Hujan gerimis sudah mengingatkan Marshal pada sosok ibunya yang hangat dan penyayang, semua teman Marshal tahu itu. Tapi hanya yang laki-laki, sebab Marshal lebih sering mengajak teman laki-lakinya pulang ke rumah bahkan terkadang mereka menginap di rumahnya.
Marshal belum pernah membawa teman perempuannya pulang ke rumah. Ia masih belum mau serius dengan perempuan mana pun. Satu-satunya perempuan yang ada di hatinya, yang sangat ia cintai dengan kasih sayang penuh adalah ibu.
Ibu adalah permata. Ibu yang tidak pernah menuntut apa pun darinya. Ibu yang tidak pernah putus melangitkan doa untuk semua kebaikannya. Ibu yang selalu tersenyum meski hatinya menyimpan luka. Ibu yang tanpa lelah memberi cinta padanya. Ya, di saat hujan gerimis seperti sekarang ibu juga yang tidak pernah lelah bercerita siapa Marshal di waktu kecil.
Marshal membuka galeri di ponselnya, ia tersenyum pada sosok ibu yang ada di dalam gambar tersebut. Obat lelah di kala rindu. Obat tenang di kala resah.
Marshal bukan hanya teringat dengan kehangatan Sang Ibu, senyum Anisa turut serta mewarnai ingatan Marshal. Entah kenapa, gadis itu selalu membayang di benaknya. Mungkin karena Marshal masih mengira bahwa semua peristiwa ini karena gadis itu.
Marshal lupa pada tujuannya terhadap Aurrlia. Aroma kegagalan dirinya dalam memikat hati perempuan mulai tercium. Ia tak kunjung membuat Aurelia jatuh cinta padanya. Rencana awal, ia hanya butuh perempuan yang memperhatikan dirinya sebagai pengganti sosok Sang Ibu di saat ia sedang jauh. Namun keadaan berkata lain, pikirannya justru terfokus pada gadis yang bernama Anisa.
Marshal tak nampak kecewa karena kegagalan itu. Ia malah lupa dengan niatnya menggaet hati Aurelia. Hati dan pikirannya sibuk memecahkan misteri-misteri yang mungkin saling terkait satu sama lain. Apalagi dengan Anisa. Rasa penasarannya sangat besar kepada gadis itu.
Memikirkan Anisa, ia teringat dengan orang yang berdiri di depan gerbang rumah rongrawe. Orang itu masih di sana, masih di tempat yang sama. Marshal menajamkan penglihatannya untuk memastikan bahwa sosok itu bukan Anisa.
Harapan berkata lain. Bahwa Anisa sedang berdiri di sana benar adanya, seperti saat pertama kali ia melihat gadis itu yang membiarkan tubuhnya basah di bawah gerimis. Wajahnya tampak begitu sedih, Anisa tidak bisa menyembunyikan itu di balik senyuman. Air matanya tidak bisa berbohong.
Kali ini Ia ingin berlari, melampaui batas prinsipnya untuk tidak sedikitpun peduli dengan perempuan kecuali pada Ibu dan perempuan yang menurutnya pantas mendapatkannya. Seperti itulah sikap Marshal pada gadis-gadis yang ia kencani, tidak peduli. Masa bodoh jika dirinya dikejar-kejar perempuan yang tergila-gila padanya, ia jabani tapi jangan berharap sebuah kesetiaan dari sosok Marshal.
Namun pada Anisa, wajah pilu itu seolah menarik dirinya untuk datang dan peduli. Marshal sendiri tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Baginya, Anisa seolah ingin menyampaikan sesuatu. Dan sesuatu itu belum ia temukan jawabannya.
"Apa kita punya payung?," tanya Marshal. Tatapan matanya tetap mengunci keberadaan Anisa agar tidak kehilangan jejak.
"Kamu mau ke mana lagi?," tanya Hasan. Ia sebenarnya tahu ke mana Marshal akan pergi. Hasan merasa harus terus mengawasi Marshal, ia hanya ingin semua temannya selamat. Pulang KKN tugas selesai, dan bisa pulang bersama dengan aman.
"Ke sana sebentar," tunjuk Marshal ke tempat Anisa berdiri. Entah Hasan tahu tentang Anisa atau tidak, Marshal tetap ingin ke sana.
"Jangan."
"Mantel yang kemarin kita pakai di mana?." Marshal terus mencari jas hujan di setiap sudut teras rumah, dan tidak berhasil menemukannya. Ia mengacuhkan larangan Hasan.
"Marshal, aku bilang jangan ya gak usah diteruskan." Hasan menahan tangan Marshal yang hendak membuka jok sepeda. Niat baik Hasan disambut emosi oleh Marshal.
Hampir terjadi adu pukul di antara mereka, jika saja Nakula tidak keluar dan melerai keduanya. Keributan itu berhasil membangunkan tidur seluruh penghuni rumah rongrawe.
"Kalian seperti anak kecil saja. Bertengkar untuk sesuatu yang tidak jelas. Aku peringatkan pada kalian, jangan sekali-kali kalian membuat keributan. Bukan untuk Marshal dan Hasan saja, tapi untuk semuanya."
Nakula menengahi mereka. Nakula memang pribadi yang mengayomi, sekaligus bertanggung jawab. Ia tidak segan menegur dan memberi nasehat meski tahu usia mereka hampir sepadan. Ia memang tidak banyak bicara. Paras wajahnya yang manis membuat Husna sering menulis puisi untuk Nakula di dalam buku hariannya.
Baik Marshal maupun Hasan, keduanya memilih duduk untuk meredam emosi mereka. Masing-masing saling introspeksi diri.
"Kalian sebenarnya kenapa?. Bukannya kalian sudah berteman dekat?. Apa yang kalian ributkan?."
Husna turut menengahi pertikaian di antara Marshal dan Hasan. Ia sangat tahu bahwa sebelum menjadi satu tim, mereka berdua adalah teman akrab yang tak terpisahkan. Yang satu tersohor dengan sebutan Si Play Boy, sedang yang satu tersohor dengan sebutan bujang lapuk.
"Marshal Itu terlalu sembrono."
Hasan membuka obrolan dengan menyalahkan Marshal. Mereka seperti sedang duduk di kursi pesakitan, berbicara di depan hakim pengadilan. Tapi bukan untuk mencari tahu siapa yang salah dan siapa yang benar.
Nakula beserta seluruh penghuni rumah, hanya ingin mendamaikan dua teman yang sedang berseberangan pendapat. Agar citra mereka sebagai mahasiswi tetap baik, tidak merugikan pihak yang sedang menggantungkan namanya pada perilaku baik mereka. KKN adalah salah satu bentuk kerjasama antara kampus dengan lokasi yang akan menjadi tempat KKN.
"Maksud kamu sembrono bagaimana Hasan?," tanya Aurelia penuh selidik.
"Begini ya, Marshal itu sudah menyembunyikan bahwa dia...,"
"Bahwa dia jarang makan. Ya lebih tepatnya itu yang akan diucapkan oleh Hasan. Bukan begitu Hasan?," celetuk Marshal. Ia memotong pembicaraan Hasan. Ia melihat ke arah Hasan yang sudah menatapnya lebih dulu dengan tatapan penuh kemarahan. Apa boleh buat, Marshal harus bisa membuat Hasan menyembunyikan semuanya dulu. Bila perlu tidak ada satu pun dari temannya yang tahu bahwa dirinya sudah bermain-main dengan dunia lain.
Marshal sebenarnya masih ragu, apakah Hasan sudah mengetahui kelengkapan teror yang dialaminya ataukah hanya sebatas pengalaman mistis yang mereka alami bersama saat perjalanan menuju Desa Awu Awe.
Bagian manapun yang ingin diceritakan Hasan, Ia berharap semua temannya tidak mengetahui itu. Agar tidak menimbulkan keresahan bagi teman yang lain. Keadaan akan tetap tenang, sesuai jalur awal yakni menyelesaikan tugas KKN di kampus mereka.
"Bener begitu Hasan?." kembali Aurelia menanyakan kebenaran yang sebenarnya pada Hasan.
"Iya bener," jawab Hasan ragu. Sebenarnya saat itu adalah kesempatan bagi Hasan untuk bercerita tentang keanehan yang ia tangkap dari sikap Marshal. Sekaligus, ia ingin mencegah Marshal untuk menyelediki misteri yang ada di belakang rumah yang kini sedang mereka tempati.
"Kenapa jawabannya ragu begitu?." Aurelia menatap Hasan penuh selidik. Tatapan itu berhasil membuat Hasan gelagapan hingga ia tidak berani menatap sepasang manik mata yang sangat indah itu.
Hasan melirik Marshal yang sedang melipat kakinya ke atas, lalu menunduk dan menenggelamkan wajahnya di sana. Marshal yang tadi berusaha mencegah ucapannya, kini seolah pasrah dengan keputusannya. Lelaki yang duduk lumayan jauh dengannya itu terlihat masa bodoh dengan apa yang akan diungkapnya. Itulah Marshal yang sebenarnya.
"Iya beneran, Marshal mengajakku ke ujung gang untuk mencicipi jajanan di desa ini. Kita belum pernah jajan kan?," terang Hasan. Ia memutuskan untuk tidak menceritakan yang sebenarnya. Seperti yang ingin dilakukan oleh Marshal, menutupi teror-teror itu dari teman-temannya.
"Iya kamu benar, bagaimana kalau nanti sehabis isya kita jalan bareng ke ujung gang. Nyari makanan di sana. Bayangin aja kita sedang jalan-jalan di mall. Bagaimana Pak Ketua?," celetuk Amora tiba-tiba.
"Jangan," cegah Husna dengan tegas.
"Kenapa?," tanya Aurelia penasaran.
"Apa kamu tidak ingat dengan obrolan ibu-ibu saat kita berbelanja?," ucap Husna. Ia mencoba membuka tabir ingatan Amora dan Aurelia. Sekaligus mengingatkan dirinya pada suasana yang sudah membuatnya bulu kuduknya merinding.
Aurelia dan Amora tampak memainkan kedua bola matanya, menautkan kedua alis mereka guna mencoba mengingat obrolan di bagian yang harus mereka ingat.
"Yang mana sih Na?," tanya Amora yang sudah tidak sabar.
"Ada ibu-ibu yang saling mengobrol dan bilang, kalau gadis itu sudah muncul. Dan lebih baik kunci pintu rapat-rapat dan tidak keluyuran di malam hari. Sudah ingat?," ucap Husna sambil melihat Amora dan Aurelia secara bergantian.
"Yah, kita gak bisa jajan dong," ucap Hasan penuh sesal.
"Elo kali yang doyan makan. Otaknya cuma ada makan, makan dan makan." Imam datang menghampirinya dengan melayangkan kaos yang habis dipakainya ke wajah Hasan.
"Ah semprul kamu Imam," rutuk Hasan. Ia merasa kesal dan jengkel pada Imam.
"Maksudnya gadis itu siapa?," tanya Nakula.
Marshal masih menyimak di balik wajahnya yang tertunduk. Ia tidak mau terlihat penasaran dengan topik pembicaraan sore itu. Satu lagi kepingan yang mungkin bisa ia gunakan untuk mengungkap misteri yang terus membayang di benaknya. Lalu, Ia sengaja melupakan Anisa yang mungkin sudah menggigil kedinginan tubuhnya. Walau bagaimanapun ia tidak bisa bertemu dengan Anisa, ia tidak mau terlihat konyol jika ternyata benar bahwa Anisa adalah gadis yang tak kasat mata.
"Kami juga tidak tahu Nakula," jawab Aurelia yang sudah mengingat kalimat itu dari warga yang sedang berbelanja.
Obrolan sore itu semakin menarik. Ketegangan yang terjadi antara Hasan dan Marshal mulai mencair. Suasana sore itu menjadi momen menyatukan mereka dalam kebersamaan, guna menumbuhkan sikap saling memiliki dan menjaga.
"Sudah tidak usah dipikirkan. Kita bisa pergi ke sana bareng-bareng," ucap Nakula.
"Hasan dan Marshal bagaimana?," tanya Aurelia.
Marshal dan Hasan menganggukkan kepala secara bersamaan. Dalam jawaban itu, Marshal berharap tidak terjadi sesuatu dengannya dan juga dengan teman-temannya.
"Oke sekarang kita mandi secara bergantian, dan mari lupakan perihal tentang kabar negatif yang sampai pada telinga kita. Tetap semangat," ucap Nakula..
Nakula sebenarnya tahu tentang apa yang sudah terjadi dengan Marshal, namun ia tetap diam selama itu tidak mengganggu temannya yang lain, pun juga tidak membahayakan jiwa Marshal.
Sembari menunggu temannya yang lain sedang antri mandi, Marshal memutuskan untuk tidak ikut mengantri. Ia lebih memilih memanfaatkan momen tersebut untuk berlari ke belakang dengan membawa ponselnya, melaksanakan rencananya tadi pagi yang sempat tertunda.
Marshal memastikan lagi bahwa semua orang sudah masuk, termasuk Hasan. Jika Hasan tahu, kesempatan untuk pergi pasti tidak ada dan sampai kapan pun ia akan terus berada dalam rasa penasaran.
Hujan mulai mereda. Marshal kembali melihat jam digital yang terlihat di layar ponsel miliknya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Baginya, berputarnya jarum jam tidak mempengaruhi apa pun tentang niatnya untuk pergi ke belakang rumah rongrawe.
Marshal berjalan mengendap-endap, perlahan namun pasti. Beruntungnya, rerumputan di sebelah rumah tadi pagi sudah dipotong bersih dan rapi hingga Marshal tidak perlu mengangkat celananya agar tidak basah.
Sampai di tempat yang ia tuju, Marshal mendadak syok melihat rerumputan yang sudah ia tebang tadi pagi kembali tumbuh begitu lebat hingga tidak terlihat lagi dua batang pohon bambu yang terdapat tulisan aksara jawa di bagian bawah.
"Waduh, berarti harus memangkasnya lagi ini. Ah tapi apa salahnya aku mencoba dulu berjalan menembus rerumputan liar itu," ucap Marshal pelan.
Dengan keberanian penuh, ia pun nekat menerobos rerumputan. Tubuhnya basah oleh setitik air hujan yang menempel pada rerumputan. Anehnya Marshal sama sekali tidak merasa takut, padahal ia sendirian. Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi padanya, apalagi waktu sudah menjelang surup.
Waktu surup adalah waktu yang sangat wingit bagi orang jawa. Di mana saat itulah bangsa lelembut akan menyambut pergantian dunia mereka. Sayangnya Marshal tidak percaya itu, mitos yang berkembang di masyarakat tidak satu pun yang dipercaya oleh Marshal.
Sejenak Marshal berpikir untuk menunda niatnya, ketika semakin ia menembus masuk ke dalam rerumputan yang tinggi itu, rumput tersebut seolah semakin menenggelamkan tubuhnya dan susah baginya untuk berjalan.
Mungkin akan lebih mudah baginya untuk masuk sembari menebang rerumputan itu, guna memberinya akses jalan untuk bertemu dengan dua batang pohon bambu yang berdiri sejajar namun berjarak. Sayangnya, Marshal datang dengan tangan kosong. Ia tidak membawa pisau ataupun sabit yang biasa digunakan untuk memotong rumput liar.
Segera ia membalikkan tubuhnya dengan sedikit rasa penyesalan, sebab ia tidak bisa mendapatkan gambar dari tulisan tersebut. Baru beberapa langkah, Marshal merasakan tubuhnya kembali terasa dingin. Rasa yang sama saat ia berada di kantor balai desa tadi.
"Apa ada Pak Kades di sini?," gumamnya lirih. Ia sedikit melongokkan kepalanya, lalu memutar kepalanya berkali-kali demi untuk melihat situasi di sekitarnya.
Sayang, suasana di sana terasa sangat sepi dan sunyi. Ia melihat ke atas langit yang berubah kembali menjadi gelap seperti saat hujan akan turun tadi. Marshal merasakan ada sesuatu yang sedang berada di sekitarnya, sedang mengawasinya. Ia memengan tengkuk lehernya, bulu bulu halus di tangannya mulai berdiri.
Ia mulai merinding tanpa sebab, namun tetap, Marshal bisa mengontrol emosinya untuk tidak berlari dan berteriak. Sebab hal itu akan menjadi sia-sia. Ia sudah bisa merasakan bahwa ia sedang berada di alam lain, sehingga tak kan ada orang yang melihat mau pun mendengarnya kecuali orang itu juga berada di ruang alam lain. Marshal terus berjalan, dan berharap ia bisa keluar dari dunia itu.
"Marshal." Terdengar samar seseorang memanggil namanya dengan sangat pelan.
Marshal terus berjalan. Ia tak ingin menoleh. Ia juga ingat pesan neneknya Hasan untuk tidak sedikitpun tergoda dengan apa yang ada di belakang kita di saat sedang dalam situasi genting.
"Marshaaaal."
Suara itu semakin terdengar jelas dan ia masih terus berjalan. Ada rasa lega menyeruak di dalam hatinya, ketika tahu bahwa rumah rongrawe sudah terlihat oleh matanya.
Marshal menyibak rumput terakhir yang menutup jalannya dan mengganggu penglihatannya, namun sayang langkahnya harus terhenti. Ia merasai sesuatu yang hangat sedang menempel dikedua pundaknya.
Bukan hanya menempel, sesuatu itu bergerak perlahan naik turun. Perlahan Marshal memiringkan kepalanya, dan sedikit melirik ke arah sesuatu itu. Sebuah tangan lengkap dengan kelima jarinya yang ditumbuhi bulu halus nan hitam.
Tanpa menunggu lagi, Marshal segera berputar dan menangkap basah sosok yang sudah membuat tubuhnya menggigil. Kali ini Marshal merasakan takut yang luar biasa.
"Marshal," panggil sosok perempuan dengan genit. Sosok itu mirip Anisa, namun bukan. Marshal bisa merasakan tatapan matanya sangat berbeda dengan Anisa.
"Siapa kamu?," tanya Marshal dengan mata penuh kebencian.
"Aku?, Aku Anisa," jawabnya sambil tersenyum.
"Bukan. Kamu bukan Anisa."
Sosok itu sangat marah setelah mendengar Marshal mengatakan dengan tatapan penub emosi bahwa dirinya bukan Anisa. Perempuan itu membalas tatapan Marshal dengan penuh amarah.
"Kamu. Tunggulah giliranmu datang. Setelah kami menantimu hampir setengah Abad. Hahahahahahaha," ucapnya dengan mata berapi-api.
Sosok itu lalu terbang dengan lengkingan tawa yang sangat memekakkan telinga, dan terdengar sangat mengerikan.
Perempuan itu telah pergi, suhu tubuhnya kembali normal. Ada hangat meski dinginnya udara setelah hujan menyelimuti Desa Awu Awe.
Keluar dari tempat itu, Marshal disambut oleh Hasan yang sejak awal sudah tahu bahwa temannya itu akan ke sana. Hasan menatap Marshal dengan perasaan geregetan.
"Apa yang kamu genggam?," tanya Hasan yang tahu bahwa Marshal sudah memegang sesuatu.
Marshal memang sudah merampas sesuatu dari tangan sosok perempuan itu, namun ia tidak tahu sebentuk barang rampasannya itu.