Sekuat tenaga Marshal berteriak dengan sangat keras, dengan segala kekuatannya meminta tolong pada siapa pun yang mendengar suaranya. Hasilnya nihil. Semakin ia berteriak, semakin perempuan-perempuan itu mempererat cekikan mereka.
Marshal sudah hampir kehilangan napas karena cekikan tersebut. Ia merasakan seperti ada orang lain yang menggoyang tubuhnya dengan keras, namun masa bodoh dengan itu. Memberi napas pada tubuhnya saja, ia tidak bisa. Apalagi harus mencari sesuatu yang mengguncang tubuhnya yang bagian bawah.
Wajah Marshal sudah memerah, ia berusaha mencari sisa oksigen melalui mulutnya yang terbuka. Bersuara pun, tak lagi bisa ia lakukan. Terbayang Izroil menjemputnya tanpa memberi kesempatan padanya untuk meminta maaf pada Sang Ibu.
***
"Marshal, Marshal. Bangun."
Hasan menggoyang tubuh temannya itu. Mimpi buruk apa yang sudah membuat Marshal tidur sampai terengah-engah sembari memegang lehernya.
Semua panik melihat Marshal terus mengangkat tubuhnya ke atas. Jemari Marshal masih melingkar di lehernya. Malam belum juga larut, namun suasana sangat mencekam seperti sedang menunggu di ujung peradilan.
Husna dan Amora duduk di pojok dekat pintu, bibir mereka tidak berhenti melafalkan doa-doa yang mereka hafal. Sementara Hasan, Nakula, Imam dan Aurelia duduk melingkar di dekat Marshal.
"Marshal, ayo bangun," ucap Nakula. Dengan santai ia melepas jemari Marshal dari lehernya, tentu saja dengan melantunkan doa yang ia yakini bisa membawa Marshal kembali sadar. Entah mantra apa yang diucapkan oleh Nakula, hingga ia dengan mudah melepas jemari Marshal dan berhasil membuatnya membuka mata.
"Hah, hah, hah."
Akhirnya Marshal terbangun, bahunya naik turun dengan napas tersengal-sengal. Peluh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Marshal tertunduk dalam posisi duduk. Tubuhnya terasa begitu lemas. Ia angkat tangannya untuk meminta segelas air.
Hasan hendak memberikan air yang memang sudah ia sediakan untuk Marshal, namun Nakula lebih dulu memberi kode untuk tidak memberikan minuman yang itu. Lalu Nakula mengangkat gelas yang sudah berisi air putih. Hasan tidak perlu bertanya, ia sudah tahu maksud Nakula. Segera Hasan menepikan gelas di tangannya.
"Marshal, ini minumnya," ucap Nakula sembari memberikan segelas air minum.
Sekilas tidak ada yang berbeda dengan gelas itu. Gelas plastik biasa yang berasal dari salah satu pabrik air mineral terkenal di negeri ini. Namun firasat Hasan berkata lain, ia yakin bahwa Nakula pasti sudah memberinya doa khusus untuk temannya itu.
Nakula memang bisa melakukan itu, ia mempunyai kelebihan untuk berbicara dengan hal-hal yang tak kasat mata, ia bisa merasakan energi itu namun ia tidak bisa melihatnya. Kelebihan itu ia warisi dari kakek buyutnya, dan tak banyak orang yang tahu jika Nakula mempunyai kemampuan itu.
Marshal meraih gelas dari tangan Nakula, gegas ia meminumnya sampai habis tak tersisa. Ia menoleh ke arah Hasan yang sedari tadi sudah menepuk perlahan pundaknya. Ia anggukkan kepalanya, mengisyaratkan pada temannya itu bahwa dirinya baik-baik saja.
Marshal menatap lekat mata Hasan, berharap Hasan tidak menceritakan semua yang terjadi di depan matanya kepada seluruh penghuni Rumah Rongrawe.
Hasan memahami arti tatapan itu, dan ingin mengatakan pada Marshal bahwa ia masih tutup mulut soal kejadian tadi. Namun, Hasan tidak bisa menyampaikan itu di hadapan banyak orang.
"Kamu sudah merasa baikan?," tanya Imam. Ia masih khawatir dengan keadaan Marshal.
"Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih ya sudah khawatir dengan keadaanku. Dan, maaf aku teman yang hanya merepotkan kalian saja." Marshal memang anak begajulan, tapi ia tahu caranya berterima kasih ketika orang lain perduli dengan dirinya.
"Kalian kenapa di sana?," tanya Hasan. Ia melihat Husna dan Amora duduk ketakutan di sudut ruangan.
"Ya kami takutlah. Kok masih nanya," jawab Amora sambil melepas pelukannya pada Husna.
"Marshal hanya mimpi buruk kan tadi?," tanya Aurelia. Ia berharap mendapat jawaban yang positif keluar dari mulut Marshal, agar Husna dan Amora bisa tenang dan tidak ketakutan lagi.
"Iya aku tadi mimpi buruk. Kalau kata orang apa namanya ya," ucap Marshal sambil berpikir. Ia melupakan suatu istilah yang berkembang di masyarakat, untuk menyebutkan mimpi buruk yang dialami oleh seseorang dan berefek menimbulkan suara jejeritan.
"Tindihan," sahut Imam.
"Nah iya bener. Kalian jangan takut lagi. Dan segera memasak untuk makan malam. Karena perutku sudah laper," canda Marshal. Sekaligus menunjukkan bahwa lelaki itu sudah kembali ke sedia kala.
"Dasar kurang asem kamu Marshal," gerutu Amora sambil melempar gelas plastik ke arah Marshal.
Apa yang diucapkan Marshal memang benar, semua penghuni rumah sedang merasa kelaparan. Rencana awal, mereka bersama akan jalan-jalan untuk menikmati malam di Desa Awu Awe serta menikmati kuliner desa tersebut yang berada di ujung Gang. Mereka mencoba mengukir kenangan yang kelak akan menjadi cerita di masa tua mereka.
Namun ternyata, rencana tak sesuai kenyataan. Mereka harus mengalami situasi yang sangat menegangkan. Situasi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Situasi yang sangat mencekam. Situasi yang mereka pikir bahwa malam itu Marshal akan meregang nyawa di depan mata mereka. Namun ternyata, beberapa saat yang lalu mereka baru mengetahui bahwa Marshal hanya sedang tindihan.
"Kalau begitu, sekarang kita ke dapur. Kita masak bersama. Tapi harus ada satu orang yang bersama Marshal di sini," ajak Nakula sebagai kepala tim mereka.
"Biarkan Hasan di sini bersamaku," pinta Marshal.
"Oke."
Nakula setuju untuk itu. Mereka teman satu jurusan bahkan satu kelas, mungkin Marshal butuh teman yang memang sudah nyaman bersamanya.
Di dapur, mereka berbagi tugas. Aurelia sedang menyiapkan menu oseng kangkung serta pecel lele untuk makan malam.
"Nakula, kamu dan Imam yang membersihkan ikan lele nya ya," tunjuk Aurelia yang melihat kedua lelaki itu sudah mengangkat seikat besar kangkung segar.
Mendengar perintah Aurelia, Nakula segera meletakkan kembali kangkung yang sudah ia angkat sebelumya. Lalu berganti mengambil ikan lele yang ada di sebelahnya.
"Kalau membersihkan ikan lele, bersihkan dulu patilnya, lalu kumis dan seluruh isi bagian perut dan kepala. Bersihkan sampai bersih ya," pinta Husna.
"Cara membersihkan kepalanya bagaimana?," tanya Imam yang belum tahu cara membersihkan ikan lele, sama seperti Nakula yang juga tidak tahu cara membersihkan ikan lele.
Aurelia segera membuka kelambu, yang berfungsi sebagai pintu kamar mandi. Kelambu usang dengan ribuan bintik noda hitam yang hampir memenuhi seluruh permukaan selembar kain yang sudah berubah warna itu.
"Aaaaaa."
Aurelia berteriak ketika melihat sesuatu yang menakutkan berada di balik kelambu tersebut. Teriakannya berhasil membuat Nakula dan Imam berhamburan keluar kamar mandi, keduanya juga sempat melihat Aurelia membuka kelambu lalu menutupnya kembali.
"Hai ada apa?," tanya Imam dengan wajah penuh kekhawatiran.
Demikian juga dengan Husna dan Amora yang sedang memisahkan daun kangkung dari batangnya, keduanya bergegas menghampiri Aurelia yang terdiam di depan kamar mandi.
"Kamu kenapa Rel," tanya Amora dengan menunjukkan ekspresi yang sama dengan Imam.
"Anu, tadi aku melihat dua kecoa di dalam kamar mandi," jawab Aurelia dengan tersenyum menyeringai.
Aurelia berbohong. Apa yang ia katakan tidak sesuai dengan apa yang ia lihat. Sama seperti Marshal dan Hasan, ia tidak mau semua temannya resah, dan merasa tidak nyaman tinggal di rumah rongrawe sedang masa KKN masih lama.
Kalau pun harus cerita itu nanti, bukan di Desa Awu Awe. Tapi ketika mereka semua sudah menyelesaikan tugas KKN dan sudah berada jauh dari tempat yang mungkin saat ini terasa menyeramkan baginya, Marshal dan juga Hasan.
"Ya Ampun Rel. Kamu ini bikin kaget aja." ujar Amora dengan nada sedikit kecewa, sebab ia lempar begitu saja pisau dan kangkung yang ada di tangannya demi melihat Aurelia yang jejeritan.
"Sudah, sudah. Ayo kembali beraktifitas. Biar kita bisa segera makan malam lalu tidur. Esok kita harus bertemu Pak Kades di Balai desa, guna mempersiapkan acara Mangkurawe," ucap Nakula membuyarkan kerumunan yang ada di dapur.
"Ayo Rel, ajari cara membersihkan kepala ikan meong ini," kata Imam yang mengingatkan Aurelia maksud dan tujuannya untuk mendatangi dirinya dan Nakula yang sedang kebingungan membersihkan bagian dalam ikan lele.
"Oh iya sampai lupa. Pertama kamu potong dulu bagian ini," ucap Aurelia sambil memukul senjata ikan lele yang sering melukai tangan manusia, yakni patil.
"Nah, kalau sudah bagian ini kamu potong, mau membersihkan bagian mana pun akan aman. Sebab ikan ini kuat banget, sekali pun sudah di potong lehernya ia masih bisa berenang," jelas Aurelia.
Ia lalu mengeluarkan seluruh isi kepala serta isi perut ikan itu sampai bersih, lalu memotongnya menjadi dua bagian. Nakula dan Imam terlihat begitu serius mengamati Aurelia membersihkan ikan lele.
"Kenapa mesti di potong jadi dua Rel?," tanya Imam penasaran. Ia terbiasa melihat di warung makan satu ikan lele digoreng dalam keadaan utuh.
"Ya kali di warung Mam, wajannya gedhe. Lele sebesar apa pun bisa masuk. La wajan kita kecil, jika digoreng dia akan melungker, makanya harus dipotong," terang Aurelia lagi. Nakula dan Imam hanya diam sambil sesekali menganggukkan kepala mereka, pertanda mereka memahami apa yang disampaikan oleh Aurelia.
"Buat goreng aku muat kali ya Rel," goda Imam.
"Coba aja besok Mam. Ngomong sama penjualnya kalau kamu ingin digoreng dan mau di jadikan menu jualannya. IMAM GORENG. IMAM PENYET. dijamin gak ada yang beli. Penjualnya gulung tikar," seru Aurelia tanpa ekspresi.
Sedang Imam tertawa terpingkal, suaranya terdengar memenuhi kamar mandi dan dapur bahkan terdengar sampai ruang depan. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya pada Aurelia. Imam tidak menyangka, bahwa Aurelia yang dingin itu juga punya selera humor.
Setelah mengajarkan cara membersihkan ikan lele pada Nakula dan Imam, Aurelia meninggalkan mereka berdua di kamar mandi. Membiarkan keduanya mempraktekkan sendiri apa yang sudah ia ajarkan.
Aurelia melanjutkan membantu Amora dan Husna serta menyiapkan bumbu untuk tumis kangkung, sambal tomat dan bumbu untuk menggoreng ikan lele. Namun, pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan sosok berbulu dengan telinga meruncing di bagian atas.
Sosok apakah itu?, Aurelia sendiri tidak tahu. Sebab ini kali pertama dirinya melihat dengan jelas sosok makhluk yang tak kasat mata seperti itu.
Pikirannya memutar memori yang telah lewat, di mana ia tidak sadarkan diri saat berjalan bersama Marshal. Saat itu matanya tiba-tiba gelap dan ada sesuatu yang besar menabrak tubuhnya begitu saja. Sudah, Ia tidak ingat lagi apa yang terjadi, hingga saat terbangun tubuhnya sudah terbaring di ruang tamu. Persis seperti yang dilakukan Marshal saat ini.
Aurelia sengaja tidak bertanya pada Marshal apa yang sudah terjadi dengannya saat itu, ia takut lelaki itu akan berprasangka bahwa ia sedang mengejar cinta artis play boy di kampusnya. Ia yakin Marshal mengetahui dengan jelas apa yang sedang terjadi dengannya.
Sedang Marshal sendiri juga tidak bertanya apa pun tentang kejadian sore itu, maka Aurelia pun semakin rapat menyimpan beberapa kejadian yang ia alami serta kejanggalan-kejanggalan yang ia ketahui.