"Marshal."
Hasan terus memanggil dengan mata yang tanpa henti menyapu setiap sudut balai desa, ia mencari sosok Marshal di antara beberapa kerumunan orang yang sengaja belum pergi dari tempat itu.
Ia sapukan pandangannya berkali-kali, bila mungkin ada yang terlewat oleh kedua netranya hingga tidak melihat sosok Marshal di satu sisi.
Sebenarnya, Hasan bisa saja meninggalkan Marshal, lelaki itu tidak mungkin tersesat. Jalan pulang ke rumah satu haluan dengan balai desa, jadi mudah dicari. Hanya saja kedua tempat itu berjarak cukup jauh dengan bentangan barongan yang cukup panjang.
"Marshal," panggil Hasan kedua kali. Namun tetap saja Sang Pemilik Nama tidak muncul di hadapannya.
Tingkah pola Hasan yang terus berteriak, hanya dilihat oleh Marshal dengan tatapan yang menggelikan. Tubuh sebesar dirinya tidak terlihat oleh Hasan, padahal tubuhnya sedang tidak terhalang oleh apapun.
Lelah mencari Marshal, Hasan memutuskan untuk pulang lebih dulu. Ia pulang dengan rasa cemas. hasan sangat mengkhawatirkan Marshal yang tidak bisa mengontrol hatinya. Sedikit saja penasaran dengan suatu hal, ia sudah harus mencari jawabannya. Jika tidak, temannya itu akan terus resah.
Entah Hasan yang sedang bercanda, pura pura tidak melihat Marshal yang duduk begitu dekat dengannya atau memang bunyi pribahasa gajah di pelupuk mata tidak terlihat itu benar adanya, hal itu yang membuat Marshal menjadi heran hingga ia bergegas pergi meninggalkan Anisa.
"Aku berharap kita bisa bertemu lagi, karena masih banyak yang ingin aku tanyakan," ucap Marshal dalam hati sambil berlalu pergi.
Hasan dan semua temannya sudah berjalan jauh di depan, sedang Marshal masih berjalan pelan. Ia rasai tubuhnya mendadak mengalami perubahan suhu tubuh, darah panas seolah mengaliri setiap pembuluh darahnya. Perubahan yang sama ketika ia keluar dari ruangan ber-AC.
Marshal mengingat kembali, kapan tubuhnya mulai terasa dingin dan di mana tubuh itu menjadi begitu dingin, namun tidak menggigil. Ia tidak merasa sudah masuk ke dalam ruangan bermesin pendingin.
"Ah, benar. Saat itu, iya saat aku mulai berjalan keluar dari taman di belakang kantor balai desa. Tapi itu ruang terbuka, dan matahari sedang terik. Hawa panas pastilah bisa dirasakan. Tapi kenapa aku seolah sedang memasuki ruang pendingin?." Marshal terus saja bergumul dengan hatinya.
Marshal masih meraba musabab Perubahan suhu tubuhnya, ia masih belum menyadari bahwa perubahan suhu tubuh itu sebagai reaksi karena ia berdekatan dengan Anisa.
Anisalah yang sudah membawanya ke dalam ruang dingin bersekat namun tanpa jarak. Hingga ke sekian waktu, Marshal masih belum mengetahui alasan kehadiran gadis itu. Ia masih mencari tahu keterkaitan Anisa dengan semua kepingan misteri-misteri itu.
"Apa tanpa sadar, aku sudah masuk ke dalam dimensi lain?," gumam Marshal pelan sambil terus melangkah.
Panasnya terik matahari tidak Marshal rasakan. Semilirnya angin tidak ia hiraukan. Nyanyian batang pohon bambu tak terdengar oleh telinganya. Ia hanya fokus mencari sebab tubuhnya yang mendingin di tengah kehangatan. Marshal masih tetap tidak menjadikan Anisa sebagai alasan lain. Pikirannya masih tergoda dengan sesuatu yang tertanam di dalam pot untuk dijadikan alasan.
"Huft."
Marshal membuang napasnya dengan keras. Mengangkat pundaknya, lalu membantingnya dengan cepat. Ia pun segera berlari menyusul teman-temannya, sebab langit yang begitu cerah mendadak mendung. Ribuan burung pipit berlarian ke sana ke mari di atas langit. Mungkin hujan akan turun.
Benar saja, begitu sampai di rumah, hujan angin disertai petir turun menderas, bahkan sangat deras. Dalam derasnya hujan semua penghuni rumah memilih melelapkan diri mereka di bawah alam sadar. Rasa lelah telah merampas kesadaran mereka, gelegar suara petir tak mampu menembus lubang telinga.
Kecuali Marshal yang masih terjaga, ia tak mampu berkompromi dengan mata yang sebenarnya sudah terasa panas. Hati dan pikirannya bergelut penasaran, sedang tubuhnya lelah berharap rehat. Namun tidak bisa.
"Derrr. Derrr. Derrr."
Berkali-kali tubuh Marshal berjingkat mendengar dentuman suara dari langit. Lelah rebahan dengan rasa resah, Marshal memutuskan untuk duduk di teras rumah yang berukuran lumayan luas sebagai ciri rumah bergaya kolonial. Marshal menikmati hujan dengan aromanya yang membuat candu.
Samar dalam rinai hujan, Marshal melihat ada seseorang yang berdiri di depan plakat bertuliskan Rongrawe. Marshal tidak bisa memastikan sedang apa gadis itu berdiri di sana, karena jarak yang terlalu jauh.
"Sedang apa dia di sana?, petirnya menakutkan. Apa dia tidak takut?," gumam Marshal lirih.
Seseorang diam mematung di sana, seolah ia tidak takut akan suara petir yang sangat keras serta nyala kilat yang menjalar seperti akar ke bawah. Marshal masih mengamati orang itu, namun ia tidak berani mendekatinya sebab suara petir berkali-kali terdengar berkuasa. Nyala kilat menerangi pekatnya warna langit. Udara menjadi begitu dingin, dan ia masih melihat orang itu berdiri di sana.
Ingatan Marshal mengembara pada pertemuan singkatnya bersama Anisa, bukan pertemuan. Lebih tepatnya ia pertama kali melihat sosok Anisa dalam rintik hujan, ingatan itu tidak akan pernah hilang dari memorinya. Bahkan Marshal tidak berniat untuk menghapusnya, sebab di sanalah semua misteri itu bermula. Di bawah gerimis.
Marshal masih tidak bisa melihat sosok itu dengan jelas, jarak yang cukup jauh membuat pandangan matanya kabur bertabrakan dengan kawanan air yang menghujam bumi bertubi-tubi.
"Hei kamu mau ke mana?," tanya Hasan yang tetiba keluar dari balik pintu.
"Eh, itu loh ada orang di sana. Mau aku samperin. Kali aja dia butuh tempat berteduh," ujar Marshal.
Hasan lantas mengalihkan fokusnya ke arah yang ditunjuk Marshal. Kalimat Marshal ia buktikan sendiri dengan terlihat olehnya seseorang sedang berdiri di sana. Seperti Marshal, Hasan pun tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang berdiri di sana.
"Jangan ke sana. Marshal ingat, kamu tidak boleh penasaran dengan apa pun yang menurut kamu janggal."
Hasan memang baik, ia tanpa lelah mengingatkan Marshal untuk tidak berbuat hal yang aneh di 'rumah' orang. Untuk tidak penasaran dengan apa pun, baik dirinya mau pun Marshal harus fokus pada tugas KKN. Begitulah Hasan memberi nasehat pada Marshal.
"Oke. Aku nurut pada bapak yang bijaksana ini."
Marshal mengurungkan niatnya. Ia lebih memilih mengikuti saran Hasan dari pada menuruti inginnya. Sebab akan ada banyak rencana yang harus ia tuntaskan tanpa menunggu persetujuan dari Hasan.
Sembari duduk, Marshal teringat dengan sesuatu yang tertanam di dalam pot tadi. Ia tersenyum geli, sebab ia sudah melanggar nasehat Hasan untuk tidak lagi penasaran dengan apa pun.
Marshal punya alasan untuk penasaran. Tatanan di dalam pot itu sudah menarik perhatiannya. Letak rumput liar, letak dua batang kayu yang mempunyai ukuran sama bahkan bentuk miniatur rumah juga ada di dalam pot itu. Hal itu yang membuat Marshal ingin mencari tahu tentang sebuah kebenaran.
Semuanya tampak sama persis dengan kondisi rumah rongrawe, rumah yang kini ia tempati. Pot itu sudah seperti peta, denah atau semacam alat pengintaian jarak jauh. Marshal semakin yakin, Pak Kades punya rahasia yang tidak diketahui oleh banyak orang.
"Apa yang kamu pikirkan?," tanya Hasan. Ia melihat Marshal menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan menengadahkan wajahnya ke atas.
"Gak ada," jawab Marshal sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Bohong."
"Beneran."
"Marshal, aku mau membayar hutangku," ucap Hasan dengan nada serius.
"Hutang?," jawab Marshal keheranan.
"Iya hutang cerita. Aku masih belum bercerita ke mana malam itu aku menghilang."
Keduanya saling melempar tatapan. Sebenarnya Marshal sedang tidak ingin mendengar cerita itu, tapi ia pikir ulang untuk melarang Hasan bercerita. Bukankah ia sedang mencari kunci baru untuk membuka sebuah misteri.
"Kamu ke mana?." Marshal menanggapi santai.
"Malam itu, kamu tahu kenapa aku berlari dan menjerit?," tanya Hasan kepadanya.
"Waktu itu aku bingung kenapa kamu lari, sedangkan ada aku dan Imam," ucap Marshal.
"Ngawur kamu," ujar Hasan sambil membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman lagi.
"Ya enggak lah. Kan jelas, di sana ada aku dan imam. Bukan genderuwo atau pun temannya yang lain."
Cerita Hasan masih belum terdengar menarik bagi Marshal. Cerita itu masih ia anggap tentang sosok tak kasat mata, masih tentang pengalaman supranatural seperti yang sudah mereka alami saat perjalanan menuju Desa Awu Awe.
"Aku kan sudah bilang kemarin, bahwa yang di sampingmu itu sosok tinggi besar yang mempunyai bentuk telinga meruncing di bagian atas," terang Hasan.
"Lalu?."
Marshal masih menanti sisi menarik dari cerita itu. Ia masih menunggu kisah yang menguntungkan baginya. Sembari menunggu Hasan melanjutkan ceritanya, ia mengambil sebatang rokok yang tersimpan di antara daun telinga bagian atas, lalu menghisapnya.
"Secepat mungkin aku berlari tanpa tahu jalan mana yang harus dilewati. Di depanku, jalan seolah terbelah menjadi 2. Aku sudah tidak sempat berpikir bahwa itu aneh. Sekenanya aku memilih jalan yang ternyata sudah membawaku ke alam lain," jelas Hasan.
Hasan menghentikan kalimatnya, ia juga mengambil sebatang rokok yang tersimpan di antara sisi daun telinga Marshal yang lain. Marshal hanya diam, ia sudah terbiasa dengan kebiasaan Hasan tersebut.
"Pergi ke alam lain?," gumam Marshal dalam hati.
Marshal membenarkan posisi duduknya. Kalimat 'membawa ke alam lain', rupanya sudah berhasil membuatnya sedikit tertarik dengan cerita Hasan.
"Lalu?," ucap Marshal. Ia mulai tidak sabar menunggu cerita itu berlanjut.
"Iya, aku berlari sekenanya. Tanpa berpikir jalan mana yang harus aku lewati. Yang penting aku bisa berlari dari makhluk mengerikan yang sedang bersamamu waktu itu."
Hasan menghentikan sebentar ceritanya demi menikmati aroma tembakau dalam sebatang rokok. Demikian juga Marshal, asapnya kemebul mengelilingi keduanya. Hasan melanjutkan ceritanya.
"Setalah berlari terlalu jauh, aku berhenti. Mataku tertuju pada nyala lampu yang sangat terang dari dua tiang yang terbuat dari bambu. Bambu yang sudah di tata hingga berbentuk kotak."
"Tunggu. Bambu?."
Marshal menghentikan kalimat Hasan. Ia memperjelas kalimat Hasan pada bagian bambu, lebih tepatnya tiang bambu. Ia menjadi sangat responsif dengan kalimat itu.
"Aku lanjut dulu. Aku merasa lega, akhirnya bisa sampai dengan selamat dan bisa segera rebahan. Namun ternyata, aku dihadapkan pada situasi yang sangat tidak aku harapkan. Kedua tiang itu adalah gerbang masuk sebuah kerajaan. Aku mulai ketakutan. Nyala api ku lihat di mana-mana. Hawa dingin mulai terasa dan tubuhku menggigil. Samar, ada seseorang memanggil namaku. Aku pikir kamu yang memanggil, ternyata bukan. Sesosok makhluk perempuan berkebaya merah lengkap dengan asesorisnya mendekatiku tanpa menapakkan kakinya ke tanah. Rambutnya rapi, tubuhnya mengeluarkan aroma kembang kenanga yang sangat menyengat," ujar Hasan.
Ia kembali menghentikan ceritanya, demi kembali menikmati aroma tembakau. Mengisapnya, lalu mengeluarkan asapnya dengan sedikit formasi hingga asap itu keluar dari mulut Hasan berbentuk huruf O.
"Lanjut Hasan," pinta Marshal yang sudah sangat antusias mendengar cerita Hasan.
Di tengah hujan yang masih mengguyur Desa Awu Awe, Hasan melanjutkan bercerita bahwa Perempuan itu menggandengnya, mengantarnya pada sosok yang tinggi besar, tubuhnya dipenuhi bulu-bulu halus. Sosok yang sama dengan sosok yang berdiri di samping Marshal yang sudah membuat Hasan lari ketakutan.
lanjut cerita Hasan bahwa Sosok itu menarik tubuhnya hanya dengan satu ayunan jari telunjuk dan mampu menerbangkan tubuhnya hingga berada tepat di hadapan makhluk tersebut.
"Sosok itu seperti tersenyum padaku. Aku lihat matanya terpejam sambil terus mengenduskan hidungnya ke tubuhku. Ia seperti mencari aroma sesuatu. Tubuhku terasa lemah, hingga aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, dan ketika tersadar aku sudah berada di dalam ruangan yang aku sendiri tidak tahu di mana itu. Sampai akhirnya aku melihatmu dalam remang cahaya." Hasan mengakhiri ceritanya dengan hembusan napas yang begitu berat.
Dari cerita Hasan, Marshal menarik kemungkinan bahwa dua batang pohon bambu yang berada di belakang rumah rongrawe adalah gerbang yang sama dengan yang ada di dalam cerita Hasan.
"Hasan. Apa kamu tidak melihat sosok lain di sana?," tanya Marshal penuh selidik. Ia sebenarnya mencari sosok Anisa di sana serta sosok lain yang sudah mendatanginya saat ia sedang berteduh di bawah pohon.
Menurut Marshal, ada dua sosok perempuan yang terus menampakkan diri di depannya, sosok yang sama namun berbeda.
"Sosok lain?."
Hasan mencoba mengingatnya. Dan ternyata benar, ada dua sosok perempuan berbaju hitam sedang berdiri di belakang makhluk mengerikan tadi.
"Ah iya, kamu benar Marshal. Di belakang makhluk mengerikan itu ada dua perempuan sedang berdiri di belakangnya. Tapi aku hanya melihat separuh tubuh bagian bawah. Semua tidak jelas. Penglihatanku kabur." Hasan berusaha menjelaskan situasi saat itu.
Marshal merasa bersemangat, sebab ia bisa bertemu setitik terang untuk mengungkapkan semua misteri-misteri itu.
Hujan mulai mereda. Marshal melihat jam digital di layar ponsel yang sedari tadi ada di dalam sakunya. Terlihat angka 15.30, artinya hari masih sore. Marshal berniat kembali ke belakang rumah dengan membawa ponselnya, ia hendak mengambil gambar tulisan aksara jawa itu agar lebih muda untuk mengartikannya.
Marshal dan Hasan keduanya lalu menatap jauh ke depan. Menikmati sisa hujan bernama gerimis. Auman petir serta nyala kilat yang tadi berkuasa di langit, sudah kembali bersembunyi di balik awan hitam.
"Aku tidak perlu memberitahu Hasan tentang rencanaku, semua akan aku atasi sendiri," gumam Marshal dalam hati.