"Aurel, asapnya kemebul. Minyaknya sudah panas," teriak Imam. Ia keluar dari kamar mandi, spontan berjingkat melihat asap dari wajan terus mengepul. Sedang Aurelia diam termangu di depan wajan.
Aurelia terhentak mendengar suara Imam yang berhasil membuyarkan lamunannya. Ia sebenarnya takut, namun ia anti menunjukkan ketakutan itu pada orang lain. Menjadi penakut dan terlihat manja di depan orang lain sungguh bukanlah sifat Aurelia, karena itu ia memilih diam.
"Gak usah mikirin aku. Kan sudah ada di sini."
Layaknya Marshal, Imam sebenarnya juga suka menggombali para gadis. Namun ia tidak terlihat sedang memacari banyak gadis seperti Marshal, sebab ia tahu diri dengan kemampuan berbohong yang dimilikinya. Ia tidak punya seribu jurus untuk memanipulasi belasan cewek dalam satu waktu, seperti keahlian yang dimiliki oleh Marshal. Ia adalah tipe setia.
"Pede banget kamu Mam. Udah jadi anak buah Marshal nih?," ledek Aurelia sambil memasukkan bahan untuk tumis kangkung. Wangi aroma tumisan bawang merah dan bawang putih bercampur cabe dan laos memenuhi dapur yang berukuran hanya tiga kali empat meter itu.
Aroma cabe mulai mengusik ketenangan hidung mereka, jadilah seluruh yang ada di dapur menggelar konser bersin tak berkesudahan.
"Hachim, Hachim, Hachim." Begitu terus secara maraton hingga Aurelia memasukkan sedikit air ke dalam tumisan lalu disusul ia memasukkan kangkung ke dalamnya.
"Hah, akhirnya berhenti juga. Padahal tadi aku mau bilang, kenapa jadi keluar nama Marshal?."
Kalimat Imam berhasil membuat Aurelia menghentikan tangannya untuk mengaduk kangkung yang mulai layu. Kalimat itu telah membuatnya terlihat seperti orang bodoh yang sedang jatuh cinta.
Aurelia lalu menatap tajam mata Imam, yang juga sedang menatapnya dengan memainkan kedua alisnya naik turun sambil menarik garis senyum di bibirnya menggoda gadis itu.
"Karena memang Marshal ahlinya, dia Play Boy kelas kakap," ucap Aurelia tegas.
"Ooo....,"
"Sudah sana. Tolong kamu lihat nasinya, kalau sudah mateng tolong diaduk ya. Lalu diangkat dan sekalian bawa ke depan," pinta Aurelia.
"Nanti nasinya dingin Rel. Ikannya saja belum di goreng lo," celetuk Amora.
"Oh iya aku lupa. Kalau begitu nanti saja," jawab Aurelia yang sudah selesai memasak tumis kangkung.
Nakula dan Imam bergantian menggoreng ikan lele yang sudah dibumbui bawang putih, garam dan kunyit. Sembari menunggu ikan lele itu matang, tidak ada lagi kegiatan yang mereka lakukan selain mengobrol dan bermain permainan masa kecil yang sudah hampir punah.
Ponsel mereka sama sekali tidak bisa digunakan. Bisa untuk menerima pesan w******p namun harus menunggu selama dua belas jam untuk mendapat balasan. Permainan yang paling sering mereka mainkan selama di mukim di Desa Awu Awe adalah ABC lima dasar, yang kalah harus rela wajahnya dibikin cemong dengan bedak. Demikian halnya malam itu, suasana dapur penuh riuh tawa Aurelia dan teman-temannya. Kecuali Hasan dan Marshal yang masih dalam tahap pemulihan.
Sementara Aurelia dan yang lain sibuk di dapur, Marshal dan Hasan mendiskusikan hal lain. Mendiskusikan apa yang sudah mereka lihat. Apa yang sudah mereka rasakan serta apa yang sudah mereka alami.
Makin hari setiap kejadian yang menimpa Marshal semakin tidak bisa dinalar olehnya. Ia sudah tidak bisa lagi menautkan semua peristiwa dari dunia tak kasat mata itu.
Marshal semakin pasrah ketika sebuah benda tanpa permisi masuk ke dalam tubuhnya, bahkan tanpa penjelasan benda apa itu?. Untuk apa?. Dan kenapa dirinya?.
"Hasan," panggil Marshal pelan. Ia membuang tatapan matanya melalui jendela kecil yang berada di sampingnya. Melihat jauh ke depan. Memikirkan banyak hal.
"Apa Marshal?." Hasan menatap iba pada Marshal. Namun ia tidak bisa berbuat banyak. Untuk melindunginya pun, ia sendiri tidak punya kekuatan.
"Aku harus bagaimana?," ucap Marshal. Ia masih fokus memandang jauh ke depan.
"Kamu harus menyelesaikannya Marshal," ucap Hasan meyakinkan temannya.
Marshal mengubah posisi duduknya. Ia kini duduk bersila dengan kepala tertunduk serta tangan yang sedang sibuk memainkan korek api bensol.
"Seperti itukah dukunganmu?," ucap Marshal sambil tersenyum menyeringai. Ia curiga ada maksud terselubung dari perubahan sikap Hasan yang semula menentangnya untuk tidak lagi penasaran dengan hal-hal yang berkaitan dengan makhluk tak kasat mata.
Namun baru saja, Hasan memberinya dukungan penuh melalui kalimat yang keluar dari mulut temannya itu. Terang saja Marshal tidak percaya itu, sekalipun ia sudah tahu mereka berkawan karib. Hati manusia bisa saja goyah jika tak kuat iman.
"Iya Marshal," ucap Hasan lebih tegas lagi.
"Bukankah itu terdengar aneh?."
Kali ini kalimat yang keluar dari mulut Marshal terdengar begitu dingin meski tanpa memberinya es batu, sekaligus membuat ekspresi wajah Hasan berubah.
Ekspresi wajah itu berubah menjadi sebuah rasa sakit hati, karena merasa dicurigai dan tidak dianggap. Hasan berusaha mengontrol perasaannya untuk tidak marah, ia berusaha untuk tetap tenang. Kebalikan dari kebiasaan dia bersikap.
"Kamu kenapa Marshal?," tanya Hasan
"Kamu yang kenapa Hasan?." Marshal malah balik bertanya.
"Oke. Aku kenapa?," tanya Hasan lagi dengan suara yang sangat pelan penuh penekanan. Ia mencoba bersikap untuk mengalah, meski saat ini ia sudah disalahkan oleh Marshal.
"Kamu sebelumnya telah melarangku untuk tidak berhubungan dengan hal-hal yang berbau mistis. Bahkan itu yang kamu suarakan dengan lantang. Tapi kini, setalah melihat kejadian tadi, kamu berubah Hasan. Kenapa?, Hah?, Kenapa?." Marshal memburu jawaban yang bisa memuaskan hatinya. Jawaban yang bisa diterima oleh akal dan pikirannya.
Sebenarnya Hasan tidak ingin menjawab pertanyaan itu, bukankah sudah jelas jika ia melarang artinya ia khawatir dan peduli. Namun karena ia tidak mau Marshal salah paham, dan butuh meluruskan pikiran Marshal maka ia harus bersuara.
"Marshal. Sejak awal aku memang yang menentangmu. Ah bukan, aku yang paling menentangmu sebab hanya aku yang tahu semua ini sejak awal. Sejak kamu melihat dan memutuskan penasaran dengan gadis itu." Hasan menghentikan sebentar ucapannya guna mengambil jeda.
"Lalu?," tanya Marshal menelisik.
"Setelah tadi sore melihat peristiwa yang terjadi di depanku, aku percaya bahwa semua hal-hal ganjil yang menghantuimu selama ini ada maksudnya. Dan itu yang menjadi PR mu, dan mungkin akan menjadi PR ku juga," ucap Hasan berapi-api. Ia tetap bersuara dengan sangat pelan penuh penekanan agar teman yang lain tidak mendengarnya.
"Benarkah aku yang memang dipilih untuk memecahkan semua misteri ini?," tanya Marshal. Ia menatap tajam mata Hasan. Sama seperti Hasan, ia juga menjaga suaranya agar tetap stabil di suara rendah.
"IYA. Jika tidak?. Mana mungkin benda itu bisa masuk ke tubuhmu. Benda itu kunci dari semua misteri ini Shal."
Hasan mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, lalu menyalakannya dengan korek bensol yang sedari tadi dimainkan oleh Marshal.
Marshal terdiam. Ia mencerna semua kalimat yang diucapkan Imam, mencari letak kalimat pembenaran yang harus ia mengerti dan menjadi alasan agar bisa mempercayai temannya itu seperti sedia kala.
"Kamu masih ragu?," ucap Imam lagi.
"Aku tidak pernah ragu," jawab Marshal tegas.
"Lantas?. Marshal begini ya. Karena kamu yang mungkin sudah pilihan, maka secara tidak langsung imbasnya itu ke aku, ke semua teman kita. Jadi keselamatan kami juga bergantung padamu Marshal," ucap Hasan.
Sejenak Marshal diam
Suasana menjadi hening
"Berarti saat ini aku harus apa?. Pikiran ku benar-benar kalut setelah benda tadi masuk ke dalam tubuhku," ucap Marshal meminta saran. Ia memperhatikan Hasan yang sedang memainkan asap rokok keluar dari mulutnya dengan berbagai bentuk, seperti yang bias ia lakukan. Ia lalu meraih air minum dari dalam kardus yang penuh isinya.
"Kalau menurutku nih ya Shal. Saat ini kamu tenangin diri dulu tanpa memikirkan apapun. Kecuali jika ada memang ada hal janggal yang bisa dijadikan simpul jawaban," ucap Hasan memberi saran.
"Ya memang itu kali Hasan dodol yang setiap hari aku lakukan," rutuk Marshal. Sepertinya kondisi lelaki itu sudah kembali membaik.
"Oh iya to?, Kamu sudah sering menemukan kejanggalan?, Kamu belum cerita padaku?."
Marshal memang menyimpan semua hal yang sudah ia alami. Ia tidak mau bercerita pada siapa pun. Termasuk yang sudah terjadi pada Aurelia.
"Ceritanya sambil jalan saja ya Hasan. Hari ini aku benar-benar lelah. Ditambah lagi perutku sangat lapar," ucap Marshal sambil menyunggingkan senyum.
Hasan tidak protes dengan keputusan Marshal yang masih belum mau berbagi cerita dengannya, tidak masalah baginya yang penting Marshal tahu pasti apa yang ia lakukan untuk menjaga keselamatan dirinya sendiri dan juga seluruh penghuni rumah rongrawe.
"Kamu harus ingat Marshal. Aku akan selalu siap membantumu," ucap Hasan. Ia memberi dukungan penuh pada Temannya itu.
Marshal lalu mengikuti jejak Hasan, menghisap zat nikotin yang terdapat di dalam sebatang rokok. Kini bersama mereka beradu asap rokok yang keluar dari mulut dan hidung mereka secara bergantian.
"Hasan, dengarkan," perintah Marshal tiba-tiba. Ia lalu menghentikan mulutnya memainkan asap rokok dan membiarkan keluar begitu saja.
"Kamu mendengar bunyi gamelan?," tanya Hasan.
"Iya aku mendengarnya lagi."
"Pasti warga sedang latihan, besok kan ada acara mangkurawe," ucap Hasan menenangkan.
Hasan dan Marshal kembali mendengar suara gamelan yang entah dari mana asalnya. Marshal sudah mulai beranggapan bahwa hal itu adalah salah satu bagian dari rentetan misteri.
"Pergilah ke kamar mandi biar tubuhmu segar,"
Beberapa detik kemudian terdengar suara Imam, namun ia belum sampai di ruang tamu, "sedang apa kamu di situ Rel?."
Imam melihat Aurelia sedang berdiri bersandar di lorong. Aurelia diam sambil menundukkan kepalanya dengan membawa cobek besar berisi sambal tomat.
Setelah mendengar itu, barulah Imam dan Aurelia keluar dari lorong yang menghubungkan antara ruang depan dengan ruang belakang.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Imam, spontan Hasan dan Marshal saling berpandangan. Keduanya memikirkan hal yang sama, "apakah Aurelia mendengar obrolan mereka?."
Marshal menempelkan tangannya ke Paha Hasan, lalu menggelengkan kepalanya serta meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya setelah Hasan menatap matanya.
Marshal mencoba berkomunikasi dengan Hasan tanpa diketahui oleh Imam dan Aurelia. Untungnya Hasan memahami apa yang ingin disampaikan oleh Marshal, ia hanya perlu diam. Urusan Aurelia adalah sepenuhnya urusan Marshal.
"Kamu sudah baikan Shal?," tanya Imam dengan sorot mata bahagia melihat Marshal seperti sudah membaik.
"Mau ngajakin adu salto?," tantang Marshal. Tentu saja itu hanya bercanda.
"Ayo, nanti habis makan. Mari adu salto jempol kaki. Wkwkwk." Imam tertawa lepas. Tanpa bertanya apa yang sebenarnya sudah terjadi dengannya.
Kedua netra Marshal tidak melepaskan sosok Aurelia. Ia terus menatapnya dengan sorot mata tajam, seolah tidak rela membiarkan sosok itu pergi. Setiap gerak langkah gadis yang sedang membereskan ruang tamu dan menyiapkan makan malam untuk mereka itu, Marshal terus mengawasinya.
Hingga tanpa sengaja, kedua mata mereka saling bertemu dan saling berbalas pandangan. Bukan tatapan kerinduan yang melenakan, atau bahkan tatapan mesta yang mensyahdukan.
Namun tatapan keduanya lebih ke arah saling meraba arti dari tatapan mereka yang penuh tikaman. Aurelia tidak sedikit pun membalas tatapan itu dengan rasa takut, ia tidak ingin terlihat lemah di depan Marshal. Ia tahu Marshal sedang menyimpan tanda tanya yang besar apakah dirinya sudah mendengarkan obrolan Marshal dan Hasan.
Demikian juga dengan Marshal. Sejak mereka berdiri di depan plakat bertuliskan Rongrawe, ia sudah tidak berhenti memikirkan beberapa hal tentang Aurelia. Apakah gadis itu mengetahui sesuatu dengan desa yang kini menjadi tempat mereka mengabdi selama KKN.