Menjemput Mbok ra adalah kesempatan bagi Marshal untuk bisa sedikit mengorek tentang misteri yang ada di Desa Awu Awe. Malam itu, Mbok Ra memang tidak mengatakan kalimat yang aneh namun Marshal merasa Mbok Ra mengetahui sesuatu.
“Namamu siapa Le?,” tanya Mbok Ra.
“Marshal Mbok,” jawab Marshal singkat tanpa embel-embel.
“Kamu anaknya siapa?,” telisik Mbok Ra.
Ia tidak mengenal nama Marshal, karena memang usianya sudah lanjut. Ingatan untuk mengenal nama-nama baru sangat lemah. Mungkin jika dengan bertanya nama orang tua atau nama kakek nenek, Mbok Ra akan tahu.
“Saya bukan orang sini Mbok?,” jawab Marshal. Ia tahu arah pembicaraan Mbok Ra.
“Bukan orang sini?,” tanya Mbok Ra dengan nada sedikit kaget.
“Iya Mbok. Saya tamu di sini Mbok,” jawab Marshal memperjelas jawabannya.
Sudah tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Marshal pun mengikuti irama Mbok Ra yang diam tidak mengucapkan kalimat apa pun hingga mereka berdua sampai di Balai Desa.
Marshal menuntun Mbok Ra hingga masuk ke dalam ruangan Pak Kades, ruangan kecil yang pengap akibat terlalu banyak dihuni oleh manusia. Sebelum masuk, Mbok Ra sempat berhenti di depan pintu, lalu menghempaskan napasnya dengan keras.
“Kenapa Mbok?,” tanya Marshal khawatir. Takut Mbok Ra kelelahan atau apa yang bisa membuat kesehatannya sedikit terganggu.
Mbok Ra tidak menjawab hingga akhirnya masuk dan mengetahui keadaan Hasan yang sedang terduduk kaku di kursinya. Ia kembali menghela napas panjang, sebelum akhirnya mendekati Hasan dan menyadarkannya.
Perempuan tua itu nampak sudah terbiasa dengan keadaan seperti, sehingga ia bisa begitu tenang saat mengetahui tubuh Hasan yang membiru. Demikian juga dengan Pak Kades, walau gemetaran, ia cukup tahu kepada siapa ia harus meminta bantuan.
Sikap Mbok Ra dan Pak Kades yang mencurigakan, membuat Marshal mencurigai sesuatu. Ada hubungan apa antara lelaki nomor satu di desa Awu Awe itu dengan perempuan tua yang punya kelebihan itu.
Tidak lama setelah Mbok ra membantu menyadarkan Hasan, nenek itu langsung pergi. Pak Kades mengantarnya lalu menuntunnya dengan penuh rasa hormat. Sedang Marshal masih terus menatap mereka hingga keduanya menghilang bersama bayangan mereka.
Marshal semakin penasaran,karena itu ia akan tetap berencana menemui Mbok Ra ketika ada waktu luang, guna bertanya tentang banyak hal sejak ia datang ke Desa Awu Awe.
Ia abaikan soal kedekatan Pak Kades dengan Mbok Ra, yang terpenting ia bisa segera memperoleh informasi meski sedikit. Walau sebenarnya ia tahu jika pada kahirnya Mbok Ra akan memberitahu Pak Kades tentang dirinya.
Apa peduli dia dengan Pak Kades. Toh Marshal sudah merasa mendapat petunjuk bahwa dirinya sudah terpilih sebagai orang yang akan memecahkan misteri di Desa Awu Awe. Meninggalkan pikiran tentang Pak Kades dan Mbok Ra, Marshal kembali fokus pada keadaan Hasan.
“Kamu sudah baikan?,” tanya Marshal. Ia melihat Hasan tak berdaya duduk di kursi plastik berwarna hijau tosca.
“Kamu bisa berjalan?.” Suara Nakula menimpali.
“Iya aku bisa berjalan,” jawab Hasan tanpa tenaga.
Mereka semua kembali pulang, dengan menyeiramakan langkah Hasan yang sangat pelan, hingga membuat beberapa teman mereka tidak nyaman. Marshal peka soal itu.
“Kalian pergi saja dulu, biar aku yang menuntun Hasan,” ucap Marshal.
Dan benar saja, mereka langsung mempercepat langkahnya. Marshal dan Hasan kini tertinggal cukup jauh. Setelah merasa aman, Hasan membuka pembicaraan.
“Sudah dapat?,” tanya Hasan penasaran.
“Jangan membahas itu dulu. Biarkan pikiran kita segar dan keadaanmu kembali pulih. Barulah kita membahas lagi rencana-rencana kita,” nasehat Marshal.
Sebenarnya Marshal juga sangat ingin bertanya kepada Hasan, apa yang sudah terjadi dengan temannya itu , hingga ia tidak sadarkan diri dengan seluruh tubuh membiru dan kaku. Namun ia urungkan, mengingat kondisi Hasan yang masih sangat lemah. Yang terpenting ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan saat datang ke Balai Desa.
Sementara jauh di depan mereka, Husna dan Amora sibuk membicarakan kondisi beberapa temanya. Sedang Aurelia masih sibuk dengan pikirannya sendiri, menerka dan meraba apakah ini sekedar gangguan biasa dari mereka yang tak kasat mata ataukah ada maksud lain.
“Kemarin Marshal. Sekarang Hasan. Mereka kok bisa klop gitu sih?, ah bikin makin takut saja lama-lama berada di desa ini. Bener gak Husna?,” keluh Amora. Ia yang penakut sudah merasa tidak nyaman tinggal berlama-lama di desa itu. Namun apa dayanya, ia harus lulus di mata kuliah KKN agar wisudanya tidak tertunda
“Iya bener. Aku juga takut. Keadaan Hasan tadi tidak begitu menegangkan, yang lebih mencekam saat melihat Marshal sudah seperti tarik ulur nyawa dengan malaikat pencabut nyawa,” ucap Husna menimpali kalimat yang keluar dari mulut Amora.
“Kamu juga merasa hidup kita di sini tidak aman kan Rel?,” tanya Husna.
Hening tanpa jawaban.
Husna dan Amora segera mengalihkan pandangan ke Aurelia yang berjalan di antara mereka. Aurelia melamun, mereka tidak tahu apa yang sedang sangat menggangu pikiran temannya yang lebih banyak diam dibanding mereka berdua.
Husna dan Amora juga belum tahu tentang teror yang beberapa kali dialami Aurelia dari dunia tak kasat mata. Bahkan ketika Aurelia sedang kerasukan pun, tidak ada orang yang tahu kecuali Marshal. Dan sampai saat ini rahasia itu hanya Marshal yang tahu, masih aman bersamanya.
“Aurelia,” panggil Amora pelan. Ia takut temannya itu juga mendapat gangguan yang sama seperti Hasan dan Marshal.
Aurelia masih membisu, tidak merespon panggilan Amora. Ia hanya terus berjalan mengikuti langkah kakinya. Beruntung mereka bertiga bergandengan tangan, sehingga kejadian yang tidak diinginkan bisa diminimalisir.
“Aurel.” Husna turut memanggilnya sembari sedikit menggoyang bahunya.
“Ah iya. Bagaimana?.” Aurelia terhentak. Lalu ia meminta maaf pada Husna dan Amora karena kurang fokus saat kedua temannya sedang mengajak bicara.
“Ituloh, tadi Husna bilang kalau keadaan di sini semakin mencekam. Kita sudah berasa kek sedang syuting film horror. Menegangkan. Begitu maksud ucapan Amora. Bener bgitu ya Mor,” ucap Husna dengan sedikit menambahkan kalimat dari ucapan Amora.
“Ah, kita fokus pada kegiatan KKN kita saja ya. Kita tidak usah berpikir tentang yang lain. Anggap saja apa yang sudah terjadi hanyalah adegan palsu bahwa Marshal dan Hasan sedang nge-prank kita. Bukankah itu sesuai dengan watak mereka yang suka slengekan?,” nasehat Aurelia. Ia mencoba menenangkan pikiran dan perasaan kedua temannya yang sudah merasa tidak nyaman tinggal di Desa Awu Awe.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka. Husna dan Amora masih mengobrol tentang banyak hal, maklum keduanya berasal dari fakultas yang berbeda, dari lingkungan pertemanan yang berbeda, serta dari keluarga yang berbeda sehingga banyak hal menarik ketika mereka saling bertukar cerita.
Sementara Aurelia?, ia masih tetap diam dan sesekali ikut tersenyum jika Husna dan Amora sedang terbahak menceritakan hal yang lucu.
“jika memang ini bukan sekedar gangguan biasa, apakah aku harus mencari tahu tentang misteri ini?, ataukah aku harus acuh layaknya tidak mendengar dan melihat apa pun?,” gumam Aurelia di dalam hati. Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak melamun dari pada harus larut dalam tema pembicaraan Husna dan amora.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka akhirnya sampai di rumah rongrawe. Mereka duduk-duduk di teras rumah, sembari mengatur ulang jadwal kegiatan mereka dan mematangkan acara rongrawe yang digelar lusa.
Marshal duduk di samping Hasan yang masih tertidur pulas. Siang itu ia sangat ingin menikmati semangkuk bakso yang sangat pedas, lengkap dengan lontong yang menjadi teman isian bakso dalam mangkok.
Ia lalu keluar, mengatakan keinginannya pada Imam yang kemudian di dengar oleh Amora si pecinta bakso.
“Ah, aku juga mau makan bakso. Rasanya sudah seabad tidak menikmati jajanan itu. hiks, aku rindu segala makanan yang ada di dekat kampus kita. Aku juga rindu nongkrong dengan teman-temanku. Kapan kita pulang,” keluh Amora.
“Ah lebay Lo. Ayo Marshal aku boncengin kamu cari bakso di ujung gang. Mari siang ini kita larutkan segala keadaan yang mencekam ini dengan semangkok bakso yang pedas,” ajak Imam.
Hidup di desa terpelosok membuat mereka harus memaksa diri bisa beradaptasi dengan lingkungan baru tempat mereka KKN, demi nilai A dalam selembar kertas laporan penilaian mereka harus rela meninggalkan kebiasaan mereka hidup di kota.
“Marshal ayo cepat,” teriak Imam yang sudah siap di atas motornya.
Tak lama setelah Imam berteriak memanggil namanya, Marshal datang dengan setengah berlari lalu dengan segera naik diboncengan belakang. Gegas Imam menarik gas sepedanya lalu berangkat.
Sebenarnya Desa Awu Awe bukan desa yang sangat sepi, namun karena jalan mereka bukan jalan jurusan ke desa bawah jadi tidak nampak lalu lalang sepeda yang melintas di depan rumah yang mereka tempati.
Di depan rumah mereka, lebih sering terlihat orang berjalan ketimbang bersepeda. Mereka yang berjalan adalah yang sengaja ke desa atas melalui jalan pintas, dan jalan setapak hanya dilalui oleh mereka yang menaiki sepeda ontel.
Ketika melintas di depan rumah Mbok Ra, Marshal melihat Pak Kades masih di sana. Ia melihat dua orang itu sedang duduk di amben, terlihat oleh Marshal keduanya seperti sedang terlibat obrolan yang sangat serius.
Laju motor terus berlanjut, sehingga Marshal tidak bisa menangkap dengan jelas ekspresi wajah seperti apa yang sedang ditunjukkan Pak Kades di depan Mbok Ra. Marshal semakin yakin bahwa dua orang itu sedang menyimpan rahasia yang berkaitan dengan rumah rongrawe.