“Sini,” panggil Anisa penuh kepastian.
Marshal tidak perlu berpikir panjang, gegas ia mendekati Anisa yang sedang duduk berjongkok di dekat pot bunga dengan ukuran yang lumayan besar.
Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya. Marshal tidak menyangka bahwa akan semudah itu untuk tahu keberadaan pot yang sejak kemarin terus menjadi objek di dalam pikirannya.
Pasalnya, angka keberhasilan untuk melihat secara detail isi dari pot itu hanya dua puluh lima persen. Selebihnya, hanya sebuah kegagalan yang terus menghantui perasaannya.
Hingga sampai ia berada dalam satu ruang dengan Pak Kades, Marshal masih meraba kalimat apa yang akan ia jadikan alasan untuk mencari tahu tentang pot tersebut.
Mengatakan ia ingin ke kamar mandi adalah alasan klise dengan tingkat keberhasilan sekitar lima puluh persen. Logikanya, jika kamar mandi terseut terletak di dekat taman belakang maka ia bisa sekali menyelam sambil minum air.
Namun jika kamar mandi terletak jauh dari taman, maka akan menjadi tanda tanya kenapa ia berada di taman tersebut. Alasan kesasar, bisa saja kalimat itu keluar dari mulutnya dan ia akan aman tanpa ketahuan Pak Kades.
Bila kepergok Pak Kades, pasti Marshal sudah mati berdiri berada di kursi pesakitan. Dengan tubuh penuh keringat dingin menjawab introgasi yang dilayangkan Pak Kades. Pasalnya, kemarin Pak Kades sudah menaruh curiga pada Marshal.
Kali ini dewi fortuna sedang berpihak kepadanya. Kamar mandi berada dalam satu lokasi dengan taman yang berada di belakang gedung. Selagi ada kesempatan ke kamar mandi, pergilah Marshal ke kamar mandi lebih dulu, setelahnya dari kamar mandi ia baru mencari pot yang sudah membuatnya penasaraan.
Namun sayang, Marshal kehilangan pot tersebut. Rupanya seseorang telah memindahkan dari sana, mungkin Pak Kades. Hanya nama itu yang ada di dalam benaknya. Tubuhnya lemas, ia merasa sia-sia memanipulasi alasan demi bisa mengamati isi dari pot tersebut.
Marshal tidak berpikir bahwa itu adalah perbuatan Pak Kades, namun tidak menutup kemungkinan Pak Kades melakukan itu setelah memergoki Marshal sedang menimang tanaman di dalam pot itu.
Beruntung, Anisa datang tepat waktu. Gadis itu membantunya menemukan pot yang sudah ia cari sejak tadi. Pot itu tersembunyi di dalam ruangan tak kasat mata, entah siapa yang mampu melakukan itu.
“Anisa, terima kasih atas semua bantuanmu,” ucap Marshal.
“Iya sama-sama. Aku pergi dulu.” Ucapan terima kasihnya disambut baik oleh Anisa.
Marshal pun mengantar Anisa pergi bersama kabut tebal yang mengikutinya. Tidak ada orang yang tahu bahwa Anisa pergi dengan cara yang tidak biasa.
Marshal bisa sedikit lega, satu persatu kata kunci yang bisa membantunya mengungkapkan misteri di Desa Awu Awe berhasil ia pegang. Ia harus berkabar bahagia ini kepada sahabatnya Hasan.
“Hasan?.”
Ia baru teringat, jika tadi ia pergi ke belakang gedung Balai Desa bersama dengan Hasan. Sejak keluar dari kamar mandi Hasan sudah tidak ada di sana.
Bersama derap langkahnya, Ia mengira Hasan tidak jadi ke kamar mandi dan memutuskan untuk kembali ke ruang pertemuan bersama Pak Kades untuk membahas acara Mangkurawe.
Pintu ruangan itu sudah terbuka, Marshal langsung kembali duduk ke tempat semula. Ia tidak mencari keberadaan Hasan di sana. Hari sedang cerah, ruangan itu juga tidak terlihat suram, bagi Marshal tidak mungkin ada aura-aura jahat dari makhluk astral yang akan menganggunya.
“Marshal, apakah kamu bersetuju untuk mendampingi para pemain gamelan di acara lusa?,” tanya Pak Kades. Ia sengaja menunjuk Marshal sebagai pemandu bagi pemain gamelan yang baru kali ini ada pagelaran gamelan.
“Saya Pak?,” tanya Marshal kaget. Atas dasar apa Pak Kades memilihnya sebagai pendamping pemain gamelan?. Apa Pak Kades bisa membaca sikap aneh yang ada pada dirinya?. Apa Pak kades juga tahu bahwa selama ini suara gamelan sering mengganggu ketenangannya?.
“Iya kamu. Keberatan?,” tanya Pak Kades.
Sejenak Marshal terdiam
Jika menolak, kredibilitas-nya sebagai mahasiswa akan dipertanyakan. Ia akan dianggap sebagai mahasiswi yang tidak kompeten. Ia akan dianggap sebagai mahasiswa yang penakut. Ia akan dianggap sebagai mahasiswa yang tidak layak untuk diwisuda.
“Saya sanggup Pak,” jawab Marsahl dengan tegas dan lantang.
“Baiklah kalau begitu, saya rasa semuanya sudah jelas. Silahkan ditutup acaranya Pak Ketua,” ucap Pak Kades yang merujuk pada Nakula.
“Iya Pak. Saya boleh membuka sesi pertanyaan Pak?,” tanya Nakula. Ia ingin membuka kesempatan bertanya pada teman-temannya yang mungkin belum memahami alur acara dan maksud tujuan dari acara Mangkurawe.
“Iya boleh,” jawab Pak Kades dengan ramah.
“Saya Pak.” Marshal mengangkat tangan kanannya.
“Iya Marshal.”
“Apakah saya boleh bekerja dengan Hasan Pak?,” tanya Marshal. Ia tidak ingin bekerja sendirian. Ia ingin bekerja bersama Hasan, sekaligus orang yang tahu tentang misteri yang belum terpecahkan. Jika terjadi sesuatu, setidaknya ada Hasan yang bisa membantunya berpikir. Nalurinya berkata bahwa akan terjadi sesuatu di malam itu.
“Boleh. Hasan, kamu dan Marshal mendapatkan tugas yang sama ya,” ucap Pak Kades sambil mencari tahu di mana letak duduk orang yang bernama Hasan itu. Sebab yang dihapal Pak Kades hanya nama Nakula selaku ketua tim, nama Aurelia selaku wakil ketua dan nama Marshal lelaki yang sudah membuatnya sempat marah karena merasa hidupnya sudah diusik ketenangannya.
Bagi Pak Kades, seseorang yang sudah melihat kejanggalan dalam pot itu sama dengan mencari masalah dengannya. Pot itu seperti hidupnya, jangan sampai ada orang yang tahu. Maka dari itu ia menyelipkan pot itu diantara pot yang lain, yang memiliki tanaman dan bunga yang tumbuh subur dan lebat.
Namun, ternyata Marshal lebih cerdik dan memiliki mata yang sangat jeli sehingga ia mampu melihat keanehan pada tumbuhan yang tumbuh di dalam pot itu. Pak Kades melihat sebuah ketertarikan dan rasa penasaran di dalam tatap Marshal.
Sebelum Marshal bertanya, Pak Kades segera memindahkan itu ke ruang yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Ya, Pak Kades memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.
Kekuatan itu ia peroleh tanpa sengaja saat ia ingin melindungi putrinya yang dibawa lari oleh makhluk penguasa yang tak kasat mata. Dan hingga kini, Pak Kades tidak tahu nasib keberadaan putri semata wayangnya itu.
“Hasan. Bagaimana jawabanmu?.” Pak Kades masih mencari sosok Hasan diantara ketujuh mahasiswa itu.
Nama yang dipanggil tidak menyahut. Marshal turut menengok bersama yang lain ke arah tempat duduk Hasan semula. Lelaki itu memang sedang duduk di sana, namun tatapan matanya kosong. Warna bibirnya sedikit biru.
Seketika Marshal langsung berdiri dan mendatangi Hasan yang dalam keadaan kaku. “Hasan. Kamu mendengar suaraku?,” panggil Hasan pelan.
Marshal merasakan tubuh Hasan sangat dingin. Ia seperti mayat hidup, hidup segan mati pun enggan. Tidak ada yang tahu, apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan Hasan. Pak Kades menyuruh perangkat desa yang lain untuk mengambilkan minyak kayu putih di Polindes yang masih dalam satu area dengan kantor Balai Desa.
Begitu kayu putih sudah di tangan, Pak Kades dengan tangan gemetaran melabur seluruh telapak kaki dan telapak tangan Hasan dengan kayu putih.
Tubuh Hasan merespon baik. Ada sedikit hangat yang dirasakan oleh Marshal dan temannya yang lain. Namun sosok itu masih diam dengan tatapan mata kosong. Pak Kades lalu menyuruh Marshal untuk memanggil nenek tua.
“Rumahnya di mana Pak?,” tanya Marshal agar tidak salah memanggil perempuan yang dimaksud Pak Kades. Bisa jadi ia akan membawa semua perempuan yang sudah berusia lanjut.
“Sekitar lima ratus meter dari sini, rumahnya terbuat dari sesek,” jelas Pak Kades.
“Namanya Pak?,” tanya Marshal lagi.
“Aduh kamu ini ya, malah banyak tanya. Mbok Ras,” jawab Pak Kades.
Marshal segera berlari dan mencari rumah nenek yang dimaksud Pak Kades. Sekitar lima ratus meter dari Balai Desa, Marshal menghentikan langkahnya. Hanya ada satu rumah yang berdiri di antara rerimbunan pohon pisang.
Rumah yang sama, ketika Marshal mengantarkan seorang nenek pulang setelah salat maghrib. Tapi yang teringat di benak Marshal, rumah itu tidak berdiri di antara rerimbunan pohon pisang.
Namun entahlah, mungkin Marshal yang salah melihat karena memang malam itu pencahayaan sangat minim. Ia hanya fokus memastikan bahwa Si Nenek pulang dengan selamat sampai masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum,” sapa Marshal.
Sepi, tanpa ada suara yang menyahut dari dalam. Dan ia kembali mengucapkan salam sebagai adab saat baru bertamu ke rumah orang.
“Assalamu’alaikum,” panggil Marshal lagi.
Kali ini terdengar suara tongkat bersama seok langkah seseorang. Benar saja, itu adalah Si Nenek yang sudah ia antar pulang setelah salat maghrib.
“Ada apa Cu?.” Demikian Si Nenek memanggil Marshal dengan sebutan cucu.
“Anu Nek. Pak Kades memanggil Nenek ke Balai Desa,” terang Marshal menyebutkan maksud kedatangannya ke rumah Si Nenek.
“Ya sek, aku tak ambil selayer dulu,” jawab nenek itu tanpa penolakan dan tanpa pertanyaan.
Marshal menuntun Si Nenek yang bernama Mbok Ra itu dengan sangat pelan dan hati-hati. Ia menyeiramakan langkahnya dengan Mbok Ra. Nenek itu tidak banyak bicara, Marshal pun ikut terdiam tanpa brersuara hingga keduanya sampai di Balai Desa.
“Ada apa Nak kamu memanggilku?,” tanya Mbok Ra pada Pak Kades.
“Itu Mbok,” jawab Pak Kades sambil menunjuk ke arah Hasan yang sedang duduk kaku di kursinya. Mbok Ra langsung fokus melihat keadaan Hasan sambil terus mendekatinya.
“Owalah. Dia berulah lagi.”
Begitu tahu alasan Hasan menjadi kaku dan membiru, Mbok Ra lalu menutup Mata Hasan dangan telapak tangannya. Mulut Mbok Ra komat-kamit membaca doa yang hanya dimengerti olehnya.
Tidak butuh waktu lama, Hasan kembali tersadar dengan napas tersengal-sengal. Warna tubuh yang semula membiru kini berangsur kembali ke warna tubuh Hasan yang sebenarnya.
“Sudah baikan?,” tanya Mbok Ra yang masih melihat Hasan dalam keadaan bingung. “Berikan dia minum,” ucap Mbok Ra lagi. Ia lalu melangkahkan kakinya mendekati Pak Kades.
Dari jauh, Marshal memperhatikan bahasa tubuh Pak Kades yang terlihat ketakutan. Marshal menautkan garis alisnya, menerka apa yang sebenarnya terjadi dan ada rahasia apa antara Pak Kades dan Mbok Ra. Dari sini, keputusannya meminta bantuan pada Mbok Ra untuk sedikit berbagi kisah tentang kejanggalan-kejanggalan yang ia alami adalah sudah tepat.