Marsyal masih terbayang dengan kalimat yang diucapkan oleh perempuan yang berdiri di sampingnya saat sedang mengantri bakso, ia juga tidak bisa melupakan tatapan tajam dari kedua mata perempuan itu, tatapan mata yang semula menenangkan mendaak pudar saat mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu mahasiswa yang tinggal di rumah Rongrawe.
Selama dia menginjakkan kakinya di desa itu, belum ada yang mengatakan bahwa rumah itu penuh kutukan. Tidak ada dan belum ada. Berkali-kali bertemu dengan Pak Kades, lelaki berperawakan tinggi itu juga tidak pernah menyinggung tentang rumah Rongrawe, juga tidak memandang Marshal dan teman-temannya dengan tatapan aneh seperti yang sudah dilakukan ibu tadi.
Demikian juga dengan nenek tua yang bernama Mbok Ra, ia tidak pernah mengatakan hal aneh tentang rumah itu pada Marshal. Kecuali ada seorang bapak yang ia temui di Masjid saat sedang salat berjamaah, Marshal ingat betul dengan apa yang dikatakan oleh bapak itu.
Bapak itu mengatakan bahwa Rumor tentang tumbal-menumbal di rumah itu sudah lama terdengar, namun sampai saat ini belum pernah terjadi sesuatu yang aneh dengan rumah itu. Belum terdengar ada korban yang tewas tersebab menjadi tumbal dari rumah itu.
Marshal juga masih ingat dengan kalimat yang keluar dari mulut bapak itu, bahwa jika selama ia dan teman-temannya tinggal di rumah Rongrawe tidak terjadi apa-apa artinya mereka aman.
“Tapi, aku dan sebagian teman yang tinggal di situ mendapat teror dan itu artinya kami memang pilihan. Pasti ada sebabnya, dan sebabnya pasti karena kami kuat. Persis seperrti yang dikatakan bapak itu. Apa mungkin itu yang dimaksud oleh ibu tadi?,” gumam Marshal di dalam hati.
“Marshal, baksonya gak dimakan?,” tanya Aurelia. Gadis itu menyadari bahwa Marshal sejak tadi melamun. Fokusnya menghilang entah ke mana.
Marshal tidak menyadari bahwa kini Aurelia telah memata-matainya seperti intel. Setiap gerak langkahnya telah diawasi oleh sepasang mata milik gadis berambut lurus sepinggang itu. Keadaannya kini berbalik, Aurelia justru lebih penasaran dengan Marshal yang sekarang ketimbang Marshal yang menjadi bintang Playboy kampus.
“Ah iya, baksonya sudah hampir dingin seperti hatimu Rel yang tak kunjung bisa ku gapai,” goda Marshal sambil menghadiahi Aurelia sepasang tatapan mata elang.
“Ihiiiir. Terus terang nih ye,” goda Imam.
“Ihiiiir. To the poin nih ceritanya?,” ucap Hasan menimpali. Ia terlihat sudah baik-baik saja, seolah tidak terjadi apa-apa dengannya saat di balai desa tadi.
“Aurel, sok jual mahal kamu. Kalau kamu gak mau, Marshal buat aku aja,” celetuk Amora.
Mendengar Amora berkomentar, seketika Marshal melihat ke arah Imam yang sudah melipat wajahnya. Marshal terkikik melihat ekspresi wajah itu. ia pun mengangkat mangkok baksonya lalu duduk di dekat Imam.
“Aku gak dapat Aurelia, gak papa. Gak patah hati kok. Masih ada Imam yang menerima cintaku,” goda Marshal sambil mencolek pipi Imam dengan genit.
Siang itu, Marshal berhasil membuat semua temannya tertawa. Marshal seolah telah memberi nyawa baru pada hubungan pertemanan mereka. Ia merasa lega, bahwa masih ada senyuman yang menghiasi wajah mereka yang mulai terlihat lelah.
Siang itu, kebersamaan di antara mereka terasa begitu hangat. Semangkok bakso mungkin telah memperat pertemanan mereka. Semangkok bakso mungkin sudah menyatukan mereka yang berbeda jurusan. Dan mungkin karena semangkok bakso ada cinta yang akan bersemi.
Baru juga Marshal memakan satu pentol, ia teringat dengan Pak Kades yang duduk tertunduk di hadapan Mbok Ra. Pelan ia meletakkan sendok yang sudah siap masuk ke dalam mulutnya. Rupanya aroma bakso tidak mampu menggoyahkan pikiran Marshal untuk melupakan sosok Pak Kades dan Mbok Ra.
Marshal sudah melupakan soal perempuan yang terlihat tidak suka padanya, sebab ia sudah mengetahui alasannya. Kini berganti wajah Pak Kades dan Mbok Ra yang memenuhi pikirannya. Ia lantas berdiri dan berlari menjauhi rumah itu, lalu sejenak berdiri berbalik menghadap ke rumah itu sebelum kemudian berlari ke rumah Mbok Ra.
“Marshal. Kamu mau ke mana?,” teriak Aurelia yang dihiraukan oleh Marshal.
Aurelia turut berdiri dan hendak menyusul Marshal. Namun Hasan mencegahnya, ia sangat memahami Marshal. Temannya itu pasti sedang mencari sesuatu atau menemukan kunci baru untuk membuka misteri yang selama ini menjadi beban di pundaknya.
“Habiskan saja bakso mu, mungkin Marshal hanya perlu berlari sebentar. Nanti juga akan kembali sendiri,” ucap Hasan yang menunjukkan sikap santai, meski hatinya khawatir.
“Kalau terjadi apa-apa dengannya bagaimana?, bukankah akhir-akhir ini kita sering mengalami kejadian aneh?,” ucap Aurelia.
“Kamu jangan menjadi profokator Rel,” ucap Hasan memperingatkan Aurelia.
“Aku tidak memprofokatori. Aku hanya khawatir. Apa itu salah?.” Aurelia berusaha membela dirinya. Padahal yang ada, ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Marshal yang tetiba saja pergi. Padahal sebelumnya Marshal telah membuat semua temannya tertawa.
Hasan tahu, Marshal pergi bukan tanpa alasan. Namun untuk saat ini, ia akan diam. Ia akan terus memberi dukungan pada Marshal, dan melindungi semampunya agar usaha Marshal untuk mencari kunci dari semua misteri itu tidak diketahui oleh semua temannya. Sebab ia tahu, bahwa Marshal tidak ingin semua temannya menjadi korban.
“Aurelia. Kembalilah duduk. Habiskan baksomu. Gak usah mikirin Marshal, ia sudah besar. Nanti pasti kembali,” ucap Nakula menengahi Hasan dan Aurelia.
Semua menjadi diam.
Suasana menjadi tegang.
Suasana menjadi sangat menakutkan.
Hasan benar, kalimat yang keluar dari mulut Aurelia mampu mempengaruhi alam bawah sadar Amora, Husna dan Imam. Mereka yang semula tidak mau ambil pusing dengan keadaan Hasan dan Marshal yang sempat mengalami keanehan, kini mereka mulai menghubungkan dan mencari alasan atas keadaan yang menimpa kedua temannya itu.
Sementara itu, Marshal terus berlari menuju rumah Mbok Ra, ia tidak mau kehilangan momen pembicaraan penting antara Pak Kades dan Mbok Ra. Walau sadar bahwa itu sangat tertinggal, tak apalah jika hanya sedikit informasi yang ia dapatkan yang penting masih dapat informasi.
Marshal sengaja tidak menggunakan motor, padahal rumah Mbok Ra cukup jauh. Agar kedatangannya tidak diketahui oleh Pak Kades dan Mbok Ra, dan tentu saja agar ia bisa dengan leluasa mendengar percakapan dua manusia yang kini masih dianggapnya misterius.
Sampai di rumah Mbok Ra, binar bahagia di mata Marshal sangat jelas terlihat. Motor Pak Kades masih di sana. Ia tidak berpikir, bahwa percuma ia datang ke rumah Mbok Ra, toh sudah tertinggal dengan apa yang menjadi topik pembicaraan mereka. Marshal hanya mencoba untuk berpikir positif, sebab ia penganut sebuah kata bijak berpikir positif maka hasilnya juga akan positif.
Dari jauh, Marshal sudah masuk ke dalam kebun yang penuh dengan pohon pisang. Ia berjalan perlahan hingga sampai di samping rumah Mbok Ra. Sebisa mungkin ia mengatur posisinya, agar bisa mendengar dengan jelas perbincangan serius antara Pak Kades dan Mbok Ra.
“Bagaimana Mbok?,” tanya Pak Kades yang terdengar oleh Marshal sedang terisak.
“Mau bagaimana lagi, orang yang bisa membantumu membebaskan ….. .”
Marshal tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Mbok Ra. Suaranya beradu dengan deru motor yang melintas. Beruntung tubuhnya yang sedikit menempel ke dinding sesek rumah Mbok Ra tidak disadari oleh Si Pengendara Motor. Ia masih selamat, namun entah selanjutnya.
“Waduh gak kedengaran. Membebaskan siapa maksudnya Mbok Na?,” gumam Marshal dalam hati.
Marshal ingin mendekatkan lagi jaraknya, agar ia bisa mendengar dengan jelas percakapan antara Mbok Ra dan Pak Kadesd. Namun, itu tentu membuatnya tidak nyaman sebab orang yang lewat di depan rumah Mbok Ra pasti bisa melihat dirinya yang segedhe gajah. Ia pasti akan terkena masalah.
Marshal berjalan mundur, bukan untuk menyerah. Namun mencari jendela atau pintu yang mungkin bisa ia jadikan jalan masuk ke dalam rumah Mbok Ra. Kali ini ia sungguh beruntung, pintu samping rumah Mbok Ra tidak dikunci. Pintu itu hanya ditahan oleh sebatang kayu dengan ukuran yang lumayan besar.
Dengan sangat perlahan, Marshal membuka pintu itu agar tidak mengeluarkan derit pintu yang lebihan. Ia sangat pintar, suara pintu itu nyaris tak terdengar suara deritannya.
“Ah, akhirnya aku bisa masuk. Semoga bisa mendengar dengan jelas,” gumam Marshal pelan. Ia sengaja tidak menutup rapat pintu itu agar ia bisa leluasa melarikan diri untuk kemungkinan terburuk.
Dinding rumah Mbok Ra terbuat dari sesek, dan lumayan banyak lubang di sana, sehingga membuat Marshal cukup bahagia dengan keadaan itu karena ia bisa mendengar dengan jelas suara Mbok Ra dan Pak Kades. Marshal berharap, ia bisa tahu rahasia apa yang sebenarnya sudah ditutupi oleh kedua orang itu.
“Sampai kapan Mbok?,” tanya Pak Kades. Suaranya terdengar parau dan tidak berdaya.
Ia kembali mendengar Pak Kades terisak. Marshal masih belum tahu apa yang menyebabkan Pak Kades yang terlihat gagah dan garang itu bisa terisak di depan Mbok Ra. Ia pun kembali mempertanyakan hubungan antara kedua orang itu yang terlihat sangat akrab.
Marshal bisa merasakan dari nada suara Pak Kades, bahwa lelaki itu terlihat sudah sangat lelah dan sedang memendam rindu yang begitu dalam. Tanpa tahu apa yang sudah menyebabkan Pak Kades hatinya tersayat pilu seperti itu.
Tetiba saja, wajah Sang Ibu kembali membayang. Ia tertunduk, mencari seutas senyum sosok bernama Ibu dalam mata tertutup. Ada rindu menggantung untuk ibu yang mungkin juga sangat merindukannya. Tak apalah sesaat ia menjadi cengeng, dan itu emosi yang normal. Baginya tidak ada orang yang pantas menerima rasa rindu darinya kecuali Sang Ibu.
“Kita hanya bisa terus berdoa, agar dia segera datang,” ucap Mbok Ra.
Marshal kembali fokus pada dua sosok di depan. Sudah cukup ia bernostalgia dengan Sang Ibu dalam angan dan kenangan saat ia belum berangkat ke Desa Awu Awe.
“Tapi aku sudah merindukan anakku Mbok,” ratap Pak Kades.
“Lalu apa yang bisa kita lakukan selain menunggu?,” nasehat Mbok Ra menenangkan.
Sepi
Marshal tak lagi mendengar percakapan di antara kedua orang itu. Ada rasa takut yang menyelami perasaannya. Ia takut kepergok Mbok Ra yang mungkin saja masuk ke dalam rumah tanpa memberi aba-aba.
Melalui lubang kecil, ia memberanikan diri untuk melihat situasi di depan. Pak Kades tak lagi tertunduk, posisi duduknya tegap menghadap ke depan, demikian juga dengan Mbok Ra. Marshal hanya melihat dua punggung yang tampak memikul beban yang sangat berat.
“Tujuh kepala sapi apa sudah siap semuanya?,” tanya Mbok Ra kemudian.
Sejenak Marshal menautkan kedua alisnya. Jumlah tujuh kepala sapi telah membuatnya tercengang. Tujuh kepala sapi bukanlah jumlah yang sedikit. Membeli tujuh kepala sapi memang bukan perkara sulit bagi Pak Kades yang menjadi tuan tanah di daerah itu, tapi untuk apa lelaki itu membeli hanya kepala sapi dengan jumlah yang sangat banyak.
“Tujuh kepala sapi?, Untuk apa?,” gumam Marshal dalam hati. Ia terus berpikir, rasanya tidak mungkin baginya tujuh kepala sapi untuk menjamu semua warga desa yang berjumlah ratusan. Itu tidak akan cukup, kecuali berserta tubuh sapi itu.
Kini Marhsal tak lagi bisa membendung pikirannya untuk tidak membenarkan apa yang telah diucapkan oleh lelaki yang telah duduk bersamanya di masjid malam itu. Namun ia belum berani menarik garis simpulan dari kalimat Pak kades tersebut bahwa rumah Rongrawe meminta tumbal.
“Sudah aku siapkan Mbok. Seperti tahun sebelumnya, aku akan memberikan itu pas disaat puncak acara Mangkurawe berlangsung,” jelas Pak Kades kemudian.
Di balik dinding rumah Mbok Ra, kini ada Marshal yang sedang dibuat bingung dengan kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Pak Kades. “Tujuh kepala. Acara Mangkurawe. Memberikan itu, pada siapa?,” ucap Marshal dalam hati. Marshal merasa kepalanya hampir pecah.
“Kamu beli lagi?,” tanya Mbok Ra lagi.
“Iya Mbok, mau bagaimana lagi?. Jika tidak aku lakukan, maka aku harus kehilangan anakku Mbok,” ucap Pak Kades. Suara lelaki itu kembali terdengar serak.
“Yang Ikhlas. Sekarang anakmu pasti sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik?,” ucap Mbok Ra melapangkan hati Pak Kades.
“Pasti Itu Mbok. Tapi bagaimana dengan sifatnya Mbok?.” Pak Kades tampak sangat khawatir dan sangat menyayangi anaknya, setidaknya itu yang Marshal tangkap dari intonasi kalimat Pak Kades.
Di balik dinding Mbok Ra, Marshal semaki ingin menjerit mendengar semua fakta yang masih misterius baginya. Awalnya Marshal hanya berpikir biasa saja jika ia tertinggal banyak topik pembicaraan di antara Pak Kades dan Mbok Ra, tetapi karena topik pembicaraan itu menarik tentu saja membuat Marsyal sedikit menyesal karena datang terlambat.
“Yakin dan yakinlah dia tumbuh menjadi gadis yang baik meski bukan kamu yang membesarkannya,” nasehat Mbok Ra lagi.
“Baik Mbok. Kalau begitu saya pamit dulu.”
Kalimat pamit yang keluar dari mulut Pak Kades membuat Marshal gelagapan. Ia lalu beranjak pergi dengan cepat, tanpa menunggu Pak Kades menaiki motornya. Naas, kaki Marshal tersandung kayu yang menjadi penahan pintu.
“Auh, ish,” pekik Marshal kesakitan. Ia berharap, suaranya tidak terdengar oleh Mbok Ra dan Pak Kades.
Marshal pun segera berlari menjauh dari rumah tanpa dinding beton itu. Tubuhnya menghilang di antara barisan pohon pisang. Ia sengaja berlari semakin dalam ke kebun pisang itu, untuk menghilangkan jejak sebelum dirinya kepergok menyelinap masuk ke dalam rumah Mbok Ra.