa teror tadi cukuplah sudah membuat puncak hatinya deg-degan.
"Halah kamu ini penakut banget San," ledek Marshal yang tetap berniat akan mendekati bis itu.
"Marshal, Pak Lurah sudah berpesan padaku agar tidak berbuat yang aneh-aneh selama perjalanan. Tadi kita sempet mengalami teror kan?. Jadi jangan ditambah lagi. Ini sudah malam. Hanya ada kita berdua di sini. Ingat tujuan kita datang ke sini Shal," terang Hasan panjang lebar. Entah merasuk ke dalam pikiran Marshal atau tidak.
Marshal terdiam, setelah mendengar ocehan Hasan. Ia mencoba menalar guna membenarkan ucapan temannya itu.
"Oke. Kita harus selamat. Mungkin teman-teman juga khawatir pada kita," ucap Marshal.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Jalan panjang dalam ruang sunyi, membuat hati keduanya semakin was-was dan takut. Marshal merasakan, perjalanannya sore itu seperti ia akan KKN ke tempat lain. Pergi ke sebuah dimensi tak kasat mata, layaknya adegan di film horor.
"Masih lama San?," tanya Marshal memastikan.
"Begini ya Shal, sejak sore tadi pas kita mulai meninggalkan gubug reot harusnya kita sudah sampai sebelum langit menjadi gelap seperti ini. Namun, entah kenapa perjalanan kita menjadi sangat lama."
"Begitu ya San. Kita nikmati saja perjalanan yang menyeramkan ini. Coba kau baca apa gitu San, biar jalan kita terbuka," pinta Marshal.
"Sok agamis kamu Bang. Kenapa gak kamu baca sendiri aja."
"Kita baca berdua dah. Ribet amat. Makin banyak yang dibaca, mungkin roda motor ini bisa makin cepat sampai," ucap Marshal.
Benar saja, setelah Hasan dan Marshal membaca doa yang mereka bisa terlihat di depan ada sebuah gapura, di mana di setiap sisi gapura itu terdapat obor dengan nyala api yang sangat terang. Lalu di atasnya terdapat tulisan Awu-Awe.
"Nah, Alhamdulillah kita sudah sampai."
Marshal bisa bernapas lega, akhirnya ia sudah sampai di desa yang menjadi tujuan akhir dari perjalanannya bersama Hasan malam itu.
Tidak jauh dari gapura, terdapat empat rumah warga yang sudah menggunakan aliran listrik untuk menerangi rumah mereka. Dan jauh dari penglihatan Marshal, juga tampak cahaya lampu yang sangat terang dari rumah warga yang lain.
"Marshal, tunggu." Suara Hasan terdengar sedang menyanksikan sesuatu.
"Apalagi?," tanya Marshal dengan intonasi suara yang sangat kesal.
"Aku pastikan dulu, ini benar Desa Awu-Awe apa bukan."
"Sudah jelas tadi di gapura ada tulisan nama desa Awu Awe kok. Masak salah?," ujar Marshal menegaskan keraguan Hasan.
Hasan melihat ke sekeliling rumah warga yang ada di depannya. Tangannya gemetaran setelah melihat beberapa sosok bayangan yang muncul dari kegelapan di balik rumah warga.
"Aaarrrggghhh," teriak Hasan sambil menutupkan seluruh telapak tanganya ke wajah.