"Bagaimana?, Berhasil?," tanya Hasan yang sudah menantinya dengan penuh cemas. Ia nampak bahagia ketika temannya itu bisa kembali dengan selamat, tanpa ada drama teror dari dunia tak kasat mata.
"Iya berhasil," jawab Marshal.
"Tunggu." Hasan menahan langkah Marshal. Sementara dirinya masih menghadap ke arah pohon bambu.
"Apalagi?," tanya Marshal kebingunan.
"Lihat itu," tunjuk Hasan sambil membalik tubuh Marshal.
Di depan mata mereka, rerumputan yang tadi sudah ditebang oleh Hasan dan Marshal perlahan tumbuh seperti sedia kala. Rumput itu seolah menutup sebuah pintu. Keduanya sangat terkejut hingga tanpa sadar bibir mereka sudah terbuka lebar.
Keduanya saling berhadapan dengan mulut yang tetap terbuka, jadilah suasana yang mencekam itu mendadak ramai oleh riuh tawa Marshal dan Hasan. Setelah puas tertawa, Marshal memegang perutnya yang terasa kaku. Sementara Hasan lebih dulu memegang kedua pipinya yang juga terasa kaku.
"Sudah ayo kita masuk," ucap Marshal sembari mengalungkan tangan kanannya ke pundak Hasan.
Ada perasaan bahagia dan lega menyelinap di hatinya, sebab ia tidak merasa sendirian. Ada sahabat yang sekarang sudah memberinya dukungan penuh untuk menyelesaikan misinya dalam memecahkan misteri.
"Eh nanti kalau Nakula bertanya, soal rumputnya yang masih panjang bagaimana?," tanya Hasan khawatir.
"Bagian sana tidak perlu ditebangi rumputnya, dan bla bla bla. Kasih alasan apalah yang masuk akal," jawab Marshal enteng.
Marshal tidak perlu lagi melangkah dengan bayang-bayang ketakutan yang luar biasa, kini beban di pundaknya sedikit berkurang. Ada sahabat yang bisa diajaknya berdiskusi, itu saja sudah cukup.
"Oke," Hasan pun juga.
Hari ini mereka sengaja tidak mengadakan senam, dengan alasan sekujur tubuhnya terasa pegal. Duduk bersantai menikmati udara pegunungan yang tidak pernah mereka rasakan di kota adalah hal yang kelak mereka rindukan.
"Mau kopi?," tanya Hasan.
"Emang bisa kamu San?," ledek Marshal. Yang ada di dalam pikirannya, untuk urusan perdapuran itu adalah tugas perempuan tanpa ada campur tangan laki-laki. Ia lupa bahwa banyak lelaki yang menjadi koki terkenal.
"Bisa dong," jawab Hasan tanpa ragu.
"Oke buatkan. Tapi bikinnya jangan cuma dua. Nakula dan Imam juga," ujar Marshal kemudian.
Dari jauh, ia melihat Aurelia dan kedua temannya memasuki halaman rumah rongrawe. Mereka sudah pulang dari berbelanja. Marshal tidak sabar ingin segera sarapan.
"Nih kopi kamu," ucap Hasan.
Aroma kopi itu sangat wangi menggelitik hidung Marshal, hingga ia dengan cepat menuang sedikit kopi ke atas lepek.
"Rasanya enak banget Hasan," puji Marshal.
"Yaiyalah. Aku gitu lo."
Nakula dan Imam juga sudah selesai. Mereka berdua lalu bergabung dengan Marshal dan Hasan, menikmati secangkir kopi dengan aroma yang sangat wangi.
Menikmati secangkir kopi dengan pikiran terfokus pada beberapa hal. Namun yang terpenting baginya untuk saat ini adalah menyusun sebuah rencana. Ia mengingat bahwa hari ini mereka ada acara untuk bertemu dangan Pak Kades di Balai Desa.
Setelah semua mandi, mereka lalu bergegas sarapan dengan menu yang hampir sama dengan menu makan malam mereka semalam.
"Sego sak upo dadi sedino," ucap Amora pelan.
"Baca apa kamu Mor?," tanya Imam yang merasa aneh mendengar kalimat yang diucapkan olehnya.
"Asal bunyi aja lihat sebiji nasi yang jatuh," jawab Amora santai dengan memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
"Artinya apa tadi?," tanya Imam lagi.
"Nasi sebiji jadi satu hari. Artinya nasi itu membawa berkah Imam. Cukup satu biji nasi saja, perut sudah kenyang seharian. Begitu maksudnya," jelas Amora. Ia fokus dengan sarapannya, sedang teman yang lain turut larut dalam penjelasan Amora.
"Oh begitu. Kamu menantu idaman ibuku. Hehehe," goda Imam.
"Ih, apaan sih kamu," jawab Amora geli.
Tiga puluh menit kemudian semua sudah selesai sarapan, sudah termasuk mencuci piring. Kini mereka sudah bersiap untuk berangkat menemui Pak Kades di Balai Desa.
"Kita berangkat jalan kaki, apa naik motor?," tanya Marshal.
"Jalan kaki saja, biar sehat. Kapan lagi kita bisa menghirup udara segar seperti di sini?," jawab Nakula.
Bersama mereka melangkahkan kakinya menuju Balai Desa yang berjarak lumayan jauh. Sebenarnya Marshal ingin menaiki motor, namun apa daya ia harus patuh terhadap perintah sang atasan.
Rencana yang sudah disusun rapi oleh Marshal adalah selagi teman yang lain berdiskusi dengan Pak Kades, ia akan mencoba mendatangi kebun belakang. Hari itu juga, ia harus bisa memastikan bahwa pot itu memang sebuah peta. Dan terkait dengan rumah rongrawe.
Sesampainya di Balai Desa, Nakula memimpin semua temannya untuk pergi ruang Bapak Kepala desa. Pak Kades sudah menunggu kedatangan mereka. Sementara Marshal terus mencari alasan untuk bisa ke kebun belakang.
"Mohon maaf Pak. Saya mau ke kamar mandi. Tempatnya di mana Pak?," tanya Marshal.
"Kamu lewat samping sini saja, kamar mandinya ada di paling ujung," ucap Pak Kades sambil menunjuk jalan samping yang sudah pernah ia lewati.
"Saya juga mau ke kamar mandi dulu Pak," ucap Hasan. Yang merasa bahwa kali ini harus menemani Marshal.
"Iya silahkan," ucap Pak Kades.
Berdua mereka lalu keluar dari ruangan yang sudah terasa pengap itu. Padahal udara masih terasa sangat dingin bagi mereka.
Marshal berjalan perlahan melewati jalan samping. Ia teringat dengan Anisa. Gadis yang selalu tersenyum di depannya. Entah kenapa Marshal merasa Anisa punya sesuatu yang ingin diceritakan padanya, dan ia tidak tahu kapan bisa bertemu dengannya.
"Kamu kenapa Marshal?," tanya Hasan. Ia menyadari langkah temannya itu melambat.
"Aku teringat Anisa," jawab Marshal pelan.
"Anisa. Anisa. Anisa. Yang mana Sih?." Hasan sedikit lupa cerita tentang Anisa. Ia mencoba mengingatnya apakah Marshal sudah pernah bercerita tentang Anisa.
"Gadis yang kita lihat saat berteduh di gubug tua. Kamu ingat?." Marshal mencoba mengembalikan ingatan Hasan tentang sosok gadis yang berdiri di bawah rinai gerimis.
"Oh iya iya. Kamu sudah sedekat apa dengan dia Marshal?, Aku sampai belum tahu soal ini lo," gerutu Hasan.
"Aku baru dua kali bisa mengobrol dengannya. Selebihnya dia hanya melihatku dari jauh dengan memamerkan garis senyum yang indah," jelas Marshal.
"Tapi kenapa kamu terlihat sudah akrab banget dengannya?," tanya Hasan penuh selidik.
"Aku sendiri juga tidak tahu Hasan," jawab Marshal. Ia kembali melangkahkan kakinya, berjalan beriringan dengan Hasan.
Sampai di taman belakang Balai desa, Marshal menyapukan pandangan matanya ke seluruh area taman, mencari pintu bertuliskan toilet. Lalu matanya berhenti pada pintu paling ujung yang terbuka namun tanpa plakat bertuliskan toilet.
Marshal berlari ke sana, menuju ruangan yang ia kira adalah toilet dengan meninggalkan Hasan yang tampak melongo melihat aneka macam tanaman yang ada di sana. Benar saja, ruangan itu adalah toilet.
Hanya butuh waktu satu menit bagi Marshal untuk menuntaskan keperluannya di kamar mandi, ia bergegas keluar bergantian dengan Hasan yang ia sangka juga ingin pergi ke kamar mandi.
"Hasan, aku sudah selesai. Segera masuk. Aku tungguin kamu," ucap Marshal yang masih sibuk melipat sedikit lengan kaosnya ke atas.
Namun sayang, ia tidak menjumpai Hasan ada di sana. Beberapa kali ia mengedarkan netranya, mencari sosok Hasan. Nihil Hasan tidak ada.
Ia tak lantas khawatir, pikirnya Hasan mungkin ada keperluan mendadak hingga temannya itu harus kembali ke depan, kembali ke ruangan Pak Kades. Tidak ada Hasan di sana, Marshal bisa bernapas lega sebab ia bisa leluasa mencari informasi baru untuk memecahkan misteri Desa Awu Awe.
Pertama, ia fokuskan dirinya mencari ruangan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan alat musik gamelan. Ia hanya memastikan bahwa bunyi bunyi gamelan itu memang berasal dari sini.
Marshal susuri satu persatu beberapa ruangan yang ada di sana, ia tempelkan wajahnya ke kaca jendela dengan ukuran satu kali dua meter itu. Hasilnya?. NIHIL. Marshal itu menemukan ada alat musik gamelan tersimpan di sana.
Fokus kedua, Marshal melihat pot bunga yang berisi tanaman dengan tatanan seperti denah rumah rongrawe. Ia segera berlari ke tempat yang kemarin pernah Marshal datangi. Hasilnya?. NIHIL JUGA.
"Rupanya Pak Kades sudah memindahkannya. Mungkin dugaku benar, Pak Kades ada kaitannya dengan rahasia yang tersimpan di rumah Awu Awe," gerutu Marshal dalam hati. Ia kepalkan tangannya, karena semua ini berjalan lamban baginya.
"Jangan resah. Aku akan membantu mu, asal...," ucap seseorang di belakang Marshal.
Marshal segera mengangkat kepalanya yang sempat ia tundukkan dengan balutan rasa kecewa, ia kaget mendengar suara Anisa yang tetiba muncul.
"Anisa?."
"Iya ini aku."
"Benarkah kamu mau membantuku?," tanya Marshal sambil menatap kedua mata Anisa guna mencari kebenaran dari ucapan gadis itu.
"Iya. Asalkan kamu juga mau membantuku," ucap Anisa.
"Baik. Tapi bolehkah aku bertanya?." Marshal sebenarnya tidak mengetahui banyak hal tentang kehidupan Anisa, namun itu tidak masalah baginya. Ia hanya perlu tahu tentang satu hal, dia dari bangsa siapa?.
"Boleh," jawab Anisa sambil melempar senyum kepada Marshal.
"Kamu sebenarnya nyata atau tidak?, Eh maksud aku kamu manusia seperti aku, ataukah kamu bangsa lelembut yang tidak bisa dilihat oleh orang lain?," tanya Marshal memberanikan diri.
"Menurut kamu?." Anisa tidak memberi jawaban pasti, ia justru balik bertanya kepada Hasan.
"Ya mana aku tahu?, Tahunya aku, kamu sering tiba-tiba muncul dan menghilang," jelas Marshal dengan ungkapan yang sangat jujur.
"Jawab sesuai kata hatimu saja," jawab Anisa sambil menggandeng Marshal ke sebuah ruangan. Ruangan tempat menyimpan barang yang dicari oleh Marshal.
Anisa memang membuka satu pintu, tapi seperti membuka dua pintu sekaligus. Dua pintu dari ruangan yang berbeda. Marshal kembali terkejut, melihat apa yang ada di sana.
Marshal tadi sudah melihat ke ruangan itu, hanya ada beberapa kursi dan meja yang diatur seperti ruangan rapat. Dan Anisa sudah membuka ruangan lain dari ruangan itu. Ruangan itu seolah menjadi obat untuk rasa penasarannya.
"Bergegaslah mencari tahu apa yang menjadi tujuanmu yang sebenarnya ke taman belakang, sebelum Pak Kades melihatnya," ucap Anisa.
"Pak Kades?," tanya Marshal sambil mempertemukan kedua alisnya.
"Segera Marshal." Anisa memperingatkan lagi.
Gegas Marshal mendekati pot bunga yang sedari tadi ia cari. Ia membolak balikkan pot itu agar bisa melihat dengan jelas apakah dua batang pohon bambu berukuran kecil itu juga memiliki tulisan aksara jawa.
Marshal tidak menemukan itu. Rasa kecewa menghiasi wajahnya. Ia pun berdiri lalu berjalan gontai mendekati Anisa. Namun gadis itu malah mendekati pot tersebut, ia berjongkok lalu tampak oleh Marshal sedang mengucapkan sesuatu. Senyum sumringah ia tunjukkan dari ekspresi wajahnya setelah ia melihat dengan jarak sangat dekat ke arah pot tersebut.
"Sini." Anisa melambaikan tangannya, meminta Marshal untuk mendekat.
Tulisan itu terlihat sangat jelas dengan nyala berwarna kuning keemasan. Tanpa menunda Marshal segera mengambil gambarnya.
"Terima kasih Anisa," ucap Marshal pelan.
Anisa lalu pergi begitu saja, setelah sebuah kabut tebal datang dan pergi bersama sosok Anisa. Marshal tidak merasa takut, meski sering melihat Anisa yang suka tetiba datang pergi.
Anisa begitu baik padanya, detik itu juga ia berniat tidak lagi mempermasalahkan identitas Anisa yang sebenarnya. Dia manusia atau bukan, yang terpenting saat ini dirinya bisa berteman baik dengan Anisa.
"Hasan?."
Marshal teringat Hasan, ia bergegas kembali ke ruangan Pak Kades. Ia mengkhawatirkan keadaan Hasan, Marshal trauma pasca hilangnya Hasan malam itu.