Malam sudah hampir di penghujung hadirnya, segaris fajar tergambar jelas di langit yang pekat. Subuh belum juga terdengar menggelitik telinga yang masih terjaga, mungkin hanya segelintir orang yang terbiasa merajut doa di sepertiga malam.
Marshal sudah terbangun, sedang teman yang lain masih terlelap dalam lelah. Ia kurang bisa tidur, dadanya bergemuruh membayangkan dirinya memimpin ribuan pasukan di pedan tempur tanpa tahu siapa musuh yang sebenarnya.
Sangat ingin mundur dari garis takdirnya saat ini, namun mustahil. Benda kecil itu seperti tanda tangan yang dibubuhkan di atas kertas bermaterai. Ia tidak bisa menghindar, juga tidak bisa pergi setidaknya itu yang saat ini Marshal pahami.
Sembari menunggu temannya bangun, Marshal menyandarkan tubuhnya ke dinding. Membuka galeri ponselnya, menatap senyum yang dimiliki oleh perempuan yang ia panggil ibu.
Rindu bergelayut di hatinya. Hangat pelukan dari ibu ingin ia rengkuh. Ia merindu sesuap nasi dari tangan seorang ibu yang tanpa lelah memberinya nasehat, namun apa yang ia beri?. Marshal tetaplah Marshal yang belum bisa menjadi lelaki terbaik versi ibunya.
Tanpa ia sadari, mata Aurelia terus mengawasi dengan tajam dari balik lorong penghubung antara ruang depan dan ruang belakang. Tanpa Marshal tahu, Aurelia sedang mengintai dirinya.
Aurelia hanya ingin tahu, ada apa sebenarnya dengan Marshal. Ia merasa lelaki yang berusaha mendekati dirinya itu punya rahasia besar yang tidak ketahui oleh siapa pun, bahkan mungkin Marshal memang ingin merahasiakannya.
Sayangnya, Aurelia sempat mendengar obrolan Marshal dan Hasan tentang benda kecil dan itu sangat mengganggu ketenangannya dan membuatnya sangat penasaran dengan itu.
Sadar diri dengan siapa dirinya di depan Marshal, ia tidak akan bisa dengan mudah mendapatkan jawaban untuk memuaskan rasa penasarannya. Ada satu cara, ia harus merelakan dirinya jatuh ke pelukan Marshal. Namun itu sangat bertentangan dengan prinsipnya, yang sudah bertekad untuk tidak kepincut sama lelaki Playboy tersebut.
Aurelia yang masih mengenakan mukena sedang menyandarkan tubuhnya di dinding lorong, tanpa di nyana ia kepergok Marshal sedang berdiam diri di sana.
"Eit," ucap Marshal ketika tahu Aurelia di sana sedang duduk dengan mata terpejam. Ia sedikit kaget mendapati Aurelia dengan raut muka yang tidak biasa.
"Eh."
Karena malu, Aurelia berdiri dan pergi. Namun, Marshal telah lebih dulu memegang tangannya, menahan langkah gadis yang kini terlihat sedikit kikuk. Rasa canggung itu kemudian ia sembunyikan dibalik wajah tegar yang penuh kepalsuan.
Marshal sedikit menarik tubuh Aurelia, hingga membuat tubuh itu berbalik dengan cepat. Secepat mungkin Marshal mendorong tubuh Aurelia ke tembok yang berada tepat di belakang gadis pemilik lesung pipi itu.
Dengan sedikit menundukkan kepala, Marshal mendekatkan mulutnya tepat di telinga Aurelia.
"Apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, bisakah kamu kubur saja bersama kenangan terburukmu?," ucap Marshal dengan suara yang sangat pelan. Ia mencium wangi aroma parfum yang biasa dipakai ibunya menguar dari tubuh gadis yang memiliki tinggi badan sebatas bahunya itu.
Kalimat Marshal seperti ancaman baginya, Aurelia sangat memahami arti ucapan Marshal bahwa ia tidak boleh ikut campur atas apa yang ia dengar dan atas apa yang ia lihat. Ia mencoba untuk tetap diam, dengan memasang wajah jutek.
Baginya semua ucapan Marshal itu tergantung keadaan. Jika ia menutupi sebuah kebenaran demi untuk sebuah kebohongan, maka ia tidak bisa hanya duduk dan diam tutup mulut. Namun jika kebohongan dilakukan untuk sebuah kebenaran, maka ia selamanya akan tutup mulut dan menguburnya tanpa harus menggali kembali kebohongan itu.
Marshal menarik kepalanya untuk sedikit menjauhi telinga Aurelia, entah kenapa ia ingin sedikit menikmati kedua mata indah milik Aurelia. Mendadak ia merasa ada desir hangat yang mengaliri tubuhnya, untuk pertama kalinya ia merasakan itu.
Kini mereka saling berbalas tatapan. Saling menyelami perasaan masing-masing. Perasaan yang mereka sendiri tidak tahu makna yang sebenarnya.
"Ting tang ting tung, ting tang ting tung, ting tang ting tung"
Marshal membuang tatapannya, spontan ia dan Aurelia menoleh ke arah jendela. Menajamkan pendengaran mereka. Suara itu terdengar semakin dekat, semakin dekat dan sangat dekat hingga berangsur menghilang.
Suara itu seperti berasal dari alat yang sedang dimainkan sambil berjalan. Marshal mendengar suara itu menghilang di kebun belakang. Gegas ia berlari mencari tahu kebenarannya. Tanpa ia sadari, Marshal berlari dengan menggandeng tangan Aurelia.
Jadilah Aurelia yang juga mendengar suara musik tadi, turut melihat apa yang tersembunyi di balik pintu samping rumah. Terlihat warna langit sudah memerah ketika Marshal memutuskan membuka pintu dan keluar. Ia pun tanpa ragu akan berlari ke tempat yang paling wingit dari desa itu. Aurelia keburu menahannya.
"Jangan kamu teruskan?," larang Aurelia
"Kenapa?," tanya Marshal
"Bukan kewajibanmu menelisik apa yang baru saja kita dengar. Kita memang bersandingan dengan mereka. Biarkan mereka hidup dengan dunia mereka, kita hidup dengan dunia kita sendiri," nasehat Aurelia.
Marshal diam sejenak, lalu membenarkan apa yang diucapkan Aurelia sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa, juga sebagai teman yang tidak punya kaitan dengan dunia mereka yang dimaksud oleh Aurelia.
Padahal yang sebenarnya, Marshal adalah seseorang yang memang dilahirkan kembali untuk berhadapan dengan musuh yang sama yang kini mendiami dunia ilusi di sudut Desa Awu Awe. Dunia yang masih dicari oleh Marshal, dan berharap Anisa bisa membantu dirinya.
"Kalian ngapain di sana. Gandengan tangan pula," ucap Imam sambil mengerjapkan matanya. Ia baru saja bangun tidur dan langsung ke kamar mandi.
Ucapan jujurnya membuat Marshal dan Aurelia dengan cepat melepas tangan mereka. Ya, karena terburu melihat suara yang tadi, tanpa sadar mereka telah saling bergandengan tangan saat mengejar suara musik yang mereka sendiri tidak tahu suara apa itu.
Aurelia segera berlari masuk dengan pipi merah yang ia sembunyikan dibalik atasan mukena berwarna dusty pink, dengan aplikasi renda brokat di bawah.
Tanpa alasan Marshal menarik garis senyum di bibirnya. Sebait gempita mungkin sudah tersuarakan di langit hatinya yang belum pernah benderang.
"Imam, jangan lama-lama di sana. Aku sudah kebelet," teriak Marshal sambil memegang perut bagian bawah. Ia menahan air yang sudah berada di ujung jalam keluarnya.
"Iya bentar. Aku wudhu dulu," jawab Imam dari dalam.
Sembari menunggu Imam selesai. Ia diam duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu yang berada tepat di depan pintu. Marshal tidak menyangka, bahwa Aurelia bukan hanya jiwa rapuh yang bisa dengan mudah dihampiri makhluk tak kasat mata. Namun juga bisa mendengar hal-hal yang berhubungan dengan dunia lain selain mereka.
Entah tadi hanya kebetulan, ataukah memang Aurelia mempunyai kemampuan itu yakni kemampuan dengan indra keenamnya. Yang jelas, Marshal menyaksikan sendiri bahwa Aurelia merespon dengan cepat suara musik yang kerap terdengar.
Sekeluarnya Imam dari kamar mandi, Marshal bergegas masuk untuk membuang hajatnya. Sekalian wudhu lalu kembali ke depan, ternyata semua temannya sudah bangun.
Waktunya melakukan rutinitas pagi, para gadis pergi berbelanja. Dan para jejaka membersihkan kebun samping dan belakang yang belum bersih. Marshal teringat dengan dua batang bambu kembar yang tumbuh tinggi ke atas.
"Nakula, aku yang membersihkan kebun belakang ya?." Marshal sengaja melakukan itu, sebab ia tahu tempat yang sebelumnya sudah ia bersihkan telah kembali tumbuh lebat seperti belum pernah ia bersihkan sebelumnya.
"Oke. Kamu sama Imam?," tanya Nakula.
"Sama Hasan saja," jawab Marshal. Ia juga sengaja memilih Hasan sebagai patner bebersih kebun belakang, sebab hanya Hasan yang tahu maksud terpendam dibalik ucapannya.
Segera ia pergi ke halaman belakang, tidak lupa membawa minum, sabit juga kamera yang nantinya ia gunakan untuk mengambil gambar tulisan aksara jawa yang tertulis di pangkal batang pohon bambu.
"Kamu siap dengan kemungkinan yang terjadi Marshal?," tanya Imam sebab ia tahu ia tidak punya kemampuan super untuk menolong Marshal, ia hanya mampu menolong sebatas yang ia bisa.
"Iya. Aku hanya butuh mengartikan tulisan itu Hasan. Siapa tahu bisa jadi petunjuk," jawab Marshal tanpa ragu.
Sampai di kebun belakang, ia harus memberantas rumput yang tumbuh lebat itu dengan jarak satu meter dari pohon bambu. Setelah hampir satu jam, terlihatlah apa yang menjadi target Marshal.
Gegas Marshal mengambil ponselnya, mengambil gambar tulisan aksara jawa itu dari berbagai sudut. Ia periksa ulang hasil jepretannya yang masuk ke dalam galeri ponselnya, ternyata tidak ada. Padahal ia sudah memastikan jempol sudah menyentuh ikon potret.
Ia ulangi lagi, kali ini berhasil namun tulisan itu tidak terlihat jelas. Fokus kamera ngeblur. Ia ulangi lagi mengambil gambar tulisan itu untuk yang ketiga kalinya, ia pastikan jempol dan fokus ponselnya bekerja dengan benar.
"Bismillahirrohmanirrohim. Tolong aku, jika memang aku yang terpilih," ucapnya sebelum memulai mengambil gambar.
Angin kencang tetiba saja lewat. Aura dingin nan sunyi kembali ia rasakan seperti ketika dirinya berada di dimensi lain. Bayangan Anisa menyeruak begitu saja, sudah lama ia tidak melihat gadis itu. Ada rindu yang menyelinap di dalam hatinya.
"Cekrek. Cekrek. Cekrek."
Terdengar suara ponsel Marshal saat pengambilan gambar. Kali ini, ia berhasil mengambil gambar dengan jelas. Segera ia berdiri lalu membalikkan badan membelakangi dua pohon bambu kembar itu, tanpa melihat lagi ke belakang. Dan tanpa tahu bahwa ada Anisa yang telah melihatnya dengan tersenyum di sana.
Hingga ketika ia sadar, bahwa suhu tubuhnya telah menghangat. Barulah ia melihat ke belakang, dan sudah terlambat tak ada siapa pun di sana.
"Anisa. Mungkinkah itu kamu?. Maaf jika aku terlambat menyadari kehadiranmu," gumam Marshal dalam hati. Ia pun kembali dengan rasa penyesalan yang mengendap di hati.