Setelah memastikan perempuan itu pergi, Marshal merasakan ada desiran hangat mengaliri tubuhnya. Ototnya yang tegang berangsur merenggang. Atap langit yang semula pekat, perlahan pergi. Seperti pasukan yang ditarik mundur oleh Sang Pimpinan Perang.
Marshal tak lantas pergi meninggalkan tempat itu. Perempuan itu memang sudah pergi, tak ada lagi yang perlu ia takutkan meski malam sudah menjemput. Ia tidak berpikir akan datang teror susulan. Namun ia butuh menyelaraskan hati dan pikirannya, mengais kekuatan baru sebelum ia pergi dari sana.
"Hasan pasti sudah mencari. Aku harus bersikap tenang. Aku harus kuat, terlihat berani dan terlihat baik-baik saja. Ya aku harus melakukan itu di depan Hasan," ucapnya pelan.
Hanya butuh waktu lima menit bagi marshal untuk membereskan dirinya dari rasa takut dengan tubuh bersimbah peluh di tengah udara yang begitu dingin. Marshal menghempaskan napasnya berkali-kali hingga ia benar-benar siap bertemu dengan Hasan.
Marshal sudah siap kembali ke Rumah Awu Awe, namun ia lupa telah merampas sesuatu dari tangan Si Perempuan. Bukan merampas, benda itu tertarik begitu saja oleh tangan Marshal saat ia sedang memegang tangan Si Perempuan yang penuh dengan bulu halus berwarna hitam itu.
Benda itu kecil dan panjang berwarna kuning, ukurannya tidak lebih dari tusuk sate. Namun diameternya sedikit lebih kecil, karenanya benda itu bisa dengan mudah berpindah tempat ke tangan Marshal tanpa ada perebutan kembali dari Si Perempuan.
Sosok itu lebih fokus untuk menakut-nakuti Marshal, hingga ia tidak menyadari bahwa sebuah benda kecil yang ada di tangannya telah berpindah tempat. Bisa dibayangkan jika sosok itu tahu, bahwa benda itu telah berada di tangan Marshal.
Bisa saja Marshal akan dibawa pergi olehnya, tanpa ada orang yang tahu. Dan kemungkinan lain juga bisa saja terjadi pada dirinya, hal terburuk adalah Marshal tidak bisa kembali ke dunianya.
Keluar dari rimbunnya rerumputan, Marshal masih belum menyadari apa yang kini ada di dalam genggamannya. Pikirannya terpusat pada Hasan yang sedang berdiri di hadapannya.
Hasan berdiri sejajar dengannya, berjarak hanya dua meter tepat di depannya. Hasan menatapnya dengan nyala mata berapi-api. Kemarahan itu bukan saja karena Marshal tidak mendengarkan perkataannya, tapi juga karena Marshal sama sekali tidak menjaga dirinya sendiri.
Keduanya masih saling menatap dengan tatapan tajam penuh tikaman. Marshal sangat ingin Hasan bisa mengerti apa yang ingin ia capai dari misi mengungkap misteri itu, ia hanya ingin melindungi semua temannya. Marshal berpegang teguh dengan janjinya pada selembar kertas perjanjian, setiap tim harus saling menjaga, tidak menimbulkan bahaya untuk anggota yang lain.
Perihal itulah, Marshal belum berniat untuk berbagi cerita pada semua temannya. Termasuk pada Hasan sendiri, ia juga belum menceritakan semua hal tentang teror yang ia alami. Marshal sadar dirinya bukan orang baik apalagi sempurna, namun ia memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Lain Marshal, lain lagi dengan Hasan. Sama seperti Marshal, Hasan juga ingin Marshal mengerti bahwa ia sangat khawatir dengan temannya itu. Ia harus menjaga amanah dan cinta dari seorang ibu. Jika Marshal terluka, bagaimana ia akan mengatakan kabar buruk itu. Kabar yang hanya akan membuat hatinya pilu, bahkan lebih memilukan dari pada harus menerima sayatan lama di hati perempuan yang belum pernah surut air mata batinnya.
Hasan ingin Marshal mengerti itu. Percuma jika ia mengatakan bahwa ibunya sangat khawatir ketika tahu bahwa dirinya KKN di tempat yang sangat jauh. Sambungan telepon seluler juga tak mampu memantau keadaan Marshal, sebab ibunya tahu bahwa tempat itu adalah tempat terpencil. Hasan ingin Marshal mengerti bahwa ada seorang ibu yang sedang menantinya penuh harap.
Marshal berjalan mendekati Hasan. Ia lebih dulu membuang amarah dalam hatinya, tatapan matanya yang tajam sudah turun level dan sedikit lebih tenang. Keputusan Marshal mendapat sambutan positif dari Hasan yang kemudian mengikuti jejaknya.
Tanpa diduga, Marshal segera menarik Hasan ke dalam pelukannya. Pelukan hangat yang mampu meluruhkan kesalahpahaman di antara mereka. Namun tetap saja, pelukan itu tak mampu menjadikan mereka sosok yang dengan berani saling mengungkapkan keinginan mereka.
"Maafkan aku. Tolong jangan menghalangi niatku dan jadilah orang pertama yang mendukungku," ucap Marshal pelan.
Hasan tidak menanggapi ucapan Marshal. Ia tahu, kalimat itu pasti keluar dari mulut lelaki berambut gondrong itu. Marshal selalu melakukan apa yang sudah menjadi inginnya, dan tidak akan menarik mundur kecuali ia ingin.
Marshal melepas pelukannya, keduanya masih berdiri berhadapan. Dan Marshal juga masih belum menyadari apa yang sedang ada dalam genggamannya, sampai Hasan mempertanyakan itu.
"Apa yang kamu genggam?," tanya Hasan. Ia menarik tangan Marshal lebih tinggi hingga berada tepat di depan mata mereka.
Marshal mengamatinya dengan cermat, memikirkan benda apa yang sedang ada di dalam genggamannya dan melekat di tangannya. Hingga ia mengingat, saat sedang memegang tangan Si Perempuan misterius itu ada sebuah energi yang ia rasakan, energi itu memberinya sedikit rasa sakit seperti terkena jarum suntik.
"Aku tidak tahu," jawab Marshal. Ia menatap benda itu dengan penasaran. Membolak-balik telapak tangannya. Benda itu tidak bergerak dan juga tidak jatuh.
"Bagaimana mungkin kamu tidak tahu. Kamu yang membawanya." Hasan masih memburu jawaban dari mulut Marshal.
Marshal sendiri juga bingung harus memberi jawaban apa pada Hasan. Ia tidak tahu dari mana pastinya benda itu berasal. Keluar dari tangan Si Perempuan itu hanya asumsinya belaka.
Langit semakin gelap, warna jingga sudah menyeruak di ufuk barat. Mereka berdua masih enggak beranjak dari sana, mereka masih terlena dengan benda yang menyilaukan itu, benda yang tidak bisa lepas dari tangan Marshal.
Perlahan namun pasti, benda itu mengeluarkan warna kuning terang yang berkilau. Mata kedua sahabat itu, terbelalak hingga tidak bisa bersuara. Keduanya terhipnotis oleh pergerakan dari benda itu yang terus masuk ke dalam tubuh Marshal mengisi urat nadinya. Benda itu serupa benda hidup nan lentur, yang tahu sendiri jalan masuk ke dalam tubuh Marshal.
Benda itu memberi rasa sakit yang luar biasa pada tubuh Marshal, hingga ia memegang dengan erat pundak Hasan serta meremasnya. Tersebab rasa sakit itu pula, Marshal hingga menitikkan air mata.
"Marshal, Marshal," panggil Hasan dengan sedikit menggoyangkan tubuh Marshal. Ia memastikan bahwa Marshal masih bisa merespon panggilannya. Hasan tidak bisa menyembunyikan kecemasan di wajahnya.
"Aku panggilkan Nakula dulu," ucap Hasan. Ia hendak melepaskan tangannya dari bahu Marshal, namun urung.
Marshal mencegahnya. Ia menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau ada yang tahu. "Tolong, jaga aku di sini," pintanya pada Hasan.
Marshal sudah kepalang menahan sakit. Mungkin sangat sakit, ia sampai harus menggigit bibirnya, ia sampai harus mendongakkan kepalanya, dan juda beberapa kali terdengar suara Marshal mendesis.
Hasan masih terus melihat benda itu masuk ke dalam tubuh Marshal secara perlahan, hingga tenggelam seluruhnya ke dalam tubuhnya. Pada detik terakhir, tangan Marshal mencengkram bahu Hasan semakin kuat, hingga Hasan merasakan bahwa aliran darahnya berhenti.
Hasan semakin khawatir, ia melihat kedua manik mata Marshal berubah menjadi sepasang manik mata kucing berwarna kuning. Kedua mata itu terlihat begitu indah namun datang di waktu yang tidak tepat, aura menakutkan pun menyeruak dari wajah tampan yang dimiliki oleh Marshal.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Hasan mencoba bersikap sedikit tenang meski tidak menampik bahwa aktifitas di dalam dadanya sangat sibuk. Ia sedang bertugas menjadi perisai untuk Marshal yang berusaha menjadi perisai untuk orang lain.
"Marshal, kamu baik-baik saja?." Hasan sedikit merendahkan tubuhnya, demi melihat wajah Marshal yang masih tertunduk diam dan membisu. Hasan mulai gelisah.
"Uhuk. Uhuk. Uhuk. Hah. Hah. Hah."
Napas Marshal tersengal, ia hampir kehabisan napas saat menahan rasa sakit. Tubuhnya hampir roboh jika Hasan tidak menahannya.
"Aku baik-baik saja. Hanya merasa sedikit lelah." Marshal melangkah pergi dengan langkah gontai meninggal Hasan dengan pikiran yang tidak karuan.
"Hai tunggu. Dengan kondisi seperti ini, apa yang harus aku bilang pada teman-teman?." Hasan mengejar Marshal. Lelaki itu menggandeng tubuh temannya yang tidak bisa menyetabilkan langkahnya.
Hasan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. Di depan matanya, ia menyaksikan sebuah kejadian yang tidak masuk akal, kejadian yang hanya bisa ia lihat di film-film bergenre fantasi. Namun kali ini semua itu nyata terjadi di hadapannya. Ia melihat Marshal menahan sakit yang luar biasa, ketika sebuah benda masuk ke dalam tubuh temannya. Mungkinkah itu pusaka ataukah benda berharga yang sengaja mencari tuannya?. Jika benar, lalu siapa Marshal?. Apakah Marshal memang orang pilihan yang sudah dinanti kelahirannya?.
Pikiran-pikiran itu mulai berkecamuk di dalam dadanya, dan membutuhkan jawaban agar semua menjadi jelas. Kini Hasan mulai mengerti apa yang sebenarnya sudah dialami oleh Marshal dan temannya itu hanya butuh mencari jawaban, agar semua jelas dan hidupnya kembali tenang.
Marshal menolak uluran tangan Hasan untuk membantunya berjalan masuk ke rumah, Hasan hanya bisa mengiringi langkahnya dari belakang guna berjaga dan memastikan bahwa kaki yang tidak berdaya itu bisa tetap kuat menopang tubuh yang kehilangan energinya.
Sampai di depan teras, langkah Marshal masih gontai, ia berjalan terhuyung memasuki teras rumah. Tepat saat adzan Maghrib, Marshal membanting tubuhnya di atas lincak dengan keras, menimbulkan suara gaduh dan mengundang semua teman yang ada di dalam rumah.
Seluruh penghuni berhamburan keluar, mereka menatap Marshal dengan penuh kecemasan. Lelaki yang kuat itu tubuhnya eperti lidah tidak bertulang, sangat lemah.
Aurelia yang kebetulan duduk di sampingnya, memegang dahi Marshal yang basah oleh keringat. Ia memeriksa suhu tubuh Marshal yang sedang menggigil kedinginan.
"Tubuhnya panas. Apa dia digigit hewan berbisa?." Aurelia khawatir bahwa Marshal terkena bisa ular.
"Tidak. Dia terpeleset dan terjatuh, kepalanya membentur batu dengan ukuran yang lumayan besar." Hasan terpaksa berbohong. Ia tidak punya opsi lain selain mendukung perjuangan Marshal dalam memecahkan sebuah misteri itu.
"Marshal. Hei Marshal. Bangun." Aurelia menepuk pipinya dengan keras. Ia Berharap bahwa Marshal baik baik saja, tidak terkena gigitan hewan berbisa.
Marshal merintih dalam keadaan suhu tubuh demam tinggi dan terus menggigil, ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi pada dirinya saat itu.
"Kita rebahkan tubuhnya di dalam saja. Ayok yang laki-laki," ajak Nakula. Lelaki itu merasa harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi dengan Marshal.
Tiga puluh menit kemudian, Marshal tak kunjung sadar. Padahal Hasan sedang menunggunya bangun untuk memberi minum. Ia tidak ingin Marshal dehidrasi, saat melewati masa syok yang dialaminya.
Hasan memegang dahinya, tubuh Marshal masih demam dengan mata yang tertutup rapat. Hanya irama napasnya yang bisa terdengar oleh Hasan. Ia mengganti kain lap yang menempel di dahi Marshal dengan yang baru, begitu terus secara bergantian.
"Ya elah Hasan. Kalian udah seperti orang pacaran saja. Jeruk makan jeruk nih," ledek Imam sambil tersenyum menyeringai.
"Ngawur kamu. Kalau bicara hati-hati imam." Hasan merasa tidak nyaman dengan kalimat yang keluar dari mulut Imam.
"Maap. Maap. Maap," ucap Imam penuh penyesalan.
"Sudah sudah sudah. Jangan perang kalimat mulu. Marshal sedang sakit. Jadi, kita harus merawatnya bersama-sama," celetuk Aurelia dari belakang.
"Eh, eh, eh." Suara Marshal mengigau, ia merintih dalam racauannya. Hasan mencoba membangunkan Marshal, ternyata nihil, ia tidak berhasil.
Hasan lalu menyandarkan tubuhnya ke tembok, matanya terpejam sambil mengingat kejadian bersama Marshal yang tidak akan pernah ia lupakan. Rangkaian pertanyaan mulai turut membayang di benaknya.
***
Sunyi, senyap dan dingin itulah yang Marshal rasakan ketika dirinya berdiri di depan sebuah pintu. Sendirian di tempat asing membuat ia terlihat ragu dalam melangkah.
Matanya mengedar ke seluruh area tempatnya berdiri sekarang. Tempat yang penuh dengan pohon besar dengan akar yang menjuntai ke bawah. Tempat yang sangat mistis hingga membuat Marshal berkali-kali mengusap tengkuk lehernya.
Meski ragu, Marshal memutuskan untuk memasuki pintu yang dipenuhi dengan tanaman menjalar. Ia sendiri tidak tahu jenis tumbuhan apa itu, karena memang Marshal bukan pecinta tanaman.
Ia berusaha menerobos masuk, namun tidak bisa. Padahal nyata di depan matanya pintu itu tanpa sekat dan penutup. Marshal mencobanya lagi, lagi dan lagi. Namun tetap tidak bisa.
Tidak mungkin ia berdiri di sana tanpa alasan. Bahkan Marshal sendiri tidak tahu kenapa dia ada di situ dan siapa yang sudah membawanya?.
Marshal mencoba mencari tahu cara masuk ke sana. Ia menggerakkan kedua tangannya, menyapu seluruh sisi pintu itu seolah ia sedang meraba bagian tutup dari pintu itu.
"Klek"
Tepat ketika tangan kanannya menempel di bagian yang berhadapan dengan perutnya, terdengar seperti suara kunci terbuka.
Marshal memutuskan untuk melangkahkan kakinya melihat apa yang ada di dalam sana. Jika ingin keluar dari tempat asing seperti itu, setidaknya ia harus tahu alasan dirinya berada di situ.
Dengan sangat berhati-hati, Marshal terus melangkah memasuki sebuah alam yang berada di balik pintu itu. Mata dan telinganya tetap awas dengan keadaan sekitar.
"Hihi, Hihi, Hihi,"
Marshal kembali mendengar suara yang beberapa hari ke belakang sering muncul memekakkan telinganya. Matanya mencari di mana sumber suara itu berada.
Sangat sulit baginya mencari dalam rimbunnya akar yang menjuntai dari setiap pohon beringin yang sangat besar, ia harus tetap berhati-hati.
Samar terlihat oleh matanya, sekelebat bayangan yang terbang dari satu pohon ke pohon yang lain. Sebuah angin yang sangat kencang tetiba saja datang, menyapu seluruh permukaan wajahnya serta mengaburkan pandangan matanya.
Dengan cepat Marshal memejamkan matanya, ia tidak ingin matanya terluka akibat benda yang tanpa sengaja terbawa terbang oleh angin. Ia merasakan dikelilingi oleh beberapa orang, namun ia masih belum bisa melihat dengan jelas sebab angin masih menerbangkan apa pun yang ada di sekitarnya.
Setelah mereda barulah Marshal bisa kembali membuka matanya, dan memastikan dengan apa yang sudah membuat dia penasaran.
Benar saja, ia dikelilingi oleh empat orang perempuan berkebaya dengan warna yang berbeda. Perempuan-perempuan itu perlahan melakukan gerakan tari. Awalnya Marshal masih diam, ia tidak melakukan apa pun, bahkan berlari. Lama-lama keempat perempuan itu tersenyum menyeramkan dengan tangan menjulur ke depan, seolah akan mencekiknya.
Marshal memutuskan menabrak salah satu perempuan itu demi membuka jalan untuk dirinya melarikan diri, hingga akhirnya ia berhasil kabur.
Marshal terus berlari, tanpa tahu bahwa keempat gadis itu terbang dan mengejarnya, sambil terus tersenyum. Senyuman yang menyeramkan.
Lelaki itu berlari tanpa tujuan, sebab ia tidak tahu dari pintu mana ia berhasil masuk. Marshal belum berhasil melarikan diri, ia masih berputar-putar di area itu.
Tanpa sengaja matanya menatap setitik cahaya, ragu jika itu adalah jalan keluar. Namun tidak ada yang salah jika ia berlari mendekati cahaya itu demi memastikan bahwa itu adalah cahaya benar.
Akhirnya Marshal bisa bernapas lega, ia bisa keluar dari tempat menyeramkan itu. Namun Marshal dihadapkan pada situasi lain. Jalan yang ia lewati berlumpur, seperti area persawahan yang siap tanam.
"Ini apalagi ya tuhan," gerutu Marshal di dalam hati.
Dengan berat ia melangkahkan kakinya secara bergantian, satu persatu. Namun hal itu tidak membuatnya terbebas dari cengkraman ke empat perempuan dengan tatapan yang siap merebut nyawa dari raganya.
"Hihihihihi."
Suara itu terus mendekatinya, kali ini disempurnakan dengan tatapan mata tajam.
"Tttollooong. Tttollooong. Tttollooong."
Suara Marshal tercekat, ia berusaha berteriak namun tidak bisa. Lidahnya seolah terkunci. Hingga ia merasai tangan keempat perempuan itu melingkar di lehernya dan siap mencekiknya.
Marshal hanya bisa melotot, sambil memegangi lehernya, "Arrgghh, Arrgghh,"