Meninggalkan Aurelia yang masih menatapnya, Marshal melangkahkan kakinya ke dapur. Bebersih diri adalah hal yang paling ingin ia lakukan. Aroma wangi shampo sudah terbayang di ujung hidung, rasa segar turut menyertai rasa harapnya di malam itu.
Ia mengguyur tubuhnya dengan semangat. Air yang begitu dingin tidak menjadi penghalang bagi Marshal untuk membasahi tubuhnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
Marshal mengguyur kembali tubuhnya hingga berkali-kali. Dari luar, terdengar seperti orang yang tidak pernah mandi dan baru pertama kali melihat air.
"Ah...," rintih Marshal kesakitan. Ia memegang bagian tubuhnya yang tetiba saja terasa sakit, bagian tubuh yang disinyalirnya adalah tempat bersemayamnya benda asing yang tidak pernah ia undang, dan tidak pernah ia harapkan.
Kini, ada rasa takut yang menjalari hati dan pikirannya. Benda itu tanpa perasaan, sudah memberi beban batin baginya. Antara hidup dan mati menanggung pilihan bukan atas kehendaknya. Lantas kehendak siapa?
Kembali Marshal mengguyur tubuhnya yang hampir kering karena terjeda oleh pikiran yang sedang kalut. Takdir tidak mungkin bermain-main dengan nyawanya, kecuali takdir berkehendak bahwa ia mampu berjaya dengan waktu.
Samar terdengar olehnya, bunyi-bunyi gamelan yang terus dimainkan. Terbayang seorang penari bahkan mungkin beberapa penari sedang menyeiramakan alunan gamelan yang melenakan.
"Suara itu lagi. Kenapa kemarin aku tidak mencari tahu adakah ruangan musik di Balai Desa?. hingga jelas dari mana asal bunyi gamelan itu. Mungkin besok aku bisa melakukan itu, disaat teman-teman menghadap Pak Kades untuk membicarakan acara Mangkurawe. Ya aku akan melakukannya," gumamnya dalam hati.
Tetiba saja ruangan menjadi sunyi, gemericik air terdengar asing. Suara air seolah tenggelam dalam kesunyian. Marshal menghentikan sejenak aktifitasnya di dalam kamar mandi, memanggil nama siapa pun yang sedari tadi sibuk di dapur.
"Aurel." Tidak ada jawaban.
"Amora, Husna." Tidak menyahut.
"Imam, Nakula." Masih sepi.
Gegas Marshal menuntaskan kegiatannya di dalam kamar mandi, lalu memasang celana pendek dan kaos oblong berwarna kuning dan meletakkan handuk kecil di kepalanya yang basah.
Ia sibak kelambu putih yang sudah hilang warna aslinya. Marshal terkejut, ia mendapati dirinya berada di ruang lain. Ruang yang sangat terang, tak berpenghuni, tanpa pintu dan jenis ventilasi yang lain, serta tak satu pun hiasan dinding tertempel di sana.
Dengan ragu Marshal berjalan berlahan menuju ke tengah ruangan, namun keadaan masih sama, sepi dan sunyi. Ia telah mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi, bahkan jika itu kemungkinan terburuk.
Ia seperti bintang dalam terang, semua mata tertuju padanya. Namun Marshal sama sekali tidak melihat ada siapa pun di sana. Sepuluh menit ia habiskan hanya dengan berdiri seperti orang bodoh tanpa tahu arti keberadaan dia di sana.
Marshal pun memutuskan untuk kembali ke lubang pintu semula, pintu tempat asal dirinya berdiri, Kamar mandi. Ya, Marshal kembali ke kamar mandi masih dengan baju yang sama tanpa kurang apa pun.
"Tetaplah tenang wahai darah bangsawan. Tetaplah gemilang wahai kehidupan kedua. Jadilah petangguh seperti dirimu di masa lalu. Kamu kembali dengan takdir yang sama. Kalahkan dia dan kamu tidak sendiri."
Marshal menghentikan tangannya yang sudah hampir membuka kelambu lusuh di depannya. Ia menoleh ke belakang, mencari tahu siapa yang sedang berbicara dengannya. Tidak ada, tidak ada orang di sana.
Ia berlari menjauhi pintu, mengejar suara yang mungkin sudah pergi menjauh. Marshal mengedarkan pandangannya, tak siapapun ada di sana. Ruangan itu tetap ruangan yang sama, penuh cahaya putih. Bahkan Marshal tidak bisa melihat bentuk dindingnya.
"Hai, apa ada orang?," teriak Marshal. Gema suaranya bisa ia dengarkan dengan jelas.
Sepi dan sunyi, itu yang Marshal rasakan. Bahkan sedikit semilir angin saja tak ada. Apalagi tanda kehidupan. Ia kembali berteriak, namun keadaan tetap sama, tidak ada yang membalas teriakannya.
Marshal penasaran, namun ia harus kembali. Jika tetap di sana, malam akan semakin larut, tentu saja akan membuat semua temannya cemas. Ia tidak mau, mereka yang tidak tahu tentang apa yang ia alami menjadi semakin takut dan parno untuk tetap tinggal di Desa Awu Awe.
Ia pun kembali melangkahkan kakinya untuk memasuki satu-satunya pintu masuk ke kamar mandi, sekaligus pintu keluar dari ruang sunyi tersebut. Tidak ada yang berubah ketika Marshal kembali ke kamar mandi.
Sejenak Marshal menghirup napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan keras sebelum akhirnya membalikkan badan dengan harapan bahwa yang ada di balik kelambu adalah ruang dapur.
Marshal merasa lega, keadaan kembali normal. Dapur yang sama telah membuat hatinya tenang, meski suara semu yang tadi masih bergelayutan di benaknya.
"Ada yang bisa aku bawakan?," tanya Marshal yang melihat Aurelia masih sibuk membawa ini dan itu ke ruang depan.
"Ceret berisi teh hangat yang ada di atas meja itu, minta tolong dibawakan," jawab Aurelia. Ia sedikit kikuk bila bertemu dengan Marshal.
Demikian juga yang sebenarnya terjadi pada Marshal, tapi gengsi untuk menunjukkan itu di depan Aurelia. Ia adalah Playboy yang ditolak. Andai tidak ada teror dan misteri yang harus segera ia pecahkan, mungkin Marshal masih akan terus melancarkan jurus ampuhnya untuk menaklukkan hati Aurelia.
Namun sayang, saat ini Aurelia bukan lagi hal yang menarik baginya. Ia lebih tertarik dengan serpihan kata kunci yang bisa membantunya mengungkap misteri yang sebenarnya.
Sampai di ruang tamu, semua mata tertuju pada Marshal dan Aurelia yang datang berbarengan. Semua temannya tahu, hubungan keduanya sedang tidak baik. Keduanya seperti kucing dan tikus yang tidak pernah bersahabat.
"Ciyeee...datang bersama nih?," goda Imam.
"Marshal rambutnya basah. Habis ngapain tuh?," Amora menimpali.
"Ya keramaslah. Masa kebakar," jawab Marshal sewot.
"Iya tahu keramas. Sebelum keramas ngapain hayo," goda Imam lagi.
"Dasar otakmu m***m Mam," ucap Marshal sambil melempar handuk kecil ke muka Imam.
Imam hanya cekikikan. Ia merasa berhasil membuat Marshal dan Aurelia semakin canggung.
"Rupanya kamu sudah lupa ya Shal niatmu semula." Hasan turut serta menggoda.
"Niat apa nih Hasan. Aku penasaran jadinya," celetuk Imam.
"Kata siapa aku lupa. Niat itu pasti terlaksana. Nunggu waktu saja. Sekarang fokus yang lain dulu," jawab Marshal.
"Fokus apaan Marshal?," tanya Imam penuh selidik.
"Tugas KKN dong. Begitu ya neng Aurelia?," ucap Marshal. Ia coba menepikan egonya demi mencairkan suasana antara dirinya dan Aurelia.
"Auh ah," jawab Aurelia datar.
"Mau sampai kapan debat terus?, Ayo cepat makan?," ucap Nakula menengahi.
Malam itu, bersama mereka menikmati makanan ala kadarnya. Jauh dari orang tua membuat mereka harus terbiasa dengan keadaan yang mungkin tidak sama dengan kebiasaan mereka di rumah.
Teman adalah satu-satunya keluarga mereka saat ini. Teman tempat berbagi, saling mengayomi dan berusaha hidup rukun agar kelak yang tersisa hanya kenangan indah, bukan kisah pilu perpecahan.
Usai makan, mereka tidak segera membawa semua piring bekas makan itu ke dapur. Mereka mengadakan rapat dadakan, guna membahas rencana besok pertemuan dengan Pak Kades dan perangkat desa.
"Malam semuanya. Mohon maaf, ini memang sudah malam, tapi saya tetep meminta kalian untuk menghadiri rapat kecil ini. Jadi minta tolong kepada semuanya untuk aktif di dalam rapat kali ini," terang nakula sebagai kepala suku.
Semuanya penghuni rumah rongrawe, mengikuti dengan seksama jalannya rapat di malam itu. Nakula menunjuk dan membagi tugas personal kepada semuanya.
Marshal mendapat bagian untuk mendokumentasikan acara mulai kegiatan bersama dan juga hingga acara Mangkurawe selesai.
Antara senang dan tidak menerima pembagian tugas itu. Ia senang, sebab tugasnya tidak terlalu berat. Namun ia harus fokus pada acara tersebut, agar bisa mengabadikan setiap momen mereka ketika KKN. Dan agar ia bisa segera memecahkan misteri yang sudah terlanjur menarik dirinya ke dalam misteri tersebut.
"Oke. Demikian sudah acara rapat dadakan pada malam hari ini. Dan sekarang kita semua pergi ke dapur guna membersihkan piring kotor bekas makan kita," ucap Nakula menginstruksi semua teman-temannya.
Sampai di dapur, para lelaki bertugas membersihkan piring. Sementara yang perempuan membersihkan dapur dan membereskan semua peralatan yang sudah mereka pakai untuk menggoreng tadi.
"Ikannya masih banyak. Diapakan ini?," tanya Amora.
"Letakkan saja di meja. Besok kita buat sarapan dengan menu bali ikan lele," ucap Aurelia. Ia memang satu-satunya perempuan yang pintar memasak di antara kedua temannya.
Kondisi dapur sudah bersih, tinggal beberapa dari mereka masih menanti masuk ke kamar mandi. Sedang Marshal hanya cukup mencuci tangan dengan dengan sabun berwarna hijau.
Pada akhirnya semua sudah selesai. Mereka tak lantas tidur, mereka kembali duduk bersantai di teras rumah. Menikmati desa Awu Awe di malam hari.
"Ah, kapan KKN ini akan berakhir?," gumam Imam pelan yang ternyata di dengar oleh yang lain.
"Masih lama kali Imam," celetuk Amora
"Aku sudah rindu dengan mie ayam pelangi. Aku juga sudah rindu dengan bakso beranak simpang lima. Lidahku juga sudah rindu...,"
"Makanan mulu Mam yang kamu pikirkan," sela Hasan.
"Kamu juga kan?," ucap Imam.
"Enggak. Enggak salah," jawab Hasan yang disertai dengan gelak tawa.
Jadilah malam yang dingin itu, menjadi hangat dengan obrolan-obrolan kecil dari semua tim KKN yang ada di Desa Awu Awe.
Sembari mengikuti tema obrolan malam itu, Marshal juga memikirkan rangkaian kalimat misterius yang tadi ia dengar di ruang sunyi. Dan lagi, Marshal belum bercerita tentang kejadian itu kepada Hasan. Ia masih ingin menyimpannya sendiri.
"Hoam."
Husna menguap. Amora juga sama. Imam malah beberapa kali sudah hampir tertidur karena perutnya terlalu kenyang. Demikian juga Hasan dan Aurelia, mata keduanya sudah terasa sangat berat.
Sedang Nakula, masih asyik membaca buku. Ia memang hobi membaca. Buku fiksi maupun non fiksi pasti ia baca jika topiknya yang memang menarik untuk dibaca.
Sedang Marshal, pikirannya masih terpusat pada cara menyelesaikan misteri agar ia bisa menyelamatkan diri dan juga teman-temannya. Seperti kata suara misterius bahwa dirinya petangguh yang datang dengan takdir yang sama, dan itu artinya dia di kehidupan silam adalah super hero yang sudah menjadi pemenang.
Marshal tidak tahu situasi apa yang akan ia hadapi?. Musuh seperti apa yang harus ia kalahkan?, Bersama siapa dia akan melawan?, Dengan apa dia akan menang?. Pada pertanyaan-pertanyaan seperti itu, ia tidak mau menyombongkan diri bahwa dia akan menjadi jaya.
Ia harus tetap tenang, karena dirinya bukan orang yang sama yang hidup abadi dari masa lampau ke masa sekarang. Ia hanya manusia yang diberi kesempatan kedua untuk menyelamatkan banyak nyawa.
"Ayo kita tidur," ajak Nakula yang melihat Marshal masih menikmati tembakau dalam lintingan kertas.
Semua temannya mungkin sudah tertidur, sebab tak lagi terdengar kasak-kusuk mereka sedang mengobrol. Kecuali bunyi terbakarnya kertas rokok karena dihisap Marshal sampai habis. Dan juga suara lembar kertas yang dibuka paksa oleh Nakula untuk berpindah halaman.
"Oke, ayok kita masuk," jawab Marshal menerima tawaran Nakula.
Setelah Marshal mengunci pintu, lampu ia matikan. Lalu ia membaringkan tubuhnya di samping Hasan serta menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut tebal guna melindungi tubuhnya dari udara yang semakin dingin jika malam telah pekat. Hal yang sama juga dilakukan oleh teman-temannya.
Sebelum tidur, Marshal melangitkan doa agar esok ia dipertemukan dengan nenek tua yang ia jumpai di masjid saat itu. Ia akan bertanya apa pun yang berhubungan dengan Desa Awu Awe, juga bertanya tentang teka-teki yang berkaitan dengan misteri ini.
"Semoga ada sedikit jawaban," gumam Marshal sebelum akhirnya ia terlelap dalam mimpi panjang.