Semilir angin menyapu wajah keduanya yang bersembunyi di balik topi berwarna hitam milik Marshal, dan topi berwarna coklat milik Imam. Kali ini Imam sedikit mempercepat laju motornya agar segera sampai dan ia bisa menjaga bakso itu agar tetap hangat ketika dinikmati oleh teman-temannya.
“Kamu kenapa cepat sekali?,” tanya Marshal.
“Kamu ngomong apa. Aku gak dengar,” jawab Imam. Suaranya terbungkus oleh angin. Dan terpaksa Marshal harus berbicara tepat di telinga Imam dengan suara yang sangat keras.
“Kamu. Kenapa. Melaju. Dengan. Sangat. Cepat,” teriak Marshal dengan mengucapkan kata perkata agar terdengar jelas di telinga Imam.
“Biar baksonya tetap hangat,” jawab Imam dengan suara yang tidak kalah lantang.
Marshal mendengar apa yang diucapkan Imam. Ia hanya mengangguk memahami apa maksud ucapan Imam, sekalipun Imam tidak melihat gerakan kepalanya. Berkali-kali Marshal menghempaskan napasnya dengan keras, menitipkan pada angin kejadian beberapa hari ke belakang yang sudah membuat dadanya penuh sesak.
Ia sangat berharap setelah acara Mangkurawe semua misteri ini terkuak, tidak peduli dengan dirinya yang berakhir ataukah misteri itu yang berakhir. Marshal sebenarnya sudah lelah. Ia seperti pengecut yang menyerah sebelum bertanding. Pasti ada secercah cahaya di tengah kegelapan, ia akan mencari itu guna menjadi pemantik untuknya tetap berdiri tegak.
“IBU,” gumamnya dalam hati.
Bayangan seorang Ibu kembali memenuhi pikirannya, rasa rindu kembali menyeruak di dalam hatinya. kali ini Marshal tidak mau, kerinduan itu membuatnya lemah. Ia harus bisa menjadikan perasaan rindu itu sebuah doa, senjata, dan kekuatan yang lebih ampuh dari apapun dan tak mampu dikalahkan oleh siapapun.
Di atas motor butut milik Nakula yang kini sedang ia tumpangi bersama Imam, ia tersadar bahwa ia terlahir sebagai super hero untuk ibunya, ia terlahir untuk menjadi kuat bagi Ibu yang sangat ia kasihi.
Ia tinggalkan sebentar perasaannya yang kalut ketika motor yang ia tumpangi melewati rumah Mbok Ra. Marshal melihat Pak Kades masih di sana. Ada yang mengganggu pikirannya saat melihat Pak Kades duduk sambil menunduk, tampaknya sedang berurai air mata. Tapi ia tidak bisa melihat itu dengan jelas, sebab Imam terlalu cepat melajukan motornya.
“Marshal, kenapa kita belum sampai jug?, padahal aku melajukan motornya lumayan kenceng?,” tanya Imam keheranan.
Perasaan Marshal mulai was-was, kejadian seperti ini sudah pernah ia alami bersama Hasan saat pertama kali perjalanan menuju desa Awu Awe. Ia tidak mau itu terjadi. Ia tatap warna langit yang masih cerah, tidak sedikitpun langit mempermainkannya dengan atap yang gelap.
“Palingan sebentar lagi juga sampai,” ucap Marshal membesarkan hati Imam.
Sekali lagi, Marshal tidak ingin ada korban lagi. Sudah cukup menjadi beban dengan keadaan Hasan dan Aurelia, ia tidak mau lagi ada temannya yang menjadi korban. Marshal sangat takut, bagaimana jika ia tidak bisa melindungi semua temannya. Itu saja yang ia takutkan, bukan soal nyawanya yang terancam.
Marshal tidak perlu bercerita tentang pengalaman yang sama, yang sudah ia alami bersama Hasan. Saat ini, ia hanya butuh berdoa penuh harap agar diberi keselamatan sampai rumah rongrawe.
Perjalanan masih terasa lamban, namun Marshal masih berpikir positif bahwa tidak akan terjadi apa-apa untuk saat ini. Ia fokus membantu Imam dengan doa-doa yang ia hapal.
Benar saja, rumah rongrawe sudah terlihat didepan. Marshal pun bisa bernapas lega meski tidak tahu kenapa perjalanan pulang terasa begitu lama.
“Imam, baksonya?,” tanya Marshal
“Baksonya masih nyantol Marshal,” jawab Imam santai.
“Maksud aku baksonya apa masih panas?,” jelas Marshal.
“Entahlah, nanggung sebentar lagi sampai.” Imam merasa bahagia. Ia sudah sampai di depan rumah, sudah tidak sabar melahap habis semangkok bakso lengkap dengan irisan lontong.
Dari jauh, Marshal melihat sosok Anisa sedang berdiri di depan pagar rumah. Tentu saja Marshal akan menghampirinya, ia tidak mau acuh pada Anisa yang sudah membantunya. Ia juga sudah berjanji bahwa dirinya tidak akan mempermasalahkan status Anisa sebagai warga dunia nyata atau warga dunia tak kasat mata. Ia juga tidak perlu menyuruh Anisa memperlihatkan KTPnya. Baginya semua itu akan merusak pertemanan yang baru saja terjalin.
“Imam. Turunkan aku di sini,” pinta Marshal.
“Kek naik angkot saja Shal,” protes Imam.
Imam menuruti permintaan Marshal. Ia lalu menghentikan motornya tepat di gerbang rumah. Ia merasa ada yang aneh dengan temannya. Ia amati terus langkah Marshal yang perlahan mendekati plakat bertuliskan rongrawe yang sudah rapuh termakan zaman.
Marshal mendekati plakat tersebut dengan langkah yang sangat pelan, dan tetap mampu menarik garis senyum di wajahnya.
“Marshal tersenyum pada siapa ya?,” gumam Imam dari dalam hati.
Marshal tidak mendengar itu, ia juga tidak perlu menjawabnya. Ia fokus mendekati Anisa. Marshal akan bertanya tentang sesuatu pada gadis itu.
"Bakso datang," ucap Imam sambil meletakkan dua kresek putih yang penuh dengan bakso di atas amben.
Sampai pada hampir semua temannya itu menikmati semangkok bakso yang lengkap dengan irisan lontong, Marshal masih di depan plakat.
Imam sangat penasaran dibuatnya, sebab baginya Marshal sedang tidak bersama siapa pun. Lelaki itu hanya sendirian. Ia lalu memutuskan untuk mendekati Marshal dan akan menyeretnya ke dalam jika temannya itu menolak masuk.
Dari tempatnya berdiri, Marshal melihat Imam mendekat ke arahnya dengan tatapan mata penuh kemarahan. Entah apa yang sudah membuat temannya itu marah, mungkinkah karena semangkuk bakso, atau karena perkara yang lain yang tidak diketahui oleh Marshal.
"Anisa, aku masuk dulu ya," ucap Marshal seraya berlalu pergi meninggalkan Anisa di sana.
Gadis itu hanya tersenyum, tersenyum dan tersenyum lagi. Ia jarang sekali membalas apa yang diucapkan oleh Marshal.
"Kamu mau ke mana Imam?," tanya Marshal penasaran.
"Aku hanya penasaran saja, kamu dari tadi tertawa sama siapa, mengobrol dengan siapa," jawab Imam dengan nada kesal.
Marshal melihat Imam sedang mengedarkan pandangannya ke arah yang berlawanan secara bergantian, tidak ada orang di sana. di mata temannya itu yang terlihat tak lain hanyalah beberapa pohon besar yang terjangkau oleh penglihatannya.
Marshal masih mengamati Imam yang mendekat ke arah plakat bertuliskan Rongrawe, ia tatap lekat lekat tulisan itu. Mungkin temannya itu mengira tidak ada yang istimewa baginya, plakat itu tidak ubahnya sebuah identitas untuk alamat rumah seseorang, tidak ada yang istimewa bagi Imam.
Marshal masih terdiam ketika Imam kembali mendekat ke arahnya,, ia menyentuh jidat Marshal serta jidatnya sendiri secara bergantian untuk memastikan bahwa suhu tubuh Marshal normal, tidak tinggi hingga menyebabkan Marshal harus tersenyum sendiri di tepi jalan.
"Ayo, dimakan baksonya!." Imam menarik paksa tangan Marshal hingga lelaki berambut gondrong itu hampir terjatuh.
Marshal terpaksa mengikuti langkah Imam setelah lelaki itu menariknya dengan paksa.
Selagi belum jauh, Marshal melihat Anisa yang sedang membalas tatapannya. Ia pergi sebelum sempat mendengar jawaban dari Anisa arti dari tulisan aksara jawa yang tertulis di pohon bambu.